
Mo Lian yang sedang terbang di langit Kota Chengdu kembali mengambil handphone-nya, ia mencari nama yang terdaftar di kontak dan kemudian menghubunginya.
Tidak lama kemudian, panggilan telepon terhubung.
"Halo Ong Hei Yun. Jika kau sedang berada di Kota Chengdu, tolong bawakan beberapa anggota polisi ataupun Pasukan Taring Naga ke Perusahaan Meiliafei. Ada yang menyerang perusahaan ku, dan sepertinya mereka berasal dari Organisasi Dunia Hitam!"
"Seben—"
Mo Lian menutup panggilan telepon sebelum Ong Hei Yun dapat menjawab. Sebenarnya Mo Lian tidak terlalu membutuhkan bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalah ini, hanya saja akan menyusahkan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sepertinya halnya ia membunuh orang yang menyerang perusahaan, dan kemudian malah dirinya yang dijadikan tersangka.
Namun apabila ada Ong Hei Yun ataupun Pasukan Taring Naga yang mengetahui tentang Organisasi Dunia Hitam. Ia tidak perlu khawatir lagi jika harus menunjukkan kekuatannya dan membantai habis orang-orang yang menyerang perusahaannya.
Tiga menit kemudian, ia telah tiba di langit Perusahaan Meiliafei. Terlihat di halaman depannya terdapat mobil box tanpa plat nomor, ia mengedarkan kesadarannya ke seluruh perusahaan. Ketika ia membuka matanya, nafsu membunuhnya kembali keluar.
Mo Lian mendarat tepat di depan pintu perusahaan. Ketika ia mendarat, terdengar suara sirene di belakangnya, ia menolehkan kepalanya, terlihat beberapa mobil polisi yang dipimpin oleh orang yang dikenalnya, Ong Hei Yun.
"Cepat juga kau," ucap Mo Lian menatap Ong Hei Yun.
"Tentu saja. Saat kau memberikan kabar, aku berada tidak jauh dari sini." Ong Hei Yun menganggukkan kepalanya.
Mo Lian menganggukkan kepala, ia berbalik dan berjalan menuju pintu masuk perusahaan.
Pemuda berseragam polisi berlari menghampiri Ong Hei Yun, kemudian menunjuk pada Mo Lian yang sedang berjalan. "Kapten! Kenapa kau tidak menghentikannya—"
Ong Hei Yun mengangkat tangannya yang terkepal sebagai tanda untuk diam. "Apakah aku, seorang Wu-Zong tahap Menengah bisa menghentikan seorang Wu-Dan?"
"Wu- Wu- Wu- Wu-Dan?" Pemuda itu membelalakkan matanya lebar.
Ong Hei Yun mengabaikan keterkejutan bawahannya, ia berjalan menghampiri Mo Lian dengan membawa loudspeaker di tangannya.
Ong Hei Yun mengangkat loudspeaker yang berada di tangan kanannya dan menatap ke arah pintu masuk perusahaan. "Pasukan bersenjata yang berada di dalam gedung dimohon untuk tidak melakukan tindakan apapun yang dapat membahayakan nyawa orang-orang yang tidak bersalah. Jika kalian bisa memastikan tidak ada korban jiwa, kami akan melakukan apapun yang kalian inginkan."
"Yang kami inginkan? Hahaha! Kalau begitu kami menginginkan resep Cairan Pil Pingyuan. Apakah kau bisa memberikannya? Mereka semua yang ada di sini mengatakan tidak mengetahui apapun tentang resepnya, dan salah satu dari mereka berbicara jika orang yang mengetahuinya tidak berada di sini!"
Mo Lian mengambil loudspeaker dari tangan Ong Hei Yun. "Aku Mo Lian, orang yang mengetahui resep Cairan Pil Pingyuan. Buka pintunya, dan biarkan aku masuk."
Dari dalam gedung tidak terdengar balasan untuk beberapa saat. Setelah menunggu selama beberapa menit, akhirnya terdengar balasan lainnya dengan menggunakan loudspeaker, "Kau masuk seorang diri. Jangan membawa siapapun, jika tidak, aku akan membunuh salah seorang yang berada di sini!"
Mo Lian menganggukkan kepalanya, ia menyerahkan loudspeaker pada Ong Hei Yun. Kemudian berjalan menuju pintu perusahaan yang telah terbuka, saat hendak memasuki gedung, seluruh tubuhnya digeledah. Saat dirasa aman, barulah ia diperbolehkan untuk masuk ke dalam gedung perusahaan.
Ketika sudah sampai di dalam, Mo Lian menolehkan kepalanya melihat sekitar. Banyak sekali para tamu yang terduduk di lantai dengan tubuh bergetar ketakutan, beberapa dari mereka juga ada yang terluka ringan. Ia kembali mengalihkan pandangannya, seketika amarahnya kembali memuncak saat melihat seorang wanita muda yang terluka parah, yang mana di bahunya terus mengeluarkan darah.
