Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 408 : Perang Besar (4)


__ADS_3

Mo Lian meraih kapal perang dan menggenggamnya erat. Tidak ada kerusakan yang diterimanya seperti saat mencoba mendapatkan Artefak Dewa, tapi rasa dingin yang menusuk masih terasa.


Dia tidak terlalu memperhatikannya dan terus memaksa untuk menghancurkan kapal perang. Hanya dengan menghancurkan ini, pasukan Wilayah Selatan bisa dikatakan satu tingkat lebih tinggi karena mampu menggunakan energi mereka lagi.


Dengan retakan, kapal perang itu langsung hancur berkeping-keping dengan ledakan keras.


Ketahanan kapal perang lebih lemah dari Artefak Dewa dan ditambah dengan kekuatan Mo Lian yang meningkat, dia tidak perlu berusaha terlalu keras untuk menghancurkannya. Tapi yang membuatnya bingung, itu karena Wu Gouyu membiarkannya menghancurkan kapal, seolah-olah kapal itu tidaklah berarti.


Ketika kapal perang hancur, terlihat cahaya yang tak terhitung jumlahnya melesat keluar dari ledakan.


Cahaya-cahaya itu adalah kultivator yang masih bersembunyi. Kekuatan terendah mereka adalah Dewa Bumi tahap Awal, dan yang tertinggi adalah Dewa Surga tahap Akhir.


Mo Lian merasa sakit kepala ketika memikirkan mengapa banyak sekali Dewa Bumi dan Dewa Surga. Terlebih lagi Dewa Surga tahap Akhir, itu adalah kekuatan tertinggi! Bahkan mungkin di Alam Selestial hanya sampai pada Dewa Surga tahap Akhir! Bukankah itu berarti Wu Gouyu setara dengan Kaisar Langit atau Giok?


Walaupun Kekuatan Jiwa-nya hampir setara dengan Dewa Surga tahap Akhir, tapi Kekuatan Fisik-nya hanya Dewa Surga tahap Awal, dan Kekuatan Spiritual-nya hanya Dewa Bumi tahap Awal setelah ditekan.


Mo Lian menghela napas, dia memotong pergelangan tangan kirinya. Darah emas keluar seperti aliran sungai deras, kemudian pecah membentuk tetesan air hujan dengan jumlah yang tak terhitung jumlahnya.


Tetesan darah emas itu membentuk tubuh manusia berwarna emas murni, seperti logam keras yang tidak bisa ditembus.


Kemunculannya yang tiba-tiba mengejutkan semua orang. Mereka semua tahu cara membelah diri saat kekuatan mereka telah mencapai Dao Immortal, dan setelah sampai di Desa Bumi, mereka bisa membentuk ribuan inkarnasi. Tapi, biaya yang dibutuhkan cukup besar, dan setiap kematian akan memberikan dampak buruk.


Dan di sini, Mo Lian membentuk belasan juta inkarnasi. Entah berapa harga yang harus dibayarkan untuk kekuatan seperti ini.


Hanya Wu Gouyu yang masih tetap tenang dengan perubahan seperti ini. Dia tahu orang yang mampu membunuh Dewa Surga di saat masih Dewa Bumi bukanlah orang yang sederhana, tapi tetap tidak berharap sampai seperti ini.


Leluhur Zhu mengambil napas, tubuhnya kembali membesar meski tidak dalam bentuk Vermillion dan ukurannya hanya tiga kali tinggi manusia normal. Kemudian dia memimpin Keluarga Zhu untuk menyerang dengan ganasnya, mengungkapkan kekuatan mereka yang mampu mendominasi Wilayah Selatan.


Mo Lian menyusut kembali ke ukuran semula setelah berhasil menghancurkan kapal, dan ini membuat pihak lawan berpikiran bahwa dirinya melemah dan mengalami luka karena memaksakan diri. Tapi yang tidak diketahui pihak lawan, Mo Lian mengecilkan tubuhnya karena terlalu merepotkan jika harus menggunakan Dewa Semesta.


