Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 89 : Membawa Semua Orang


__ADS_3

Ketika Mo Lian dan lainnya sudah tiba di depan desa, ratusan penduduk yang berjumlah sekitar 400 orang sudah selesai berkemas-kemas. Kebanyakan dari mereka hanya membawa tas kecil yang sudah kusam berisikan pakaian, lalu sebagian yang lain ada yang membawa cangkul maupun penggaruk rumput.


Mo Lian tersenyum masam, ia menghela napas panjang dan berkata, "Kalian tidak perlu membawa peralatan seperti itu."


Ratusan penduduk memandang satu sama lain, kemudian meletakkan peralatan mereka masing-masing di pohon sekitar.


Mo Lian mengangguk kecil, kemudian kembali melanjutkan perkataannya, "Mungkin sebagian dari kalian sudah mendengarnya. Tapi akan aku jelaskan kembali, aku sudah menyiapkan rumah untuk masing-masing keluarga, peralatan serta perabotan rumah. Lalu untuk satu bulannya setiap keluarga atau rumah akan dibayar sebanyak 10.000 Yuan. Tapi ..."


"Kalian harus bekerja, entah itu menanam rempah maupun herbal, berkebun, membudidayakan ikan, dan lainnya. Lalu kami juga akan membiarkan kalian semua berlatih untuk menjadi seorang Kultivator atau Pejuang. Tapi tetap saja, tidak bisa secara bersamaan untuk berlatih, kita akan membagi waktu agar pekerjaan yang lain tetao berjalan."


Mo Lian menolehkan kepalanya melihat semua orang. "Apakah ada pertanyaan?"


"Kakak! Apa itu Kultivator?" Gadis kecil yang usianya hampir sama seperti Yue Ning Mei dan Yun Xue.


Mo Lian terdiam sejenak, agak susah baginya untuk menjelaskan apa itu Kultivator pada gadis kecil. Ia menundukkan kepalanya sembari mengusap dagunya pelan. Tidak lama kemudian ia mendongakkan kepalanya menatap wajah gadis kecil itu. "Lihat ini."


Mo Lian mengangkat tangannya ke udara. Perlahan di atas kepalanya tercipta fluktuasi energi spiritual yang tidak terlalu kuat, saat ini ia hanya menggunakan kurang dari satu persen kekuatannya. Kemudian fluktuasi energi itu berubah menjadi sebuah pedang berwarna biru transparan.


Dengan lambaian tangannya, pedang itu melesat tajam mengarah pada batu besar yang berada di belakang pohon. Pedang itu menembus pohon secara rapi dan mengenai batu besar di belakangnya, yang kemudian terdengar suara ledakan bersamaan dengan batu yang meledak menjadi kerikil kecil.


"Woah!"


Para anak-anak kecil menatap Mo Lian dengan mata bersinar seperti sedang melihat seorang idola baru.


"Kakak! Apakah aku bisa melakukan itu jika berlatih keras?" tanya gadis kecil tadi.


Mo Lian mengalirkan energi spiritualnya pada kedua matanya. Kemudian mengamati usia tulang gadis kecil itu. "Untuk saat ini belum, usiamu baru tujuh tahun, dua tahun lagi adalah waktu yang cocok untuk berlatih. Jadi dalam waktu dua tahun ini, kau harus berolahraga secara teratur untuk meningkatkan stamina."


Gadis kecil itu sedikit murung, namun setelah mendengar penjelasan lebih lanjut dari Mo Lian, gadis itu kembali bersemangat.


Pria paruh baya yang sebelumnya membawa cangkul mengangkat tangannya. "Tuan, bukankah 10.000 Yuan itu terlalu banyak jika hanya melakukan pekerjaan sederhana seperti itu? Terlebih lagi Anda memberikan kami tempat tinggal, dan mengajarkan kami berlatih seperti Tetua Wu dan yang lain."


Semua orang menganggukkan kepalanya setuju dengan pemikiran pria paruh baya itu. Bagi mereka yang biasanya hidup sederhana selama puluhan tahun, uang 10.000 Yuan itu terlalu banyak.


