Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 126 : Membunuh Semuanya


__ADS_3

Penatua Ye menggertakkan giginya seraya mencengkeram jari-jarinya yang terkepal. Ia tidak berharap jika Mo Lian dengan beraninya menjawab perkataannya dengan suara tinggi yang diselipkan dengan aura membunuh.


Penatua Ye mengangkat tangan kanannya ke udara sebagai aba-aba dan memerintahkan murid yang dibawanya serta Wakil Penatua. "Kalian, turun ke sana dan bunuh orang itu. Kemudian, bawa kedua wanita itu ke tempat tidurku!"


Semua orang terdiam dengan mulut terbuka lebar tak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh Penatua Ye di muka umum. Itu adalah sesuatu yang sangat tidak pantas untuk diucapkan oleh orang yang dihormati, dan orang yang mereka tinggi-tinggikan karena berasal dari Istana Surgawi. Meski begitu, tidak ada satupun dari semua orang yang hadir membuka suaranya.


Mo Lian memiringkan kepalanya dengan kedua tangan disilangkan di depan dada. "Bukankah kau terlalu tua untuk melakukan aktifitas ranjang. Apakah kau masih memiliki tenaga untuk bisa melakukannya? Jangan sampai tulang-tulangmu patah karena tidak kuat saat menggoyang," ucapnya yang dengan sengaja meninggikan suaranya.


Pada saat itu juga tatapan mata semua orang tertuju pada Mo Lian yang berada di atas arena. Perkataan yang diucapkan Mo Lian adalah sesuatu yang tidak seharunya dikatakan, karena itu termasuk sebuah penghinaan, yang mungkin saja berakibat fatal dan dapat memenjarakannya di penjara bawah tanah Istana Surgawi.


"Beraninya kau menghina Penatua Ye." Pria paruh baya yang merupakan Wakil dari Penatua Ye beranjak dari tempatnya berdiri.


Bukan hanya Wakil Penatua, tapi juga belasan murid yang berada di atas menara mulai bergerak, yang seharusnya sudah bergerak dari awal karena memang perintah untuk bergerak sudah dikeluarkan dari tadi.


Tubuh Wei Yian Fei dan Wei Yian Ning bergetar ketakutan saat melihat orang-orang itu yang menyerang mereka secara bersamaan.


"Kalian berdua, mundurlah," ucap Mo Lian yang maju beberapa langkah dengan santainya.


Keduanya mundur beberapa puluh langkah ke belakang saat itu juga saat mendengar perkataan Mo Lian.


"Mati!" Wakil Penatua mengayunkan pedangnya mengarah pada Mo Lian.


Dari ujung pedangnya mengeluarkan cahaya berwarna kuning kecokelatan, menciptakan siluet bulan sabit dengan warna yang selaras mengarah pada Mo Lian yang jaraknya sekitar 100 meter dari tempatnya berdiri.


Sebelumnya Mo Lian berpikiran untuk tetap tenang dan menjaga identitasnya sampai ia benar-benar dapat masuk ke dalam Istana Surgawi dengan cara baik-baik.


Tapi saat melihat sikap yang diperlihatkan oleh Penatua Ye di depan umum, ia tidak perlu lagi menahan diri, ia tidak perlu lagi memasuki Istana Surgawi. Lebih baik, menyerangnya secara terang-terangan, bukan hanya tidak memakan waktu terlalu lama, tapi juga bisa cepat-cepat pergi meninggalkan Negeri Surgawi.


"Hah..." Mo Lian menghembuskan napas panjang saat melihat serangan yang mengarahkan padanya. Serangan yang geraknya sangat lambat itu.


Mo Lian menendang beberapa batu yang berada di atas arena. Bebatuan yang tercipta dari pecahan arena itu melesat mengarah pada siluet pedang, kemudian tercipta ledakan yang diiringi dengan asap tebal yang menghalangi pandangan.

__ADS_1


Tidak berhenti disitu saja, Mo Lian memanfaatkan keadaan itu. Ia menekan kakinya dan melesat menuju belasan orang yang bergerak masuk ke dalam asap tebal, atau bisa dikatakan bahwa asap tebal 'lah yang kian membesar.


Dengan mata terpejam dan memanfaatkan kesadarannya, Mo Lian mengalirkan energi spiritualnya pada kedua tangan untuk menciptakan pedang. Kemudian ia mengayunkan dua pedangnya secara horizontal dan vertikal, menebas batang leher orang yang berada di kanan depannya, dan menusuk jantung orang yang berada tepat di depannya.


Masih berada di asap tebal yang belum menghilang, Mo Lian terus bergerak dengan kecepatan tertingginya yang seperti orang yang dapat berpindah tempat dengan instan. Setiap ia muncul kembali, ia akan selalu menebas leher orang yang entah berada di depannya, ataupun di belakangnya.


Penatua Ye menyeringai lebar saat ia tidak mendengar suara pertempuran di atas arena, ia menduga jika Mo Lian sudah mati terbunuh pada saat itu juga, saat di mana asap tebal menghalangi pandangan semua orang.


Dengan raut wajah percaya diri, Penatua Ye mengibaskan tangannya, membuat asap tebal yang menghalangi pandangan semua orang itu bergerak dan menghilang dari atas arena.


