Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 360 : Niat Pedang yang Mengejar Tetua Kesembilan


__ADS_3

Mo Lian mengayunkan pedangnya yang lain; tidak ada efek visual yang dihasilkan seperti sebelumnya, bahkan tidak ada aura membunuh yang memancar. Ini seperti tebasan biasa anak kecil yang baru belajar mengangkat senjata, dan tidak memenuhi syarat untuk melakukan gerakan.


Tetua Kesembilan masih tetap diam dengan pandangan aneh saat melihat Mo Lian, tapi detik berikutnya, ia mengangkat kedua tangannya, meluruskannya ke depan.


Bang!


Seperti mengabaikan ruang hampa, ledakan keras terjadi ketika Tetua Kesembilan mengangkat tangannya. Ada goresan di telapak tangannya dan sepanjang lengannya bergetar karena mati rasa, bahkan getaran itu masih memenuhi seluruh tubuhnya.


Tebasan Mo Lian juga melewati Tetua Kesembilan, dan akibatnya terlihat celah spasial sepanjang ribuan mil di kedua sisi belakang Tetua Kesembilan. Hanya bagian yang ditahan saja yang tidak memiliki celah.


Hong Xi Ning tetap memainkan Guqin, dan klon di sampingnya membawa kuas putih. Ia mengalirkan energi spiritualnya, menggambar naga dengan beberapa pola di sekitarnya.


Ketika sudah selesai menggambar dan memberikan lebih banyak energi. Tiba-tiba, gambar itu bergerak dan membesar dalam sekejap mata dengan panjang ribuan mil seraya mengeluarkan raungan keras.


Naga itu terbang dengan kecepatan tingginya mengelilingi 9 Dewa Hitam dan menahan pergerakan mereka.


Walaupun kekuatan Hong Xi Ning masih sangat rendah dan tidak cocok untuk Dewa Hitam. Ia masih terus berusaha untuk membantunya.


Zheng!


Hong Xi Ning kembali memetik senar Guqin dengan cepat dan penuh dengan emosi yang membara, membawa kekuatan penghancur yang luar biasa bahkan melewati Ranah, meski hanya bisa berefek pada Dewa Merah. Untuk Dewa Hitam, itu hanya terasa seperti sayatan pisau dapur.


Sementara itu, Tetua Kesembilan telah berhasil menahan serangan Mo Lian dan meski merasakan mati rasa. Ia masih tersenyum dengan tatapan menghina melihat asap tebal di depannya.


Tapi baru saja menghela napas, asap tebal di depannya terbelah seperti donat dan terdapat seberkas cahaya biru keemasan yang mengeluarkan aura tidak diketahui. Aura itu tidak mengeluarkan bahaya, namun setelah mengalami serangan pedang, Tetua Kesembilan menjadi lebih waspada.


Tetua Kesembilan melangkah mundur dengan kedua tangan menyilang untuk menghalau apabila ada serangan lain. Namun saat ia mundur, ia mendengar suara 'klik' yang aneh di belakangnya saat punggungnya menyentuh sesuatu.


Booom!


Ledakan keras dengan getaran kuat terjadi ketika punggungnya menyentuh gumpalan kecil energi biru, mengeluarkan air biru yang sangat besar dengan suhu yang panas. Bahkan Bumi bisa merasakan suhunya meski sudah terhalang oleh lapisan atmosfer dan Array Pertahanan.


Whooooosh!


Tetua Kesembilan yang terkena ledakan, melesat seperti meteor yang jatuh ketika terkena gelombang kejut yang menghempaskannya.


Seperti sudah tahu arah di mana Tetua Kesembilan akan pergi, Mo Lian sudah berada di atasnya dengan kedua tangan terangkat saling mengepal. Kemudian ia mengayunkan kedua tangannya, memukul tepat di bagian dada Tetua Kesembilan dengan kekuatan penuh fisiknya tanpa menahan diri.


Perlu diketahui, Tiga Kekuatan Utama miliknya sudah setara dengan Dewa Bumi. Ia bisa menembus kapak dan di mana saja, tapi selalu menahannya sampai benar-benar tidak bisa ditahan.


Booom!


Pukulan Mo Lian sangat kuat, menghempaskan Tetua Kesembilan untuk kedua kalinya. Gelombang kejut yang dihasilkan sangat kuat, membuat beberapa planet di Tata Surya bergeser, bahkan ada yang menghantam Matahari dan akibatnya meledak.


Mo Lian tidak berhenti, terus bergerak dengan kecepatan tiada tara untuk mengejar Tetua Kesembilan. Namun, setengah dari Dewa Hitam berhasil lepas dari penjara yang dibuat Hong Xi Ning dan akhirnya datang untuk menghalanginya.


Mo Lian yang tidak ingin membuang waktu, kekuatan yang tak terbayangkan keluar dari tubuhnya ketika kabut biru mengelilingi tubuhnya. Kabut itu menyebar dan terhirup oleh Dewa Hitam, bahkan jika mereka tidak menghirupnya, kabut itu akan memaksa masuk melalui pori-pori kulit.


