Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 327 : Aku, Duan Kun?


__ADS_3

Mo Lian membangun sebuah ruang kecil yang berada jauh di dalam tanah dan hanya muat untuk satu orang saja, itu pun dalam posisi duduk bersila tanpa bisa melakukan banyak gerakan.


Aura spiritual dari Element Tanah mulai Mo Lian serap secara perlahan-lahan agar tidak menimbulkan kecurigaan seperti hutan yang mengering sebelumnya, meski pada akhirnya ia memang berniat akan mengeringkan semuanya.


Mo Lian tidak peduli tentang keadaan di Zaman Kuno ini, karena sudah memastikannya berkali-kali dan tidak berdampak pada Bumi di masa kini tahun 2036 Masehi.


"Setelah menyerap Esensi Element Tanah, aku akan menyerap Element Air, Logam dan Api. Kemudian, menunggu kedatangan Ras Malaikat." Jika bukan karena rasa penasaran Mo Lian tentang peperangan, tidak mungkin ia ingin berlama-lama tinggal di Zaman Kuno.


Aura spiritual berwarna cokelat terlihat berkumpul di depan dada Mo Lian, yang kemudian menghilang seperti tertelan oleh lubang hitam yang memiliki daya hisap sangat kuat. Jika dilihat dari permukaan, tanah-tanah mulai berubah warna dari cokelat kehitaman yang lembab, perlahan menjadi pasir yang mudah hancur saat tertiup angin.


Kultivasi Mo Lian terbilang cukup lancar tanpa ada halangan, entah karena ia datang dari masa depan dan tidak dianggap di masa kini, atau memang tidak ada yang makhluk hidup di dekatnya.


Bang! Bang! Bang!


Ledakan yang teredam terdengar dari dalam tubuh Mo Lian, menandakan bahwa kekuatannya telah meningkat pesat dan sekarang sudah di Ranah Alam dan Manusia tahap Menengah. Jika menyerap 3 Esensi Element lagi, mungkin ia bisa menerobos sampai Dao Immortal atau bahkan Heavenly Immortal.


Mo Lian membuka matanya setelah berkultivasi selama tiga jam tanpa istirahat. Ia mengangkat tangannya, menghancurkan bebatuan yang berada di atasnya.


Langit sudah mulai gelap dengan kilauan bintang yang bermunculan; aura aneh bisa Mo Lian rasakan dan terasa semakin kuat setiap waktu berlalu saat hampir mendekati malam hari. Entah apa yang akan terjadi jika hari sudah memasuki pertengahan malam.


Mo Lian keluar dari tempat persembunyian dan berdiri di tanah tandus yang sudah berubah menjadi hamparan pasir kering, bahkan gunung batu juga terlihat sangat rapuh.


"Tanah apa sebenarnya ini? Saat aku berkultivasi, aku memang merasa di sini ada Esensi Element Tanah, tapi ada gangguan seperti aura kematian. Jika bukan karena Teknik Budidaya Pemurnian Hitam, mungkin aku akan kehilangan kendali dan tidak bisa kembali."


Mo Lian melihat sekitarnya, mencari tempat tinggi untuk tempatnya berdiam sampai tengah malam tiba. Tapi karena tidak ada, ia menghentakkan kakinya di tanah berpasir, menimbulkan getaran yang kemudian ada tanah yang mencuat naik setinggi beberapa puluh meter.


"Aku akan menunggunya." Mo Lian melompat naik ke atas pilar batu dan duduk bersila di sana dengan mata terpejam.


Aura kematian yang dirasakannya makin kuat dan bahkan samar-samar ada kabut hitam yang muncul, kabut itu merupakan miasma beracun yang sangat mematikan, bisa merusak organ dalam makhluk hidup yang menghirupnya. Untungnya, Mo Lian sudah memprediksi hal ini saat tiba di pegunungan batu, dan mulai meningkatkan ketahanannya terhadap racun.


*Malam Harinya

__ADS_1


Mo Lian membuka matanya perlahan saat merasakan aura kematian yang semakin kuat dan mendengar suara-suara serak yang tidak nyaman. "Jadi, apakah ini alasan mengapa aku merasakan ada yang salah?"


Tanah mulai terbelah dari segala tempat dan terlihat ada tangan busuk yang mencuat keluar, tapi tidak cukup disitu, karena tangan hanyalah awalnya saja sebelum seluruh tubuhnya keluar.


"Apakah mereka adalah korban perang? Mereka hidup karena aura kematian di sini dan ada perasaan yang tak terselesaikan, kemudian karena Esensi Element Tanah menghilang, kebangkitan mereka lebih cepat."


"Tapi, perang apa yang dilakukan di tempat seperti ini? Apakah ada perang di gunung berbatu?"


Mo Lian mengalirkan energi spiritual di dua jarinya, lalu menyentuh matanya perlahan. Pandangannya mulai berubah, yang dilihatnya bukanlah tanah tandus berpasir, melainkan tanah merah darah dengan pedang-pedang yang menancap di tanah.


Banyak mayat yang tersebar, ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu; tanah-tanah berlubang membentuk kolam darah, dan tidak ada gunung batu di sini, yang artinya kejadiannya mungkin sudah sangat lama, sebelum Ras Raksasa berkuasa.


