Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 422 : Pasien Pertama


__ADS_3

Mo Lian meminta wanita paruh baya itu pergi ke tempat tidur yang ada di lantai dasar, tempat tidur itu tidak berada di dalam ruangan, hanya ada kain putih bersih yang menutupinya dari empat sisi agar tidak mengganggu pelanggan. Dia tahu ini tidak nyaman, tapi rencananya akan membangunnya nanti sebagai ruang pemeriksaan.


"Tolong baringkan dia di sana." Mo Lian menunjuk tempat tidur.


Wanita paruh baya yang mengenakan baju biru tua itu mengangguk dan memberikan putranya di tempat tidur. Dia masih sangat cemas melihat putranya.


Mo Lian menyentuh pergelangan tangan kanan anak laki-laki itu dan menutup mata. Karena tidak mengandalkan energi spiritual, dia hanya bisa merasakannya perlahan. Jika tidak menyegel kekuatan, dia hanya perlu memandang dan sudah dapat mengetahui masalahnya, dan dengan Cincin Dewa Kehidupan, dia bisa menyembuhkan penyakit apa pun asalkan masih bernapas.


Mo Lian membuka matanya, menatap wanita paruh baya itu. "Aliran darahnya lambat di saat kerja jantungnya cepat, ini seperti ada yang mengganjal. Apakah Anda tidak keberatan jika aku melukai jarinya untuk mengambil sedikit darah?"


Yu Xue tertegun, setelah ragu-ragu, dia mengangguk sebagai jawaban.


Mo Lian mengambil jarum, menusuknya di ibu jari anak laki-laki yang tubuhnya panas dan napasnya berat. Jarum itu menembus kulit, lalu saat dicabut, terlihat darah yang sedikit lebih kental dari biasanya.


Mo Lian mengambil tetesan darah itu untuk mengetahui ada kandungan apa di dalamnya hanya dengan menghirupnya.


"Bunga Angsa Dua Belas? Daun Empat Lapis?" Mo Lian mendongak setelah mengetahui apa yang terkandung di dalam darah dan menatap Yu Xue. "Apakah Anda memberikannya memakan tanaman ini?"


Yu Xue menggelengkan kepalanya, lalu bertanya, "Tuan, apa yang salah dengan tanaman ini? Putra saya sering bermain di luar bersama temannya, mungkin dia mengambil tanaman ini secara tidak sengaja."


Mo Lian mengangguk, dia tidak mencurigai Yu Xue memberi makan atau tidak, karena itu bukan urusannya, yang dilakukannya hanya menyembuhkan orang-orang yang datang ke Paviliun Jarum Emas, itu saja. "Bunga Angsa Dua Belas digunakan untuk mengentalkan darah, biasanya digunakan di luka luar untuk menghentikan pendarahan. Tapi apabila dikonsumsi, itu bisa memperlambat aliran darah dan mempercepat kerja jantung. Adapun ..."


"Daun Empat Lapis, biasanya digunakan untuk membius pasien agar tidak merasakan sakit, tapi apabila berlebihan, itu bisa membuatnya demam dan kondisi tubuh akan menurun seiring dengan berjalannya waktu."


Yu Xue tertegun dengan mulut terbuka dan tidak bisa berkata-kata. Dengan menarik napas berat, dia menenangkan dirinya sebelum kembali bertanya, "Tuan, apakah Anda bisa menyembuhkannya?"


Mo Lian menganggukkan kepalanya. "Ada dua metode. Aku akan membiarkan Anda memilihnya, pertama menggunakan ramuan yang sudah kami sediakan. Kedua, menggunakan jarum perak."


Setelah mengatakan itu, Mo Lian melihat anak laki-laki yang terbaring di tempat tidur. Dia tidak yakin apakah yang pertama bisa dilakukan, itu karena pasien ini tidak sadarkan diri dan sulit menelan. Adapun jarum perak, itu bisa dilakukan, tapi harus memuntahkan darah, ini bisa menjadi masalah apabila terjadi salah paham.


"Tolong cara pertama." Yu Xue tahu kesulitan untuk meminumnya, tapi lebih tidak mungkin baginya untuk melihat putranya tertusuk jarum.


