
Pernyataan Mo Lian menjadi kenyataan, dan Gunung Emei terus membesar bahkan puncaknya hampir menembus awan. Gunung Emei juga seperti serang memisahkan diri dengan Kota Chengdu, dan membentuk suatu tempat independen.
Mo Lian menghela napas panjang, kemudian membiarkan energinya menyebar ke seluruh Bumi. "Sekte Dongfangzhi, adalah pusat Bumi. Apakah ada yang menolaknya?"
Suaranya menggema di seluruh langit, dan tanpa menunggu waktu lama, mereka semua setuju, meski Amerika masih kesal atas perbuatannya belasan tahun lalu.
"Sekte Dongfangzhi akan mengambil wilayah dalam radius seribu mil dari Gunung Emei. Apakah ada yang menolaknya?" Kali ini suaranya hanya terdengar di seluruh penjuru langit Tiongkok.
Tidak ada yang menolaknya, bahkan semua Wali Kota di Provinsi Sichuan sangat menyetujui hal itu. Bahkan, semua petinggi negara juga menyetujui, dan mereka bisa memberikan lebih banyak wilayah untuk Sekte Dongfangzhi. Mereka juga tahu, Sekte Dongfangzhi bisa mengambil Bumi sebagai wilayahnya jika ingin.
Mo Lian bisa merasakan jawaban semua orang yang ada di Daratan Huaxia, China.
Dengan hal ini, Mo Lian mulai terbang di langit dan melakukan gerakan sederhana. Gerakan tangannya mulai menggeser Kota Chengdu untuk lepas dari Gunung Emei, termasuk membangun pegunungan sebagai pagar alam. Tapi tidak bisa langsung membangunnya, karena perkembangan Bumi terhenti dan ia hanya bisa menambahkan delapan mil wilayah Sekte Dongfangzhi dari Gunung Emei.
Mo Lian menoleh ke belakang melihat Qin Nian. "Bisakah kau tanyakan pada Ye Ye, apakah dia bisa memanggil Ketua Aliansi Bela Diri Huaxia, Ketua Pasukan Taring Naga, Ketua Pasukan Mata Setan, Menteri Pertahanan, Presiden dan orang penting lainnya untuk datang ke Sekte Dongfangzhi?"
Ye Ye adalah panggilan terhadap kakek dari ayah, atau ayahnya ayah. Ye Ye yang dimaksud di sini juga bukanlah kakek Mo Lian, karena ia tidak memilikinya, melainkan kakek dari Qin Nian, Qin Zhang.
Mo Lian terdiam sejenak, memikirkan waktu yang tepat, kemudian ia menambahkan, "Aku ingin mereka datang besok. Ada hal penting yang harus dibahas."
"Apakah Taotie benar-benar Dewa Merah? Ranah apa lagi itu?"
Mo Lian menoleh ke kiri menatap Hong Xi Jiang, kemudian ia mulai menjelaskan semuanya tentang pertemuannya dengan Jia Shenjun, termasuk penghapusan ingatan secara massal di seluruh penjuru Alam Semesta.
Hong Xi Jiang tertegun, kemudian berkata dengan iri, "Jika saja aku yang datang ke sana, mungkin ..." Ia menahannya saat merasakan ada yang salah, lalu menambahkan, "Aku bukan berasal dari Bangsa Zhongguo, jika aku datang, mungkinkah aku akan mati?"
Mo Lian hanya diam dan tersenyum canggung. Ia juga akan terbunuh jika tidak berasal dari Bangsa Zhongguo, apalagi niat membunuh Jia Shenjun sangat kuat sampai menekannya.
Mo Lian berdeham, kemudian menunjuk ke arah Istana Dongfangzhi. "Yue Fu, aku ingin masuk ke dalam dan beristirahat."
Hong Xi Jiang menyipitkan matanya menatap Mo Lian, kemudian menghela napas. "Baiklah, aku akan pergi bersama Yue Fei untuk mencari hotel." Ia menarik tangan Wang Yue Fei dan pergi.
Mo Lian melambaikan tangannya dan membiarkan Hong Xi Jiang pergi. Kemudian ia menoleh ke belakang, melihat istri-istrinya.
"Aku sudah memberi tahu Kakek, dan mereka akan datang besok." Qin Nian memperlihatkan isi pesan di handphone-nya.
__ADS_1
Mo Lian menganggukkan kepalanya, lalu membawa mereka ke Istana Dongfangzhi. Ia bisa menahan untuk mendapatkan Kesengsaraan Petir saat menerobos Ranah Dewa Hitam, tapi tidak bisa menahan urusan penting ini. Bagaimanapun, mereka sudah menikah lebih dari satu minggu, dan belum melakukan dengan Qin Nian dan Yun Ning.
Mereka memasuki kamar bersama.
Mo Lian melepaskan seluruh pakaiannya yang dikenakannya dengan bantuan Hong Xi Ning.
Hong Xi Ning tetap mengenakan pakaian, karena ia akan melakukannya terakhir. Ia ingin membiarkan Qin Nian dan Yun Ning terlebih dahulu.
Qin Nian duduk di tepi tempat tidur menunggu Mo Lian dengan malu-malu. Ia ingin melepaskan pakaiannya sendiri, tapi ditahan oleh Mo Lian dan membiarkan Mo Lian yang melepaskannya.
Mo Lian berlutut dengan kedua lutut menyentuh lantai di depan Qin Nian, kemudian melepaskan pakaiannya perlahan dan lembut. Seketika itu, ia dilihatkan oleh dua gunung lembut dengan ukuran lebih besar dari milik Hong Xi Ning.