Mo Lian menggeleng pelan. "Tidak masalah, kita sama-sama diuntungkan."


"Tapi—"

__ADS_1


"Cukup!" Mo Lian menyergah ucapan pria paruh baya itu. Ia berjalan menuju bus yang berada di luar desa. "Ayo cepat, perjalanan kali ini akan memakan satu hari."


Tanpa berlama-lama lagi mereka semua berjalan memasuki bus yang telah tersedia tanpa mendorong-dorong, dan sangat teratur. Ketika melihat itu, Mo Lian tersenyum tipis, ia tidak berharap akan menemukan orang-orang yang sangat disiplin.


Berbeda dengan orang-orang kota yang memandang uang diatas segalanya dan melupakan tata serta krama.


Ketika semua orang sudah memasuki bus. Mo Lian yang duduk tepat di belakang sopir meminta untuk berangkat, dan memerintahkan sopir lainnya melalui handy talky.


***


Keesokan Harinya


Rombongan bus sudah memasuki Kota Chengdu, lebih tepatnya kawasan Real Estate Emei.


Rombongan itu terus melaju dengan kecepatan yang stabil, tidak cepat maupun lambat. Hingga beberapa waktu berselang, mereka sudah tiba di puncak Gunung Emei, di mana Mansion Bai Long terbangun.


"Nenek, di sana tempatku tinggal," ucap Mo Lian menunjuk Mansion Bai Long.


Xu Xumei menolehkan kepalanya melihat ke arah yang ditunjuk oleh Mo Lian. "Itu rumahmu? Berapa banyak yang kau keluarkan untuk membelinya?" tanyanya sembari menempelkan wajahnya di jendela kaca.


Mo Lian tersenyum canggung seraya menggaruk pipinya. "Itu ... adalah pemberian dari Keluarga Qin Nian."


"Uhuk uhuk." Mo Lian tersedak saat mendengar perkataan Xu Xumei.


Qin Nian, hanya terdiam dan menundukkan kepalanya mencoba menyembunyikan wajahnya yang telah memerah bagaikan kepiting rebus.


Bus terus berjalan menuju bagian belakang Mansion Bai Long melalui jalan memutar, kemudian terlihat jalan besar yang dapat dilalui oleh tiga bus secara bersamaan, dan di tepiannya dibuat pagar yang terbuat dari bahan baja.


Ketika bus menuruni jalan, orang-orang yang berada di dalam bus mulai melihat keluar jendela dengan cara bergantian agar tidak berat sebelah. Lalu ada juga yang hanya duduk di kursinya, bagaimanapun jalan ini melengkung, jadi semua sisi bus pasti akan kebagian berada di tepi pagar.


Saat melihat apa yang terbangun di dalam lembah, semua orang tidak bisa menahan rasa kagum dan keterkejutan. Mereka semua merasa sangat senang, bahkan tidak sedikit pula yang meneteskan air mata menjelaskan kebahagian. Dengan begini mereka tidak akan lagi merasakan dinginnya malam hari, dan air yang merembes masuk melalui dinding maupun atap.


Xu Xumei menolehkan kepalanya keluar jendela dan Mo Lian secara bergantian. "Lian. Aku menghitung rumah-rumah itu hanya cukup untuk penduduk desa, lalu di mana kami bersepuluh akan tinggal?"


Mo Lian tersenyum tipis, ia mengangkat tangannya dengan jari telunjuk di arahkan keluar jendela. "Nenek dan yang lainnya akan tinggal di menara-menara itu. Tentu saja ada maksud dari pembangunan menara, Kakek Wu Yengtu dan Nenek Xu Xumei yang terkuat, akan menjaga menara beladiri, yang di halamannya ada tanda pedang yang disilangkan ..."