Mo Lian mengangguk kecil, lalu mengangkat tirai kain dan memberikan tanda dengan gerakan tangannya. "Penawar Bunga Angsa Dua Belas dan Daun Empat Lapis."


Qin Nian yang menggantikan Mo Lian di meja kasir, berbalik untuk melihat lemari penyimpanan. Ada ribuan ramuan yang telah dimurnikan, dia membuka salah satu laci dan mengambilnya. Ramuan itu berwarna biru muda dan sangat transparan, jika orang tidak secara saksama melihatnya, maka akan dianggap sebagai air tawar.

__ADS_1


Ramuan yang diciptakan Mo Lian sesuai dengan semua herbal di sekitar kota, dan karena itu sudah ada penawar untuk Bunga Angsa Dua Belas dan Daun Empat Lapis. Ramuan yang diambil Qin Nian adalah penawar untuk dua bahan tanaman ini.


Qin Nian datang menghampiri Mo Lian dan menyerahkan penawar. "Sayang, ini ramuan penawarnya."


Mo Lian menerimanya dengan senyum hangat, lalu menatap Yu Xue untuk memintanya membuka mulut putranya.


Yu Xue mengerti dan menganggukkan kepalanya, lalu membuka mulut putranya dengan lembut.


Mo Lian membuka totol botol dan menuangkan ramuan ke dalam mulut anak laki-laki. Tapi ramuan itu tidak bisa tertelan semana mestinya karena memang tidak sadarkan diri.


Mo Lian menekan salah satu titik di leher anak laki-laki, dan seketika itu juga langsung bisa menelan.


Keadaan anak laki-laki itu berangsur-angsur membaik, napasnya tenang dan detak jantungnya kembali normal, suhu tubuhnya pun menurun. Perlahan, kelopak matanya bergerak-gerak, lalu matanya terbuka.


Melihat itu, ada kejutan di mata Yu Xue karena tidak mengharapkan efeknya akan bereaksi sesaat setelah meminum ramuan. Awalnya dia tidak terlalu yakin dengan Paviliun Jarum Emas, karena biasanya orang-orang akan pergi ke Keluarga Guo apabila ingin berobat. Tapi daripada itu, dia sangat senang dan mata air kebahagiaan mengalir di sudut matanya.


Mo Lian meninggalkan Yu Xue dan keluar dari bilik kain, lalu pergi menuju meja kasir dan duduk bersama dengan Qin Nian.


Yang mengurus Paviliun Jarum Emas sendiri adalah Mo Lian dan Qin Nian. Hong Xi Ning harus membantu Yun Ning untuk mencari pekerja yang bisa dilatih untuk menjadi Pendekar.


Menurut Hong Xi Ning yang telah melakukan pengamatan, Pendekar harus melatih tubuh fisik dengan metode tertentu. Pendekar harus terus bergerak untuk menyerap energi sekitar, dan itu pun tidak semurni yang diserap kultivator. Bukan hanya Pendekar harus melakukan usaha dua kali lipat, tapi juga hasilnya hanya setengah dari kultivator yang duduk bermeditasi.


Jadi, meski dari segi tingkatan bisa dianggap sama, dari segi kekuatan sangat berbeda.


Ketika Mo Lian sedang berpikir, Yu Xue sudah datang membawa putranya ke meja kasir dengan ekspresi cemas karena tidak tahu berapa banyak biaya yang harus dibayar.


Yu Xue tahu, biaya di Keluarga Guo sangat mahal dan itu pun perlu waktu agar pengobatan di sana berefek untuk benar-benar sembuh. Dan di sini, hanya perlu setetes darah untuk mengetahui apa yang telah dikonsumsi dan sudah bisa menemukan penawarnya, bahkan penawarnya bisa bereaksi saat itu juga.


"Be- Berapa harganya?"


Qin Nian tersenyum hangat menatap Yu Xue. "Anda hanya perlu membayar lima perunggu."


Yu Xue tertegun dengan mulut sedikit terbuka, merasa salah mendengar dan akhirnya kembali bertanya, "Berapa?"


"Lima perunggu." Qin Nian mengulanginya. Bisa dimengerti mengapa orang akan terkejut saat mendengar harga yang harus dibayarkan. Bagaimanapun, toko-toko lain setidaknya harus menggunakan Tael Perak, dan itu tidak sedikit.