Walaupun kekuatannya meningkat, tapi mobilitas dalam gerakannya terbatas.


Wu Gouyu melompat mundur yang menyingkat ratusan ribu mil. Dia mengeluarkan botol porselen indah, tapi membawa aura yang tidak menyenangkan. Ia membuka botolnya, terlihat ada cacing darah yang melesat seperti bayangan.


Cacing Darah menembus pertahanan Delapan Diagram Yin Yang, memasuki tubuh mayat.


Tiba-tiba, mayat yang sebelumnya tidak bisa berbuat apa-apa, meraung marah saat matanya bersinar merah. Aura kematian tubuhnya menyebar, merusak ruang di sekitar, bahkan ruang terlihat memutih dan menghitam, cahaya-cahaya berbeda warna berkedip, membawa kehancuran luar biasa.


Bang!


Kabut merah meledak dari tubuhnya, menghempaskan semua orang tidak peduli apakah mereka retak atau lawan.


Mayat hidup berhasil menghancurkan Delapan Diagram Yin Yang. Ia mendongak menatap Mo Lian dengan mata hitam legamnya.


Mo Lian merasakan bahaya yang mengancam, dia mengangkat tangannya mengarah ke depan. Tirai emas muncul di depannya untuk menghalau rasa bahaya yang datang.


Dengan dentuman, tirai emas di depan Mo Lian bergetar dan tiba-tiba retakan mulai muncul di sana serta tombak hitam yang mencoba menembusnya.


Mo Lian mengangkat tangan yang lain untuk memperkuat tirai emas, tapi terlambat karena ada yang menyerangnya dari belakang.


Mo Lian tersedak saat darah tersangkut di tenggorokannya, dan kemudian memuntahkannya. Dia menoleh ke belakang, mendapati bahwa pria tua pembawa tongkat menyerangnya dari belakang.

__ADS_1


Tepat saat Mo Lian ingin melepaskan serangan, tiba-tiba tubuhnya membeku ketika tombak hitam menusuk jantungnya.


Mo Lian menundukkan kepalanya, matanya mulai redup di saat tubuhnya mengering perlahan. Rasa sakit menjalar diikuti oleh hawa dingin yang menusuk kepalanya.


"Sayang!" Qin Nian berteriak keras saat memukul lawan di depannya, kemudian melesat ke arah Mo Lian untuk menyelamatkannya.


Semua klon emas yang sedang menghadapi musuh-musuh, hancur berkeping-keping.


Pembalikan ini terlalu mendadak, membuat semua orang tidak bisa bertindak cepat.


Hong Xi Ning, Yun Ning dan Qin Nian bergegas ke arah Mo Lian. Tapi mereka dihadang oleh Dewa Bumi, tanpa penundaan, Dewa Bumi melepaskan serangan mereka.


Dalam keputusasaan, ketiganya meledak di bawah serangan Dewa Bumi. Hanya meninggalkan Inti Jiwa berwarna biru muda, putih dan ungu. Tapi samar-samar ada energi emas yang melindungi Inti Jiwa agar tidak hancur di bawah bombardir serangan Dewa Bumi.


Wu Gouyu tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha! Untuk berpikir kau sangat lemah! Kau hanyalah cangkang kosong!"


Booom!


Bahkan saat Wu Gouyu masih berbicara, tiba-tiba ledakan keras datang dari tubuh mengering Mo Lian.


Sosok hitam dan mayat yang menahan Mo Lian, terhempas dengan tubuh mereka yang hancur. Mo Lian berdiri kokoh di tengah-tengah, matanya terlihat putih tanpa cahaya, aura yang dibawanya lebih kuat dari sebelumnya.


Mo Lian menghilang di tempat, berpindah ke arah Inti Jiwa istri-istrinya yang diserang tanpa henti. Dia sangat marah, tapi ekspresinya datar tanpa emosi kecuali aura kematian yang dibawanya meluap-luap.


