
Mo Lian mendarat dengan kaki kanan menyentuh tanah terlebih dahulu, ia kini berada di gang kecil yang tidak jauh dari KTV yang cukup populer di Kota Chengdu. Ia berjalan perlahan menuju KTV seraya memejamkan matanya untuk mengedarkan kesadarannya pada gedung KTV yang memiliki 10 lantai.
Ketika ia membuka matanya, terlihat senyum tipis menghiasai wajah Mo Lian. Tanpa berlama-lama lagi ia melangkah menuju pintu kaca yang di jaga oleh dua orang pria berbadan kekar.
Kedua orang itu melebarkan salah satu tangannya untuk menghalangi Mo Lian masuk lebih jauh. "Orang yang tidak memiliki identitas dilarang mas—" ucap salah satu dari mereka terpotong saat merasakan tubuh mereka tak dapat lagi bergerak.
Mo Lian menekan titik akupuntur di leher kedua pria kekar itu menggunakan jari telunjuk dan tengah, kemudian ia berjalan masuk tanpa memperdulikan kedua orang yang mematung di depan pintu.
Ia berjalan menghampiri meja resepsionis yang dijaga oleh pemuda berkemeja putih yang dilapisi tuxedo. "Apakah Manajer Lao dari Kantor Properti berada di sini? Di lantai dan ruangan mana dia berada?" tanya Mo Lian langsung pada intinya.
Pemuda itu terdiam dengan pandangan curiga, bagaimanapun Mo Lian memakai masker yang menutupi wajahnya, jadi wajar saja jika pemuda yang berada di meja resepsionis merasakan adanya hal aneh. Dengan perlahan ia menggerakkan tangan kirinya yang berada di bawah meja untuk menekan tombol emergency, namun saat jarinya hampir menyentuh, secara tiba-tiba ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Mo Lian menarik kedua jarinya dari leher pemuda itu. "Jika kau tidak ingin memberitahukannya, lebih baik kau tidak melakukan tindakan apapun."
Bukan hanya penampilannya saja yang disamarkan, Mo Lian juga menekan suaranya agar lebih berat dari biasanya. Ia tidak masalah jika harus berurusan dengan Organisasi Dunia Hitam, tapi yang jadi masalahnya adalah Manajer Lao bekerja di kantor milik pemerintah, yang mana hanya akan membuatnya kesusahan jika harus berurusan dengan pemerintahan.
Setelah mengunci pergerakan pemuda resepsionis, Mo Lian berjalan menghampiri lift yang terletak tidak jauh darinya. Kemudian ia menekan tombol yang bertuliskan nomor 10.
Ting!
Tiga menit kemudian, terdengar suara dari dalam lift bersamaan dengan pintu yang terbuka. Mo Lian melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift, tanpa berlama-lama lagi ia berjalan menuju salah satu ruangan yang berada di lantai teratas.
Ia berhenti saat sudah berada di depan ruang dengan pintu yang memiliki nomor 2. Mo Lian memejamkan matanya kembali, ia memastikan berapa banyak orang yang di dalam ruangan, dan siapa-siapa saja.
Mo Lian membuka matanya perlahan, ia menghela napas panjang. Kemudian dengan kaki kanan di tekuk, ia menendang pintu di depannya menggunakan telapak kakinya.
Boom!
Terdengar dentuman yang keras bersamaan pintu ruangan yang terlempar. Ia berjalan memasuki ruangan, dan kemudian sudah disambut dengan dua senjata api yang mengarah pada kepala bagian kiri dan kanannya.
__ADS_1
Terlihat di dalam ruangan terdapat pria gemuk yang sangat dibencinya, pria itu adalah orang yang menggoda ibunya. Dia tidak sendirian, pria gemuk itu ditemani oleh beberapa wanita berdada besar dengan pakaian minim dan tipis seperti kekurangan bahan, sepertinya para wanita itu adalah pekerja di KTV ini.
"Letakkan senjata kalian, atau kalian akan menerima akibatnya!"
"Dan untuk kalian para wanita, keluar dari sini sekarang, atau akan ku anggap kalian semua bersama orang-orang ini, dan tentunya aku tidak akan tinggal diam." Mo Lian melanjutkan perkataannya seraya menatap para wanita itu.
Dengan tubuh bergetar ketakutan, para wanita itu berlarian keluar ruangan. Sedangkan pria gemuk yang tak lain ialah Manajer Lao masih mematung tak mengerti apa yang terjadi, ia tidak merasa pernah menyinggung perasaan orang. Tidak! Bukan itu, ia tak menyangka ada yang berani mencari masalah dengannya.
Manajer Lao menatap dua orang yang sedang mengarahkan senjata apinya pada Mo Lian. "Tunggu apa lagi! Bunuh dia!"
Kedua orang itu menganggukkan kepalanya, kemudian menarik pelatuk pistol dan menembak kepala Mo Lian.
