Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 128 : Menyerang Istana Surgawi


__ADS_3

Mo Lian membuka matanya saat Matahari sudah mulai menyinari daratan dan sinarnya mengenai matanya. Terlihat jauh di depan, Istana Surgawi terlihat lebih jelas, memiliki beberapa bangunan tinggi yang berwarna putih dengan hiasan. Meski indah, tapi dari pandangannya, itu memancarkan aura gelap.


"Luasnya hampir dua kali Kota Chengdu, jika ini adalah perkotaan modern, akan memiliki jumlah orang yang lebih dari tiga puluh juta. Tapi ini berbeda, paling banyak hanyalah sampai tiga juta."


Dengan tangan kiri menyentuh tanah dan tangan kanan bertumpu pada lututnya, ia menopang badannya untuk berdiri dari tempat duduknya. "Apakah aku harus membantai mereka semua? Tentu saja, kenapa tidak."


Mo Lian menolehkan kepalanya melihat Wei Yian Fei dan Wei Yian Ning yang masih tersungkur di tanah, dengan air mata yang terus mengalir. "Kalian berdua tunggu di sini, jika aku bertemu dengan ayahmu, aku akan membawanya ..."


"Aku sudah memasang array di sekitar kalian, array itu cukup untuk menyembunyikan kalian dan membuat orang tidak menyadari keberadaan kalian. Jikapun sadar, kalian akan tetap aman berlindung di sana."


Mo Lian melompat dari tebing dan pergi menuju Istana Surgawi, bahkan sebelum mendapat balasan dari Wei Yian Fei dan Wei Yian Ning. Ia juga tidak terlalu khawatir dengan mereka berdua, karena ia sudah mengecek keadaan sekitar, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Entah itu manusia maupun monster.


Setelah melompat dari tebing, ia terbang menuju Istana Surgawi dengan waktu sekitar sembilan menit, kemudian berhenti dan melayang di antara bumi dan langit.


"Siapa kau?!"


Sekitar beberapa ratus meter dari Mo Lian, datang ratusan pemuda dan pemudi yang mengenakan seragam dari Istana Surgawi. Mereka berdiri di atas pedang terbang yang sangat tipis, namun terlihat kuat.


"Jika kau tidak menjawab dan menjelaskan mengapa kau berada di sini, maka kami hanya bisa menganggap kau sebagai kriminal!"


Mo Lian menghembuskan napas panjang, ia sangat muak dengan pemikiran semua orang di sini, yang dengan asal menganggap siapapun sebagai seorang kriminal jika tidak menjawab suatu pertanyaan sederhana.


"Jangan banyak bacot!" Mo Lian mengibaskan lengan bajunya, membuat ujung tangannya mengeluarkan api merah kebiruan yang sangat besar.


Api yang sangat besar itu bergerak sangat cepat seperti badai, dan langsung menghanguskan ratusan orang seperti kertas.


Kali ini Mo Lian tidak lagi menahan dirinya, ia benar-benar berniat menghancurkan Istana Surgawi dengan sangat cepat. Tapi masih harus menyisakan bangunan utama, bangunan bawah tanah yang menahan para tahanan.


Api merah yang mewarnai langit pagi itu menarik perhatian orang-orang yang berada di Istana Surgawi. Bukan hanya para murid, bahkan para Penatua di sana juga keluar dari ruangan masing-masing. Mereka tahu itu bukanlah api biasa, terlebih lagi mereka mendapatkan sinyal dari Giok Jiwa yang dipegang murid mereka.


Mo Lian bergerak masuk ke Istana Surgawi secara perlahan, banyak lingkaran array yang menghalanginya serta beberapa jebakan yang bisa saja membahayakan nyawa. Tapi baginya itu tidak berarti, dan hanya seperti teka-teki yang bahkan anak kecil pun dapat menyelesaikannya.

__ADS_1


Hanya dengan kibasan tangan, tendangan kaki, hentakkan kaki di udara, banyak sekali susuran array yang berada di sekitarnya hancur.


Saat array yang berada di sekitarnya telah hancur, tercipta ledakan besar yang memekakkan telinga bersamaan dengan api yang membumbung tinggi dan terus menarik perhatian semua orang.


Hingga beberapa menit berlalu, dengan kibasan tangan kanan Mo Lian, ia menerbangkan asap hitam yang menghalangi pandangan. Bisa terlihat di depannya ratusan ribu orang yang menghadangnya, dengan rata-rata kultivasi berada ditingkat Fase Lautan Ilahi, dan yang tertinggi adalah dua Ranah Inti Emas.


Dengan jumlah sebanyak itu, jumlah yang hampir sepersembilan dari jumlah total yang diperkirakannya. Itu masih belum cukup untuk membuatnya mengeluarkan seluruh kemampuannya, bahkan jika yang datang adalah Alam dan Dewa sekalipun, itu masih belum pantas untuknya mengeluarkan setengah kekuatannya.


"Anak muda. Apakah kau tahu apa yang kau lakukan ini? Berani-beraninya kau menyerang Istana Surgawi, penguasa dari Negeri Surgawi, yang kekuatannya berada di puncak dan tidak ada yang berani mengganggu kami!" Pria paruh baya yang berjanggut hitam panjang itu berusaha lantang seraya mengeluarkan aura membunuhnya.


Mo Lian mendengus dingin sebagai balasan. Ia mengangkat tangan kirinya ke udara, menciptakan fluktuasi energi spiritual yang sangat besar dan kuat. Dari energi spiritual itu menciptakan jutaan pedang biru berukuran normal. "Teknik Pedang 1000 Pedang, Gerakan Ketiga. Formasi 1000 Pedang!"


"Apanya yang seribu pedang?! Apakah kau tidak bisa menghitungnya?!"


