Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 184 : Laut Kuning


__ADS_3

Minggu, 7 Maret 2021


Dua hari setelah peristiwa yang terjadi di Real Estate Cho. Berita tentang kejadian di Real Estate Cho telah tersebar ke seluruh Daratan Huaxia, termasuk menghilangnya Kepala Keluarga Mo dan kutukan aneh yang mengambil masa hidup keturunan mereka.


Dalam kejadian itu ada yang mengambil gambar dan memberikannya pada kepolisian, yang terlihat hanyalah empat cahaya yang bertarung. Biru muda, kuning keemasan, merah terang, merah gelap.


Tidak ada yang mengetahui mengapa dua cahaya biru dan kuning itu menyerang Kediaman Mo, tapi banyak yang menduga jika itu karena dendam lama yang belum terselesaikan, mengingat Mo Zhianlang yang merupakan Tuan Muda Keluarga Mo seringkali membuat masalah.


Kemungkinan masalah itu tidak sengaja menyinggung orang yang seharusnya tidak boleh disinggung, dan berita tentang menuanya penampilan keturunan Mo Huangbei juga sudah diketahui. Banyak rumah sakit yang menyerah dengan keadaan mereka, karena itu berada di luar kemampuan.


"Berita ini terlalu dilebih-lebihkan." Mo Lian mematikan layar handphone, dan menyimpannya ke dalam saku celana.


Pada saat ini ia sedang berada di halaman depan Aula Sekte, dan duduk di tangga batu yang menghubungkan halaman dengan tempat berlatih. Ia melihat sebagian dari mereka yang berlatih menggunakan pedang, tombak, maupun duduk berkultivasi.


Sedangkan untuk anak-anak, mereka pergi bersekolah.


Ketika Mo Lian masih mengamati pelatihan, ia mendengar langkah kaki yang mendekatinya dari belakang.


"Bukankah hari kau berencana akan pergi ke Kota Qingdao? Apakah tidak jadi?" tanya Mo Qian yang duduk di sebelah kanan Mo Lian.


Mo Lian mendongak, menatap jauh ke Mansion Bai Long. "Fefei masih berada di rumah dan bersiap-siap, padahal aku sudah mengatakannya untuk bersiap sebelum kita ke Kota Chongqing."


Mo Qian mengusap dagunya sembari mengangguk-angguk kecil. "Bukankah kau sudah memberinya Cincin Ruang? Seharusnya sangat mudah untuk bersiap-siap, tinggal masukkan apapun yang dirasa perlu, atau bawa saja seisi rumah."


Mo Lian hanya bisa terdiam dengan saran dsri Ayahnya yang dirasa benar, namun juga tidak secara bersamaan.


Belasan menit kemudian, akhirnya ia bisa melihat cahaya biru tua yang terbang dari Mansion Bai Long, yang merupakan Mo Fefei sedang terbang ke arahnya dengan kecepatan tertinggi.


Mo Fefei terbang sangat cepat dan menurunkan ketinggiannya, tanpa memperlambat gerakannya mengarah pada Mo Lian. "Kakak!"


Mo Lian yang melihat itu hanya bisa berdiri dan membuka kedua tangannya, ia tidak bisa menghindar ataupun melapisi tubuhnya dengan energi spiritual karena bisa mengakibatkan cidera pada kepala Mo Fefei.


Buk!

__ADS_1


Kedua tangan Mo Fefei menghantam dada Mo Lian dan membuatnya mundur dua langkah ke belakang, dengan cepat ia menangkap Mo Fefei, kemudian memukul puncak kepalanya dengan pelan. "Jangan bermain-main, untungnya kekuatan fisikku berada diatas rata-rata."


Mo Fefei meringis menahan rasa sakit seraya mengusap puncak kepalanya dengan kedua tangan. "Maaf..." ucapnya pelan.


"Kita pergi ke Laut Kuning untuk apa?" tanya Mo Fefei mendongak masih dengan mengusap puncak kepalanya.


"Kita akan mencari tahu keanehan di sana ..." Mo Lian mengusap lembut kepala Mo Fefei. Ia menoleh ke kanan menatap Mo Qian. "Ayah juga akan berangkat bersama kita, meski hanya mengirimkan kloningnya."


Mo Qian hanya menganggukkan kepalanya sebagai balasan dan membenarkan ucapan No Lian.


Alasan Mo Lian ke Laut Kuning bukan hanya untuk mencari keanehan yang terjadi di sana, ia juga ingin mencari bahan pelengkap untuk membuat Pil Darah, karena bahan penting itu tidak didapatkan, bahkan di Cincin Ruang milik naga. Bahan itu adalah Mutiara Giok, barang yang akan diperebutkan di seluruh Alam Semesta.


Namun jika ia tidak mendapatkannya, maka ia hanya bisa menggunakan metode lain untuk memanfaatkan Batu Spiritual.


Tanpa berlama-lama lagi, setelah semuanya telah bersiap-siap. Mereka bertiga melayang perlahan meninggalkan tempat, terbang menembus awan agar tidak terlalu terlihat, dan kemudian pergi ke arah timur laut.


Dengan kecepatan Mo Fefei, mereka akan membutuhkan sekitar satu sampai dua jam untuk benar-benar sampai di Laut Kuning, yang memisahkan antara China dengan Korea Selatan.