__ADS_1


Paviliun Jarum Emas sendiri awalnya tidak ada karena ingin mencari uang, tapi hanya karena ingin bersantai dan hidup tenang dengan melakukan bisnis kecil tanpa mencari untung. Ini hanya kepuasan batin.


Melihat Yu Xue yang masih tercengang, Qin Nian kembali berkata, "Untuk anak-anak kami akan mematok harga dari tiga sampai sepuluh perunggu, untuk orang dewasa berbeda lagi. Kemudian, anak Anda tidak terlalu parah, jadi tidak perlu mematok harga berlebih."


Yu Xue terdiam tanpa bisa mengatakan apa-apa. Dia benar-benar tidak mengerti mengapa Paviliun Jarum Emas mematok harga rendah, bahkan meski itu adalah harga anak-anak, menurutnya masih belum bisa mengganti modal yang digunakan untuk membeli bahan baku, apalagi waktu yang digunakan untuk membuat ramuannya.


Tapi meski begitu, Yu Xue tidak lagi bertanya dan membayarnya. Kemudian dia membungkuk untuk berterima kasih, lalu berjalan membawa putranya untuk keluar dari Paviliun Jarum Emas.


***


—Kediaman Guo, Barat Kota Louhu—


Hari ini suasana di Kediaman Guo terlihat tegang dan diadakan pertemuan darurat di Aula Keluarga. Pertemuan ini untuk membahas mengenai masalah Tim Bayangan yang dikalahkan dan digantung di depan Kantor Keamanan.


Ada belasan orang di dalam Aula Keluarga, semuanya dalam suasana hati yang buruk, dan ada kemarahan yang tertahan. Kebanyakan dari mereka ingin melepaskan amarah mereka apabila tidak ada Patriak Guo atau yang membuat semua ini terjadi tidak berhubungan dengan Patriak Guo. Jika pembuat onar tidak memiliki hubungan dengan Patriak Guo, mereka ingin sekali menghajarnya.


Patriak Guo, memiliki penampilan seperti Guo Jian, kecuali lebih dewasa dan wajahnya terdapat bulu-bulu halus. Ekspresinya muram dan sekitar matanya menghitam karena kelelahan.


Patriak Guo yang mengenakan pakaian merah, menghela napas dan berkata dengan berat, "Tim Bayangan yang kita besarkan, sudah tidak berguna. Bukan hanya lumpuh dan kehilangan kekuatan Pendekar, mereka juga menjadi bodoh. Kemudian ..."


Penatua-penatua terdiam dengan ekspresi lebih muram ketika mendengar Patriak Guo berbicara, dan mereka tahu masalah yang akan dibahas selanjutnya lebih berat dan tidak dapat ditanggung oleh Keluarga Guo apabila masalah ini tidak diselesaikan.


"Utusan. Dia tidak kembali ke Sekte Boneka, dan mereka mengirim surat tadi pagi, mengatakan bahwa Utusan sudah mati. Sekte Boneka meminta penjelasan tentang hal ini, jika tidak memuaskan mereka, mereka akan mengambil tujuh puluh persen bisnis keluarga." Penatua Guo tidak berdaya ketika mengatakannya.


Penatua-penatua mengangkat tangannya, hendak memukul meja di samping mereka, tapi menahannya dan hanya mengepalkan tangan seraya menggertakkan gigi. Bahkan meski mereka sangat enggan dan marah, mereka hanya bisa menahannya dengan berat hati karena ini adalah Sekte Boneka, Sekte Kultivator Abadi.


Guo Jian yang berada di sudut ruangan, menundukkan kepalanya yang bengkak seperti babi setelah dihajar oleh Patriak Guo, ayahnya. Tubuhnya gemetaran ketakutan saat merasakan banyak tatapan membunuh yang ditujukan padanya.


Guo Jian tidak mengerti mengapa ini bisa terjadi, dia sangat yakin Mo Lian hanya Pendekar tingkat Tiga. Tapi mengapa Tim Bayangan yang diisi oleh Pendekar tingkat Lima ke atas dikalahkan dan dalam keadaan seperti itu. Bahkan Utusan sampai terbunuh.


Adapun wanita yang tinggal di sana, menurut informan yang memberinya informasi, wanita-wanita itu adalah manusia biasa.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2