Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 378 : Menghancurkan Bintang Shu


__ADS_3

Sesepuh Pertama melangkah, menimbulkan dentuman seolah-olah sedang memukul gong untuk menandakan dimulainya perang. Tubuhnya diselimuti oleh energi merah yang membakar dengan amarah yang memuncak, dia memandang Mo Lian seperti orang mati, dan tidak menganggap Mo Lian hidup.


Sebagai Sesepuh Pertama yang dihormati, mau taruh di mana mukanya setelah bagaimana ketidakberdayaannya saat menghadapi Pedang Sembilan Reinkarnasi


Sesepuh Pertama mengangkat tangannya, kemudian mengayunkannya ke arah Mo Lian.


Semua orang yang mengurung Mo Lian memancarkan cahaya yang sama, energi merah mereka terbang memasuki formasi di atas yang menekan Mo Lian.


Raungan aneh terdengar dari dalam lingkaran, yang diikuti oleh ratusan ular yang melesat seperti kilatan petir. Ular-ular itu bergerak liar, mengelilingi Mo Lian dan mengikatnya erat-erat sampai tidak mampu menggerakkan tubuhnya.


Belum berakhir, ular-ular itu membuka mulutnya, ingin mengigit daging Mo Lian untuk menyerap semua energi spiritual sampai mengering dan mati terbunuh dalam siksaan. Mati karena terlukanya jiwa dan habisnya energi spiritual, adalah kematian yang paling menyiksa bagi seorang kultivator.


"Hahahaha! Anak muda! Kita bertemu lagi!"


Mo Lian menengadahkan kepalanya melihat sumber suara, dia bisa melihat ada roh manusia berwarna merah dengan Inti Jiwa berwarna oranye. Dia tercengang saat melihatnya, tapi segera pulih. "Yan Ji Nan."


"Kau berhasil lolos dari Api Sembilan Warna. Tapi, Sembilan Organisasi Utama telah musnah sampai ke akar-akarnya, bahkan keluarga-keluarga yang menjadi pengikut mereka telah hancur." Mo Lian melihatnya dengan tenang, walaupun dalam hatinya masih terkejut; tidak mengharapkan Penatua Yan Ji Nan dari Sekte Mawar Hitam berhasil keluar dari ruang hampa, dan diselamatkan oleh Aliansi 10.000 Ras.


Yan Ji Nan menyeringai lebar, memperlihatkan gigi taringnya yang berlumuran darah. "Terima kasih karena mu, aku bisa bertemu dengan Yang Mulia Sesepuh Pertama. Dengan bergabung dengan mereka, bukan hanya dapat membalaskan dendam, tapi aku bisa menguasai Bintang Utama dan Galaksi Pusat!"


Mo Lian tersenyum tipis seperti tidak terjadi apa-apa, bahkan saat energi spiritualnya terus diserap, dia tidak merasakan sakit. "Maaf, tapi sepertinya kau harus mati lagi."


Sebelum Mo Lian selesai berbicara, ledakan keras datang dari dalam tubuhnya, dan seolah-olah ada lubang hitam, energi spiritual yang sebelumnya telah diserap, kini ditariknya lagi ke dalam tubuhnya. Bahkan, 234 Sesepuh yang berada di dalam formasi terkena dampaknya; energi spiritual mereka ditarik paksa ke dalam lingkaran merah, dan itu menjadi nutrisi bagi Mo Lian untuk terus menempa Tiga Kekuatan Utama.


"""Apa ini?!""" Semuanya berteriak panik saat tubuh mereka terasa melemah dan satu per satu mulai berlutut.


Bang!


Asap tebal menghalangi pandangan saat ledakan terjadi. Itu seperti asap gunung berapi yang sangat panas saat menyebar, kemudian terdengar suara mendesing dari dalam asap, dan terlihat pedang putih yang melesat ke atas dari dalam asap.


Pedang itu melesat, menembus lingkaran array di atasnya. Pedang itu menghilang, tapi ledakan-ledakan petir terdengar di dalam lingkaran merah seperti badai, kemudian kilatan petir putih terlihat menyebar di luar lingkaran.