Mo Lian mengecup bibir Qin Nian, kemudian turun ke leher sampai bagian puncak gunung indah.
"Sayang~" Yun Ning mengusap leher Mo Lian saat duduk di samping Qin Nian.
"Puah..." Mo Lian menghisap tombol merah muda dan melepaskannya, lalu mengalihkan perhatiannya pada Yun Ning yang sudah melepaskan pakaian tanpa sehelai benang pun.
Mata Mo Lian membulat melihat dada Yun Ning. Struktur wajahnya tidak jauh berbeda dengan Qin Nian, meski terlihat lebih cantik karena memang Bintang Huaxia. Tapi, ada hal lain yang mengejutkannya, ukuran Yun Ning lebih besar, mungkin ia bisa membenamkan wajahnya di sana.
Mo Lian tersenyum tipis saat telinganya menangkap suara Hong Xi Ning. Dengan lambaian tangannya, ada botol giok yang melayang di depan Hong Xi Ning.
Hong Xi Ning tersentak, kemudian memukul punggung Mo Lian. "Sialan!" Ia tidak marah, hanya saja kesal karena Mo Lian menyembunyikan barang ini. "Tapi, terima kasih. Ning'er ingin Gege memakaikannya."
Mo Lian tertawa kecil saat menoleh ke arah Hong Xi Ning, lalu kembali fokus pada dada Yun Ning. Ia membenamkan wajahnya di lembah dalam dan merasakan kelembutan di wajahnya, aroma harum juga melewati hidungnya.
Ia mengangkat tangan kirinya dan meremas dada Qin Nian.
Mo Lian terus melakukan pemanasan sampai suasana menjadi sangat panas, hanya rintihan yang terdengar menggoda di dalam ruangan tanpa ada yang berbicara.
Qin Nian sudah terlentang memegangi selimut di sekitarnya dan wajahnya menunjukkan kepanikan.
Mo Lian masih diam menunggu Qin Nian siap, dan setelah Qin Nian menguatkan hatinya. Akhirnya Mo Lian mulai bergerak dan memasukkannya sedikit demi sedikit.
"Ack! Emff!" Qin Nian mengigit bibir bawahnya sampai berdarah, kemudian mengulurkan kedua tangannya untuk meminta pelukan.
__ADS_1
Mo Lian mendekatkan badannya saat memasukkannya, membiarkan Qin Nian memeluknya. Tapi, tiba-tiba, Qin Nian mengigit pundaknya. Segera, ia melemahkan tubuh fisiknya agar tidak melukai gigi Qin Nian. Ia tahu, jika tidak melemahkan fisiknya, rahang Qin Nian akan terluka parah.
Air mata di mata Qin Nian mengalir saat bagian bawahnya terasa sangat sakit, dan saat ia melihat ke bawah, itu belum semuanya.
Mo Lian melakukan tindakan lembut untuk mengurangi rasa sakit Qin Nian. Ia melakukannya sama seperti saat pertama kali melakukan dengan Hong Xi Ning.
"Sakit..."
Mo Lian menjilati leher Qin Nian dan bergantian dengan dadanya. Ia melakukannya selama setengah jam sampai Qin Nian membaik, lalu memasukkan semuanya dan mulai bergerak.
...***...
Sabtu, 08 Maret 2036
Mo Lian bangun dari tidurnya dengan perasaan berat di atasnya, terdapat Yun Ning yang sudah bangun pagi dan duduk di atas pinggulnya. "Kau masih belum cukup? Tadi malam kau menangis, dan sekarang mengambil inisiatif saat aku tidur."
Tadi malam, Mo Lian melakukannya selama sembilan jam. Tiga jam untuk setiap orangnya dan itu cukup melelahkan ketimbang menghadapi Taowu, Hundun dan Qiongqi.
"Mmffhh... Aaahhh... Uuhh..." Yun Ning mengabaikan Mo Lian dan terus bergerak dengan mengeluarkan rintihan merdu yang menggoda.
Mo Lian memeluk pinggang Yun Ning dan menggoyangkan tubuhnya. Tapi, tiba-tiba ia merasakan akan ada pengganggu, itu karena ia merasakan kehadiran dari Ketua Aliansi Bela Diri, Ketua Pasukan Taring Naga dan Ketua Pasukan Mata Setan.
Dalam melakukannya, Mo Lian sengaja tidak mengaktifkan Kesadaran Ilahi agar lebih fokus pada istri-istrinya, dan saat bangun tidur, ia mengaktifkannya untuk mengetahui bagaimana keadaan Bumi. Tapi ternyata, mereka sudah memasuki kawasan Gunung Emei.
Mo Lian mengangkat kedua tangannya menangkap bola yang bergoyang-goyang. "Ni'er, kita melakukannya satu ronde saja. Karena petinggi negara sudah datang."
Yun Ning menganggukkan kepalanya tanpa menjawab dan hanya mengeluarkan rintihan merdu.
Mo Lian tersenyum hangat, lalu mengulurkan kedua tangannya untuk memeluk Yun Ning dan berganti dengan dirinya yang bergerak.
Yun Ning tidak bisa diam karena gerakan Mo Lian terlalu liar, dan terus mengeluarkan rintihan tepat di telinga Mo Lian. Rintihan itu malah membuat Mo Lian semakin bersemangat, dan ingin sekali membatalkan pertemuan hari ini.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...