
Mereka sudah tiba di puncak gunung yang terasa sangat dingin, serta ada aura yang menenangkan karena nyanyian-nyanyian dari para praktisi di dalam kuil.
Puncak di sini terlihat sederhana, hanya ada satu patung Buddha berwarna perunggu yang duduk di peron dan satu kuil kecil yang muat dimasuki beberapa puluh orang. Sepertinya, puncak tidak bisa dimasuki sembarang orang setelah Kebangkitan Spiritual, tapi di bagian tengah atau bawan Gunung Emei Shan adalah ruangan bebas.
Mo Lian menganggukkan kepalanya saat mendengar nyanyian mantra. "Kalian mengambil jalan yang benar. Walaupun dalam kultivasi tidak ada yang benar dan salah, semuanya diizinkan. Tapi, aku tidak akan tinggal diam apabila kalian beralih ke Demon Buddhist."
Lan Hong, adalah nama pria paruh baya. Ketika mendengar apa yang dikatakan Mo Lian, tubuhnya bergidik ngerti, tetapi di sisi lain menghela napas lega dan tersenyum.
Mo Lian melepaskan sedikit kekuatannya, membuat Gunung Emei Shan berguncang.
Nyanyian mantra di dalam kuil berhenti, dan terlihat cahaya oranye yang terbang keluar dari kuil.
Ketika cahaya meredup dan mendarat, terlihat seorang pria tua tanpa rambut yang sedikit bungkuk, memiliki janggut yang sejajar sampai tulang selangka. Ia memakai Angarkha Buddha yang terlihat kusam, dengan berlapiskan jubah cokelat muda.
Pria tua itu sedikit membungkukkan badannya. "Salam, Dewa Mo. Ada keperluan apa dengan Biksu Tua ini?"
Mo Lian tersenyum, senang karena pria tua di depannya bersikap biasa-biasa saja. Terkadang, terlalu kuat juga merepotkan, karena sangat sulit untuk menemukan lawan untuk mengobrol, dan kalaupun ada, mereka akan menundukkan kepala—menghindari tatapan matanya.
"Mungkin kau sudah tahu ini, Kebangkitan Spiritual membawa berkah dan petaka. Jika kau sudah menembus Dewa Merah, kau akan tahu bahwa Gunung Emei Shan sangat kaya. Ada ruang dimensi di sini, yang sepertinya digunakan untuk menyembunyikan murid-murid saat masa-masa Zaman Keemasan."
Saat mengatakannya, Mo Lian berjalan ke pinggir tebing tinggi yang terlihat biasa-biasa saja, tapi dari matanya, itu memiliki kabut luas di bawahnya yang menyembunyikan Dunia Kecil.
"Awalnya, aku akan membuka Dunia Kecil di sini dan mengambil semuanya. Tapi, karena Dunia Kecil ini ditinggalkan oleh Leluhur kalian." Mo Lian menoleh ke belakang, menatap Biksu Tua. "Aku hanya mengambil sedikit, dan semua warisannya akan menjadi milik kalian."
Biksu Tua yang awalnya tenang, tubuhnya menegang dan matanya terbuka penuh kejutan. Dengan bibir bergetar, dia berkata dengan getir, "Be- Benarkah? Ji- Jika Anda bisa membukanya ... ba- bahkan jika Anda mengambil semuanya ... kami tidak mempermasalahkannya."
Yang diinginkan oleh Biksu Tua bukanlah sumber daya atau warisan, tapi kebenaran tentang semua yang telah ditelitinya.
Mo Lian menggelengkan kepalanya. "Aku hanya mengambil sedikit, tapi jika tidak ada yang menarik, aku tidak mengambilnya."
Jika ini bukan milik orang, dia akan mengambilnya semua tanpa peduli. Tapi, lebih baik memberikannya pada orang yang sesuai, sehingga Kekaisaran Huaxia bisa bertambah kuat.
Tidak baik terlalu serakah.
__ADS_1
Mo Lian berdiri di tepi tebing dengan kedua tangan di belakang, memandangi kabut putih yang samar-samar ada cahaya emas yang terbang. "Jika Biksu Tua masih memiliki Inti Emas bersama, aku akan membawanya masuk."
Biksu Tua tersenyum canggung saat membalasnya, "Sangat disayangkan, Kuil Emei tidak memiliki Inti Emas lain. Bahkan setelah Kebangkitan Spiritual, Biksu Tua ini hanya bisa mencapai Inti Emas tahap Menengah."
Mo Lian terdiam sejenak dengan mata terpejam. Meskipun tidak pernah mempraktikkan Teknik Kultivasi Buddhisme, dia memiliki beberapa saat menghadiri pelelangan di kehidupan sebelumnya, dan membelinya untuk membuang-buang uang.
Mo Lian membuka matanya kembali setelah mendapatkan teknik yang sesuai, kemudian berbalik melihat Biksu Tua. "Aku memiliki teknik kultivasi dari Galaksi Pusat. Kekuatan Jiwa Emas di sana seperti hujan, bisa ditemui di mana pun. Dengan teknik ini, kau bisa menembus Heavenly Immortal ..."
"Kau juga bisa membuangnya jika tidak ingin." Mo Lian menunjuk ke dahi Biksu Tua, terlihat ada gumpalan biru yang merupakan energi spiritual yang dimilikinya, dengan sedikit warna perunggu.
Energi itu mengandung semua pengetahuan tentang Teknik Kultivasi Buddhisme yang dimilikinya, ada yang lengkap, ada yang tidak, dan ada yang terbagi menjadi belasan volume.
Biksu Tua itu tersentak ketika energi memasuki kepalanya, kemudian dia menutup matanya untuk menenangkan diri atas kejutan dari energi kuat. Dia tidak langsung mempraktikkan semua teknik, karena teknik yang digunakannya sekarang sudah dipraktikkan selama ratusan tahun.