Ketika mereka sudah menghirup kabut biru, Mo Lian berteleportasi, mengejar Tetua Kesembilan yang sudah pulih dan berhasil mengendalikan tubuhnya. "Pedang!" Ia mengangkat tangan kanannya di depan dada dengan dua jari menghadap ke atas.


Tubuh lima Dewa Hitam memancarkan cahaya biru dari dalam tubuh mereka, ini seperti lampion yang menyala karena api kecil di dalamnya. Kemudian, dengan teriakan yang keras dan terdengar menyakitkan, tubuh mereka mulai terbelah dengan rapi dan menjadi ratusan potongan kecil.

__ADS_1


Duarr!


Bahkan, Inti Jiwa mereka yang melayang di angkasa tidak luput dari serangan dan membuatnya meledak.


Ledakan keras yang menghempaskan planet-planet untuk menjauh, bahkan Bumi yang sudah mendapatkan auranya kembali, bergeser dari jalur orbitnya.


Mo Lian mengabaikan ledakan—fokus pada Tetua Kesembilan.


Tetua Kesembilan tidak bisa dianggap enteng. Dengan mendengus dingin, kemampuannya akhirnya meledak dengan aura hitam kemerahan yang lebih besar dari Bulan. Dengan dua pedang di tangan, ia menyerang. Dengan satu langkah, tubuhnya melesat keluar dari tempatnya seperti seberkas cahaya yang mengejutkan. Dalam sekejap, dia sudah tiba di depan Mo Lian.


Bang!


Dua pedang hitam dan merah Tetua Kesembilan bertabrakan dengan Pedang Petir Mo Lian. Mengakibatkan dentuman keras dengan efek visual yang luar biasa. Petir tiga warna menyambar ke segala arah, meledakkan planet-planet yang tidak tergabung dalam Sistem Tata Surya.


Tetua Kesembilan mencibir di dalam hatinya. Pedang Bulan Merah di tangan kanannya ditarik ke belakang untuk mengambil ancang-ancang, dan Pedang Sungai Hitam di tangan kirinya digunakan untuk menahan Pedang Petir.


Tetua Kesembilan mendorong Pedang Bulan Merah menuju tenggorokan Mo Lian.


Mata Mo Lian memancarkan kilatan dingin, menangkap pergerakan Tetua Kesembilan meski gerakannya sangat cepat sampai meninggalkan bayangan di belakangnya.


Tetua Kesembilan juga mengeluarkan teknik pembunuh yang sudah disiapkannya matang-matang. Jika lawannya adalah pembudidaya biasa, bahkan kekuatan yang sama, tidak butuh waktu lama baginya untuk membunuh Dewa Bumi tahap Awal bahkan Menengah. Tapi, ia tidak tahu mengapa sangat sulit membunuh Mo Lian.


Tetua Kesembilan menyeringai dingin ketika Mo Lian tidak bisa menahan serangan Pedang Bulan Merah yang mengarah ke tenggorokan Mo Lian. Namun, detik berikutnya, seringai itu membeku dengan matanya yang terbuka lebar.


Crack! Craaang!


Pedang Bulan Merah retak pada bagian tengahnya, kemudian patah menjadi beberapa potongan.


Bahkan itu belum semuanya, Mo Lian mengayunkan tangan kirinya yang terkepal ke belakang, seperti memukul dinding.


Bang!


Ruang di belakangnya pecah seperti kaca, menciptakan celah spasial dengan kepala ular yang mampu menelan beberapa gajah secara bersamaan. Kepala itu meledak karena terkena pukulan Mo Lian yang mengandung kekuatan penuhnya.


Crack! _.suara retakan terus-menerus terdengar dengan retakan yang meluas.


Retakan itu menyebar dengan kecepatan yang bisa dilihat oleh mata telanjang. Retakan itu pergi ke lusinan bintang di luar Tata Surya dan menghancurkan mereka semua.


Ruang terpelintir saat ledakan bintang tiada henti, seperti ruang dan waktu di sekitar mereka berbeda. Mereka berdua seperti memasuki dimensi asing dengan waktu yang berjalan berkali-kali lipat.


Kemudian, Mo Lian melambaikan tangannya. Dalam kehampaan, cahaya putih keemasan murni menyala, menyambar dengan gerakan zig-zag seperti petir. Dimensi yang tercipta secara tidak sengaja yang mengurung mereka hancur, dan Pedang Cahaya datang dari celah spasial di atasnya.


Tetua Kesembilan merasakan nyawanya berada di ujung tanduk, dan ada penyesalan yang tidak dapat dijelaskan. Tapi, kekuatan pihak lawan hanyalah Dewa Hitam, apa yang harus ditakutkan? Ya! Ia menganggukkan kepalanya dengan dengusan dingin—mundur ribuan mil ke belakang dan mengaktifkan Dao Racun.


