
Setelah perjalanan yang cukup lama, satu jam 45 menit menaiki pesawat terbang. Pesawat yang membawanya mendarat di Bandara International Xining Ciajiabao dengan selamat.
Mo Lian keluar dari dalam pesawat sembari membawa kopernya menuju terminal, ia menunggu untuk waktu yang singkat, lima menit. Setelah waktu berlalu, di depannya sudah berhenti mobil taxi berwarna kuning, ia masuk ke dalam mobil dan memberi tahu sopir untuk mengantarkannya pada hotel termewah di Kota Xining.
Hotelnya sendiri sudah dipesankan oleh ibunya, padahal ia tidak mempermasalahkan jika tinggal di tempat yang sederhana, tapi ibunya terus memaksanya untuk tinggal di tempat yang nyaman. Dan jangan lagi tinggal di tempat yang biasa karena sudah memiliki banyak uang, dan juga sudah cukup untuk tinggal ditempat yang dibawah standar untuk waktu yang lama.
Akhirnya Mo Lian hanya terdiam dan menganggukkan kepalanya, ia tidak mempermasalahkan jika harus tinggal di tempat sederhana dan biasa, asalkan ia masih bisa berkumpul dengan anggota keluarganya.
Dua puluh lima menit kemudian, mobil taxi yang dinaikinya berhenti di depan hotel yang telah ditetapkan. Saat ia turun dari mobil, terlihat beberapa pelayan wanita yang hanya memandangnya sekilas, kemudian pergi menjauh seperti mengatakan bahwa Mo Lian adalah orang miskin yang tidak perlu dilayani.
Mo Lian menggelengkan kepalanya, ia tidak menyangka pelayanan di sini sangat buruk hanya karena ia memakai pakaian yang tampak murah dan jaket.
"Selamat datang, Tuan. Ada yang bisa dibantu?"
Terdengar suara merdu yang halus di sampingnya. Ia menolehkan kepalanya ke sumber suara, terlihat wanita yang usianya berkisar 21 tahun, berambut hitam bergaya kuncir kuda, memakai seragam atasan merah dan rok di bawah lutut berwarna hitam. Lalu seragamnya juga dilapisi dengan celemek, ia juga membawa lap dan ember.
Mo Lian mengangguk kecil, ia tidak berharap akan dilayani oleh seorang yang tampaknya magang. Dan untuk sikapnya, lebih profesional ketimbang pekerja asli.
"Aku di sini untuk menginap."
Wanita itu menganggukkan kepala. "Kalau begitu silakan masuk." Ia berjalan membawa Mo Lian, beberapa detik kemudian ia tersentak saat menyadari sesuatu. "Ah! Maafkan saya berpakaian seperti ini," lanjutnya seraya membungkukkan badannya berkali-kali.
Mo Lian tersenyum tipis. "Tidak masalah."
"Ah! Nama saya Yi Gouyulin." Wanita itu memperkenalkan dirinya sembari terus berjalan menuju pintu kaca yang dijaga oleh dua penjaga.
"Mo Lian."
Yi Gouyulin menghentikan langkah kakinya, ia terdiam dengan jari telunjuk menyentuh bibir seperti seseorang yang tengah berpikir, ia seperti pernah mendengar nama itu, namun tidak tahu di mana dan kapan. Beberapa detik kemudian, ia menaikkan kedua bahunya dan membuang semua pikirannya.
"Berhenti. Ini adalah hotel yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang!" Salah satu penjaga pintu masuk hotel menghentikan Mo Lian dengan merentangkan tangan kanannya.
Mo Lian menghela napas panjang, tidak di dunia manapun orang-orang seperti ini akan selalu ada. Bahkan saat berada di Galaxy Pusat pun, hanya saja saat ia di sana dan diperlakukan seperti ini, ia akan dengan santainya membunuh orang itu tanpa rasa bersalah maupun menyesal.
"Aku ingin menginap di si—"
"Orang miskin sepertimu mana mungkin bisa menyewa kamar! Bahkan kamar paling murah dihargai dengan 10.000 Yuan untuk satu malamnya!" Penjaga berseragam lainnya menatap tajam Mo Lian.