Mo Lian yang berada di tengah-tengah tembakan itu hanya dapat menghela napas panjang. Ia merasa orang-orang ini sangat tolol menembak target yang berada di tengah-tengah. Dengan santainya ia berjalan satu langkah, saat itu juga ia menghindari tembakan, dan kedua pria yang menembaknya mati di tempat dengan kepala yang berlubang.
Manajer Hao mengepalkan kedua tangannya. "Dasar tolol!" umpatnya kesal. Ia mendongakkan kepalanya menatap Mo Lian. "Siapa kau?!"
Merasa diabaikan, Manajer Lao berdiri dari sofa panjang, ia merogoh kantung celananya mengeluarkan senjata api dan mengarahkannya pada wajah Mo Lian. Ia tersenyum licik hendak menembak Mo Lian, namun saat pelatuknya baru bergerak beberapa mili, tiba-tiba Manajer Lao merasakan sakit di perutnya.
Mo Lian menendang perut Manajer Lao menggunakan lutut kanannya dengan keras hingga tembok pemisah ruangan hancur berlubang. Bukan hanya hancur berlubang, Manajer Lao juga melesat menghantam tembok di ruangan lainnya yang membuat penghuni di ruang lain menjadi histeris.
Apalagi saat mereka melihat dua mayat yang tergeletak di lantai ruangan. Dengan cepat beberapa pria muda dan wanita muda itu bergegas pergi dengan kepala tertunduk karena takut menatap wajah Mo Lian.
"Uhuk." Manajer Lao terbatuk dengan seteguk darah segar keluar dari dalam mulutnya. Ia mendongak kepalanya menatap Mo Lian dengan mata penuh ketakutan.
Mo Lian menginjak pergelangan tangan Manajer Lao. "Katakan! Di mana markas Organisasi Dunia Hitam!"
Manajer Lao tersentak kaget saat mendengar perkataan Mo Lian, sampai-sampai ia melupakan rasa yang yang sedang dialaminya. "O- Or- Organisasi Du- Dunia Hitam? Ap- Apa itu?"
Mo Lian menatap tajam Manajer Lao seraya mengeluarkan aura membunuhnya, ia menekan pergelangan tangan Manajer Lao hingga terdengar suara retakan kasar, menandakan bahwa pergelangan tangan yang diinjaknya telah patah.
__ADS_1
"Aarrgghh!" Manajer Lao berteriak kesakitan, kali ini ia tidak dapat lagi menahan rasa sakit yang dialami.
"Katakan!"
Dengan bibir bergetar dan keringat dingin mengalir deras di wajahnya, Manajer Lao menjawab perkataan Mo Lian sebelumnya, "A- Aku tidak tahu. A- Aku hanyalah anggota luar, aku juga bukan seorang Pejuang. Ja- Jadi, aku tidak memiliki hak untuk dapat berkunjung ke markas."
Mo Lian terdiam, ia mengamati perubahan ekspresi wajah Manajer Lao. Beberapa saat kemudian ia hanya bisa menggelengkan kepalanya kecewa dan menghela napas berat, kedatangannya ke sini untuk mendapatkan informasi tidak membuahkan hasil sama sekali.
"Ak- Aku sudah mengatakannya. Bi- Biarkan aku hidu—" Manajer Lao menghentikan perkataannya ketika merasakan dingin di lehernya, terlihat sayatan dalam di lehernya dengan darah segar yang mengalir deras.
Manajer Lao tewas terbunuh dengan mata masih terbuka lebar karena keterkejutannya yang tidak percaya akan mati malam ini di KTV.
Setelah membunuh Manajer Lao, Mo Lian berjalan keluar dari ruangan. "Aku tidak akan mengampuni orang-orang seperti kalian," ucapnya dingin.
Tidak lama kemudian, ia sudah tiba di lantai dasar. Kemudian bergegas keluar gedung dan bersembunyi di gang kecil tempatnya datang sebelumnya, ia terburu-buru karena melihat beberapa mobil polisi yang sedang bergegas masuk ke halaman gedung.
Mo Lian melepaskan semua penyamarannya dan kemudian membakar habis jaket, topi dan masker yang dikenakannya. Ia mengedarkan kesadarannya kembali, kemudian pergi dari tempat kejadian ketika dirasa keadaan sekitar sudah aman.
"Meskipun aku tidak bisa mengetahui markas di mana Organisasi Dunia Hitam berdiam. Tapi setidaknya aku sudah membunuh orang-orang mereka, dan tidak membutuhkan waktu lama untuk mereka bergerak."
"Sangat disayangkan mereka yang berada di ruangan tadi tidak ada seorangpun Pejuang. Akibatnya aku tidak dapat memicu peningkatan kultivasiku."
Mo Lian menggelengkan kepalanya pelan, ia membuang semua pikiran untuk terburu-buru. Ia harus melakukannya dengan perlahan namun pasti, daripada harus cepat tapi tidak murni.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1