Ketika berada di ketinggian langit, tidak ada satupun dari mereka bertiga yang bersuara, dan fokus pada tujuan mereka yang berada di Laut Kuning. Karena memang tidak ada yang perlu dibicarakan, hingga waktu terus berjalan, akhirnya mereka sudah sampai di langit dari Laut Kuning.


"Begitulah yang dikatakan Ong Hei Yun, dia bertugas tidak jauh dari sini, dan mendengarnya setiap pukul tiga pagi selama tiga hari berturut-turut," jawab Mo Qian yang menganggukkan kepalanya.


Mo Lian menutup matanya perlahan dan melepaskan energi spiritualnya, memasuki kedalaman laut, mengecek apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana, apakah ada suatu hal yang membahayakan Daratan Huaxia, seperti monster laut.


Tak lama kemudian, Mo Lian membuka matanya perlahan dan menggelengkan kepalanya sembari menghembuskan napas berat, mengungkapkan perasaan kecewa karena tidak menemukan suatu hal yang dikatakan Ong Hei Yun.


"Tidak ada hal aneh yang berada di sana, dan lebih baik kita pergi terlebih dahulu ke Kota Qingdao untuk beristirahat, kemudian kembali pergi ke sini saat pukul tiga dini hari." Hanya inilah rencana yang bisa dipikirkannya saat ini, ia juga tidak ingin langsung menyelam ke dasar laut seperti saat di Segitiga Bermuda.


Walaupun Mo Lian tidak merasakan suatu hal aneh seperti kehidupan monster, tapi ia tetap merasakan suatu aura yang cukup berbahaya untuk pergi ke dalam air, dan lebih baik menunggu di langit. Itulah alasan mengapa ia tidak memilih untuk menyelam, meski alasan sebenarnya adalah karena lumpur yang mengendap, dan membuat air laut sedikit kekuningan.


"Tapi ..." Mo Fefei menarik baju Mo Lian. "Besok aku harus sekolah ..."


Mo Lian mengusap puncak kepala Mo Fefei. "Jika satu jam setelah kita datang namun tidak ada hal aneh seperti yang dikatakan Ong Hei Yun, kita akan kembali lagi."

__ADS_1


Mo Fefei menganggukkan kepalanya, mengikuti perintah Mo Lian.


Mo Qian melihat kedua anaknya yang saling menyayangi, ia tersenyum bahagia ketika melihat hal itu. Ia juga tidak menolak rencana yang diucapkan Mo Lian tadi, karena ia juga merasakan suatu hal yang berbahaya di kedalaman laut.


Kelompok tiga orang yang satu keluarga itu pergi ke arah barat, menuju Kota Qingdao untuk beristirahat di hotel di sana.


***


Senin, 08 Maret 2021. Pukul 03.00


Mo Lian duduk di balkon kamar, melihat jauh ke arah lautan untuk mendengar apakah suara yang dikatakan itu memang berasal dari Laut Kuning. Sesekali ia melihat waktu di jam tangannya, untuk memastikan apakah benar-benar sudah memasuki waktu yang tepat.


Greerrr...


Terjadi getaran yang tidak terlalu besar di tempatnya menginap, dan suara yang cukup mengerikan berasal dari Laut Kuning, seperti monster yang marah dan ingin menghancurkan segalanya.


Mo Lian membuka matanya lebar saat melihat apa yang sebenarnya berada di Laut Kuning, ia melihat monster berbentuk ular cobra yang tiga puluhan meter tubuhnya keluar dari dalam air. Ular itu memiliki semacam sirip tepat di bawah kepalanya. Lidah menjulur yang di lidah itu memiliki mulut dan gerigi tajam.


Bukan hanya itu saja, terdapat tangan yang penuh dengan cakar yang terletak sekitar dua puluhan meter dari atas kepala, dan tentakel gurita yang muncul di permukaan air.


"Leviathan? Monster yang dikatakan suka sekali menenggelamkan kapal-kapal ternyata benar-benar ada?" Mo Lian sudah sering melihat monster yang berada di lautan dalam. Namun masih tidak menduga jika Bumi yang sangat kecil, menyimpan banyak rahasia dan misteri.


"Sepertinya monster setengah badannya tidak bisa keluar, dan untungnya berada di tengah-tengah, jauh dari lepas pantai. Sehingga dampak dari gerakannya tidak sampai ke sini." Mo Qian keluar dari kamar sembari membawa secangkir kopi.


Mo Lian menganggukkan kepalanya, kemudian menekan kedua tangannya pada sandaran lengan di kursi, dan berdiri dari tempat duduknya. "Jadi, haruskah kita bertindak sekarang? Jika kita melepaskannya kembali ke dalam air, itu hanya akan menambah pekerjaan ..."


"Oke." Mo Qian mengangguk kecil dan tidak bergerak sama sekali.


Keduanya masih berdiri di balkon kamar tanpa ada gerakan, tidak sesuai dengan perkataan mereka sebelumnya. Namun saat pintu di balkon digeser, memperlihatkan Mo Fefei yang baru bangun, keduanya bergerak sangat cepat menuju Laut Kuning.


Mereka diam bukan karena takut atau mempersiapkan diri, tapi karena menunggu Mo Fefei bangun agar mengetahui ke mana mereka pergi.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2