
Samudra Pasifik
Kloning Mo Lian sudah berada di Pulau Hawaii, ia pergi ke sisi lain dari pulau di mana tidak ada wisawatan, yang di bagian sana terdapat sebuah pangkalan militer tersembunyi di kedalaman tanah dan di bagian bawah laut terdapat senjata nuklir.
Mo Lian mengambil napas panjang, kemudian bergerak cepat memasuki lautan. Saat ia menyelam ke dalam lautan, air melonjak naik puluhan meter dengan gelombang air membentuk cincin, serta memecah ombak.
Hanya dalam waktu hitungan detik saja, Mo Lian sudah menyelam ratusan meter di bawah permukaan air. Meski di dalam air yang gelap tanpa cahaya, ia masih bisa melihat dengan jelas apa yang berada di bawah sana, terdapat bangunan yang terbuat dari besi. Ia tidak merasakan adanya tanda-tanda kehidupan di dalam bangunan, namun merasa banyak sekali senjata yang tersembunyi di dalamnya.
Bangunan berbentuk setengah bola yang terbuat dari besi itu mulai terbuka, terbuka di sini adalah hanya sebesar gorong-gorong, dan mulai mengeluarkan senjata nuklir lainnya, yang menguncinya sebagai target.
Mo Lian tidak habis pikir akan diserang di dalam air, ini hanya akan membuat Pulau Hawaii tenggelam jika belasan nuklir meledak di dalam lautan, air laut juga akan terkontaminasi oleh radiasi.
Dengan segera ia berbalik dan pergi dari kedalaman air laut menuju langit yang tinggi untuk menjauhkan laut agar tidak terkena ledakan.
Ketika sudah berada jauh dari laut dan berada sekitar delapan mil dari permukaan air, Mo Lian berbalik dan memukulkan tinjunya pada udara kosong di depannya, menciptakan gelombang udara bertekanan tinggi yang melesat tajam mengarah pada belasan nuklir.
Duarr! Duarr! Duarr!
Ledakan keras dengan api besar yang menutupi langit dalam radius satu mil terlihat, angin juga bertiup kencang menyebar ke segala arah. Jika saja ledakan ini terjadi di bawah laut, maka Pulau Hawaii akan menghilang, bersamaan dengan gelombang tsunami ratusan meter.
Mo Lian menekan kakinya di udara sebagai pijakan, kemudian kembali lagi menyelam kedalam lautan.
Ia membuat tangan besar dengan energi spiritual, kemudian mengarahkannya pada bunker berisi senjata nuklir dan membukanya secara paksa. Ia menggunakan energi jiwanya untuk menggerakkan beberapa senjata nuklir yang tersisa, dan melambaikan tangannya ke udara menerbangkan senjata nuklir itu untuk meledak di langit.
Mo Lian menolehkan kepalanya ke kanan melihat tebing dalam air yang menyatu dengan Pulau Hawaii, di tebing itu ia bisa melihat bangunan lainnya yang terbuat dari baja, ia juga merasakan adanya tanda-tanda kehidupan di dalamnya.
Kalian semua akan mati!
Mo Lian mengarahkan jari telunjuknya pada bangunan yang menyatu dengan tebing, di ujung jarinya bulan terbentuk sebuah kelereng yang terbentuk dari energi spiritual. Ia menembakkan energi spiritual itu, menciptakan pusaran air yang sangat deras. Bahkan jika di lihat dari luar, air laut mulai bergejolak.
Boom!
Energi spiritual itu menghantam tebing dan menghancurkan markas militer yang berada di bawah air, dengan Pulau Hawaii yang bergetar seperti gempa bumi, menghancurkan bangunan yang berada di sana.
Setelah masalah di Pulau Hawaii sudah selesai, ia meninggalkan Samudra Pasifik dan pergi menuju Amerika dengan kecepatan melebihi suara.
***
Sekte Dongfangzhi, Kota Chengdu
__ADS_1
Mo Lian bergerak menuju wilayah Sekte Dongfangzhi untuk melihat bagaimana pertempuran di sana, terlihat dari langit yang tinggi di sana ada awan hitam yang menutupi wilayah dengan kilatan petir berwarna biru. Ia mengetahui bahwa itu adalah serangan milik Ayahnya.
"Aku akan membantu di sini, untuk masalah Leluhur Keluarga Rosth, itu bisa diambil alih oleh kloningku yang menjaga Provinsi Tibet, ratusan pesawat tempur juga sudah hancur, senjata nuklir di Pulau Hawaii juga sudah dibasmi."
Mo Lian memutari awan hitam yang menutupi sekte. Sebenarnya bisa saja langsung menembus awan hitam, tapi itu hanya akan menghancurkan serangan yang sudah disiapkan oleh Ayahnya.
Hanya membutuhkan beberapa detik saja untuk memutari awan hitam yang hanya menutup wilayah sekte, sekitar satu sampai dua mil. Jika saja Ayahnya menggunakan kekuatan penuh, awan hitam itu bisa menutupi tiga sampai empat kota dari Kota Chengdu.
Apabila Mo Lian yang melakukannya, seluruh Provinsi Sichuan akan gelap karena langit terhalang oleh awan hitam, tapi sayang ia tidak memiliki Element Petir.
Saat Mo Lian sudah berada di bawah awan hitam, ia bisa melihat di tengah-tengah serangan terdapat seorang pria paruh baya, yang berpenampilan muda, yang tak lain adalah Mo Qian.
Mo Qian merentangkan kedua tangannya, mengendalikan seluruh petir yang terus menyambar bagaikan hujan mengarahkannya pada Keluarga Rosth. Untuk helikopter yang sebelumnya berada di langit, sudah dipindahkan ke dalam array.
