Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 420 : Pembunuhan yang Gagal


__ADS_3

—Kediaman Gou, Barat Kota Louhu—


Keluarga Gou adalah salah satu keluarga besar di Kota Louhu yang berpengaruh, keluarga mereka terkenal akan kemampuan dalam menyembuhkan, dan mahir dalam mengidentifikasi herbal hanya dengan aroma.


Mereka bangga akan kekuatan dan kemampuan mereka, dikenal sangat baik dengan sekitar. Reputasi mereka sangat luar biasa, tapi tentunya ada putih maka ada hitam.


Seperti saat ini, Gou Jian sedang duduk di dalam kediaman pribadinya.


Gou Jian memandang belasan orang yang berlutut di depannya, mereka mengenakan pakaian serba hitam dan memiliki kehadiran yang rendah.


Ini adalah kelompok yang dikembangkan oleh Keluarga Gou secara rahasia di bawah tanah, banyak tugas-tugas yang tidak bisa diselesaikan oleh Keluarga Gou di permukaan, maka organisasi ini yang akan menyelesaikannya dengan baik tanpa meninggalkan jejak. Bahkan Wali Kota tidak bisa melacaknya.


"Sialan!" Gou Jian memukul meja di sampingnya, membuat meja itu retak.


Tidak ada yang aneh dengan hal itu, karena Gou Jian sendiri adalah Pendekar tingkat Empat (Fase Mendalam tahap Awal).


Belasan orang yang berlutut dengan satu lutut, hanya menundukkan kepala tanpa berani mengangkatnya, meski mereka tahu bahwa Gou Jian lebih lemah dari mereka.


Gou Jian menatap sosok hitam yang berlutut di barisan terdepan. "Burung Hantu! Bawa kelompok yang kau pimpin untuk pergi ke Paviliun Jarum Emas. Bunuh orang-orang di sana tanpa terkecuali, jika kau menemukan wanita, kau bisa melakukan apa pun yang kau mau!"


Burung Hantu mendongak menatap Gou Jian. "Baik, Tuan Muda. Kami akan menyelesaikan tugas yang Anda berikan!" Ketika mengatakan ini, bibirnya membentuk senyuman puas. Bukan hanya bisa membunuh, tapi dia bisa menangkap wanita.


Gou Jian melambaikan tangannya, meminta semua orang untuk pergi.


Burung Hantu menangkupkan kedua tangannya, kemudian melompat seperti belalang dan menghilang di dalam kegelapan bersama dengan semua bawahannya.


Gou Jian tertawa terbahak-bahak. Matanya tertuju pada pintu keluar, memancarkan niat membunuh. "Jadi bagaimana jika kau didukung Paviliun Jari Keajaiban? Jadi bagaimana jika kau lulus dengan nilai terbaik dan memiliki pengetahuan? Jadi bagaimana jika kau berada di atasku? Kau tetap akan mati malam ini!"


Saat Gou Jian sedang senang dalam pemikirannya sendiri, tiba-tiba deru angin seperti badai, dan detik berikutnya angin mulai berputar-putar di dalam ruangan.


Gou Jian turun dari tempat duduknya, lalu berlutut dengan satu kaki. "Salam, Kultivator Abadi!"


Tiba-tiba di depan Gou Jian berlutut, bayangan hitam mulai berputar-putar dan saat meledak, terlihat sesosok manusia yang mengenakan mantel jubah hitam.


"Bagaimana dengan anak-anak yang kami inginkan? Apakah kau sudah mengumpulkannya?"


Gou Jian menundukkan kepalanya, tidak berani sedikit pun mendongak. "Kami sudah menculik anak-anak sesuai perintah Utusan. Kami bisa mengirimkannya malam ini jika Utusan berniat mengambilnya sekarang."


"Tidak perlu, kumpulkan lebih banyak. Dan, sepertinya kau memiliki masalah berat sampai harus mengirim Tim Bayangan."


Gou Jian menganggukkan kepalanya. "Bukan masalah berat, dia hanya manusia biasa, tapi Hamba mengirim Tim Bayangan karena ingin memberinya pelajaran yang mematikan. Agar dia berharap bahwa kematian adalah pilihan terbaik!"


Karena kekesalan dan kemarahannya, Gou Jian meninggikan suaranya tanpa sadar.