Mo Lian menurunkan tangan kirinya dan mengarahkan pada ratusan ribu orang di depannya. "Aku yang menciptakannya, aku bebas mau menamainya apa," ucapnya yang mengepalkan tangannya.


Jutaan pedang yang berada di sekitar Mo Lian itu. Entah atas, belakang, kiri, kanan, bawah mulai bergetar hebat seperti menanggapi panggilan Mo Lian. Kemudian jutaan pedang itu melesat sangat cepat, bahkan sampai meninggalkan jalur lintasan pedang meski pedang itu sudah meninggalkan tempatnya.


Seluruh pedang Mo Lian menembus tubuh semua orang yang melayang di depannya tanpa menyisakan seorangpun, dan langsung membunuh mereka semua, bahkan untuk dua Ranah Inti Emas yang sudah bisa memadatkan jiwanya itu.


Di dalam teknik yang dilepaskannya tadi, ia menggabungkan Element Api dan Kayu untuk membuat ledakan yang membakar energi spiritual dalam tubuh target menjadi lebih kuat dan besar.


"Sejauh ini jika dihitung dari Kota Xing, aku sudah membunuh tiga Inti Emas, tiga ratus ribu Fase Lautan Ilahi, dan beberapa Inti Perak yang bahkan belum pantas untuk dipanggil Inti Perak," gumam Mo Lian yang kembali masuk menuju lebih dalam dari wilayah Istana Surgawi.


Mo Lian terus terbang menuju pusat Istana Surgawi, hingga baru lima menit berselang atau sekitar delapan puluhan mil, ia menghentikan gerakannya saat merasakan ada yang kembali menyera— Maksudnya mengantarkan nyawa kepada Mo Lian.


Jumlah orang di depannya tidak jauh berbeda dari sebelumnya, hanya saja memiliki lima Ranah Inti Emas dan lumayan kuat dari sebelumnya, karena hampir menembus tahap Menengah dari Inti Emas.


Mo Lian mengalirkan energi spiritualnya pada Cincin Ruang dan mengeluarkan Pedang Patah yang dimenangkannya dulu di pelelangan Beijing.


"Jangan katakan padaku jika kalian akan menanyakan dari mana aku berasal, dan jika aku tidak menjawabnya, kalian akan menganggapku sebagai kriminal?" ucap Mo Lian yang menatap semua orang di depannya seraya memutar-mutar pedang di tangan kanannya.

__ADS_1


Pria tua yang terlihat seperti Penatua Ye, dan terlihat seperti orang yang memimpin pasukan itu menggertakkan giginya kesal seraya mencengkeram erat jari-jarinya yang terkepal.


"Apakah kami harus menanyakan hal yang sudah pasti? Kau adalah orang yang menyerang Istana Surgawi kami di pagi hari, membantai orang-orang kami! Apa yang sudah kami lakukan hingga membuat orang kuat seperti mu menyerang kami!"


Mo Lian sedikit tersentak, kemudian tertawa terbahak-bahak saat mendengar perkataan yang nampak seperti seorang korban. Dari apa yang dilihatnya di awal tadi, Istana Surgawi memancarkan aura yang tidak baik dan tampak aneh, aura ini adalah aura yang hanya bisa dihasilkan dari metode kultivasi jahat dengan cara mengorbankan aura kehidupan ataupun darah segar dari gadis suci.


Lalu mereka mengatakan apa yang salah dengan mereka? Ini sama saja mencoba menghina Mo Lian yang mengetahui metode kultivasi apapun di Alam Semesta, meski berbeda, tapi ia mengetahui yang sama dari ini, bahkan lebih kuat.


Mo Lian merentangkan tangan kanannya sembari mengalirkan energi spiritualnya pada pedang di tangannya, membuat pedang itu memancarkan aura membunuh yang sangat kental dan kuat. Kemudian ia menekuk kembali tangannya ke dalam secara perlahan, lalu mengayunkannya lagi secara horizontal.


Dari ujung pedangnya, terlihat siluet bukan sabit yang berwarna hitam pekat. Siluet itu bergerak sangat cepat memotong tubuh ratusan ribu orang di depannya dengan rapi, dan meledakkan tubuh mereka semua menjadi uap darah.


"Kalian tahu, aku sedang tidak ingin berlama-lama. Tapi kalian tidak bisa mendengarnya, karena kalian sudah mati."


***


Ruang Rahasia, Istana Surgawi Pusat


Terdapat pria yang sangat tua, berambut putih kusam dengan jenggot panjang. Pria itu duduk bermeditasi di atas altar giok yang memiliki pola array, dan di keempat sisi altar terdapat lilin yang menyala.


"Leluhur, ada yang menyerang Istana Surgawi kita. Apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan terus mengirim orang dan membiarkan orang-orang kita mati?" tanya pria paruh baya yang sebagian besar rambutnya sudah memutih tengah bertekuk lutut memberi hormat.


Masih dengan mata terpejam dan dalam posisi bermeditasi, pria tua itu menjawab dengan suara berat dan serak, "Tarik semua orang, jangan biarkan orang-orang kita menyerang. Aku tidak tahu apa tujuan orang itu, tapi sepertinya dia ingin memasuki penjara bawah tanah ..."


"Maka biarkan dia masuk dan jangan biarkan dia keluar. Biarkan dia mati perlahan di dalam sana karena susunan array yang kita siapkan. Karena dia terlihat cukup kuat, tentunya energi yang dia miliki cukup bagiku untuk menembus Ranah Ziran Yu Ren tahap Menengah!"


Pria paruh baya yang bertekuk lutut itu terdiam sejenak, kemudian menjawab, "Baik, Leluhur."


Setelah pria paruh baya itu menjawab dan memberikan penghormatan. Pria itu mundur perlahan dan meninggalkan ruangan.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2