
Hari ini adalah hari Senin, tanggal 16 November 2020. Hari ini adalah hari di mana Mo Lian membantu para Penatua untuk meningkatkan kekuatan, ia sudah membuat 14 Pil Energi Spiritual, dan apabila digunakan untuk para Penatua, itu masih tersisa dua pil.
Kedua pil itu akan diberikannya pada ibu dan adiknya. Kemudian untuk Qin Zhang, Qin Nian, dan Yun Ning, ia akan memikirkan cara lain. Dan pastinya ia tidak akan menggunakan helai bunga Teratai Sembilan Warna, karena itu terlalu berharga, serta ia tidak ingin ketiga orang itu mengalami rasa yang amat menyakitkan.
Pada saat ini, Mo Lian berada di kamar rahasia yang terletak di bagian terdalam dari Aula Sekte. Kamar ini digunakannya untuk beristirahat ketika ia malas untuk kembali pulang ke Mansion Bai Long.
Dengan kedua tangan menyentuh kasur, ia menopang badannya untuk duduk bersandar pada sandaran tempat tidur. Ketika ia membuka matanya, ia melihat ada seorang gadis remaja yang tidur di sebelahnya, itu adalah Mo Fefei.
"Benar, kemarin Fefei ingin tinggal bersama saat melihat pakaian yang ku kenakan tertutupi oleh darah. Dia menangis sejadi-jadinya sampai membuat matanya membengkak." Mo Lian kembali merebahkan tubuhnya dan memainkan hidung Mo Fefei.
Mo Lian tersenyum melihat cara tidur adiknya yang tidak pernah berubah, air selalu mengalir dari sudut bibir, dengan posisi tidur yang berputar-putar seperti jam. Bahkan pada saat ini, kedua kaki Mo Fefei berada di atas pinggangnya.
"Khakak ... huuu ... jangan pergi ..."
Mo Lian terdiam saat mendengar Mo Fefei yang tertidur sambil berbicara. "Seharusnya aku yang mengatakan itu," ucapnya pelan.
Mo Lian menggeleng pelan, ia tidak mau lagi mengingat ingatan kelam kehidupan sebelumnya. Hidup yang dilalui hanya dengan kesendiriannya dan penyesalan tanpa bisa berubah, bahkan meski ada Master yang baik padanya, ia tetap tidak bisa melupakan kejadian yang sangat mengerikan baginya.
"Fefei, bangun. Apakah kau tidak bersekolah?" ucap Mo Lian yang berusaha membangunkan Mo Fefei dari tidur pulasnya.
Mo Fefei menolehkan kepalanya sembari menepis tangan kanan Mo Lian, dan mengumpat kesal. "Berisik. Hari ini libur ... aku ingin ... tidur ..."
Bibir Mo Lian berkedut-kedut saat mendengar jawaban itu, tapi ia tidak merasa marah dan hanya menghela napas panjang. Ia memindahkan kedua kaki Mo Fefei yang berada di atasnya, kemudian pergi meninggalkan Mo Fefei seorang.
Mo Lian berjalan menuju pintu keluar, terlihat sebuah lorong yang panjang dengan pencahayaan yang minim. Ia terus berjalan hingga pada akhirnya dapat melihat tangga, saat ia hendak menaiki tangga kayu itu, tiba-tiba ia mendengar suara teriakan jauh di belakangnya.
"Kakak! Tunggu aku!"
Pada teriakan itu terdapat rasa takut, teriaknya juga sedikit bergetar seperti orang yang hampir menangis.
Mo Lian berbalik melihat sumber suara, tiba-tiba ia merasakan rasa sakit di dadanya, dan kemudian ia terjatuh terlentang di lantai kayu. Terlihat di atasnya terdapat Mo Fefei yang mencengkeram bajunya dengan erat.
Mo Lian mengerutkan keningnya ia tidak mengerti apa yang terjadi pada Mo Fefei. Beberapa menit kemudian, ia tersentak saat mengingat bahwa Adiknya takut gelap, ia terkekeh kecil saat mengingat kembali Adiknya pernah menangis saat listrik mati dulu.
__ADS_1
"Sudah-sudah, ayo kita naik ke atas. Bukankah sudah aku bilang tidak perlu mengikutiku tidur di sini?" ucap Mo Lian yang mencoba untuk duduk.