Alangkah terkejutnya Penatua Ye saat melihat apa yang terjadi di atas arena. Raut wajahnya berubah drastis, yang sebelumnya menyeringai dengan rasa percaya diri yang tinggi, kini menjadi tak enak dipandang dengan wajah menghitam menjelaskan kemarahan.


Mo Lian menatap tajam Penatua Ye. "Aku sudah membunuh mereka semua. Apakah aku sudah bisa memasuki Istana Surgawi sekarang dan menjadi Murid Batin?"


Wajah Penatua Ye mengeras dengan urat-urat lehernya yang terlihat jelas, ia mencengkeram jari-jarinya yang terkepal dan menatap Mo Lian tajam. "Persetan dengan Murid Batin, aku akan membunuhmu di sini sekarang!"


Penatua Ye menekan kakinya di menara, membuatnya melesat tajam ke arah Mo Lian, bersamaan dengan menara tinggi itu hancur menjadi tumpukan kayu.


Mo Lian menekan kakinya di lantai arena dan melompat tinggi mengarah pada Penatua Ye.


Penatua Ye menarik tangan kanannya ke belakang punggungnya, kemudian mengayunkannya memukul Mo Lian pada bagian wajah.


Mo Lian tidak tinggal diam, ia juga menarik tangan kanannya ke belakang punggungnya kemudian mengayunkannya ke depan memukul tinju Penatua Ye yang diarahkan padanya.


Bang!


Dentuman keras yang memekakkan telinga terdengar bersamaan dengan angin yang menyebar luas bagaikan pedang tajam saat kedua pukulan itu beradu, membuat bangunan sekitar runtuh dan menerbangkan semua orang yang hadir tanpa terkecuali.


Meski pukulan itu terlihat imbang, tapi sebenarnya Penatua Ye mengalami cedera yang cukup parah, yaitu tulang sepanjang lengan kanannya telah patah menjadi puluhan bagian.


Mo Lian yang mendengar suara retakan kasar itu tersenyum tipis, ia mengayunkan kaki kanannya menendang pangkal paha Penatua Ye.

__ADS_1


Seketika itu juga tubuh Penatua Ye bergidik tidak bisa menahan rasa sakit, kemudian ia terjatuh dari tempatnya dan menghantam arena dengan kerasnya.


Penatua Ye mencoba untuk bangkit dengan menyatukan dua pahanya sembari menekuk lututnya, dan memegangi pangkal pahanya dengan kedua tangan. Ia menengadahkan kepalanya menatap Mo Lian yang terbang beberapa belas meter di atasnya. "Baji****! Beraninya kau menendang senjata berhargaku dan memecahkan bibitku. Apakah kau tidak memiliki kejujuran dalam bertarung?" ucapnya sembari meringis.


Mo Lian menatap tajam Penatua Ye. "Kejujuran? Setelah apa yang kau perlihatkan dalam penerimaan murid hari ini, dan kau masih mengatakan kejujuran? Omong kosong!"


Mo Lian kembali melesat tajam mengarah pada arena, atau lebih tepatnya Penatua Ye dengan kedua kaki berada di bawah.


"Keuk!" Penatua Ye memuntahkan seteguk darah segar dari dalam mulutnya saat tubuhnya terkena tendangan dari dua kaki Mo Lian, membuatnya tersungkur di atas permukaan arena.


Mo Lian menarik rambut Penatua Ye, kemudian membenturkan wajah Penatua Ye di atas permukaan lantai arena secara berkali-kali, hingga wajah Penatua Ye sudah tidak dapat dikenali lagi dengan darah yang mengalir deras.


Dengan bibir bergetar, Penatua Ye yang punggungnya digunakan sebagai tempat duduk Mo Lian, ia membuka mulutnya dan berkata dengan suara serak, "Ba- Ba- Baji****! Jika kau berani membunuhku, Istana Surgawi akan memburu mu. Bahkan Empat Kerajaan di Negeri Surgawi ini tidak akan berani membunuh orang dari Istana Surgawi, bahkan jika itu adalah seorang pelayan ..."


Penatua Ye terdiam sejenak untuk mengambil napas, kemudian melanjutkan perkataannya, "Asal kau tahu saja, Istana Surgawi memiliki ribuan Ranah Yin He, ratusan Ranah Jin Xin, dan Leluhur Ye baru saja berhasil menembus Ranah Ziran Yu Ren!"


Mo Lian terdiam dengan kerutan di dahi, ia masih tidak tahu dengan istilah-istilah yang sangat berbeda sekali tentang tingkatan kultivasi.


Ranah Inti Emas serta Alam dan Manusia?


Merasa tidak ada balasan dari Mo Lian, Penatua Ye menjadi lebih tidak tahu diri lagi dan tidak sadar akan posisinya saat ini. "Jika kau melepaskan ku dan berjanji akan menjadi pelayan ku selama seribu tahun, aku bisa mengatakan pada Patriak dan Leluhur jika kau tidak bersalah."


Mo Lian mengerutkan keningnya. Ia berdiri dari punggung Penatua Ye seraya menciptakan pedang di tangan kanannya. "Terimakasih, tapi aku tidak menginginkannya," ucapnya seraya menebas batang leher Penatua Ye.


Kemudian Mo Lian menginjak kakinya di pinggang Penatua Ye dan menghancurkan Inti Jiwanya.


"Karena yang akan menjadi pemburu adalah aku, bukannya kalian!"


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2