Mo Lian terdiam dengan pandangan tidak enak. Ia sangat ingin sekali membunuh dua orang di depannya, ia mengepalkan kedua tangannya. Ia melepaskan koper yang dibawanya, dan mengayunkan tangan kanannya mengarah pada wajah salah satu dari kedua orang itu. Namun saat pukulannya hampir mengenai kulit orang itu, terdengar teriakan nyaring yang menarik perhatiannya, tapi tetap saja, pukulannya tetap mengenai wajah orang itu.
__ADS_1
"Berhenti!"
"Ah!" Mo Lian tersentak, ia mengalihkan pandangannya pada tangan kanannya dan orang yang tersungkur karena pukulannya secara bergantian.
Mo Lian menolehkan kepalanya menatap seseorang yang menghentikannya tadi. Terlihat pria paruh baya memiliki bentuk tubuh yang bagus untuk orang seusianya, wajahnya juga tanpa ada kerutan, dan memakai kacamata.
"Apa yang terjadi?" tanya pria paruh baya itu memandang Mo Lian dan penjaga yang masih tersungkur.
Mo Lian menghela napas berat, kemudian menjelaskannya, ia menjelaskan semuanya dari awal, mulai dari saat ia turun dari taxi dan tidak dihargai oleh pekerja di sini. Lalu akhirnya Yi Gouyulin 'lah yang membawanya masuk.
Mendengar itu, pria paruh baya yang tampaknya merupakan manajer hotel hanya bisa terdiam dan menghela napas panjang. Meski ini adalah hotel termewah, tapi ia selalu diberitahukan oleh pemiliknya agar selalu menghargai setiap tamu yang datang tanpa memandang kasta. Namun ia tidak berharap jika bawahannya akan bertindak tidak sopan seperti itu.
"Apakah kau ingin menginap di sini?"
Mo Lian menganggukkan kepala, kemudian menjawab, "Iya, lagipula ibuku sudah memesankan kamar di sini."
Pria paruh baya itu terdiam sejenak. "Ibu? Memesan kamar? Kalau boleh tahu, aku sedang berbicara dengan siapa?" tanyanya mencoba untuk memastikan.
"Mo Lian." Mo Lian menjawabnya singkat sembari memperlihatkan bukti bahwa ia telah memesan kamar.
Pria paruh baya itu mengamati layar handphone, kemudian ia tersentak kaget dengan keringat dingin mengucur di dahinya saat mendengar nama itu. Dengan cepat ia menundukkan kepalanya mengarah pada Mo Lian. "Maafkan bawahanku yang tidak bisa melihat gunung meski sudah memiliki mata," ucapnya dengan nada sedikit bergetar.
"Baik."
Mo Lian merogoh kantung celananya, ia mengeluarkan botol kecil yang berisikan air transparan, dan menyerahkannya kepada Yi Gouyulin. "Terima ini, ini adalah rasa terimakasih ku karena tidak memandang rendah orang lain."
Masih dengan wajah terperangah tak mengerti apapun, Qin Gouyulin menganggukkan kepalanya dan menerima botol kecil itu dengan kedua tangan terbuka.
"Tuan. Silahkan masuk, apakah Anda menginginkan saya untuk memandu ke ruangan Anda?" tanya pria paruh baya menawarkan diri.
Mo Lian menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak perlu, aku bisa sendiri," jawabnya kemudian berjalan menuju lift.
Saat Mo Lian sudah menghilang dari pandangan semua orang. Keributan pun terjadi, pria paruh baya memanggil semua orang yang sebelumnya bersikap tidak sopan terhadap Mo Lian. "Apakah kalian tidak mengerti?! Bukankah moto hotel ini akan selalu menghargai semua orang tanpa memandang kasta? Apakah kalian lupa!"
Ketujuh orang yang berdiri di depan pria paruh baya itu menundukkan kepalanya menatap lantai. Mereka memang sudah diberitahukan hak itu, namun yang namanya bekerja di hotel mewah, tentunya mereka menginginkan tamu yang kaya agar bisa mendapatkan banyak uang tips. Sehingga mereka membuang moto hotel yang telah diberitahukan.
"Maaf, Pak. Mengapa Anda sangat menghormatinya? Bukankah dia hanya orang miskin? Apakah dia bisa menyewa kamar?" tanya pelayan membenarkan diri.