"Diam." Mo Fefei membenamkan wajahnya di dada Mo Lian, dengan kedua tangan mencengkeram erat pakaiannya.
Mo Lian menghela napas panjang, ia membawa Adiknya dalam gendongan untuk pergi meninggalkan ruang bawah tanah. Ketika ia sudah tiba di ruangan pertemuan, tidak ada satupun orang di sini, itu karena mereka semua beristirahat di menara masing-masing.
Mo Lian menurunkan Mo Fefei, dan memintanya untuk berjalan sendiri menuju pintu keluar. Ia menolehkan kepalanya melihat sekitar, banyak warga yang sudah mulai bekerja di pagi-pagi hari, entah itu memanen hasil kebun, maupun memberi makan ikan.
"Fefei, kau pulang sana temui Ibu." Mo Lian menolehkan kepalanya menatap wajah Mo Fefei yang masih sedikit mengantuk. Ia mengeluarkan beberapa makanan ringan dari Cincin Ruang, dan diberikannya pada Mo Fefei. "Makan ini, dan bantu Ibu di rumah."
Mo Fefei menolehkan kepalanya, ia mengulurkan tangannya dan mengambil mangkuk Styrofoam. Kemudian pergi ke Mansion Bai Long menggunakan sepeda, ia bersepeda melalui danau untuk memotong jalan.
Setelah menyuruh Mo Fefei kembali, Mo Lian berjalan menuju Menara Beladiri untuk memanggil Wu Yengtu dan Xu Xumei. Namun baru saja ia melangkah, dari lima menara yang berbeda keluar 10 orang muda.
Lalu untuk Qin Zhang, ia harus kembali ke perusahaan untuk mengecek hal-hal di sana. Terlebih lagi Yun Hengtian, ia kembali ke Kota Xi'an, dan akan datang lagi keesokan harinya.
Qin Tian kembali ke militer untuk mengurus kekacauan yang entah apa itu. Qin Nian mengurus perusahaan, Yun Ning mendapatkan proyek besar dalam karirnya.
"Kalian semua, terima ini." Mo Lian mengeluarkan 10 Pil Energi Spiritual, dan melemparkannya.
Wu Yengtu, dan yang lain menangkap Pil Energi Spiritual yang dilemparkan oleh Mo Lian. Kemudian tanpa berlama-lama lagi setelah cukup siap dan diperintahkan oleh Mo Lian, mereka menelan pil itu.
Pada saat itu juga, sesaat setelah mereka menelan Pil Energi Spiritual. Dari dalam tubuh mereka merasa ada perubahan yang signifikan, energi spiritual dalam Dantian mereka menjadi lebih murni dan kuat dari sebelumnya.
Mereka semua meringis menahan rasa sakit dengan keringat mengalir deras dari dahi. Mereka merasakan sakit pada Dantian yang kian membesar saat energi spiritual terus masuk, meski hanya biji dari Teratai Sembilan Warna. Harta Surgawi tetaplah Harta Surgawi.
Lima menit kemudian, energi spiritual yang sangat padat berfluktuasi di sekitar mereka semua. Energi spiritual itu membuat angin berembus kencang dan menerbangkan rerumput maupun dedaunan yang gugur.
Mo Lian yang melihat itu akhirnya bertindak, ia membantu mereka semua dalam penyerapan Pil Energi Spiritual secara bersamaan. Ia melepaskan energi spiritualnya untuk menyelimuti semua orang di depannya, ini untuk membuat mereka merasakan nyaman dan tidak lagi ada rasa sakit.
Ketika mereka sudah tidak lagi merasa sakit, penyerapan Pil Energi Spiritual menjadi lebih lancar dan halus. Napas mereka tidak lagi berat karena energi spiritual yang sangat berlebih, namun tidak dapat diserap seluruhnya.
Proses ini cukup lama dan memakan tenaga, dalam waktu dua jam lamanya. Mo Lian membantu mereka semua untuk menyerap energi murni yang terkandung dalam Pil Energi Spiritual.
__ADS_1
Hingga puluhan menit lainnya terlewat, Wu Yengtu membuka matanya perlahan, terlihat kedua matanya bersinar terang seperti bola lampu berwarna hijau. Cahaya itu melonjak beberapa ratus meter ke langit, menciptakan fenomena yang sangat luar biasa, langit meledak seperti kembang api bersamaan dengan angin bertiup kencang.