"Kakek Xu Fulian dan Nenek Jia Yaoyu, akan tinggal di menara Alkimia, yang di halamannya ada tungku Alkimia. Kakek Jia Xuanming dan Nenek Gou Menghu akan tinggal di menara Array, di depannya ada tanda papan dengan pola-pola array ..." Mo Lian terus menjelaskan di mana tempat masing-masing akan tinggal. Entah itu menara dengan tanda Kertas Kuning Hu maupun Jarum Perak.

__ADS_1


"Lalu menara keenam, menara yang mengatur pemasukan dan pengeluaran keuangan. Dipegang oleh Keluarga Qin dan Yun." Mo Lian menunjuk menara terakhir yang di depannya terdapat semua tanda ¥ (Yuan).


"Apa yang kami jaga?" Xu Xumei kembali bertanya sembari menatap keluar jendela.


Mo Lian tersenyum tipis, dan kemudian menjawab, "Untuk itu. Akan aku jelaskan saat kita sudah sampai di sana."


Xu Xumei mengangguk kecil, ia mengeri maksud dari perkataan Mo Lian. Akan sangat tidak bagus menjelaskan sesuatu yang berharga di depan sopir.


Sepuluh menit kemudian, bus sudah sampai di depan gerbang yang sangat besar yang diatasnya terdapat plang nama bertuliskan 'Sekte Dongfangzhi'.


Tapi meski sudah berada di depan, bus tetap tidak mengurangi kecepatannya dan terus melaju hingga beberapa belas menit kemudian sudah sampai di depan bangunan yang sangat besar. Bangunan ini memiliki tiga lantai, menggunakan kayu kualitas terbaik yang bisa tahan sampai waktu ratusan tahun lamanya.


Di depan bangunan yang merupakan Aula Sekte itu memiliki halaman yang sangat luas, halaman ini bisa digunakan sebagai tempat berlatih. Lalu terus maju dari halaman, terdapat sebuah danau buatan dengan ukuran dua sampai empat lapangan sepakbola.


Di samping danau besar terdapat hamparan rumput dengan pepohonan, lalu semakin ke sampingnya ada jalan kemudian rumah.


Untuk perkebunan dan pertanian, berada di belakang menara bertingkat, atau bisa di katakan di depan kiri maupun kanan dari Aula Sekte.


Ketika sudah berada di depan halaman dari Aula Sekte. Semua penumpang turun dari dalam bus dan berbaris menyesuaikan dengan keluarga masing-masing.


Mo Lian melangkah ke tangga batu menuju halaman tingkat yang sejajar dengan bangunan. Ia berbalik dan menatap ratusan orang di depannya. "Kalian semua akan tinggal di rumah-rumah yang berada di tepi danau. Untuk lahan berkebun dan bertani, berada di belakang menara di samping kalian. Lalu untuk penempatan tempat tinggal, akan diatur oleh Kake— Uhum. Tetua Wu."


Dengan cepat Wu Yengtu menolehkan kepalanya menatap Mo Lian. "Aku?"


Mo Lian mengangguk kecil dan mengangkat tangan kirinya memberikan jempol. "Bagaimanapun Kakek lebih mengenal mereka ketimbang aku, Kakek bisa mengaturnya sesuai dengan penghuni terlama atau apapun itu. Anggap saja yang tinggal di dekat bangunan Aula Sekte adalah orang terlama di desa," gumamnya menjelaskan.


Wu Yengtu menganggukkan kepalanya, ia mengerti apa yang dimaksud Mo Lian. Dengan cepat ia mulai menyebutkan tiap-tiap kepala keluarga dan menunjuk ke arah rumah.


Ketika Wu Yengtu masih melakukan tugasnya, Mo Lian menekan kakinya di lantai yang terbuat dari marmer dan terbang melesat menuju Mansion Bai Long. Seketika itu juga semua orang membelalakkan matanya lebar saat melihat Mo Lian.


Tidak tinggal diam, Qin Nian dan Ong Hei Yun juga terbang mengikuti Mo Lian.


Mo Lian pergi menuju Mansion Bai Long untuk menunggu kedatangan ibu dan adiknya, serta mengatur acara kedepannya.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2