Duarr! Duarr! Duarr!


Di mana Mo Lian melangkah, Dewa Bumi yang terkena lintasannya akan langsung meledak bersama Inti Jiwa mereka.


"Sayang ..." Mo Lian membawa tiga Inti Jiwa dengan kedua tangan; matanya yang putih tanpa emosi terlihat mengeluarkan air mata, suaranya yang datar tersendat seperti ada batu yang tersangkut di tenggorokannya.


Ratusan Dewa Bumi langsung muncul di sekitar Mo Lian, melepaskan serangan terkuat mereka. Bahkan ada yang membakar darah dan qi mereka agar kekuatannya meningkat satu atau dua tingkatan kecil.


Mo Lian seperti boneka tanpa jiwa, tidak mempedulikan semua serangan yang melesat ke arahnya. Tapi saat serangan itu hampir mengenainya, tiba-tiba terdengar suara lonceng yang mendengung dan dapat didengar oleh semua makhluk di Wilayah Selatan.


"Hukum Kematian: Kehancuran Dunia."


Dari bawah kaki Mo Lian, lantai hitam muncul dalam bentuk lingkaran. Itu meluas dalam sekejap mata, menarik semua orang yang berada di atasnya dan menghantamnya dengan keras.


Kemudian, lantai hitam tipis itu mengeluarkan bayangan tangan hitam. Tangan hitam itu menarik semua orang yang telah jatuh, menghisap mereka ke dalam bayangan di bawah ratapan dan jeritan mengerikan.


Tidak berhenti, aura mengerikan terlepas dari tubuh Mo Lian, memberikan kehancuran yang lebih ganas lagi. Celah ruang dan waktu terbuka, melepaskan sambaran petir tanpa henti yang menyerang tanpa pandang bulu.


Mo Lian berbalik melihat Wu Gouyu. Tatapannya masih datar tanpa emosi, dan saat dia melangkah, dia langsung tiba di depan Wu Gouyu.


Wu Gouyu begeyat tanpa sadar, keringat halus mengalir di dahinya dan ini membuatnya terkejut karena dia ketakutan.


Pada saat itu, dari celah ruang, energi biru merembes keluar membentuk tangan. Kemudian tangan itu memegang kedua sisi celah, dan membukanya paksa.


Booom!


Ledakan tanpa henti mulai terjadi, tapi anehnya semua itu hanya ditargetkan untuk pasukan dari Wilayah Barat. Semua orang terbunuh, hanya meninggalkan Dewa Surga yang masih bertahan di bawah tekanan menyiksa.

__ADS_1


Mo Lian mengangkat tangannya perlahan hendak meraih leher Wu Gouyu...


Tepat pada saat itu, tiba-tiba ada yang menahan tangan Mo Lian.


Hal itu membuat Mo Lian tersadar kembali karena dia mengetahui aura yang menahannya. Dia menoleh ke kiri, menemukan bahwa ada Hong Xi Jiang yang menahannya.


Air mata kembali mengalir, Mo Lian tersedu-sedu saat berbicara. "Yue Fu, aku minta maaf. Karena ku, Ning'er harus mengalami rasa sakit."


Hong Xi Jiang menundukkan kepalanya melihat Inti Jiwa yang dilindungi, kemudian kembali mendongak menatap Mo Lian. "Pohon Dunia, kau tidak bisa mempertahankannya di bawah tekanan. Kau mengorbankan umurmu untuk menggunakan kekuatan dari Alam Hanzi, ini menyalahi aturan."


Wu Gouyu yang berjarak satu meter, terdiam tanpa bisa bergerak sekalipun. Bahkan membuka mulutnya pun tidak mampu.


Leluhur Zhu terengah-engah saat berhasil membunuh banyak Dewa Bumi. Dia mengangkat kepalanya, kemudian tubuhnya gemetar dan melangkah mundur saat melihat Hong Xi Jiang. "Ka- Ka- Kau ... Kaisar!"


