Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 244 : Mendapatkan Esensi Darah dan Inti Spiritual


__ADS_3

Mo Lian mendekati Ular Yanjingshe dan memutarinya berkali-kali dan mencari sisik mana yang ingin ia cabut terlebih dahulu. "Kau adalah Dao Immortal, tapi bukankah sisik milikku sangat lemah?"


Ular Yanjingshe mendesis. "Manusia rendahan! Beraninya kau mengatakan aku lemah!"


"Bukankah memang begitu? Aku hanya melepaskan satu serangan, dan sekarang kau tidak bisa bergerak sama sekali."


Mo Lian memukul-mukul sisik ular dengan punggung tangan kanannya. "Tidak terlalu keras. Bahkan jentikkan jariku bisa menghancurkan sisik yang melindungi tubuhmu."


"Omong koso— Groahhh!"


Mo Lian menjentikkan jarinya pada sisik Ular Yanjingshe dan membuat sisik ular pecah, hingga mengakibatkan luka dalam pada bagian di mana sisik itu hancur. "Sejak kapan ular mengaum, bisakah kau diam." Ia memasukkan tangannya pada daging ular yang terlihat.


Tangan kanan Mo Lian yang sudah masuk ke dalam tubuh ular itu menangkap ototnya, kemudian menariknya paksa dan membuat ular kembali menjerit sangat keras dan berisik.


Jeritannya membuat danau maupun daratan yang membeku itu bergetar, namun tidak sampai membuatnya retak.


Manusia-manusia yang berada tidak jauh dari Danau Zuzhou mulai mendekat kembali, melihat apa yang sebenarnya terjadi pada Ular Yanjingshe yang selama ini mereka takutkan. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat pemuda yang sebelumnya telah mereka anggap mati, ternyata sedang menyiksa Ular Yanjingshe.


Dari sebagian orang, mereka sangat marah saat melihat Mo Lian yang melukai Ular Yanjingshe. Alasannya sangat mudah ditebak, mereka tidak ingin ular yang mereka anggap sebagai pelindung desa terbunuh, yang nantinya akan mengakibatkan wabah penyakit.


Mo Lian menoleh ke belakang, melihat kelompok orang yang datang. "Apakah kalian akan terus menumbalkan gadis suci pada ular jelek ini? Kemudian membuat ular itu terus meningkat sampai Heavenly Immortal, dan membuat Bintang Tianjin hancur."


Tidak ada yang mempercayai apa yang dikatakan Mo Lian.


Mo Lian menghembuskan napas panjang, kemudian pergi ke bagian kepala Ular Yanjingshe.


"Hahahaha! Kau lihat, manusia di sini menganggapku sebagai Dewa! Jika kau membunuhku, kau akan mendapatkan kutukan—"


"Diam!" Mo Lian menampar wajah Ular Yanjinshe, membuat setengah kepala yang sangat besar itu hancur dan meneteskan darah.


"Aku akan mengatakannya sekali lagi pada kalian, tidak ada wabah penyakit. Kalian semua terkena racun, yang berasal dari ular yang kalian anggap sebagai pelindung desa." Suaranya kembali terdengar menggema di langit, namun masih saja ada yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan Mo Lian.


Bukan hanya darah bagaikan aliran sungai saja yang terjatuh, namun cairan hijau yang bersifat korosif. Ketika cairan hijau itu terjatuh, danau yang membeku mulai cair kembali dan berubah menjadi hijau gelap dengan asap hitam.


Barulah, saat danau mulai berubah, semua orang yang berada di sekitaran Danau Zizhou mulai percaya, terlebih lagi dengan pepohonan membeku yang mulai kering.

__ADS_1


Mo Lian mengangkat tangan kanannya di depan dada, dengan jari telunjuk dan tengah menghadap ke langit. "Teknik Cahaya Pemurnian! Pembersihan!"


Molekul-molekul cahaya kuning keemasan berkumpul di ujung dua jari Mo Lian dan mulai menggumpal. Kemudian ia mengayunkan kedua jarinya mengarahkannya pada danau.


Gumpalan cahaya itu melesat jatuh menghantam Danau Zuzhou, dan saat itu juga seluruh penjuru danau mulai memancarkan cahaya emas yang mengagumkan.


Perlahan, danau yang sebelumnya berwarna hijau gelap mulai berubah menjadi warna biru muda yang berkilauan dan kaya akan energi kehidupan. Bahkan, pohon yang sebelumnya mengering mulai subur kembali, memperlihatkan dedaunan yang tumbuh di dahannya.


"Naik." Mo Lian mengangkat jari telunjuk dari tangan kanannya ke atas, mengarah pada langit.


Getaran terjadi pada es yang menyelimuti sekujur tubuh Ular Yanjinshe, kemudian terangkat naik seperti kapas yang tertiup angin.


Mo Lian ingin menjauhkan Ular Yanjinshe dari Danau Zuzhou, sehingga pekerjaannya tidak sia-sia setelah membersihkan semua racun yang ada di sana.


Mo Lian yang naik belasan mil meninggalkan Danau Zuzhou itu menciptakan dinding pelindung di bawah kakinya, yang luasnya tiga kali dari danau itu sendiri. "Sekarang, aku sebelumnya ingin mencabut sisikmu satu per satu. Namun, aku sudah kehilangan minat."


