
Dalam perjalanan ini, Mo Lian bertemu anggota dari sekte-sekte yang bermusuhan dengan Sekte Zhongjian, dan ia membunuhnya saat itu juga tanpa berpikir lama atau memikirkan risiko ke depannya. Karena, di matanya, mereka hanya semut yang tidak panas diperhatikan.
Hingga sekitar empat puluhan menit berlalu, Mo Lian sudah melihat pohon persik dengan ukuran normal, dan di salah satu dahannya ada buah berwarna merah yang memancarkan aura kehidupan yang berlimpah.
Pohon itu berada di tebing tinggi yang dikelilingi dengan danau luas berbahaya. Banyak monster Jiwa Emas di danau itu, dsn di bagian tebing lain banyak monster udara yang menunggu Persik Merah untuk matang.
Mo Lian langsung melesat ke arah Pohon Persik Surgawi tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya yang berbahaya.
Ketika ia terbang di atas danau, ada buaya sebesar bus yang melompat naik dari dalam air dengan mulut terbuka lebar.
Mo Lian melirik sekilas ke bawah dan menunjuk buaya itu. Ada pedang kecil yang melesat dari ujung jarinya, menembus buaya dan membelahnya menjadi dua bagian.
Masih berlanjut, ia mengangkat tangannya setinggi mungkin, menciptakan lingkaran biru besar yang di bawahnya terdapat ribuan pedang biru dengan ukuran normal. Dengan ayunan tangannya, ribuan pedang itu menghujani danau dan membunuh monster di dalamnya.
Danau biru yang sangat luas mulai mengalami perubahan warna, kini menjadi merah darah yang mengeluarkan aroma amis yang sangat menyengat.
Mo Lian melihat sekeliling. "Persik Merah Surgawi adalah milikku, apakah kalian semua sepakat?"
Tidak ada jawaban dari orang-orang yang bersembunyi di sekitar, kecuali monster udara yang mulai bergerak di langit.
Elang, gagak dan lain sebagainya berputar-putar di atas tebing tertinggi, menatap tajam kelompok Mo Lian.
Mo Lian mengangkat tangan kanannya mengarahkannya pada belasan monster di langit. "Aku sedang terburu-buru, jadi aku tidak berniat untuk meladeni kalian semua."
Belasan monster itu berhenti bergerak dan mematung di langit, yang kemudian meledak menjadi kabut darah saat Mo Lian mengepalkan tangannya.
Mo Lian mengangkat tangannya yang lain, membuat air danau merah itu melonjak beberapa mil ke langit, yang kemudian membentuk sebuah kubah yang membeku dalam sekejap mata.
"Aku sudah menciptakan pelindung, sekarang mengambil Pohon Persik Surgawi dan kembali pulang."
Mo Lian merentangkan kedua tangannya selebar mungkin seraya melepaskan energi spiritualnya menyelimuti Pohon Persik Surgawi.
Memindahkan Pohon Persik Surgawi yang sudah mengakar selama ribuan tahun cukup sulit, berbeda dengan Pohon Surgawi yang ia tanam sendiri dan hanya berusia dua tahun.
Mo Lian harus menjaga akar pohon tetap mendapatkan pasokan energi spiritual, dan saat memindahkan pohon jangan sampai aura spiritualnya berubah dalam sekejap. Harus dilakukan secara perlahan-lahan, agar bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
"Pohon Dunia." Mo Lian menyentuhkan kedua telapak tangannya di depan dada.
Dari punggung Mo Lian terlihat pohon besar yang muncul, dengan tinggi satu mil dan memiliki aura yang sangat kuat.
Kemudian ia mengarahkan tangannya pada Pohon Persik Surgawi, mengangkatnya perlahan dan tebing tinggi itu mulai retak, membuat beberapa batu yang jatuh menghantam permukaan air danau.
Retakan itu semakin besar, melebar dan meluas, memperlihatkan akar pohonnya yang sangat panjang sampai menyentuh permukaan air danau.
__ADS_1
Akar-akar pohon itu terlindungi oleh energi spiritual biru yang membentuk nyala api, dengan bagian batang pohon hingga daunnya berwarna emas yang merupakan energi murni dari sekitarnya.
Mo Lian mengangkat tangan kirinya perlahan, membawa naik Pohon Persik Surgawi itu ke arahnya. Melewati atas kepala Mo Lian dan memasuki celah di batang Pohon Dunia.
Mo Lian duduk bersila dan memejamkan matanya, memindahkan fokusnya ke dalam Dunia Kecil untuk menanam kembali Pohon Persik Surgawi ke arah yang berbeda dari Pohon Zhiliao ataupun Pohon Surgawi.
Cukup sulit untuk menanamnya, karena ia harus mencari tempat yang kaya akan energi spiritual dengan danau jernih yang mengelilinginya.
Mo Fefei dan 4 Dewi Kecantikan hanya diam mengamati Mo Lian, meski ada kepanikan di wajah mereka saat menyadari serangan yang mulai mengenai dinding es merah.
"Jangan hanya mengandalkan Master, kita harus bisa menahan semua serangan." Qin Nian mulai bersiap-siap apabila dinding es itu pecah.