Sosok hitam itu diam sejenak, kemudian mengangguk dan berkata, "Aku akan melihatnya, seperti apa orang yang membuatmu sampai seperti ini." Ia juga sedikit terkejut, karena belum pernah melihat Gou Jian yang sangat marah seperti ini.

__ADS_1


Gou Jian tersentak, dia mendongak dengan senyum bahagia. Tapi sebelum sempat berbicara, tekanan seperti gunung menimpa tubuhnya, membuatnya tertekan dan jatuh di lantai sampai membuatnya retak.


"Jangan berani-beraninya kau melihatku!" Sosok itu menghilang setelah mengatakannya, dan tekanan berat itu menghilang.


Gou Jian menggertakkan giginya penuh amarah, tapi tetap senang karena Kultivator Abadi membantunya untuk membalaskan dendam.


Bahkan meski Pendekar dan Kultivator Abadi memiliki tingkat yang sama, Kultivator Abadi lebih kuat karena menggunakan energi spiritual. Pendekar hanya menggunakan tubuh, dan terbang pun harus membakar energi khusus yang perlu berhari-hari untuk mengisinya, berbeda dengan Kultivator Abadi.


"Hahahaha!" Gou Jian tertawa terbahak-bahak.


***


—Paviliun Jarum Emas—


Walaupun sudah mendapatkan sertifikat dan izin, tapi bisnis belum dibuka sepenuhnya.


Mo Lian juga tidak terburu-buru, karena masih ingin bersantai sebentar dan menunggu tamu yang tak diundang datang. Ketika tamu yang tak diundang sudah diselesaikan, maka semuanya akan berjalan dengan baik. Akan buruk jika bisnis berjalan, dan tiba-tiba datang pembunuh yang menargetkannya.


Tidak masalah jika hanya menargetkannya, tapi buruk apabila datang waktu siang hari atau saat pasien sedang berobat dan harus tinggal di lantai dua.


Adapun menghancurkan Keluarga Guo, Mo Lian memang terpikirkan sampai ke sana, tapi menurutnya tidak baik asal menghancurkannya meski dia sendiri sudah tahu keburukan mereka.


Kemudian Mo Lian tahu bahwa Keluarga Guo berjalan dalam bisnis yang sama, jadi lebih baik menghancurkan bisnis dan finansial mereka daripada membunuh. Lalu mengungkapkan keburukan mereka bersama dengan bukti-buktinya.


"Sayang!"


Yun Ning mendengus dingin saat melangkah menghampiri. "Sayang tahu, Keluarga Guo sangat busuk! Aku sudah mengerjakan perintahmu untuk menyelamatkan anak-anak dan mengembalikannya ke rumah masing-masing. Tapi, semua anak-anak itu gangguan mental dan kurus!"


Mo Lian mengangguk kecil, melambaikan tangannya meminta Yun Ning untuk duduk di sampingnya. "Bagaimana dengan Ning'er dan Nian'er?"


Yun Ning menyandarkan kepalanya di bahu Mo Lian. "Xi Ning menyelidiki pendukung Keluarga Guo. Qin Nian mengikuti konvoi Keluarga Guo yang mengirim anak-anak, sepertinya sudah membunuh semuanya dan membawa anak-anak ke kantor patroli."


Yun Ning mendongak menatap Mo Lian dan bertanya, "Mengapa kita tidak menghancurkan mereka semua? Bukankah itu lebih cepat?"


Mo Lian mengetuk dahi Yun Ning dengan jarinya. "Tidak bisa seperti itu, membunuh mereka langsung adalah hadiah terbesar mereka. Aku ingin mereka merasakan sakit perlahan-lahan."


Yun Ning terdiam sejenak, kemudian mengangguk dan menyeringai. Menurutnya, itu adalah ide yang baik untuk menghancurkannya perlahan-lahan sampai benar-benar menyerah dan memilih bunuh diri.


...


Tengah malam, Kota Louhu sangat sunyi dan pencahayaan hanya dari obor sederhana maupun sinar bulan yang menggantung di langit malam.


Termasuk Paviliun Jarum Emas yang sunyi dan hanya ada sedikit cahaya yang menyinari.


Saat jalanan kosong tanpa adanya orang, tiba-tiba ada bayangan hitam yang melompat dari satu bangunan ke bangunan lain tanpa menimbulkan suara.