Kemudian, Biksu Tua tahu kondisi tubuhnya sendiri yang tidak mungkin untuk mempraktikkan semua teknik, kecuali menghancurkan teknik sebelumnya atau mengambil hal-hal penting dari setiap teknik dan menyempurnakan miliknya.
Mo Lian mengetahui isi pikiran Biksu Tua, dan berkata, "Ada Teknik Budidaya, dan ada Teknik Kultivasi. Teknik Budidaya mengharuskan menyerap energi spiritual yang menjadi fondasi, dan Teknik Kultivasi adalah teknik seperti pertahanan, serangan, langkah kaki, tangan, tinju, cakaran dan lain sebagainya, itu juga bisa meningkatkan kekuatan. Jadi tidak perlu terburu-buru untuk memahaminya."
"Kau bisa menggunakan teknik pukulan untuk menarik energi spiritual. Bukan hanya meningkatkan Kekuatan Spiritual, tapi itu juga meningkat Kekuatan Fisik." Mo Lian kembali melanjutkan sebelum berbalik.
Mo Lian mengangkat tangan kanannya perlahan, tebing yang bersih tiba-tiba memunculkan kabut putih yang sangat tebal sampai tidak bisa melihat ke dalamnya.
Biksu Tua yang telah berdiri di samping Mo Lian, membuka matanya lebar-lebar. "Apakah ... di sini?" Ia sudah sering turun sebelum Kebangkitan Spiritual, tapi tidak pernah menemukan Dunia Kecil.
Mo Lin mengayunkan tangannya secara vertikal ke bawah, seolah-olah sedang memotong dengan pedang tajam. Ayunan tangannya membuat kabut tebal di depannya terbelah, mengungkapkan celah yang memancarkan cahaya perunggu keemasan.
Kemudian, tangan biru muncul di samping celah, memegang bagian kiri dan kanannya, lalu membukanya secara paksa.
Bang!
Dentuman keras terdengar sampai mengguncang Gunung Emei Shan saat celah itu robek lebih besar, mengungkapkan dunia lain dengan ratusan puncak gunung yang masing-masing darinya memancarkan cahaya perunggu.
"Ini masih terawat, tidak seperti Gunung Kunlun, atau mungkin, Dunia Kecil ini dibangun setelah Zaman Keemasan?" Mo Lian merenung. Ia merasa tempat ini memang setelah Zaman Keemasan, seperti ruang dimensi atau Dunia Kecil Kunlun lain yang ditemukannya, tapi dia memilih memasuki dimensi pada Zaman Keemasan.
Biksu Tua mendengar itu, dan minatnya terusik. "Dewa Mo, apakah Bumi memiliki banyak rahasia?"
__ADS_1
Mo Lian mengangguk dan menjawab, "Iya, aku bisa memberi tahu. Tapi, dengan kekuatanmu yang sekarang, kau akan kehilangan pikiranmu. Bahkan, Heavenly Immortal masih terguncang ketika melihat seperti apa Bumi itu."
"Lagi pula, jika Bumi tidak memiliki rahasia. Bagaimana kelompok lain yang masing-masing bisa menghancurkan galaksi bisa datang kemari, kecuali ada Harta Surga dan Bumi di sini."
Biksu Tua benar-benar terguncang. Tidak pernah mengharapkan hal itu, bahkan saat penyerangan Dues-Techno, dia hanya membantu warga sekitar tanpa mencari tahu lebih jauh.
Mo Lian membiarkan Biksu Tua, dan langsung terbang memasuki Dunia Kecil Emei bersama istri-istrinya.
Biksu Tua, mengatur napasnya, kemudian terbang mengikuti Mo Lian.
...***...
Dunia Kecil Emei
Kelompok lima orang telah memasuki dimensi berbeda dan mendarat di sebuah tebing yang sama seperti Emei Shan, tapi pandangannya benar-benar berubah. Tidak hanya ada ratusan puncak gunung, tapi banyak pohon-pohon berharga, herbal di mana-mana, dan hewan-hewan kecil yang telah memasuki kultivasi, meski belum mendapatkan Kesadaran Spiritual.
Mo Lian menundukkan kepalanya, melihat gerbang besar yang mencolok yang berada di depan dari ratusan gunung. "Sekte Tinju Emas?"
Mo Lian melepaskan Kesadaran Ilahi-nya, tapi tidak merasakan kehadiran manusia selain mereka.
"Tidak ada manusia, mungkin mereka telah mencari tempat lain dan membawa semua murid. Tapi, mereka juga meninggalkan warisan untuk siapa pun yang menemukannya."
Mo Lian menoleh ke kiri melihat Biksu Tua. "Jangan pergi terlalu jauh dariku. Meski tempat ini sepi, tapi banyak metode pertahanan untuk mempertahankan tempat ini. Jika tidak hati-hati, mereka di bawah Heavenly Immortal akan terbunuh."
"Begitu kuat?" Biksu Tua membelalakkan matanya. Setelah bertemu dengan Mo Lian, ketenangannya sebagai Kepala Kuil benar-benar menghilang.
Mo Lian tersenyum, tetapi tidak menjawab. Untuk tempat seperti ini, tentu harus memiliki pertahanan, bahkan jika dimaksudkan untuk mencari pewaris. Jika pewaris tidak mampu menghadapi semua formasi array di sini, bukankah tidak pantas untuk mewarisinya?
Mo Lian menyelimuti Biksu Tua dan yang lain dengan energinya. Kemudian membawa mereka terbang ke tengah-tengah alun-alun lingkaran di tengah-tengah ratusan gunung, dengan luas sekitar 6.400 meter.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1