
—Alam Selestial—
Pohon Perunggu Surgawi mengalami perubahan yang signifikan, sekarang sudah terlihat sangat tua. Yang awalnya masih terlihat segar meski berambut putih, tapi sebelumnya hanya sedikit ada kerutan, namun sekarang berbeda. Sekarang, rambutnya berwarna putih kusam dengan sedikit keabuan, dan ada aura tak nyaman yang mengelilinginya.
Dia melihat sekeliling, pulau di mana dia mengajar sudah sangat sepi. Saudara Keempat, Saudari Keenam, Saudari Kedelapan dan Saudara Kesembilan telah terbunuh di Alam Manusia. Mengikuti Saudara Kedua yang tersegel, dari Sembilan Gagak Berkaki Tiga, sekarang hanya empat Gagak Berkaki Tiga.
Tentu ini adalah pukulan berat bagi Alam Selestial.
Pohon Perunggu Surgawi membanting tangannya di tanah. Tanah itu tidak hancur seperti yang diharapkan, tapi lautan awan yang mengelilingi pulau itu terhempas dan memperlihatkan ruang putih yang retak.
"Kaisar Manusia ..." Pohon Perunggu Surgawi berkata dengan suara yang dalam dan penuh emosi. Dia sangat marah karena Pohon Yin Surgawi tidak ditemukan, tapi dia tahu semua ini ada hubungannya dengan Kaisar Manusia, karena hanya Kaisar Manusia yang memiliki pengetahuan yang dalam.
Semua metode telah digunakan untuk mencari keberadaan Pohon Yin Surgawi, tapi dia masih tidak mendapatkannya sama sekali. Kekuatannya yang awalnya setara dengan Simbol Dewa 99 Gadis, sekarang menurun menjadi Simbol Dewa 62 Garis.
Walaupun kekuatan tidak didasari dari Simbol Dewa. Seperti Wang Yue Fei, meski hanya memiliki Tiga Simbol Dewa, tapi bisa mengalahkan Mo Lian dengan mudahnya yang sudah mendapatkan Enam Simbol Dewa. Tapi bagi Pohon Perunggu Surgawi, ini tetaplah kemunduran yang sangat berdampak baginya.
Adapun karena masalah ini, kedudukannya di Alam Selestial mulai goyah, dan karena keputusannya yang buruk karena memerintahkan Gagak Berkaki Tiga, Gagak Berkaki Tiga mulai membencinya.
Kaisar Giok yang selalu menghormatinya, kini bahkan mulai memandangnya rendah. Kendalinya atas Dao Surgawi pun mengendur, dan dia tidak bisa lagi memengaruhi Jalan Alam. Semuanya kembali seperti semula.
Gerbang Selestial masih kokoh, tapi bukan berarti tidak mengalami kerusakan.
Pohon Perunggu Surgawi menengadahkan kepalanya, meraung marah yang membuat langit terguncang dan bumi bergetar.
"Kaisar Manusia! Aku akan membunuhmu!"
Raungannya terdengar hampir ke seluruh Alam Selestial, tapi hampir semua penghuni di Alam Selestial sudah terbiasa dengan Pohon Perunggu Surgawi yang seperti ini.
...***...
—Bumi, Galaksi Bima Sakti, Wilayah Timur—
Mo Lian sudah kembali ke Bumi dan langsung bergegas ke Sekte Dongfangzhi. Sudah tiga atau empat tahun dia meninggalkan Bumi, dan banyak perubahan yang terjadi.
Pendidikan di Bumi tidak lagi menggunakan pengetahuan modern, banyak yang beralih ke pengetahuan dari kultivator. Dari teknologi transportasi, teknologi informasi sampai kesehatan, semuanya mengikuti pengetahuan kultivator.
__ADS_1
Hal ini bisa dimengerti, mengingat pil yang disuling oleh Alkemis mampu menumbuhkan anggota tubuh, tapi tidak dengan teknologi sebelumnya.
Mo Lian hanya melihat sekilas, dan menemui Hong Xi Jiang yang sudah menunggunya. "Salam, Yue Fu, Yue Mu."
Mo Lian juga ingin menyapa Qin Tian dan Liu Yan yang merupakan orangtua Qin Nian, dan Yun Henxian dan Luo Xue Yu yang merupakan orangtua Yun Ning. Tapi, setiap kali dia mendatangi mereka, mereka akan melarikan diri, kalaupun bisa bertemu, mereka akan gemetaran karena gugup dan berkeringat dingin.
Akibatnya, setelah menikah, Mo Lian tidak pernah bertemu dengan mereka sendiri, dia harus membawa orangtuanya sendiri agar suasana tidak canggung.
Hong Xi Jiang melambaikan tangannya seraya mengangguk kecil. Tidak ada emosi yang terlihat, dia tetap tenang dan dingin. "Ya ..."
Wang Yue Fei mengangkat tangannya dan menepuk-nepuk kepala Mo Lian. "Membunuh lima Dewa Abadi dan satu Dewa Kuno. Kau sudah bertambah kuat, tapi ingat, Simbol Dewa hanyalah simbol, bukan kekuatan utama."
Mo Lian mengangguk kecil, tetapi dia tidak mengatakan sepatah kata pun untuk membalasnya. Dia tahu bahwa Simbol Dewa bukanlah patokan dari kekuatan, karena dia sendiri sudah pernah membunuh Dao Immortal saat di Ranah Alam dan Manusia, membunuh Dewa Pemula di Ranah Heavenly Immortal, dan membunuh Dewa Surga di Ranah Dewa Hitam.
"Kembalilah sebentar, temui orangtuamu, setelah itu kita berangkat."