"Sepertinya Ayah mengizinkan mereka untuk masuk, kemudian dilanjutkan dengan bertarung di luar." Mo Lian mengamati pertarungan Ayahnya dari jauh. "Ngomong-ngomong, mengapa tidak ada yang menyerang array? Bukankah sia-sia aku membuatnya jika tidak ada yang menyerang?"
"Lian'er. Bagaimana urusanmu? Apakah sudah selesai?"
Mo Lian mendongak menatap lurus ke depan saat mendengar suara itu. Suara Ayahnya menarik perhatian setengah pasukan dari Keluarga Rosth, dan mengalihkan pandangan mereka padanya.
"Tentu, dia sudah mati," jawab Mo Lian yang tiba-tiba muncul di sebelah Ayahnya.
Mo Lian menundukkan kepalanya melihat ribuan orang yang berada di dalam array, menengadahkan kepala mereka melihat ke langit. "Mengapa mereka semua berada di dalam array? Apakah mereka tidak membantu Ayah?" tanyanya kembali mendongak.
"Harusnya kau tahu alasannya." Mo Qian mengangkat kedua bahunya sembari tersenyum canggung.
Mo Lian mengangguk kecil, ia mengerti apa yang dimaksud oleh Ayahnya. Membawa orang-orang itu bertarung hanya akan menjadi beban yang harus dilindungi.
"Tidak mungkin kau membunuh Kepala Keluarga!"
Mo Lian merentangkan tangan kanannya menangkap kepala orang yang berada di sebelah kanannya, kemudian mencengkeram erat hingga terdengar suara renyah, menandakan bahwa kepala orang itu sudah hancur lebur.
Mo Qian tersenyum cerah dengan kedua tangan bertumpu pada pinggang. "Seperti yang diharapkan dari anakku. Ngomong-ngomong, bukankah kau terlihat sangat tampan dengan jubah itu?" tanyanya mendekatkan wajahnya pada Mo Lian.
Bibir Mo Lian berkedut-kedut saat mendengar itu. "Apakah sebelumnya aku tidak tampan?"
"Hahaha!" Mo Qian tertawa terbahak-bahak sembari menepuk-nepuk pundak Mo Lian.
"Jangan mengalihkan perhatian kalian! Baji****!"
__ADS_1
"Balaskan dendam Kepala Keluarga! Bunuh!"
Mo Lian menggeleng pelan tidak habis pikir dengan orang-orang ini. Membalas? Kepala Keluarga mereka saja mati, apa lagi mereka.
"Bisakah kalian diam?!" Mo Lian berbalik menatap tajam ratusan orang yang berada di belakangnya sembari mengibaskan lengannya.
Duarr! Duarr! Duarr!
Ledakan terus bersahutan bersamaan dengan kabut merah yang menyebar, ratusan orang itu mati dengan spontan hanya karena kibasan tangannya.
Mo Qian menghembuskan napas panjang dengan kepala tertunduk. Tidak lama kemudian ia mendongakkan, dan berucap, "Sepertinya tidak perlu menahan diri lagi."
Wosh!
Angin berembus kencang menyebar ke segala arah menerbangkan orang-orang yang menyerang, bersama dengan awan hitam yang semakin membesar hingga menutupi seluruh wilayah dalam radius 500 mil.
Semua orang yang berada di dalam array membelalakkan mata saat melihat awan yang semakin meluas. Orang-orang yang berada di empat kota berbeda menjadi sangat panik karena awan hitam itu, terlebih lagi dengan kilatan petir.
Mo Qian mengangkat tangannya ke udara, membuat kilatan petir semakin banyak dengan gemuruh. Ia melambaikan tangannya mengayunkan ke bawah, membuat kilatan petir menyatu menjadi sebuah naga yang menghantam padanya.
Bang!
Dentuman keras lain terdengar dan membelah naga petir itu menjadi jumlah yang sesuai, sekitar 1000 petir yang menyebar, mengenai mereka semua dan berubah menjadi kabut darah.
Semua orang yang berada di dalam array kembali membelalakkan mata. Pasukan Mata Setan memang sudah pernah melihat kekuatan asli dari Iblis Merah, yang mampu membantai 10 ribu pasukan elit hanya dengan satu pisau dan pistol. Tapi tetap saja ini masih mengejutkan mereka.
"Ayah, apakah Ayah ingin mempelajari teknik membelah tubuh? Syarat untuk mempelajari teknik ini harus berada diatas Inti Perak, dan memiliki kekuatan jiwa yang setingkat Inti Emas tahap Akhir ..."
Mo Lian terdiam sejenak mengamati aliran energi dari Ayahnya, kemudian melanjutkan perkataannya, "Kekuatan jiwa Ayah sudah memenuhi syarat." Ia menebak kekuatan jiwa Ayahnya meningkat karena dipenjara di tempat yang sangat berbahaya.
"Sepertinya itu ide yang bagus, aku bisa menjaga Ibumu serta Fei'er di waktu yang bersamaan," balas Mo Qian yang mengambil posisi bermeditasi.
Mo Lian tersenyum hangat, ia mengangkat tangannya mengarahkan jari telunjuknya pada dahi Ayahnya. Di ujung jarinya terdapat cahaya biru seukuran kelereng kecil, cahaya itu terbang menuju dahi Ayahnya dan masuk perlahan.
Sepertinya Ayah memang benar-benar murid dari Leluhur Sekte. Bukan hanya memahami bagaimana mengirimkan pengetahuan, tapi juga sudah bisa mengubah energi spiritual dengan mudahnya, membuat dinding pelindung, membuat pijakan, dan berjalan di udara.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...