Pria paruh baya itu mengepalkan tangannya, ia sangat kesal saat mendengar perkataan yang keluar dari bawahannya meski sudah dibilang agar selalu menunjukkan hormat terhadap tamu. "Dia adalah Mo Lian! Anak dari CEO dan Founder Perusahaan Meiliafei, perusahaan kecantikan terbesar di Kota Chengdu! Dia menyewa kamar termahal dengan harga 200.000 Yuan!"
__ADS_1
Seketika itu juga mereka semua terperangah dengan mulut terbuka lebar. Perusahaan Meiliafei? Tentu saja mereka sudah mengetahuinya, bahkan bukan hanya terbesar di Kota Chengdu, tapi juga sudah meluas ke kota-kota lainnya.
Pria paruh baya itu menolehkan kepalanya menatap Yi Gouyulin. "Yang diberikannya padamu tadi sepertinya adalah Cairan Pil Pingyuan, tentunya karena dia yang memberikannya, pasti itu adalah kualitas pertama. Bahkan jika kau menjualnya dengan harga 10.000.000 Yuan, orang-orang tidak akan segan-segan untuk membelinya."
Sekali lagi semua orang terdiam, mereka merasa menyesal karena telah mengabaikan Mo Lian. Jika mereka tadi bersikap profesional terhadap Mo Lian, kemungkinan masa depan mereka akan sangat cerah, namun apa mau dikata, semua itu sudah terlambat.
***
Keesokan Paginya
Pagi-pagi sekali Mo Lian keluar dari hotel tanpa menyantap makanan, ia ingin cepat-cepat berangkat ke Gunung Kunlun. Jarak antara tempatnya berdiri dengan Pegunungan Kunlun sendiri berjarak 1591 kilometer, atau 988 mil. Dengan menaiki mobil, itu akan membutuhkan waktu satu hari lebih, itupun jika di perjalanan tidak menemukan kendala seperti macet.
Untuk pergi ke Pegunungan Kunlun sendiri ia juga sudah membawa beberapa perbekalan, salah satunya adalah Cairan Pil Pingyuan. Cairan ini dimaksudkan untuk memberi upah pada orang yang akan memandunya nanti. Dari informasi yang didapat, ada kelompok orang yang hidup di bawah Gunung Kunlun yang akan membawa orang-orang naik, hanya saja tidak menginginkan uang sebagai alat pembayaran, melainkan barang-barang yang dirasa cukup antik maupun berharga.
Karena hal itulah ia membawa Cairan Pil Pingyuan.
Mo Lian berjalan kaki di sekitar hotel untuk mencari taxi, sebelumnya ia ditawari untuk menggunakan mobil hotel. Namun ia menolaknya, itu karena akan sangat merepotkan jika mendengar ocehan-ocehan tidak jelas, ataupun orang-orang yang mencoba menjilatnya.
Bagaimanapun ia mendengar pembicaraan antara manajer hotel dengan karyawan yang bersikap tidak sopan terhadapnya, dan pada saat itu juga berita tentang identitasnya tersebar.
Sepuluh menit kemudian, setelah ia berjalan kaki menjauh dari kawasan hotel. Ia sudah berada di jalan utama yang banyak sekali lalu lalang kendaraan pribadi maupun umum. Tidak lama kemudian, di depannya berhenti mobil taxi berwarna abu-abu.
"Mau ke mana?"
"Gunung Kunlun."
Sopir taxi terdiam sejenak, ia memainkan tangannya di setir mobil. "Bukankah kau tahu jaraknya cukup jauh? Aku bisa saja mengantarmu ke sana, tapi hanya sampai di kota sekitar, dan itupun biayanya sangat mahal."
"Biaya tidak masalah."
Sopir taxi itu kembali terdiam, kemudian menghela napas panjang. "Naik," ucapnya sembari memberi tanda dengan kepalanya.
Mo Lian menganggukkan kepalanya, ia membuka pintu belakang mobil dan menaikinya. Ketika ia sudah naik dan memasang sabuk pengaman, sopir taxi menginjak gas mobil, mengemudikannya pergi ke kawasan Pegunungan Kunlun.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1