Mo Lian kembali mengangguk. Dia menangkupkan kedua tangannya, lalu pergi ke Bai Long untuk menemui Mo Qian dan Su Jingmei. Dia tidak membawa istri-istrinya, dan membiarkan mereka untuk kembali ke keluarga masing-masing selama beberapa jam.
Walaupun dia merasa tidak ada hal yang dibahas, tapi tidak ada salahnya menemuinya terlebih dahulu sebelum kembali pergi.
Mo Lian menghilangkan auranya, menahan suara langkah kakinya agar tidak menarik perhatian Su Jingmei. Dia melangkah perlahan-lahan, sampai berdiri di belakang Su Jingmei, kemudian memeluknya.
Su Jingmei tersentak kaget dan langsung melepaskan auranya, namun setelah menoleh dan mengetahui bahwa itu adalah putranya, dia terkejut, tapi detik berikutnya langsung menarik auranya lagi. "Lian'er?"
Mo Lian tersenyum cerah dan masih tetap memeluk Su Jingmei dari belakang. "Ibu, aku merindukanmu."
Su Jingmei tersenyum tipis, dia mengangkat tangannya ingin membelai pipi Mo Lian dengan tangannya yang kotor. Tapi anehnya, lumpur yang menempel di tangannya tidak mengotori Mo Lian.
Mo Lian menyadarinya, dan dia mencoba menahan keistimewaan tubuhnya, sehingga lumpur itu menempel di pipinya. Tapi meski demikian, dia tetap tidak merasa senang karena lumpur itu terus meluas hampir menutupi seluruh wajahnya. "Ibu, bisakah Ibu berhenti, atau Ibu sengaja?"
Su Jingmei tertawa kecil, lalu mencubit tangan Mo Lian yang memeluk perutnya. "Lepaskan Ibu, Ibu ingin menghubungi Ayah untuk kembali."
Mo Lian menarik tangannya, lalu membersihkan wajahnya yang berlumuran lumpur. Dia melihat Su Jingmei yang memegang Batu Komunikasi, dan bertanya, "Apakah Ayah di Bintang Utama?"
Su Jingmei mengangguk saat menyimpan Batu Komunikasi. Dia membersihkan tangannya yang kotor, lalu duduk di bangku besi di bawah pohon. "Iya, dia harus mengurus bisnis. Bagaimanapun, Tentara Bayaran di sana masih aktif di sana, dan dia harus ke sana sesekali." Ia menepuk-nepuk bangku di sampingnya.
__ADS_1
Mo Lian datang menghampiri dan duduk di samping Su Jingmei. "Ibu, aku hanya tinggal sebentar di sini, setelah itu pergi lagi."
Su Jingmei tidak terkejut. Dia sudah tahu kalau Mo Lian datang hanya untuk berpamitan lagi, tapi dia tidak lagi khawatir seperti dulu, karena dia sudah sering melihat Mo Lian bertarung, dan dia sudah sangat percaya bahwa Mo Lian pasti akan memenangkan pertarungan.
Batu Komunikasi bergetar, Su Jingmei melihatnya dan ada pesan dari Mo Qian:
“Maaf, aku tidak tidak bisa kembali hari ini. Ada masalah penting di sini, mungkin dua hari lagi baru bisa pulang. Titip salam untuk Lian'er, dia harus tetap berhati-hati meski dia kuat.”
Melihat pesan yang dikirim, Su Jingmei sangat kesal sampai mencengkeram erat Batu Komunikasi, tapi dia melonggarkan cengkeramannya lagi seraya menghela napas.
"Apakah Lian'er tahu masalah apa yang terjadi di sana?" Menurut Su Jingmei, harusnya Mo Lian bisa mengetahuinya, meningkat Mo Lian mampu berpindah sesuka hati.
Mo Lian tahu masalah apa itu, tapi dia tidak tahu harus membicarakannya atau tidak.
"Bicara!"
Mo Lian tertegun sejenak, tapi pada akhirnya menyerah dan mengatakannya. "Xiao Mei meninggalkan Paviliun Xiao Fei, dia dibawa Fefei ke Bintang Peng. Harusnya setelah Xiao Mei pergi, ada kericuhan di sana, dan ini sudah sebelum setelah Xiao Mei meninggalkan Paviliun Xiao Fei ..."
"Ibu tahu, kan? Hanya Xiao Mei yang bisa menyuling pil mendekati Fefei. Karena dia pergi, maka pasokan pil di pasaran berkurang, dan itu mengakibatkan naiknya harga pil, bahkan mungkin akan ada pembunuhan hanya untuk mendapatkan pil."
Mo Lian menggaruk kepalanya, dia sendiri tidak mengharapkan akan menjadi seperti ini hanya karena mengambil Xiao Mei dari Paviliun Xiao Fei.
Su Jingmei terdiam, dan tiba-tiba memikirkan masih Can Qi Meiliafei yang ditinggalkannya di Kota Zhan di Bintang Utama. Tapi setelah memikirkannya, dia tidak merasa akan ada masalah. Di Bintang Utama, hanya hitungan jari tangan yang bisa menemuinya, karena itu, bahkan meski tanpa kehadirannya, Can Qi Meiliafei masih bisa beroperasi.
...
Mo Lian dan Su Jingmei terus mengobrol, sampai sinar matahari berada di puncaknya. Akhirnya Mo Lian berpamitan, dia kembali ke Sekte Dongfangzhi untuk menemui Hong Xi Jiang yang sudah menunggu dan bersiap-siap akan berangkat.
Su Jingmei tidak mengikuti Mo Lian, dia hanya melambaikan tangannya saat berdiri di pintu gerbang Mansion Bai Long. Setelah melihat Mo Lian pergi, dia kembali melihat Batu Komunikasi dan berkomunikasi dengan Mo Qian.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1