__ADS_1


Belasan orang itu melompat langsung ke atap Paviliun Jarum Emas, lalu turun ke balkon lantai tiga.


Burung Hantu mengangkat tangannya, lalu melambaikannya ke depan untuk memerintahkan semua orang untuk masuk perlahan.


Di sisi lain, ada sosok hitam yang melayang di udara, memandang Paviliun Jarum Emas. Sosok itu mengerutkan keningnya, merasa ada yang salah dengan Paviliun Jarum Emas, tapi dia tidak tahu apa itu.


"Apakah aku takut dengan manusia biasa?" Sosok itu mengepalkan tangannya, lalu ikut bergabung dengan Tim Bayangan untuk memasuki Paviliun Jarum Emas.


Burung Hantu memimpin anggotanya, mereka masuk dengan mudah tanpa halangan. "Hati-hati, kita tidak tahu apa yang ada di sini, di sini sangat gelap."


Anggota Tim Bayangan bingung mengapa Burung Hantu terlihat sangat waspada meski targetnya hanya Tabib Master. Walaupun mereka tahu Tabib Master adalah eksistensi di atas Pendekar tingkat Tujuh, tapi Tabib Master di Paviliun Jarum Emas hanya sebatas Pendekar tingkat Tiga, harusnya tidak perlu terlalu waspada.


Namun meski bingung, mereka tidak mempertanyakan keputusan Burung Hantu dan mematuhi perintahnya.


Sosok hitam yang berada di barisan belakang juga ikut mengendap-endap dan mengakui bahwa Burung Hantu adalah pemimpin yang baik, tapi dia sendiri tetap merasa aneh mengapa perasaannya tidak nyaman meski datang ke tempat yang lemah ini. Bahkan Wali Kota Louhu tidak sebanding dengannya.


Tepat pada saat ini, tiba-tiba lantai di mana mereka berpijak, bersinar terang dan membentuk pola array berwarna biru muda.


Tim Bayangan panik dan mencoba untuk pergi, tapi tubuh mereka tidak bisa bergerak sekalipun.


"Kalian sudah datang ke sini, mengapa kalian ingin pergi? Bukankah kalian harus bersantai dulu bersama kami?"


Tim Bayangan dan Utusan melihat ke mana arah itu berasal. Mereka melihat pria muda yang di belakangnya ada tiga wanita berdiri.


Mo Lian tersenyum tipis saat melihat orang-orang yang menargetkannya. Perhatiannya tertuju pada orang yang masih mampu berdiri sedangkan yang lain berlutut. "Bahkan ada Utusan dari Sekte Boneka. Apakah Gou Jian mengirimmu untuk membunuhku? Sampai Kultivator Abadi yang datang, sepertinya Keluarga Guo memiliki banyak koneksi."


Tim Bayangan tertegun, mereka tidak pernah menduga akan ada Kultivator Abadi yang bergabung dalam operasi ini.


Utusan, yang bersembunyi di balik mantel, tidak bisa tetap tenang dan tubuhnya gemetar ketakutan. "Ka- Kalian, kalian semua Kultivator Abadi. Ma- Masing-masing dari kalian, lebih tinggi dari Patriak." Suaranya bergetar, keringat membasahi tubuhnya dan punggungnya terasa dingin.


Mo Lian tersenyum tipis, meletakkan cangkir di meja di sampingnya dan berdiri. Dia mengeluarkan ratusan jarum perak dari balik bajunya. "Dari dulu aku penasaran dan belum pernah melakukannya, tapi karena sekarang ada tikus yang menyusup, aku bisa menggunakan kalian sebagai percobaan."


"Ning'er ..."


Hong Xi Ning menjentikkan jarinya, memasang formasi array yang menghalangi semua suara di dalam ruangan agar tidak terdengar ke luar.


Mo Lian berjongkok di depan Burung Hantu, lalu menusuk jarum perak di bagian dada kiri baris kedua dari tulang rusuk.


Burung Hantu mengigit bibirnya, kemudian berteriak keras dengan matanya yang merah. Teriakan itu hanya berlangsung beberapa detik, karena jarum perak kembali menusuk tenggorokannya.


"Masih ada enam jam sebelum matahari terbit, aku harap kalian bisa bertahan." Mo Lian tersenyum tipis, tapi bagi Tim Bayangan dan Utusan, senyumnya seperti senyum iblis.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2