Tapi tidak perlu khawatir, dinding itu tidak akan bisa hancur kecuali diserang oleh ribuan Dao Immortal atau Heavenly Immortal. Namun, di mana mencari kekuatan dalam jumlah besar seperti itu? Tidak akan bisa ditemukan di Dimensi Ruang yang terputus dengan dunia luar.
Waktu terus berjalan dengan kepanikan, hingga belasan menit berlalu, Mo Lian membuka matanya kembali. "Sudah selesai, Pohon Persik Surgawi sudah ditanam."
Setidaknya membutuhkan waktu satu minggu di dalam Dunia Kecil untuk menanam dan membiarkannya matang, meski di sini hanya berlalu belasan menit saja.
Mo Lian berdiri dari posisinya, menghampiri Mo Fefei dan merangkul pinggang Adiknya. "Urusan di sini sudah selesai, kita bisa kembali ke sekte."
"Benarkah!?" Mo Fefei tersenyum cerah dan matanya berkilauan.
"Iya." Mo Lian menyentuh bibir lembut Mo Fefei. "Kenapa kau terburu-buru ingin kembali?"
Mo Lian tertegun, kemudian mengembuskan napas. "Baiklah, aku juga ingin melihatnya."
Mo Lian memalingkan wajahnya dari Mo Fefei, kemudian memandangi dinding es merah di depannya dan mengibaskan tangannya.
Duarr!
Dinding es itu retak dan hancur, meledakkan es tajam bagaikan pedang yang menyebar ke segala arah, melukai maupun membunuh mereka yang mengepungnya.
Mo Lian mengangkat tangan kirinya di depan dada, dengan jari telunjuk dan tengah mengarah ke langit. "Ruang dan Waktu, Terpotong!"
"Aarrgghh!"
Jeritan yang terdengar sangat menyakitkan terus bersahutan saat tubuh mereka terpotong satu per satu tanpa diketahui penyebabnya. Tentu saja tidak ada yang selamat dalam radius 100 mil dari Mo Lian, termasuk daratan yang menghilang dalam sekejap.
Masih dengan jari di depan dada, Mo Lian mengarahkan jarinya ke depan. Bisa dilihat ada celah ruang berwarna biru, yang memperlihatkan keadaan Kota Zhan saat ini
Hal ini sangat mengejutkan Mo Fefei yang sebelumnya sangat khawatir karena tidak bisa kembali. Tapi setelah melihat ini, ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan dan kesenangannya.
Mo Lian kembali menyelimuti yang lain dengan kekuatannya, agar tubuh mereka tidak terluka saat memasuki ruang. Bagaimanapun, berpindah tempat melalui celah ruang sangat berbahaya, untuk mereka yang belum menembus Dao Immortal.
__ADS_1
"Ayo kembali."
Mo Lian memasuki celah ruang itu secara bersamaan, kemudian celah itu menutup setelah mereka semua masuk.
***
Kota Zhan
Mo Lian tidak pergi bersama Mo Fefei dan 4 Dewi Kecantikan yang kembali ke Can Qi Meiliafei, melainkan langsung pergi ke Puncak Tertinggi, menemui Masternya, Hong Xi Ning yang sudah menunggunya.
Mo Lian melesat sangat cepat tanpa melakukan pemeriksaan atau melewati beberapa pemberhentian di sekte. Ia langsung terbang dengan bebasnya tanpa ada yang berani menghentikannya, bukan hanya karena ia adalah Murid Ketiga, tapi juga karena kekuatannya.
Hanya dalam waktu singkat, ia sudah tiba di Puncak Tertinggi, dan merasakan ada aura dari tiga Heavenly Immortal.
"Ini ..." Mo Lian tidak bisa berkata-kata, yang ia tahu hanya ada dua Heavenly Immortal, Hong Xi Ning dan Leluhur Hong, tidak ada yang lain.
"Apakah kau Mo Lian? Anak dari Mo Qian, Muridku."
Ada suara berat dari dalam bangunan dan benar-benar memberikan tekanan, meski Mo Lian masih bisa menahannya.
"Heavenly Immortal tahap Akhir." Mo Lian yakin ini adalah Leluhur Hong, namun tidak tahu yang satunya lagi siapa, Heavenly Immortal tahap Menengah.
"Mohon maaf jika saya lancang, ada keperluan apa Anda memanggil saya untuk cepat-cepat datang kemari?" Mo Lian berlutut dengan salah satu lutut yang menyentuh lantai dan menangkupkan kedua tangan.
"Bisakah kau lepaskan auramu."
Mo Lian mengerutkan keningnya tidak tahu untuk apa maksud dari perkataan itu, namun ia tetap melakukannya.
Bang!
Aura Mo Lian terlepas dari dalam tubuhnya dsn menciptakan perubahan suhu di Sekte Zhongjian, hujan petir menyambar bagaikan badai, celah-celah ruang mulia terbuka.
"Cukup."
Mo Lian menarik kembali aura kultivasinya, meski yang ia lepaskan tadi belum semuanya.
"Berdiri dan masuklah."
Mo Lian menganggukkan kepalanya seraya berdiri, kemudian melangkah masuk ke dalam bangunan yang sudah retak.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...