Tidak berhenti disitu saja, kejadian itu terus berlanjut. Sekarang giliran Xu Xumei yang membuka matanya, dan dari dalam tubuhnya keluar cahaya yang melonjak naik beberapa ratus meter, membuat air danau sedikit bergejolak.
Hal itu terus terulang hingga dua jam kemudian, semua orang sudah berhasil meningkatkan kekuatan mereka semua. Wu Yengtu, berhasil menembus Ranah Inti Emas. Xu Xumei, Inti Emas. Xu Fulian, Inti Emas. Jia Yaoyu, Inti Emas. Jia Xuanming, Ranah Inti Perak tahap Akhir. Gou Menghu, Inti Perak tahap Akhir, dan seterusnya.
Kemudian, Wu Yengtu juga hampir menembus tingkatan lainnya. Kultivasinya hampir menembus Ranah Inti Emas tahap Menengah.
Mo Lian mengalirkan energi spiritualnya pada kedua matanya, ia memandangi semua orang di depannya dengan saksama. Kemudian ia menghela napas berat saat mengetahui hasil yang tidak sesuai harapannya, semua orang di depan mereka memiliki tiga kekuatan yang sama dengan tingkatan kultivasi mereka saat ini.
Bahkan ada tiga dari mereka yang kekuatan jiwanya berada dibawah.
"Kakek, Nenek. Sepertinya kita akan berlatih sangat keras untuk beberapa hari ini, kekuatan kalian memang meningkat pesat. Mungkin ini sangat kasar, tapi aku bisa mengalahkan kalian dengan mudah, meski kultivasiku baru menembus Ranah Inti Perak tahap Akhir. Namun kekuatanku hampir setara dengan Ranah Alam dan Manusia," jelas Mo Lian.
Wu Yengtu terdiam sejenak, kemudian membuka suaranya, "Ini sudah lama ingin ku tanyakan. Bagaimana kau bisa meningkatkan kekuatanmu?"
Mo Lian tersenyum tipis, kemudian menjawabnya, "Sepertinya ini sudah pernah kukatakan. Aku menyerap energi spiritual sekitar, tapi aku akan membiarkannya menumpuk di dalam Dantian, tapi juga jangan sampai Dantian tidak kuat dan hancur. Ketika sudah tidak kuat, energi spiritual dalam Dantian harus dialirkan pada seluruh tubuh melalui oksigen dalam darah ..."
"Kemudian lakukan sedikit kejutan seperti tersengat listrik pada kepala, memang berbahaya, tapi itu adalah cara yang cepat untuk meningkatkan kekuatan jiwa. Kemudian untuk fisik, sama seperti sebelumnya. Tapi jika ingin lebih pasti dan cepat, bisa menggunakan metode lainnya dengan cara menyerap Inti Spiritual. Harusnya metode itu ada dalam Menara Array lantai teratas." Mo Lian melanjutkan perkataannya sembari menatap Jia Xuanming.
Jia Xuanming terdiam sejenak dengan kepala tertunduk seperti sedang mencoba untuk mengingat sesuatu. Tidak lama kemudian, ia mendongak menatap Mo Lian. "Aku pernah membacanya, tapi sepertinya sangat rumit. Terlebih lagi kita tidak memiliki Inti Spiritual."
Mo Lian tersenyum, pada saat ini memang tidak memilikinya. Tapi ia yakin, saat sudah pulang bersama ayahnya, ia akan mendapatkan Inti Spiritual yang menggunung. Pada saat itulah, kekuatan orang-orang sekitarnya akan meningkat pesat.
Kelompok sebelas orang itu terus melanjutkan pelatihan mereka. Mereka mencoba apa yang dikatakan Mo Lian untuk selalu menyebarkan energi spiritual dalam tubuh, meski tidak digunakan untuk bertarung, ini adalah salah satu metode untuk meningkatkan ruang penyimpanan energi spiritual, Dantian.
Hingga tidak terasa matahari sudah terbenam di ufuk barat, kekuatan mereka sudah meningkat kembali meski hanya satu hari berlatih. Dan tidak terduga, kekuatan Xu Xumei adalah yang terkuat diantara 10 orang itu.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1