Retakan ruang muncul mengelilingi Mo Lian seperti bola, kemudian dari retakan itu muncul kabut hijau yang keluar seperti disemprotkan dengan fogging.


Tetua Kesembilan mengatupkan kedua tangannya, membuat kabut hijau itu bergerak liar dan berubah menjadi cairan asam yang memaksa masuk ke dalam tubuh Mo Lian.


"Hahahaha!" Tetua Kesembilan tertawa terbahak-bahak. Dalam tawanya mengandung kesombongan dan penghinaan yang tak terhitung. Ia sangat marah dan ingin sekali membunuh Mo Lian. Tapi, saat mulutnya masih terbuka lebar karena tertawa, tiba-tiba ia terdiam.


Entah berapa banyak hal ini sudah terjadi, sampai-sampai ia berniat tidak akan tersenyum lagi.

__ADS_1


Bang!


Aura emas meledak, menghempaskan cairan asam ke segala arah.


Terlihat, Mo Lian yang tubuhnya diselimuti aura emas. Ini adalah Tubuh Emas yang sangat keras, dan karena Tubuh Emas sudah mencapai tahap tertinggi, ia bisa menangkal serangan penuh dari Dewa Bumi tahap Akhir, dan kebal terhadap racun apa pun. Apalagi dengan Tubuh Abadi, bahkan jika terluka, lukanya akan langsung sembuh.


Apalagi, Mo Lian memahami Dao Kehidupan dan membuatnya menjadi Dewa Kehidupan saat kembali ke Zaman Kuno.


Dengan satu langkah, Mo Lian tiba di depan Tetua Kesembilan. Ia memukul dada Tetua Kesembilan dengan santai tanpa kekuatan. Tapi, pihak lawan terhempas seperti komet yang membelah angkasa dengan sinar emas yang terang di kehampaan dan kegelapan.


Sebelum Tetua Kesembilan terhempas, terdengar suara keras yang menandakan bahwa tulang-tulangnya telah runtuh dan bagian dadanya berlubang sampai memperlihatkan organ dalamnya.


Tetua Kesembilan tidak mengendalikan tubuhnya dan membiarkannya pergi menjauh dari Mo Lian. Ketika jaraknya sudah ratusan juta mil, ia mengibaskan tangannya ke belakang; ada celah di belakangnya yang menelan tubuhnya.


"Hahahaha!"


Ada tawa yang menggelegar di angkasa ketika Tetua Kesembilan berhasil melarikan diri.


"Aku akan kembali ke Aliansi Sepuluh Ribu Ras dan melaporkan masalah ini! Pada saat itu, kalian semua akan menghilang!"


Mo Lian hanya diam tanpa kata, tapi matanya memancarkan niat membunuh yang dalam. Ia melambaikan tangannya, Pedang Cahaya berganti menjadi Pedang Kegelapan.


"Sayangnya tidak ada Pedang Ruang dan Waktu. Tapi, ini sudah lebih dari cukup."


Mo Lian mengangkat Pedang Kegelapan yang hitam legam di depan dadanya. Ujung pedang menghadap ke atas, memancarkan aura hitam yang membentuk kabut.


Ngung, ngung...


Dengungan yang menggema terdengar dengan Mo Lian menjadi pusatnya. Di belakangnya, 9 Niat Pedang mengeluarkan aura sembilan warna yang menyatu dengan Pedang Kegelapan, menimbulkan celah spasial di sekitar.


Pedang Kegelapan itu melayang perlahan ketika terlepas dari tangan Mo Lian.


"Pergi!"


Tiba-tiba...


Pedang Kegelapan menghilang dari tempatnya dalam sekejap mata tanpa peringatan ataupun efek khusus. Pedang Kegelapan itu pergi melintasi ruang dan waktu, mengejar Tetua Kesembilan yang sudah berhasil keluar dari Galaxy Bima sakti.


Mo Lian menengadahkan kepalanya, melihat empat Dewa Hitam yang terluka karena serangan Hong Xi Ning dan Hong Xi Jiang. Ia mengangkat tangannya, kemudian mengepalkannya seperti menangkap sesuatu.


Ruang di sekitar Dewa Hitam itu terpelintir, kemudian mereka semua menghilang tanpa jejak seperti masuk ke dalam dimensi tertentu.


"Gelombang pertama sudah selesai, tapi mengingat mereka adalah Aliansi Sepuluh Ribu Ras, mungkin ada sepuluh ribu Dewa Bumi, atau bahkan Setengah Dewa Surga."


Mo Lian menghela napas mengungkapkan ketidakberdayaan. "Aku harus berlatih lebih keras. Tapi ..."


Perhatiannya teralihkan pada Bumi. "Aku akan pergi ke Pegunungan Himalaya terlebih dahulu, Dimensi Ruang di sana mengalami perubahan. Sepertinya, orang-orang dari Negeri Surgawi ingin keluar dari sana."


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2