Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 111 : Pasukan Mata Setan


__ADS_3

Ketika Mo Lian mendarat tepat di depan pos tentara yang menjaga perbatasan, ia sudah di sambut dengan puluhan orang yang mengarahkan senjata api padanya. Bahkan ada pula yang sudah siap menembakkan senjata yang terpasang pada mobil berat.


Mo Lian mengangkat kedua tangannya dengan telapak yang terbuka, kemudian ia berkata dengan santainya, "Aku sedang tidak mencari masalah, ada masalah penting yang ingin ku tanyakan pada kalian semua di sini."


Semua orang yang mendengar itu menurunkan senjata mereka semua. Bagaimanapun tidak mungkin bisa menang saat melawan Pejuang tingkat tinggi di depan mereka, yang mana suaranya bisa menggema seperti itu.


"Apa yang ingin kau tanyakan?"


Terdengar balasan lainnya dengan suara yang sedikit menggema dari dalam pos perbatasan. Terlihat pria paruh baya yang berjalan keluar dari pos, mengenakan pakaian tentara dengan jas hijau dan baret di kepalanya.


Pria paruh baya itu melangkahkan kakinya dengan aura kultivasi keluar darinya, membuat udara sekitar menjadi berat yang sulit untuk bernapas. Ketika jaraknya hanya tersisa 50 meter dari Mo Lian, wajah pria paruh baya itu mengeras seperti melihat hal yang sangat mengejutkan.


Berbeda dengan Mo Lian, ia tidak merasakan adanya tekanan sama sekali, ia masih bisa bernapas dengan santainya. Bagaimanapun kultivasi pria paruh baya di depannya hanyalah sebatas Fase Lautan Ilahi tahap Akhir, atau Wu-Dan. Di matanya itu hanyalah semut kecil.


Mo Lian merogoh saku celananya, ia mengeluarkan selembar foto keluarga saat ia masih berusia empat tahun, dan Mo Fefei yang dua tahun. Ia menghampiri pria paruh baya itu, sembari menunjukkan foto di tangan kanannya. "Apakah kalian mengenal orang yang berada di foto ini?"


Puluhan orang itu menatap satu sama lain, kemudian berjalan mendekati Mo Lian melihat pria yang berusia sekitar 26 tahun, memiliki rambut hitam dengan potongan rapi, alis hitam tebal bagaikan pedang. Yang memiliki struktur wajah seperti Mo Lian.


"Minggir." Pria paruh baya itu berjalan di tengah-tengah kerumunan, membuat semua orang mundur beberapa langkah memberikannya jalan.


Pria paruh baya itu menolehkan kepalanya melihat Mo Lian maupun foto keluarga itu secara bergantian. Hingga wajahnya kembali mengeras dengan kerutan, tidak lama kemudian ia berkata dengan suara tegas, "Katakan. Dari mana kau mendapatkan foto ini?"


Mo Lian mengerutkan keningnya, ia tidak tahu mengapa pria paruh baya di depannya terlihat seperti kesal, namun juga kecewa secara bersamaan. Tapi meski begitu, ia tetap menjawabnya dengan santai, "Tentu saja dari Ibuku, memangnya siapa lagi?"


Pria paruh baya itu tersentak, ia kembali mengamati wajah Mo Lian dengan saksama, hingga tak lama kemudian, air mata menetes di wajahnya menjelaskan kerinduan.


"Ap- Apakah kau anak ... dari Mo Qian?" Pria paruh baya itu memastikan dengan suara yang terbata-bata dan bergetar.


"Iya, apakah Anda mengenal Ayahku?" Mo Lian menjawabnya langsung tanpa berpikir panjang. Kemudian dari raut wajah yang ditampilkan oleh pria paruh baya di depannya, ia sangat yakin jika pria paruh baya itu mengenal Ayahnya.


Pria paruh baya itu tertunduk dengan tangan kanan menutupi wajahnya, air mata terus mengalir deras dengan isak tangis dapat terdengar. Ia berbalik dan berjalan mengarah ke pos perbatasan sembari berkata, "Kau ikutlah denganku ke dalam, aku akan menjelaskan semuanya."


