
Puluhan menit setelah Mo Lian bersantai di pohon besar nan rindang, akhirnya Wei Yian Fei dan Wei Yian Ning sudah mulai tenang, tidak ada lagi tangis yang terdengar dan suasana mulai membaik seperti semula.
Mo Lian menekan badannya dari batang pohon dan berjalan menghampiri dua bersaudari Wei sembari berkata, "Aku akan kembali bersama Ayahku, apakah kalian berdua ingin mengikuti kami? Aku tidak memaksa, tapi aku tidak ingin menunggu terlalu lama."
Wei Yian Fei dan Wei Yian Ning menatap satu sama lain untuk beberapa saat, mereka berdua memikirkan harus melakukan apa ke depannya. Bagaimanapun mereka berdua sudah ikut masuk dalam masalah Istana Surgawi, tentunya mereka berdua akan diburu oleh seluruh orang yang meninggikan Istana Surgawi.
"Baiklah, kami akan ikut dengan kalian. Tapi apa yang akan kami lakukan?" tanya Wei Yian Fei menatap bingung Mo Lian.
Mo Lian terdiam, ia sendiri tidak tahu harus melakukan apa.
Mo Qian menghembuskan napas panjang saat melihat raut wajah anaknya yang terlihat tidak tahu harus berbuat apa. Ia mengalihkan pandangannya pada Wei Yian Fei. "Kalian berdua bisa ikut bersama kami, aku akan mempekerjakan kalian berdua menjadi pengawal putriku."
"Uhuk." Mo Lian terbatuk, ia tidak bisa menahan keterkejutannya saat mendengar perkataan Ayahnya. Pengawal? Omong kosong! Bahkan kekuatan mereka berdua jika digabungkan, masih belum mampu untuk menghadapi Mo Fefei.
Mo Lian menolehkan kepalanya menatap wajah Ayahnya, kemudian mengirimkan transmisi suara, "Ayah, saat aku meninggalkan Fefei. Dia sudah berada ditahap Fase Lautan Ilahi, Ibu juga. Aku melatih mereka dengan baik, sedangkan dua orang di depan kita baru menembus Fase Lautan Ilahi beberapa hari lalu."
Mo Qian tersentak dengan mulut terbuka, ia menolehkan kepalanya dengan cepat menatap wajah Mo Lian dengan mata terbelalak mencoba memastikan.
Mo Lian mengangguk kecil, kemudian melanjutkan perkataannya melalui transmisi suara, "Aku serius, bahkan aku juga memiliki tiga orang Ranah Inti Emas, dengan beberapa orang lainnya Ranah Inti Perak."
"Ba- Bagaimana kau bisa melakukan hal itu semua?"
Mo Lian tersenyum tipis, penjelasan yang dijelaskannya di penjara bawah tanah tidak semua. Karena itu terlalu memakan banyak waktu, yang mungkin saja menghabiskan beberapa jam, dan tentu saja ia tidak ingin membuang waktunya dengan hal seperti itu.
"Aku akan menceritakannya nanti saat kita sudah kembali, atau Ayah bisa mendengar ceritanya dari Ibu ataupun Fefei."
Mo Qian hanya terdiam dan menganggukkan kepalanya sebagai balasan.
Mo Lian mengalirkan energi spiritualnya pada Cincin Ruang milik Ye Fu Tian, Cincin Ruang itu sendiri sudah diubah kepemilikannya. Ia hanya perlu menghapus jejak energi spiritual yang sudah terpasang, kemudian menggantinya dengan miliknya.
Mo Lian mengecek apa yang berada di dalamnya, kemudian mengeluarkan sebuah pedang bermata dua dengan panjang 10 meter dan lebar sekitar 1,5 meter. Pedang ini bukan sebuah pedang yang digunakan untuk menyerang, melainkan pedang yang digunakan untuk bepergian.
Pedang itu ia letakkan di atas permukaan rumput tepat di depannya, kemudian ia melangkah naik ke bagian terdepan pedang.
"Kalian semua, naik," ucap Mo Lian meminta ketiga orang yang kebingungan itu untuk naik.
__ADS_1
Ketiganya berjalan menaiki pedang itu tanpa menanyakan lebih lanjut.
Mo Lian melepaskan energi spiritualnya pada semua orang yang berada di atas pedang, kemudian mengalirkan energi spiritualnya lagi pada lingkaran array yang samar-samar berada di bawah kakinya.
Pedang besar itu mulai bergetar memancarkan cahaya berwarna biru. Perlahan, pedang itu mulai melayang meninggalkan daratan hingga saat tingginya sudah mencapai beberapa ratus meter, ia mengendalikan pedang itu untuk bergerak menuju arah barat daya, arah di mana ia muncul pertama kali di Negeri Surgawi.
Mo Qian yang berdiri tepat di belakang Mo Lian mulai membuka mulutnya dan berkata dengan suara pelan, "Lian'er, sudah berapa lama kau di sini?"
Mo Lian terdiam sejenak, ia sendiri tidak terlalu ingat sudah berapa lama ia berada di Negeri Surgawi. "Mungkin enam hari?"
Mulut Mo Qian terbuka lebar saat mendengar jawaban itu, ia tidak berharap jika anaknya akan membuat kekacauan yang sangat besar sesaat setelah datang ke sini selama enam hari. Tunggu! Jika diingat kembali, ia sendiri lebih parah, belum ada satu jam saat tiba di sini, ia sudah membuat kekacauan di kota dan membunuh ribuan orang.
Jarak yang ditempuh mereka sangatlah jauh, membutuhkan waktu lebih dari satu hari untuk sampai ke tempat di mana Mo Lian tiba. Ia sendiri tidak tahu bagaimana cara pasti untuk kembali ke Bumi, tapi ia tetap membuat tanda di mana ia terjatuh.