Wanita muda itu adalah Adiknya, Mo Fefei. Sepertinya luka itu didapat dari tembakan seseorang yang menyadari kalau Mo Fefei sedang meneleponnya tadi. Bukan itu saja, ia juga melihat wanita yang tidak kalah cantik, orang itu adalah Ibunya, Su Jingmei, di wajahnya terlihat luka lecet seperti habis terkena tamparan.
__ADS_1
Wajah Mo Lian menghitam karena amarah, ia mengangkat tangan kanannya menunjuk kedua wanita itu. "Siapa diantara kalian yang melukai kedua orang itu," tanyanya dengan nada berat.
"Untuk apa kau menanyakan hal yang tidak penting!" teriak pria yang memegang senjata api laras panjang jenis TrackingPoint Guns, dan mengenakan pakaian serba hitam serta mengenakan penutup wajah.
"Jangan banyak tanya! Cepat beritahukan resepnya!" teriak yang lain seraya meletakkan pistol Desert Eagle Mark XIX Pistol pada kepala Mo Lian.
Tidak hanya itu saja, dua orang lainnya yang berjaga-jaga juga berjalan dan mengarahkan pistol yang sejenis pada Ibunya dan Adiknya.
Melihat itu, Mo Lian menundukkan kepalanya sembari mengepalkan kedua tangannya. "Turunkan senjata kalian dari kedua orang itu. Jika tidak—"
"Jika tidak apa?!"
Mo Lian menghela napas panjang, ia menggerakkan sedikit kakinya. Seketika ia menghilang di udara kosong dari pandangan semua orang, dan muncul kembali tepat di belakang Ibu serta Adiknya, namun juga berdiri di depan kedua orang yang memegang senjata api.
Mo Lian mengibaskan kedua tangan pada kedua orang itu. Seketika itu juga mereka berdua tersungkur di lantai dengan darah segar yang mengalir di leher mereka.
Kejadian ini terjadi sangat cepat. Ketika semua orang telah sadar, teriakan-teriakan terdengar dari para tamu yang melihat darah mengalir. Sedangkan untuk para penyerang yang jumlahnya 30 orang, dengan sigap mereka semua mengarahkan senjata apinya pada Mo Lian.
"Serang!"
"Bunuh dia! Dia adalah Pejuang!"
Dor! Dor! Dor!
Para tamu yang melihat ini membelalakkan matanya lebar, beberapa dari mereka ada yang mengeluarkan handphone yang mereka sembunyikan, dan mulai mengambil video tentang apa yang terjadi di depan mata mereka.
"Di- Di- Dia seorang Wu-Zong. Da- Dari kemampuannya, sepertinya hampir mencapai Wu-Dan. Cepat panggil Tetua!"
"Ba- Baik!" jawab salah satu dari mereka, kemudian berlari keluar gedung.
Tapi yang tidak diketahui mereka semua adalah jika pembicaraan di dalam gedung didengar oleh Ong Hei Yun. Dan tentu saja Ong Hei Yun memerintahkan bawahannya untuk pergi menjauh, dan untuknya sendiri mencegat orang yang baru saja keluar dari dalam gedung.
Mo Lian mengangkat tangan lainnya yang terbuka. Kemudian ia mengepalkannya seperti sedang menangkap sesuatu. Seketika itu juga tubuh dari 27 orang yang menembak menjadi kaku tak bisa digerakkan. Mo Lian mempererat cengkeraman jari-jarinya yang terkepal, kemudian terdengar retakan kasar dari kedua puluh tujuh orang itu, menandakan bahwa tulang-tulang tubuh mereka patah.
Mo Lian menarik tangan kanannya, kemudian mengibaskannya dengan keras, dan orang-orang yang tubuhnya kaku itu terlempar menghantam dinding kaca hingga pecah berkeping-keping.
Tidak berhenti disitu saja, ia berjalan menuju pintu keluar. Namun baru saja ia melangkah, ia kembali berhenti dan berbalik melihat Ibu serta Adiknya, ia mengarahkan telapak tangan kanannya pada mereka berdua. Seketika energi spiritual berwarna biru transparan menyelimuti tubuh mereka berdua, dan luka-luka yang mereka derita berangsur-angsur membaik.
"Ibu, Fefei. Kalian tunggu di sini." Mo Lian tersenyum lembut pada keduanya, kemudian ia berbalik dan berjalan menuju pintu keluar. Setiap ia melangkah, aura kuat keluar dari tubuhnya, lantai-lantai gedung yang seharusnya kokoh menjadi 'tahu' yang lembut saat dipijaknya.