Hong Xi Jiang memandang Leluhur Zhu melalui sudut matanya, membuat Leluhur Zhu langsung bersujud karena tekanan kuat. Kemudian, Hong Xi Jiang menatap Mo Lian. "Aku kagum denganmu karena menggunakan metode yang serupa, tapi tubuhmu tidak mampu menahannya. Sudah waktunya untukmu menembus Dewa Surga."


Mo Lian merenung sejenak dengan tatapan kosong. "Yue Fu, apakah Anda selama ini berpura-pura tidak mengerti, padahal Anda sangat berpengetahuan?"


Wu Gouyu bergetar hebat, dia dulu pernah mendengar tentang orang kuat dari Wilayah Selatan yang dipanggil “Kaisar Tanpa Mahkota”, bahkan Ketua sampai dikalahkan hanya dalam beberapa pertukaran pukulan saat mereka masih Dao Immortal. Hanya Leluhur yang bisa mengalahkannya dan mengusirnya dari Wilayah Selatan, tapi saat ini Leluhur sudah tidak di Alam Semesta.


Hong Xi Jiang tidak menjawab, melainkan melambaikan tangannya, membantu rekonstruksi tubuh Hong Xi Jiang, Qin Nian dan Yun Ning. Tapi itu belum semua, karena lambaian tangannya yang lain menyembuhkan Wilayah Selatan dari kehancuran yang disebabkan oleh “Hukum Kematian: Kehancuran Dunia”.


Hong Xi Jiang menatap tajam Wu Gouyu. Dia mengangkat tangannya, mengetuk dahi Wu Gouyu dengan jarinya.


Tiba-tiba, Wu Gouyu berteriak keras saat pembuluh darah terlihat di dahinya. Dia berjongkok seraya memegangi kepalanya, kuku-kuku tajamnya menusuk kulit kepalanya karena sakit yang menyiksa.


Mo Lian mengabaikan Wu Gouyu setelah melihatnya beberapa saat. Fokusnya sekarang adalah Hong Xi Jiang. "Yue Fu, aku rela mendapatkan hukuman karena lalai dalam menjaga Ning'er seperti yang Anda sebutkan."


Hong Xi Ning tercengang karena baru mengetahuinya. Dia panik dan bertanya, "Apa itu?!"


Hong Xi Jiang membuka mulutnya hendak berkata, tapi saat melihat air mata yang membasahi wajah Hong Xi Ning. Dia hanya bisa menghela napas.


"Gunakan semua sumber dayamu untuk meningkatkan kekuatan mereka. Dan, cepatlah menerobos Dewa Surga! Ini sudah batasnya."


Mo Lian menganggukkan kepalanya. Bahkan meski dalam hal kekuatan tidak berbeda dari Dewa Surga, tapi mencapai Dewa Surga sungguhan tentunya memberikan perbedaan.


Hong Xi Jiang berbalik hendak pergi.


"Tunggu!" Mo Lian menahannya, masih ada pertanyaan yang membingungkan yang harus ditanyakan.


Hong Xi Jiang sudah tahu apa yang ingin ditanyakan, dan menggelengkan kepalanya. "Anggap aku adalah Kesadaran Surgawi seperti yang kau bilang. Walaupun sebenarnya bukan, dan ..."


Hong Xi Jiang menengadahkan kepalanya melihat ke atas, seolah-olah memandang orang yang sedang mempermainkan takdir di balik layar. "Naik ke sana, beri pelajaran. Biarkan mereka tahu, manusia bukan ras yang bisa dipermainkan."


"Sungguh licik, mereka memutus energi dari Alam Selestial dan membuat Alam Semesta miskin seperti ini."


Mo Lian terdiam. Bukannya terpuaskan, tapi malah bertambah bingung atas pernyataan Hong Xi Jiang. Dan ketika ingin bertanya, Hong Xi Jiang sudah menghilang.


"Ini ..." Mo Lian menggaruk kepalanya. "Seberapa kuat Yue Fu?"


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2