"Aaarrrgghh!" Yan Ji Nan berteriak keras mengungkapkan rasa sakit yang menyiksa. Dia sudah hampir berhasil mengkonstruksi tubuhnya. Biasanya, untuk seorang Dao Immortal, bisa dengan mudah membentuk tubuh baru, tapi setelah disiksa oleh Api Sembilan Warna selama belasan tahun, dia harus mengulang dari awal seperti membentuk roh.


Crack!


Lingkaran itu retak seperti kaca, kemudian meledak dengan energi merah yang menyebar dengan gila. Ruang pecah dan meledak-ledak, badai angin maupun petir bergerak liar seperti akan adanya kehancuran yang tidak bisa ditahan.


Swoosh!

__ADS_1


Angin bertiup kencang, menghempaskan semua asap bersamaan dengan 234 Sesepuh. Roh Yan Ji Nan hancur dengan Inti Jiwa-nya yang berubah menjadi debu, dan hanya meninggalkan Sesepuh Pertama yang berhasil bertahan di tempat, meski harus menyilangkan kedua tangannya untuk menghalau tekanan.


"Terima kasih atas makanannya."


Suara menggema di seluruh Galaksi Bima Sakti.


Bisa terlihat, Mo Lian yang telah membesar. Dia memakai pakaian putih dengan jubah ungu; 9 Niat Pedang dan 10 Pedang Semesta dan Keabadian berada di belakangnya; Cincin Matahari pun muncul.


Kemudian, ada Pohon Dunia yang bahkan ukurannya lebih besar dari tubuh Mo Lian saat ini.


Bumi, walaupun sudah membesar lima sampai enam kali dari ukuran normal, tapi di hadapan Mo Lian, ukurannya hanya sebesar jari kelingking.


Mo Lian mengabaikan keterkejutan Sesepuh Pertama. Dia memunculkan pedang di tangan kanannya, kemudian mengibaskan pedangnya secara menyilang di ruang hampa di depannya.


Srak!


Ruang terbelah, memperlihatkan sebuah dunia berwarna biru seperti lautan luas jauh di dalam celah. Dunia itu berkali-kali lipat dari Matahari, bahkan Bintang Utama.


Lintasan pedang seperti bulan sabit melesat ke dalam celah yang telah terbuka. Itu membawa aura penindasan yang tak terbayangkan dengan niat membunuh yang berkumpul.


Sesepuh Pertama, menyipitkan matanya saat melihat ke dalam celah, mencoba mengamati tempat itu yang menurutnya nampak familiar.


Siluet bulan sabit berwarna putih itu menghantam penghalang dunia biru, menimbulkan suara keras dengan getaran. Tapi, penghalang itu tidak bertahan lama dan langsung hancur.


Siluet tebasan pedang itu tidak menghilang meski sudah menghancurkan penghalang. Itu terus melesat, kemudian membelah dunia biru dan menghancurkannya sampai meledak.


Ketika dunia biru meledak, celah ruang itu langsung menutup.


Booom!


Gema ledakan bisa terdengar sampai Galaksi Bima Sakti, ledakan itu berasal dari dunia biru yang sebelumnya telah dihancurkan Mo Lian sampai tidak meninggalkan debunya.


Sesepuh Pertama dan 234 Sesepuh, dapat melihat kehancuran dunia di dalam celah dengan jelas. Hal itu membuat mereka sangat marah, merasakan teror, kesedihan dan lain sebagainya. Mata mereka merah dengan kebencian terhadap Mo Lian; niat pertempuran bangkit dari dalam lubuk hati mereka ketika melihat Bintang Shu, Markas Aliansi 10.000 Ras.


"Brengse*!" Sesepuh Pertama berteriak, tubuhnya diselimuti oleh energi merah saat berlari ke arah Mo Lian.


Energi yang menyelimuti Sesepuh Pertama terus membesar membentuk siluet kerbau raksasa dengan tanduk naga. Kemudian terlihat cahaya putih yang menyilaukan mata di tengah-tengah siluet, dan saat cahaya itu meredup, kerbau merah sudah benar-benar terbentuk—bukan lagi siluet.


