Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 53 : Jalan Bersama Qin Nian


__ADS_3

Mo Lian terbangun dari tidurnya saat alarm di handphone-nya berbunyi. Dengan tubuh yang masih berada di dalam selimut, ia berguling-guling hingga akhirnya ia dapat meraih handphone yang berada di atas meja. Ia melihat layar handphone, dan kemudian mematikan alarm.


Hari ini tanggal 28 April 2020, hanya tersisa satu hari lagi baginya untuk libur. Karena pada tanggal 30 April ia harus kembali masuk sekolah untuk melihat nilai ujian kelulusan, dan pada tanggal 2 Mei 2021 akan diadakan upacara kelulusan.


Dengan kedua tangan menyentuh kasur, ia menopang badannya untuk bersandar di sandaran tempat tidur. Ia membuka berita terkini di handphone, dan terlihat berita tentang petir tadi malam menjadi berita utama, terlebih lagi dengan tanah tandus akibat sambaran petir.


Diberita itu juga disertai dengan video yang sepertinya diambil oleh penduduk setempat, dan benar saja, di tengah-tengah sambaran petir terlihat siluet manusia yang terbang seperti menantang langit.


Di kolom komentar juga sudah banyak orang-orang yang membahas tentang kejadian tadi malam, dan menganggap jika orang yang berada di tengah-tengah sambaran adalah seorang Dewa yang marah.


Namun beda halnya dengan para Pejuang ditingkat Wu-Dan. Mereka tahu betul tentang fenomena yang terjadi tadi malam, fenomena itu bukan dilakukan oleh alam, melainkan dilakukan oleh Pejuang yang menembus tingkat Wu-Sheng, tingkat yang hanya ada di legenda.


Ketika Mo Lian melihat video di handphone-nya, ia tersentak kaget, bahkan ia hampir melempar handphone yang digenggamnya.


Mo Lian membenamkan wajahnya di atas bantal seraya bergumam, "Memalukan. Untung saja video itu diambil dari sudut belakang, jika dari sudut lainnya ... aku tidak ingin memikirkannya lebih jauh ..."


Setelah menenangkan diri, ia beranjak dari tempat tidurnya menuju lantai dasar untuk menyantap sarapan pagi yang telah disiapkan. Hari ini ia berencana untuk pergi ke tempat di mana terdapat jasa pelayan rumah.


"Lian'er. Bisa bantu Ibu membawakan piring."


Mo Lian yang baru saja tiba di lantai dasar menolehkan kepalanya ke sumber suara, kemudian ia menganggukkan kepalanya saat melihat Ibunya sedang membawa beberapa piring yang ditemani Mo Fefei di belakangnya.


Dengan energi spiritualnya, ia membawa beberapa piring yang masih tersisa di meja dapur. Keenam piring berisikan sayur dan lauk pauk melayang di belakangnya dengan stabil tanpa ada goncangan, ia meletakkannya perlahan di atas meja dan kemudian menyantap makanan.


"Ibu. Bagaimana jika kita mempekerjakan beberapa pelayan untuk mengurus rumah ini." Mo Lian mendongakkan kepala menatap Ibunya.


Su Jingmei terdiam sejenak, ia meletakkan sumpit di atas mangkuk yang berisikan nasi. "Boleh. Tapi apakah Lian'er tahu di mana untuk mencari pelayan? Ibu tinggal di Kota Chengdu baru sebulan, sedangkan Lian'er sudah tiga tahun."


Mo Lian terdiam, ia menolehkan kepalanya ke sisi lain seraya menggaruk pipinya dan tersenyum canggung.


Melihat itu, Su Jingmei hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang. Ia mengerti mengapa anaknya ingin mempekerjakan seorang pelayan, bahkan jika memang tidak mempekerjakan seorang pelayan dan hanya niat saja, ia sudah merasa senang saat anaknya mengkhawatirkan tentang keadaannya yang mengurus kediaman besar ini.


Mo Fefei mengangkat tangannya ke udara. "Ibhue, Ibhue—" ucapnya terhenti untuk menelan makanan yang berada di dalam mulutnya. "Aku memiliki seorang teman, kebetulan dia bekerja di cafe kita, dia bekerja untuk membantu keuangan keluarganya yang terdiri dari ibu dan adiknya. Bagaimana jika kita mempekerjakan ibunya saja?"

__ADS_1


Su Jingmei terdiam dengan mulut sedikit terbuka, ia menolehkan kepalanya menatap Mo Lian untuk meminta pendapat. Meski ia adalah pemimpin keluarga di sini, tapi tetap saja Mansion Bai Long adalah milik Mo Lian.


Mo Lian tersenyum lembut. "Ibu, jika memang Ibu mau menerimanya. Silakan saja," ucapnya pelan kemudian menyuapkan daging ke dalam mulutnya.


"Baiklah." Su Jingmei menganggukkan kepalanya, kemudian melanjutkan kegiatan makan mereka yang sebelumnya terhenti karena berdiskusi.


Tidak lama kemudian, setelah mereka selesai menyantap sarapan. Su Jingmei dan Mo Fefei berangkat ke perusahaan untuk bekerja, sedangkan Mo Lian bersantai sejenak di rumah dan membersihkan peralatan makan yang habis pakai.