Untuk membuka pusaran lorong waktu, ia hanya bisa mencoba melakukan hal yang sama seperti saat di Bumi. Jika saja kekuatannya sudah cukup, ia hanya perlu mengibaskan tangannya dan merobek ruang di udara, kemudian berpindah tempat seperti membuka pintu.
Wei Yian Fei dan Wei Yian Ning menatap satu sama lain, kemudian menganggukkan kepala secara bersamaan seperti telah memiliki pemikiran yang sana.
Dengan malu-malu dan kepala tertunduk, Wei Yian Ning menghampiri Mo Lian, ia berjalan dengan hati-hati agar tidak terjatuh dari pedang. "Li- Li- Lian Mo. Apakah kau bukan berasal dari Negeri Surgawi?"
Mo Lian hanya terdiam dan menggeleng pelan sebagai jawaban.
Mo Qian menghembuskan napas panjang saat melihat Mo Lian yang hanya diam mengabaikan. "Lebih baik kau menyerah saja dan jangan terus bertanya."
Mo Qian sadar jika di pundak Mo Lian terlalu banyak beban dan sedang tidak ingin diganggu. Hal yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya, sudah diurus oleh Mo Lian.
Lian'er, setelah kita kembali, kau bisa kembali bersikap seperti dulu. Kau tidak perlu lagi merasa menanggung beban untuk mengurus keluarga, biarkan Ayahmu yang melakukannya, Ayah akan menembus waktumu selama lima belas tahun terakhir, batin Mo Qian.
Tubuh Wei Yian Ning bergetar saat mendapatkan balasan dari Mo Qian, akhirnya ia melangkah mundur dan kembali duduk di dekat Kakaknya.
***
Keesokan Harinya
Setelah perjalanan yang panjang dan memakan waktu, akhirnya mereka sudah tiba di tebing yang berada di ke dalaman Hutan Jinma. Hutan di mana Mo Lian tiba di Negeri Surgawi dalam keadaan tidak berpakaian sama sekali.
__ADS_1
Mo Lian mendarat di kedalaman hutan, kemudian ia menyimpan pedangnya kembali ke dalam Cincin Ruang setelah semua orang turun darinya.
"Apakah kau tiba di sini?" Mo Qian menolehkan kepalanya mengamati keadaan sekitarnya.
"Iya, saat itu aku muncul di sini dalam keadaan tak berpakaian. Pakaian yang ku kenakan hancur terkena sayatan angin di dalam lorong waktu," jawab Mo Lian yang menyentuh dinding tanah di depannya.
Mo Qian mengerutkan keningnya saat mendengar penjelasan anaknya, saat ia tiba dulu, ia dalam keadaan lengkap dan tidak pernah melewati sesuatu yang dinamakan lorong waktu. Tapi meski begitu, ia hanya diam dan tidak bertanya lebih lanjut.
Mo Lian duduk bersila di atas rumput dan mulai menutup matanya secara perlahan, ia melepaskan energi spiritualnya ke sekitar untuk merasakan sesuatu yang mirip seperti yang dirasakannya terakhir kali.
Cukup lama ia melepaskan energi spiritualnya karena keadaan di sini cukup stabil, sangat berbeda dengan Bumi yang energi spiritualnya sangat tipis, sehingga jika ada keanehan sedikit saja, itu dapat langsung dirasakan.
Hingga akhirnya dua jam terlewati, tiba-tiba Mo Lian membuka matanya dan mengibaskan tangan kanannya pada udara di sebelah kanannya.
Srak!
Terdengar suara sobekan ruang yang cukup keras dan menarik perhatian ketiga orang yang berada di belakang Mo Lian. Terlihat sobekan ruang angkasa berwarna hitam pekat dengan kilauan bintang di dalamnya, meski sama-sama ruang, tapi itu bukanlah portal untuk berpindah dimensi ke Bumi.
Mo Lian berdiri dari tempat duduknya, ia kembali melepaskan energi spiritualnya pada kedua tangannya, memunculkan telapak tangan besar berwarna biru muda. Telapak tangan besar yang ukurannya sanggup meremukkan sebuah truck.
Tidak berhenti disitu saja, Mo Lian mengendalikan kedua telapak tangan berwarna biru itu pada sobekan ruang dan membukanya agar menjadi lebih lebar lagi. Lalu ia kembali mengalirkan energi spiritualnya pada sobekan ruang di depannya, serta melemparkan Kertas Kuning Hu yang sudah digambar dengan pola.
Tiba-tiba, sobekan ruang yang sebelumnya berwarna hitam pekat sudah berubah menjadi pusaran cahaya berwarna biru muda. Mo Lian menolehkan kepalanya melihat ketiga orang yang berada di sebelah kanannya.
"Kalian semua! Cepat masuk!" Mo Lian berteriak dengan panik. Portal yang berada di depannya sedikit tidak stabil, ini bisa menghilang dengan sangat cepat, berbeda dengan portal saat ia masuk.
Ketiganya terdiam tak mengerti mengapa Mo Lian sangat panik.
Mo Lian mengepalkan kedua tangannya, ia melepaskan energi spiritualnya menyelimuti tubuh ketiga orang itu, kemudian menggunakan energi jiwanya untuk membawa mereka semua masuk bersama.
Ketika mereka semua sudah masuk ke dalam portal, tiba-tiba portal yang dibuat Mo Lian dalam waktu beberapa jam itu mulai menampilkan keanehan. Portal itu mengeluarkan kilatan petir, kemudian meledak sangat keras dengan api yang membumbung membakar apapun di sekelilingnya.
Bahkan ledakan itu dapat didengar dalam radius 100 mil jauhnya dari pusat ledakan.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...