Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 117 : Membawa Semua Orang ke Hutan Jinma


__ADS_3

Mo Lian terbangun dari tidurnya saat sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela kamarnya. Ia membuka matanya perlahan, seketika itu juga ia merasakan jika di sekeliling Paviliun Kolam Suci, tempat ia menginap, sudah terdapat ratusan orang yang berjaga. Orang-orang itu adalah orang yang berasal dari Paviliun Alkimia, serta bawahan dari orang yang dipanggil dengan sebutan 'Tuan Muda'.


Mo Lian sendiri menginap di salah satu kamar terbaik di Paviliun Kolam Suci. Kamar ini memiliki kesamaan tersendiri, seperti tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang, dan pembicaraan di dalam tidak akan bisa di dengar.


Dengan kedua tangan menyentuh kasur, ia menopang badannya untuk duduk bersandar pada sandaran tempat tidur. Ia merentangkan kedua tangannya sembari menguap, kemudian berkata, "Ayolah, ini masih pagi hari, apakah mereka tidak sabaran untuk mati?"


"Biarlah. Mereka adalah uang berjalan, tentunya aku harus menjemputnya, saat aku keluar dari Negeri Surgawi, aku akan memiliki sumber daya berlimpah dengan jutaan Tael Emas." Mo Lian beranjak dari tempat tidurnya, ia berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajah.


Setelah selesai membasuh wajah, Mo Lian berjalan menuju pintu keluar. Saat ia membuka pintu, ia melihat beberapa orang yang datang bersama dengan pemuda semalam.


"Tuan Muda kami ingin berbicara denganmu!" teriak salah satu dari mereka yang terlihat seperti pelayan.


Mo Lian hanya menggeleng pelan dan berjalan menuju lantai bawah untuk menyantap makanan. Alasan ia tidak ingin bertemu adalah karena takut kelepasan, ia takut kelepasan dan membunuh Tuan Muda mereka, yang nanti membuatnya menjadi buronan.


"Berhenti kau!" Karena kesal diabaikan, pemuda itu mencengkeram pundak Mo Lian.


Mo Lian menghentikan langkah kakinya, ia menoleh menatap tajam pemuda itu, membuat pemuda yang menyentuh pundaknya tersentak dengan tubuh bergidik dan mundur beberapa langkah.


"Jika kau menyentuhku lagi, aku akan membunuhmu!" ucap Mo Lian menatap tajam, kemudian kembali berjalan.


Setelah sudah tiba di lantai dasar, Mo Lian mengangkat tangannya ke udara dan meminta pesanan sarapannya untuk dihidangkan sekarang. Bagaimanapun sebelum membantai orang yang menargetkannya, ia harus mengisi tenaganya dulu dengan makan.


Tiga puluh menit kemudian. Makanan yang Mo Lian pesan akhirnya sudah sampai, cukup lama untuk makanan dua porsi jika harus membutuhkan waktu sebanyak itu.


"Racun." Mo Lian bergumam pelan sembari tersenyum tipis.


Mo Lian mengambil sepasang sumpit yang terletak di sebelah kanannya. Saat ia mengambil tumis daging di atas piring, tatapan mata semua orang tertuju padanya dengan seringai lebar.


Tapi Mo Lian mengembalikan daging itu ke atas piring, ia mengambil cangkir teh di depannya yang itu juga sebuah racun. Ketika ia hendak meneguknya, secara tiba-tiba ia menjatuhkan teh itu di atas makanan.


Pada saat itu juga, semua orang membelalakkan mata dengan mulut terbuka lebar. Sebagian dari mereka ada yang mencengkeram pinggiran meja karena kesal.

__ADS_1


Mo Lian tersenyum sembari mendengus dingin, kemudian berkata, "Maafkan aku, tanganku masih basah dan belum aku keringkan ..."


"Kemudian, karena membutuhkan waktu lama untuk memasaknya kembali, aku tidak jadi makan di sini." Mo Lian melanjutkan perkataannya seraya beranjak dari tempat duduknya.


Pelayan wanita yang sebelumnya berlari menghampiri Mo Lian. "Tu- Tuan, biarkan saya buatkan yang baru, kali ini kami akan memasaknya dengan sangat cepat," ucapnya tergesa-gesa.


Mo Lian tersenyum tipis dengan mata terpejam, kemudian ia membuka matanya perlahan dengan tatapan tajam. "Tidak perlu, bukankah semua orang di sini sudah sangat ingin membunuhku? Jadi, bagaimana kalau kita lakukan sekarang, tidak perlu menggunakan racun," ucapnya seraya mengeluarkan aura membunuhnya.


Wosh!


Angin bertiup kencang dengan Mo Lian sebagai pusatnya, membuat meja-meja yang tersusun rapi menjadi berantakan, dan hampir semua orang yang berada di dalam ruangan tertekan karena udara yang berat. Bahkan pelayan di depan Mo Lian tersungkur dengan memuntahkan seteguk darah segar.


Tanpa berlama-lama lagi, Mo Lian melemparkan kunci kamar dan bergegas keluar dari Paviliun Kolam Suci. Ketika ia berjalan keluar, banyak orang yang berjalan mengikutinya dari belakang.