Kerbau yang merupakan perwujudan dari Sesepuh Pertama itu membuka mulutnya dan mengeluarkan raungan. Ya! Raungan, bukan lenguhan kerbau seperti pada umumnya.

__ADS_1


Energi merah berkumpul di dalam mulutnya, kemudian menembakkannya membentuk laser merah.


Mo Lian mundur selangkah yang mengambil jarak belasan bahkan puluhan juta mil. Dengan tangan kanan membawa pedang, dia menyilangkan pedangnya untuk menghalau serangan.


Bang!


Serangan Sesepuh Pertama menghantam pedang dan langsung terbelah membentuk tirai besar ke dua sisi Mo Lian.


Mo Lian mengangkat tangan kanannya untuk menyerang, tapi melihat Bumi yang berada di depannya, membuatnya berhenti bergerak dan mengambil langkah mundur.


Kegelisahan Mo Lian ini diperhatikan oleh Sesepuh Pertama. "Hancurkan Bumi! Bunuh semua Bangsa Zhongguo!"


"""Baik!""" 234 Sesepuh menjawabnya bersamaan, kemudian tanpa melihat Sesepuh Pertama, mereka langsung berbalik ke arah Bumi.


Dengan jumlah dan kekuatan mereka, itu terlalu berlebihan untuk menyerang Bumi yang lemah.


Mo Lian terdiam dengan ekspresi muram, menjelaskan bahwa dia sedang khawatir. Tapi, di dalam hatinya, dia merasa kasihan pada 234 Sesepuh karena menyerang Bumi yang dijaga oleh Hong Xi Jiang. Perlu diketahui, Hong Xi Jiang sudah menembus Dewa Bumi tahap Menengah, dan bisa membunuh Sesepuh Pertama dengan tamparan, apalagi Dewa Bumi belaka.


Sesepuh Pertama menyeringai dalam wujudnya yang sekarang. "Hahahaha! Menyerahlah, aku bisa menjanjikan untuk menjaga keluargamu tetap hidup. Jika tidak, kalian hanya bisa mati bersama Bangsa Zhongguo!"


Mo Lian mengerutkan keningnya, tidak memahami jalan pikiran Sesepuh Pertama. Jika dia adalah Sesepuh Pertama, dia tidak akan menjanjikan hal semacam itu pada seseorang yang telah menghancurkan kampung halaman, pastinya dia akan membunuh dan membunuh tanpa ampun.


"Kakak Senior! Tidaaakkk!"


Pada saat itu, teriakan keras yang terdengar menyakitkan datang dari Bumi. Itu menarik perhatian Sesepuh Pertama.


Sesepuh Pertama membelalakkan matanya ketika melihat satu demi satu Sesepuh yang terbunuh dengan mengenaskan. Ada kaitan energi berwarna putih membentuk gelombang pasang. Gelombang energi itu menelan semua Dewa Bumi yang berusaha menyerang Bumi, tapi pada akhirnya mereka dihisap dan dihancurkan di dalam gelombang seperti daging giling.


Adapun Sesepuh Pertama, dia dibiarkan diam di tempat tanpa bisa berkata-kata. Bayang-bayang Generasi Pertama yang terluka dan terbunuh terbesit di pikirannya, dia mengingat kembali kata-kata yang diucapkan sebelum kematian salah satu Generasi Pertama yang dekat dengannya.


Dalam pesan yang ditinggalkan, Aliansi 10.000 Ras jangan sampai mencari masalah dengan Bangsa Zhongguo, atau hanya kehancuran yang didapat.


Sesepuh Pertama yang saat itu masih muda, terus membual dan mengatakan akan membalas dendam. Tapi sekarang, dia akhirnya mengerti mengapa Generasi Pertama mengingatkan untuk tidak mencari masalah dengan Bangsa Zhongguo, meski menemukan Harta Surga dan Bumi.


Karena kecerobohan dan terlalu percaya diri, Sesepuh Pertama membawa kehancuran untuk Aliansi 10.0000 Ras yang terbentuk selama ratusan ribu tahun.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2