Mo Lian yang telah tiba di luar gedung kembali mengedarkan pandangannya, terlihat puluhan orang tersungkur di tanah mencoba untuk bangkit kembali. Tentu saja ia yang melihat itu tidak tinggal diam, ia mengangkat tangan ke udara, kemudian mengayunkannya secara vertikal ke bawah.
Seketika itu juga puluhan orang bersenjata api itu kembali tersungkur di tanah, mereka semua merasa jika ada gunung yang menekan tubuh mereka. Mereka semua mencoba untuk berdiri, namun tidak dapat menggerakkan tubuh mereka bahkan untuk satu jari. Tidak! Satu helai rambut pun tidak ada yang bergerak.
__ADS_1
"Aarrgghh!" Puluhan orang berteriak kesakitan saat tubuh mereka tertekan oleh energi kuat yang tak kasat mata.
Mo Lian tidak memberi ampunan pada mereka, ia kembali menekan tangannya ke bawah, yang mana membuat aura tekanan pada puluhan orang semakin kuat dan berat.
Puluhan orang yang merasakan tekanan semakin berat itu hampir tak sadarkan diri, beberapa dari mereka ada yang telah kehilangan nyawanya dengan keadaan tubuh yang memprihatinkan. Entah itu tubuhnya hancur, kepalanya pecah.
Bukannya berhenti, tekanan yang dibuat Mo Lian semakin kuat. Namun saat semua orang dari mereka hampir terbunuh, terdengar suara menggema dari dalam mobil box.
"Anak muda. Kau terlalu berlebihan, bisakah kau berhenti, atau kau akan menerima akibat—"
"Berisik!" Mo Lian meninju udara kosong di depannya, gesekan antara pukulan dan udara sekitar membuat tekanan tinggi. Udara bertekanan tinggi itu melesat tajam ke arah mobil box, kemudian mobil itu meledak begitu saja dengan api yang membumbung tinggi.
Dari dalam mobil box melompat seorang pria paruh baya yang berpakaian tidak jauh berbeda dari puluhan orang bersenjata, hanya saja ia tidak mengenakan penutup wajah. Pria paruh baya itu memiliki luka sayatan pada wajahnya, dari dahi hingga ke bagian pipi kanannya.
Pria paruh baya yang melayang di antara bumi dan langit menatap tajam Mo Lian. "Anak muda. Beraninya kau menyerangku saat aku sedang berbicara! Kau memang sangat berbakat diusia yang sekarang sudah berada ditingkat Wu-Zong tahap Akhir. Tapi kau tidak akan bisa mengalahkan— Arrgghh!"
Entah dari kapan Mo Lian sudah tiba di depan pria paruh baya itu, ia mencengkeram erat rahang pria paruh baya dan menarik keras tangan kiri lawannya hingga terdengar suara renyah. Yang menandakan bahwa lengan bagian bawah, dan atas dari pria paruh baya yang dipanggil Tetua itu telah terputus, dan memperlihatkan darah segar mengalir deras.
"Hanya seorang Wu-Dan tahap Menengah berani sombong dihadapan Wu-Sheng!"
"Wu- Wu- Wu-Sheng?" Pria paruh baya itu membelalakkan matanya. "Ti- Tidak mungkin!"
Dengan rahang dicengkeram Mo Lian, pria tua itu melirik ke semak-semak yang berada tidak jauh dari gedung perusahaan. "Tem- Tembak."
Mo Lian menolehkan kepalanya melihat ke arah yang dilirik pria paruh baya itu. Terlihat orang yang menggunakan seragam yang sama sedang membawa RPG di bahunya dan membidik Mo Lian.
"Ti- Tidak mungkin kau seorang Wu-Sheng! Aku Tetua Ping, akan membawamu bersamaku ke Neraka." ucap pria paruh baya itu dengan suara serak.
Bang! Wush! Duarr!
RPG ditembakkan tepat mengenai Mo Lian dan Tetua Ping. Ledakan besar terlihat di langit halaman parkir perusahaan, para tamu yang entah dari kapan sudah berada di luar membuka matanya lebar saat melihat Mo Lian terkena serangan.
Su Jingmei dan Mo Fefei juga tidak dapat menahan tangis mereka, mereka berdua terduduk lemas di tanah dengan pandangan kosong menatap jalan. Bahkan Keluarga Qin yang tak tahu dari kapan mereka datang, dengan membawa anggota militer juga tidak bisa menahan keterkejutannya saat melihat Mo Lian terkena serangan RPG.
Saat semua harapan telah sirna, dan beberapa isak tangis dapat terdengar. Tiba-tiba di langit yang masih tertutupi oleh asap tebal berwarna hitam, terdengar suara yang sangat familiar bagi Su Jingmei, Mo Lian, Qin Nian, Ong Hei Yun, dan Keluarga Qin.
"Apakah kau pikir hanya dengan senjata mainan anak-anak itu dapat membunuhku?"
...
***
*Bersambung...
__ADS_1