"Untuk kalian, kembali berjaga!" Pria paruh baya itu berteriak memerintah bawahannya.

__ADS_1


Semua orang terdiam untuk beberapa saat sebelum menjawabnya, mereka keheranan karena tidak pernah melihat Komandan mereka seperti ini.


"Siap! Laksanakan!"


Mo Lian berjalan mengikuti langkah kaki pria paruh baya itu. Ia juga mengamati berapa banyak orang yang menjaga perbatasan, perbatasan yang sering terjadi konflik, hanya dijaga oleh orang dengan jumlah kurang dari 50. Ini adalah jumlah yang sangat sedikit.


Tiga menit kemudian, keduanya sudah tiba di dalam ruangan putih dengan sedikit cahaya, seperti tempat yang biasanya digunakan untuk membahas strategi. Di dalam ruangan ini sendiri hanya ada mereka berdua tanpa siapapun yang berjaga di pintu masuk.


Keduanya saling terdiam tanpa suara, tidak ada satupun yang memulai pembicaraan. Pria paruh baya itu juga selalu menundukkan kepalanya dengan kedua tangan terkepal di atas meja, terkadang juga terdengar suara gesekan gigi yang menambahkan ekspresi menyesal dan kekesalan.


Mo Lian mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja, untuk mencairkan suasana yang hening dan tegang ini, kemudian berkata dengan suara datar tanpa ekspresi, "Bisakah Anda menjelaskan semuanya?"


Pria paruh baya itu tersentak, ia mendongakkan menatap wajah Mo Lian yang datar, tapi di matanya terpancarkan sinar yang menyilaukan seperti bisa menelan apapun.


Pria paruh baya itu bersandar pada sandaran kursi dengan kepala menatap langit-langit ruangan, ia menghembuskan napas panjang. Kemudian membenarkan posisi duduknya menatap Mo Lian.


"Sebelumnya itu, aku adalah Ong Lei Yang." Pria paruh baya itu memperkenalkan dirinya. Kemudian saat ia hendak melanjutkan perkataannya, ia berhenti saat melihat Mo Lian yang mengangkat tangan.


"Apakah Anda berhubungan dengan Ong Hei Yun?" tanya Mo Lian sedikit penasaran.


Mo Lian menganggukkan kepalanya, kemudian menjelaskan awal pertama mereka bertemu yang menjadi musuh, kemudian sampai sangat akrab.


Ong Lei Yang hanya bisa terdiam sembari menggelengkan kepalanya saat mendengar penjelasan itu.


"Maaf. Kita harusnya membahas tentang ayahmu, dan bukan tentang keponakan kecilku yang kurang ajar itu," ucap Ong Lei Yang mengalihkan pembicaraan.


Mo Lian hanya terdiam dengan anggukkan kecil darinya sebagai tanpa setuju.


Ong Lei Yang mengambil napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan dan mulai menjelaskan dengan suara berat menjelaskan kesedihan dan kerinduan, "Karena kau seorang Pejuang, harusnya kau tahu apa itu Pasukan Taring Naga."


Meski tidak mengerti hubungan antara Ayahnya dengan Pasukan Taring Naga, ia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Pasukan Taring Naga adalah pasukan khusus dari berbagai devisi, entah itu tentara, kepolisian, angkatan laut, dan udara. Kekuatan mereka lebih kuat daripada manusia pada umumnya, tapi Pasukan Taring Naga bukanlah yang terkuat di Daratan Huaxia. Ada satu lagi ..."

__ADS_1


Ong Lei Yang terdiam sejenak dengan mengigit bibir bawahnya seperti berpikir apakah harus memberitahu ataukah tidak. Namun meski begitu, ujung-ujungnya tetap dikatakan.


"Pasukan Mata Setan! Ini adalah pasukan khusus yang kekuatannya diatas Pasukan Taring Naga. Satu orang Pasukan Mata Setan dapat melawan sepuluh hingga seratus dari anggota Pasukan Taring Naga. Untuk bergabung di sini sangat menyulitkan, orang itu harus menerima ujian penerimaan yang seratus kali lebih sulit. Kemudian ayahmu dan aku bertugas di sini, kami berasal dari Pasukan Mata Setan, hanya dua orang saja yang berasal dari Pasukan Mata Setan, dan sisanya adalah tentara biasa ..."