Jika dilihat secara sekilas, ini seperti Mo Lian adalah Tuan Muda dari keluarga besar yang memiliki ratusan pengikut. Namun sebenarnya semua orang yang berada di belakangnya adalah orang yang menginginkan nyawanya.


Mo Lian berjalan dengan normal tanpa mempercepat jalannya, ia bisa tenang saat berada di dalam kota. Bagaimanapun di sini terdapat larangan untuk bertarung, jika tidak, orang itu akan dianggap sebagai kriminal. Hanya saja, masih ada satu orang yang bisa dengan bebas menyerang, Tuan Muda Kota Xuan.


Mo Lian menghirup napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan untuk menangkan diri. Setelah dirasa cukup tenang, ia menyeringai lebar, ia menekan kakinya di tanah sebagai pijakan, kemudian melesat sangat cepat menuju Hutan Jinma.


Saat ia berlari keluar, ratusan orang yang berdiri di belakangnya langsung mengejar Mo Lian dengan kecepatan tertinggi mereka.


Semua orang itu datang mencari Mo Lian karena menginginkan Cincin Ruang dari Paviliun Alkimia, dan diperintahkan oleh Tuan Muda Kota Xuan yang akan memberikan pil sebagai hadiah.


Mo Lian bisa saja meninggalkan semua orang di belakangnya, tapi ia sengaja memperlambat kecepatan larinya agar orang-orang itu tidak ketinggalan. Akan sangat tidak menarik jika hanya sebagian dari mereka saja yang bisa mengejarnya, jika begitu, ia tidak bisa mendapatkan lebih banyak harta.


"Bunuh dia! Jangan biarkan dia lari dengan membawa Cincin Ruang milik Paviliun Alkimia!"


"Dia juga sudah menyinggung Tuan Muda Xu. Dia harus dihabisi bagaimanapun caranya, dan jika kita bisa membawanya hidup-hidup, Tuan Muda Xu akan memberikan kita lima buah pil tingkat empat!"


Bibir Mo Lian berkedut-kedut saat mendengar perkataan itu, ia tidak berharap harga yang ditawarkan untuk menangkapnya ternyata sangat murah. Paling tidak harusnya dengan kekuatannya yang sekarang, ia harus dihargai 10 ribu pil tingkat lima.

__ADS_1


Empat puluh menit kemudian, Mo Lian sudah tiba di kedalaman Hutan Jinma. Selama dalam perjalanan, ia akan selalu menyebarkan kesadarannya mencari tahu apakah ada orang lain selain orang-orang yang mengikutinya dari belakang, ini agar tidak terjadi masalah lain seperti orang kuat yang secara tiba-tiba membantu.


Ketika sudah tiba di kedalaman Hutan Jinma, ia menghentikan langkah kakinya, membuat semua orang juga berhenti berlari. Jaraknya dengan mereka semua hanya tersisa 100 meter.


Mo Lian mengalirkan energi spiritualnya pada Cincin Ruang, kemudian mengeluarkan pedang patah yang kekuatannya sangat mengerikan.


Semua orang terdiam dengan kerutan di dahi, kemudian tertawa terbahak-bahak saat melihat pedang hitam patah yang berkarat di tangan kanan Mo Lian.


Mo Lian sudah menduga akan mendapatkan reaksi seperti itu, tapi ia tidak merasa tidak nyaman ataupun kesal. Karena dengan ini mereka mengendurkan kewaspadaannya.


Mo Lian mengalirkan energi spiritualnya pada Pedang Patah, kemudian mengayunkannya secara vertikal dari bawah ke atas. Pedang hitam itu mengeluarkan siluet bulan sabit berwarna hitam pekat dengan aura merah, siluet itu melesat tajam mengarah pada ratusan orang di depan.


Wush! Duarr!


Hanya dengan satu kali ayunan, 100 orang dalam garis lurus mati begitu saja tanpa meninggalkan jejak tubuh. Dari ayunan pedangnya tadi, tercipta parit yang cukup dalam dan menghilangkan pepohonan rindang, hingga jauh ke depan dengan jarak satu mil terlihat asap yang membumbung tinggi.


Mo Lian melepaskan energi jiwanya pada Cincin Ruang yang tergeletak di atas permukaan tanah, dan dikendalikan agar mendekat padanya. Ia mengambil Cincin Ruang itu dan menyimpannya pada kantung kulit.


"Hanya lima puluh Cincin Ruang saja yang dapat selamat, sisanya terbelah maupun berubah menjadi debu. Sepertinya aku terlalu banyak mengeluarkan energi spiritual." Mo Lian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ini adalah kerugian!


"Ba- Ba- Bagaimana mungkin. Hanya dengan satu ayunan pedangnya, dia membunuh seratus Shen Hai."


Mo Lian mendongak menatap orang-orang di depannya, yang jumlah pastinya sekitar 700 orang. "Di depanku masih banyak orang berjalan, jadi apa masalahnya jika kehilangan lima puluh Cincin Ruang ..."


"Baiklah, ayo kita lanjutkan pertarungannya!" Mo Lian mengarahkan Pedang Patahnya pada ratusan orang di depannya.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2