Ular Yanjinshe kesulitan bernapas. Itu semua terjadi karena setengah wajahnya yang hancur dan tidak ada tanda-tanda akan beregenerasi kembali. Tamparan yang diterimanya benar-benar sangat menyakitkan, ini adalah serangan biasa yang benar-benar tidak akan dilupakannya. Jika ada kesempatan, ia akan membalas perbuatan yang diterimanya hari ini.


"Hidupmu sudah berada di ujung tanduk, dan kau berniat membalas dendam? Apa kau kira aku akan membiarkanmu hidup?"


"Terlepas!" Mo Lian mengepalkan tangannya, membuat semua sisik ular terlepas secara bersamaan.


Ular Yanjinshe mengerang keras mengungkapkan rasa yang sangat menyakitkan di sekujur tubuhnya, dan terlihat darah merah kehitaman yang mengalir seperti sungai.


Banyak darah yang mengalir, tapi bukan darah itu yang di butuhkan Mo Lian. Mo Lian mendekati kepala Ular Yanjinshe, ia mengarahkan kedua jarinya dan melepaskan gumpalan energi spiritual berwarna biru.


Gumpalan energi itu memasuki dahi ular, membuat ular kembali mengerang lebih keras dan menggetarkan daratan luas, membelah lautan awan yang berada di atasnya, serta terdengar gemuruh.


Dari dalam dahi ular mulai keluar gumpalan darah sebesar ibu jari yang diselimuti energi biru.


Mo Lian mengeluarkan Botol Giok Tebie dari Cincin Ruang. Botol Giok Tebie adalah botol giok khusus yang sering ia gunakan untuk menyimpan esensi darah dan Inti Jiwa atau Inti Spiritual dari jenis monster tertentu.


Botol giok itu berwarna putih dan memiliki pola-pola kuno di permukaannya.


Basis kultivasi Ular Yanjinshe mulai menurun secara signifikan hingga benar-benar jatuh ke Alam dan Manusia tahap Menengah. Ukuran tubuhnya juga mulai menyusut lebih dari setengahnya.

__ADS_1


Mo Lian menyimpan Botol Giok Tebie ke dalam Cincin Ruang setelah mendapatkan esensi darah. Ia menatap tajam ular yang tak berdaya di depannya. "Kau sudah tidak lagi berguna dan memiliki kekuatan. Namun, aku tidak akan membiarkanmu tetap hidup."


Tangan biru besar mulai muncul di belakang Mo Lian. Tangan itu bergerak mendekati bagian bawah kepala ular, dan menembus tubuhnya yang tidak lagi memiliki sisik sebagai perlindungan.


Terlihat, di bagian belakang tubuh ular yang tak bernyawa itu sudah ada Inti Spiritual berwarna merah menyala berukuran kepalan tangan.


Mo Lian membawa Inti Spiritual dengan tangan biru yang ia ciptakan, dan menyimpannya ke dalam Botol Giok Tebie yang lebih besar.


"Mayat ular ini ..." Mo Lian terdiam dan menundukkan kepalanya melihat kelompok manusia yang masih berada di tepi danau. Kemudian ia mendongak menatap mayat monster. "Aku akan membakarnya, lagi pula, tidak akan ada yang mau memakan daging monster yang memakan keluarga mereka."


Api berwarna biru yang sangat panas mulai terlihat seukuran ibu jari, kemudian membesar dalam sekejap mata dan membakar sekujur tubuh mayat ular tanpa bisa. Bahkan, untuk debunya saja benar-benar tidak terlihat, seperti menghilang tertelan oleh lubang hitam.


Setelah membakar mayat ular, Mo Lian kembali menunduk melihat kelompok manusia yang masih bahagia dan sedih secara bersamaan di tepi danau. Ia menggeleng pelan, membuang pikiran untuk datang mengunjungi desa.


Mo Lian tersenyum tipis, kemudian terbang dengan kecepatan tertingginya menuju ke arah selatan. Kecepatan terbangnya yang tiada tara itu mampu membelah awan, dan bahkan saat ia terbang mendahului Profound Ark yang ia temui, Profound Ark itu sedikit bergoyang dan bergerak menjauh karena dorongan anginnya.


***


Bintang Utama, Galaxy Pusat


Ada sebuah bangunan berlantai sembilan yang sangat megah di suatu kota terpadat dan memiliki wilayah yang sangat luas, yang mana kota itu merupakan kota dibawah kekuasaan dari Sekte Zhongjian.


Pada bagian teratas lantai, sedang duduk seorang wanita muda yang sangat cantik. Wanita itu memiliki rambut hitam kecokelatan sedang memandang keluar melalui jendela yang terbuka, dan ada embusan angin pelan nan sejuk yang mengenai wajahnya.


Wanita itu mengenakan Hanfu Tradisional berwarna biru muda dan semakin berubah warna saat terus naik ke atas hingga menjadi putih. Hanfu itu juga dihiasi jahitan berbentuk bunga berwarna putih, dan ada selendang merah muda yang menggantung di kedua bahunya.


Pada bagian rambut belakang, rambutnya diikat dengan tali berwarna merah terang.


Wanita itu menghembuskan napas panjang, dan dari matanya terlihat jelas perasaannya yang selama ini terpendam. "Kakak, sudah satu tahun lebih kita berpisah. Fefei merindukan Kakak ..."


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2