Ong Lei Yang mencengkeram jari-jarinya yang terkepal, ia sangat kesal dengan keputusan di atas yang mengirimkan prajurit biasa untuk berjaga di perbatasan.


Mendengar itu, Mo Lian tidak bisa menahan keterkejutannya, ia tidak tahu jika ada organisasi rahasia lainnya yang terbentuk di Daratan Huaxia. Kemudian, Ayahnya adalah anggota dari pasukan itu.


"Ayahmu, disebut sebagai Dewa Iblis Merah. Hanya dengan satu pisau di tangan kiri dan satu pistol di tangan kanan, ayahmu bisa membantai sepuluh ribu tentara elit tanpa terluka sedikitpun. Hanya saja, pada saat itu, lima belas tahun lalu, kami mendapatkan serangan tiba-tiba. Kami tidak tahu dari mana mereka berasal ..." Ong Lei Yang kembali terdiam, ia tidak sanggup lagi melanjutkan perkataannya. Bahkan air mata terus mengalir membasahi wajahnya.


"Mereka ... ada lebih dari seribu orang, sedangkan kami hanyalah dua ratus orang, dengan aku dan ayahmu yang seorang Pejuang. Kekuatan mereka sangat luar biasa, delapan ratus tingkat Wu-Zong, dua ratus tingkat Wu-Dan, dan tiga Wu-Sheng. Ayahmu menerjang ribuan orang itu untuk memberikan waktu kepada kami untuk melarikan diri, aku ingin bertarung bersama, tapi ayahmu memintaku untuk melindungi orang-orang yang tidak berguna itu!"


"Pada saat itu, ayahmu sudah setengah langkah menembus Wu-Sheng. Aku melihat ayahmu sudah membantai setengah dari mereka, kemudian tiba-tiba ... ada cahaya yang menyilaukan mata, dan pada saat itu juga, semua hal yang di sana menghilang tanpa jejak." Ong Lei Yang melanjutkan penjelasannya setelah menenangkan dirinya.


Mo Lian terdiam dengan tubuh bergetar, ia tidak berharap jika Ayahnya memiliki kekuatan sebesar itu. Tapi ada yang mengganjal pikirannya, jika Ayahnya sangat hebat, lalu mengapa Keluarga Mo di Kota Chongqing hanya memiliki seorang Wu-Zong, tanpa adanya Wu-Dan.


Namun ada hal yang lebih penting, ia tahu jika Ayahnya tidak mati dan masih selamat. Dari apa yang dikatakan, cahaya putih itu mungkin saja memindahkan Ayahnya ke dimensi lain yang berdekatan dengan tempat pertempuran.


"Terimakasih. Apakah Anda bisa mengantarkan di mana tempat pertempuran lima belas tahun lalu?" tanya Mo Lian sembari berdiri dari tempat duduknya, dengan kedua tangan bertumpu pada meja di depannya.


Ong Lei Yang mengerutkan keningnya. "Untuk apa? Di sana sangat berbahaya," ucapnya dengan suara bergetar.


"Tentu saja untuk mencari Ayah. Anda tidak perlu khawatir, aku juga seorang Pejuang, Wu-Sheng tahap Akhir." Mo Lian melepaskan energi spiritualnya, membuat meja di depannya bergetar hebat dan retakan-retakan besar terlihat di dinding ruangan.


Ong Lei Yang terperangah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia bertekuk lutut karena tidak bisa menahan tekanan dari Mo Lian, yang kekuatannya hanya 20% itu.


Melihat itu, Mo Lian menarik kembali energi spiritualnya.


Ong Lei Yang bernapas dengan terengah-engah, setelah cukup tenang, ia berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. "Baiklah, aku akan membawamu ke sana."


Mo Lian tersenyum tipis dengan anggukan kecil, ia berjalan mengikuti langkah kaki Ong Lei Yang.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2