Mo Lian duduk bersantai di sofa ruang keluarga sembari menonton televisi. Sesekali ia juga memainkan handphone-nya untuk mengisi waktu luang.


"Aku sudah berada di Ranah Inti Perak. Seharusnya aku sudah cukup mampu untuk mencari keberadaan ayahku yang telah lama menghilang. Tapi, karena saat ini ada urusan yang lebih penting, Organisasi Dunia Hitam, maka mau tak mau aku harus menunda rencana ku untuk mencari keberadaan ayah."


Mo Lian merebahkan tubuhnya di sofa dengan posisi menyamping, dan kepala yang ditopang oleh tangan kanannya. "Membosankan, apakah Qin Nian ada waktu? Aku ingin mengajaknya jalan-jalan."


"Baiklah! Aku telpon dia!" Mo Lian beranjak dari sofa, ia mengambil handphone yang berada di atas meja dan kemudian menelepon orang yang terdaftar di kontaknya.


"Halo. Master?"


Dari balik telepon tidak ada jawaban untuk beberapa saat. Mendapati dirinya tidak mendapatkan jawaban, Mo Lian membuka mulutnya kembali untuk bertanya, namun baru saja ia membuka mulutnya, dari balik telepon terdengar suara.


"Setelah saya mengecek jadwal hari ini, kebetulan tidak ada kegiatan apapun sampai pukul 6 sore nanti."


Mo Lian tersenyum. "Bagus. Aku akan datang ke Mansion Keluarga Qin, kita akan jalan-jalan, tapi seperti biasa. Kau yang menyetir,"


Sekali lagi, tidak ada jawaban dari balik telepon. Jika diungkapkan, ini seperti Qin Nian terdiam tak percaya dengan wajah yang telah memerah karena tidak menyangka akan diajak untuk jalan berdua bersama Masternya, Mo Lian.


Mo Lian yang mendapati tak ada jawaban lagi hanya diam dan menutup panggilan telepon.


Ia berjalan menuju pintu keluar, kemudian berlari menuruni Gunung Emei menuju Mansion Keluarga Qin setelah ia selesai mengunci pintu maupun pagar.


Sepuluh menit berlalu dengan cepat, Mo Lian sudah tiba di depan gerbang Mansion Keluarga Qin. Saat ia datang, gerbang dibukakan oleh penjaga dengan pakaian berwarna hitam rapi. Penjaga itu juga memberi hormat militer ke arah Mo Lian.


Melihat itu, Mo Lian ikut mengangkat tangannya untuk memberi hormat yang sama. Kemudian berjalan menuju halaman mansion, di sana terlihat wanita muda dan satu pria paruh baya, namun dengan usia di atas 60 tahun.

__ADS_1


Kedua orang itu berjalan menghampiri Mo Lian. "Selamat datang, Master."


Mo Lian menganggukkan kepalanya sembari mengangkat tangan kanannya untuk membalas salam dari kedua orang di depannya. "Fase Mendalam tahap Menengah dan Fase Fondasi tahap Akhir. Tidak buruk."


"Terimakasih, Master."


Pria tua yang tak lain ialah Qin Zhang terdiam sejenak seraya merogoh kantung celananya, kemudian ia memperlihatkan video yang terlihat di handphone pada Mo Lian. "Master, apakah ini Anda?" tanyanya sedikit cemas, ia cemas karena takut menyinggung perasaan Mo Lian.


Mo Lian hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan itu.


Qin Zhang tersentak, dengan bibir bergetar dan keringat dingin mengalir di dahinya, ia kembali bertanya pada Mo Lian, "A- A- Apakah Master ..."


Mo Lian kembali menganggukkan kepalanya. "Ya. Aku telah menembus Ranah Inti Perak, atau dikatakan sebagai Wu-Sheng." Ia menolehkan kepalanya menatap wajah Qin Nian dan mengabaikan tatapan mata dari Qin Zhang. "Apakah kau sudah siap?"


Qin Nian tersadar dari lamunannya, ia menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang telah memerah bagaikan kepiting rebus. "Su- Sudah," jawabnya terbata-bata.


"Baiklah. Ayo kita berangkat," ucap Mo Lian tersenyum lembut kemudian berjalan menuju gerbang.


Qin Nian menolehkan kepalanya melihat wajah Qin Zhang, Kakeknya. "Kakek. Aku keluar dulu bersama Master, aku akan pulang satu jam sebelum waktu pertemuan," ucapnya menundukkan kepala kemudian berjalan menuju parkiran mobil.


Qin Zhang terdiam sejenak, ia memikirkan apa yang baru saja dilihatnya tadi. "Masterku, sudah berada ditingkat Wu-Sheng, aku sungguh beruntung dapat mengikuti Tuan Mo."


Tidak! Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Sebentar! Apakah Master Mo dan Nian'er jalan bersama? Apakah mereka berdua ... tidak, tidak. Jika mereka berdua berpacaran, apakah aku harus memanggil cucuku dengan sebutan Nyonya Master?"


"Atau aku yang memanggil Master Mo dengan sebutan Lian'er? Tidak! Itu tidak sopan, bagaimanapun dia adalah Masterku dan Dewa hidup."


Merasa bahwa pemikirannya tidak ada habisnya, Qin Zhang memutuskan untuk kembali masuk ke dalam mansion untuk melanjutkan tidur paginya.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2