Melihat dari tempat pertempuran dan perlengkapan yang dikenakan, kekuatan Ras Manusia tidak bisa dianggap remeh, tapi sepertinya mereka saling menyerang satu sama lain dan mengurangi jumlah mereka, sampai akhirnya Ras Manusia telah jatuh.


"Jika saja mereka bekerja sama, seharusnya mereka bisa melawan Ras Raksasa. Tidak ada lagi yang namanya desa peternakan manusia untuk bahan makanan."


"Kemudian, jika Ras Raksasa tidak mendominasi Bumi, Ras Malaikat tidak mungkin turun dari Alam Selestial."


Mo Lian berdiri perlahan, banyak mayat hidup yang mengitarinya dan mulai merangkak naik. Ia mengangkat tangannya; ada kilatan petir berwarna biru di tangannya kanan Mo Lian, kemudian saat ia mengepalkannya, kilatan petir itu meledak dan menyebar ke segala arah, menyerang mayat-mayat hidup secara membabi buta.


Ledakan keras yang berasal dari sambaran petir terus terdengar dan api mulai terlihat membakar; asap putih tebal juga naik ke langit beserta aroma terbakar yang menyebar ke segala arah, menarik perhatian makhluk hidup di sekitar yang cukup jauh.


Mo Lian menurunkan tangannya perlahan saat mulai merasakan ada yang datang menghampiri; telinganya juga menanggap suara dentuman kecil yang sepertinya adalah langkah kaki dari Ras Raksasa.


"Aku tidak pernah melawan Ras Raksasa, sepertinya ini bagus untuk menambah pengalaman," ucap Mo Lian menoleh ke belakang—menurut catatan yang ia baca, organ dalam Ras Raksasa seperti hati dan jantung memiliki kegunaan untuk menambah masa hidup maupun memperkuat Dantian.


Getaran semakin bertambah besar sampai gunung batu runtuh karena tidak mampu mempertahankan bentuknya; raksasa Ranah Dao Immortal terlihat terkejut saat gunung yang menghalanginya jatuh dan hancur.


"Itu kau, Duan Kun! Apakah kau ingin kami lemparkan lagi!?"


Mo Lian mengerutkan keningnya. Duan Kun? Sepertinya itu adalah nama dari pemilik tubuh yang aku pakai.

__ADS_1


Whooooosh!


Mo Lian melintas seperti angin yang gerakannya tidak bisa diketahui, dan saat muncul, ia sudah berada di belakang raksasa tanpa rambut; perutnya besar dan memiliki empat tangan. Mo Lian mengayunkan tangan kirinya yang diselimuti energi kuat bercahaya biru; memukul tengkuk raksasa yang namanya tidak ia ketahui.


Bam! Booom!


Pukulan Mo Lian sangat kuat sampai menciptakan ledakan udara dan mendorong raksasa untuk jatuh menghantam tanah; gelombang udara menyebar ke segala arah menerbangkan pasir dalam jumlah besar dan ada lubang seperti lembah.


Mo Lian mengangkat tangannya perlahan; pasir-pasir yang berada di sekitar raksasa mulai bergerak mengubur raksasa sampai tidak bisa bergerak, meski ada getaran yang sepertinya karena raksasa mencoba lepas dari tekanan yang diberikan.


"Aku tidak tahu siapa kau dan apa yang telah kau lakukan, aku terbangun di dalam hutan dengan darah di kaki, mungkin benar aku habis terjatuh dari tebing," ucap Mo Lian tak peduli—ia tidak mendapatkan ingatan dari Duan Kun saat memakai tubuh ini di Zaman Kuno.


Walaupun raksasa tidak bisa lepas dari tekanan pasir, tapi suaranya tetap bisa terdengar menggema di langit. "Kau bukan Duan Kun! Siapa kau sebenarnya, jika kau berani membunuhku, Yang Mulia Kaisar akan menghancurkan Ras Manusia!"


Mo Lian menatap tajam gundukan pasir yang bergetar. "Aku tidak peduli." Ia mengepalkan tangannya.


Booom!


Pasir terus menekan raksasa sampai meledak dan mengeluarkan darah segar yang keluar dari dalam pasir; darah itu mengalir membentuk aliran sungai deras yang mengikis permukaan pasir.


Mo Lian menoleh ke belakang melihat asap raksasa datang. "Apakah di sana Kekaisaran Ras Raksasa? Aku akan datang dan melihatnya, aku juga berharap harta benda di sini bisa dibawa ke masa depan, meski sangat mustahil."


Jika semua sumber daya di sini bisa dibawa, Mo Lian bisa meningkatkan kekuatan Sekte Dongfangzhi dan Zhongjian, murid-murid akan di atas Inti Perak, Diaken akan di atas Alam dan Manusia, Penatua di Ranah Dao Immortal.


"Aku akan membelah tubuh." Mo Lian mengangkat tangan kanannya di depan dada; terlihat ada gumpalan cahaya berwarna merah, perunggu dan biru yang keluar dari dalam tubuhnya, lalu melesat ke tiga arah yang berlawanan.


Awalnya Mo Lian sudah berencana untuk menciptakan kloning, tapi karena ini bukan tubuhnya dan tidak ada teknik yang tertanam di dalam tubuh, ia harus memahaminya dari awal.


Dengan mengirimkan kloning ke tempat berbeda untuk menyerap Esensi Element, Mo Lian bisa menyingkat waktu dan bisa melakukan hal lain.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2