
Mo Lian duduk bersila dengan bantal di atas pangkuannya untuk menutup tongkatnya yang naik. Bisa-bisanya ia membayangkan sedang melakukannya dengan Yun Ning sampai malam hari, yang kemudian diteruskan sampai pagi.
Tapi, harus diakui bahwa melakukannya dengan Yun Ning bisa berganti-ganti gaya dan lebih bervariasi. Tidak seperti Hong Xi Ning yang selalu ingin di bawah, dan akan menolak dengan alasan tidak pantas apabila wanita berada di atas. Begitu pun dengan Qin Nian, selalu menyembunyikan wajahnya yang merah.
Yun Ning bisa bukan karena sudah terbiasa atau apa, karena ia sudah melihat ingatannya secara diam-diam, dan mendapati bahwa Yun Ning membaca panduan lengkap berhubungan suami istri. Kemudian, ada hal yang lebih mengejutkan, sebagai Bintang Huaxia, tidak pernah terpikirkan olehnya jika Yun Ning tidak pernah mengambil adegan ciuman.
Bibirnya melengkung membentuk senyuman ketika mengetahui bahwa ia adalah pria pertama yang berhubungan dengan Yun Ning, bahkan sampai menikah.
Bang! Bang! Bang!
Mo Lian menoleh ke belakang melihat pilar cahaya yang melonjak ke langit dari Mo Fefei, Su Jingmei, Mo Qian. Kemudian Qin Zhang, Yun Hengtian dan terus berlanjut sampai sepuluh orang.
Hong Xi Ning membuka matanya perlahan saat menghela napas kecewa karena hanya tinggal sedikit lagi bisa menembus tahap Akhir dari Dewa Pemula. Tapi, setelah dekat dengan Mo Lian, ia tidak pernah lagi memaksakan diri dalam kultivasi seperti dulu yang harus mengasingkan diri selama ratusan tahun. Apalagi, bakatnya yang sekarang terus berkembang, dan tentunya tidak perlu terlalu berusaha keras.
Mo Qian, Su Jingmei, Mo Fefei sudah Dao Immortal tahap Akhir. Qin Zhang, Yun Hengtian sudah Alam dan Manusia tahap Akhir. Qin Tian, Alam dan Manusia tahap Awal, hanya perlu menerima Kesengsaraan Petir.
"Xiao Fei." Mo Lian memanggil Mo Fefei untuk datang.
Mo Fefei mengalihkan pandangannya pada Mo Lian, kemudian ia berdiri dan menghampiri setelah menarik kembali auranya. "Ada apa, Kakak?" Ia mengerutkan keningnya saat merasa ada yang basah di dahinya, lalu menunduk melihat Mo Lian. "Apakah Kakak mencium Fefei? Tapi itu tidak dihitung, Kakak harus melakukannya lagi!"
"Tentu ..." Mo Lian mengulurkan tangannya, bersamaan dengan Mo Fefei yang berjongkok. Ia memberikan kecupan di kedua pipi, lalu yang terakhir di keningnya untuk waktu yang lama.
Mo Fefei tersenyum cerah, lalu melompat ke dalam pelukan Mo Lian. "Sudah lama Fefei tidak dipeluk Kakak!"
Mo Lian hanya diam dan tersenyum seraya menepuk-nepuk punggung Mo Fefei.
Tiba-tiba, Mo Lian tersentak saat mengingat sesuatu. Ia menundukkan kepalanya melihat Mo Fefei yang berada di dalam pelukannya. "Tiga hari lagi kau berusia tiga puluh dua tahun, kau ingin Kakak memberikan apa?"
Mo Fefei mendongak, kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, Fefei sudah seperti ibu-ibu, tidak baik bersikap seperti anak kecil lagi dengan meminta hadiah."
Mo Lian tertegun mendengar Mo Fefei berkata demikian meski kenyataannya tidak sesuai karena masih meminta pelukan seperti ini. Kemudian ia melihat Mo Fefei yang membuka mulutnya berkali-kali nampak seperti ingin berbicara, tapi tertahan. "Ada apa?"
Mo Fefei terdiam sejenak sebelum menjawab, "Fefei sudah memiliki pacar, dia dari Beijing. Fefei berniat untuk mengenalkannya pada Kakak."
Mo Lian merasakan napasnya berat, ada perasaan tidak nyaman karena akhirnya adik kecilnya yang sudah ia rawat akan membawa pacarnya, dan artinya sebentar lagi ia akan memiliki ipar. "Baiklah, aku akan menunggunya di sini. Aku ingin melihatnya."
Mo Fefei melepaskan diri dari pelukan Mo Lian, kemudian terbang dengan kecepatan luar biasa ke arah timur laut untuk menjemput lelaki yang menjadi pacarnya.
__ADS_1
Mo Lian melihat kepergian Mo Fefei, kemudian Hong Xi Ning dan Qin Nian datang menghampiri.
"Apakah tidak apa-apa?" tanya Hong Xi Ning. Ia merasa khawatir dengan Mo Fefei.
"Aku tidak tahu ..." Mo Lian menggelengkan kepalanya. "Bagaimanapun, aku tidak melihat ingatan Fefei, jadi tidak tahu siapa pria yang menjadi pacarnya."
Ketika beberapa waktu sudah terlewati, Mo Lian bisa menangkap Mo Fefei dari pandangannya yang membawa pemuda berambut hitam dengan mata biru dan memakai mantel.
Hong Xi Ning yang berada di samping Mo Lian, mengerutkan keningnya. "Nan Ren, apakah Sayang merasakannya?"
Nan Ren, Gege, Sayang. Itu adalah panggilan Hong Xi Ning terhadap Mo Lian.
Mo Lian menganggukkan kepalanya, dan menjawab dengan nada dingin, "Ya. Dia membawa aura jahat di dalam tubuhnya. Aku, ingin membunuhnya."
Mo Fefei mendarat tepat di depan Mo Lian dengan membawa pacarnya. Ia tersenyum tipis saat mengenalkan pria di sampingnya, "Kakak, ini adalah ..."
Bang!
Mo Lian berpindah dalam sekejap mata, langsung memukul dada pria yang hendak dikenalkan Mo Fefei bahkan sebelum selesai berbicara.
Pemuda itu tersentak dan terhempas karena pukulan ringan yang menghancurkan semua tukang rusuknya.
"Mendekati adikku karena ingin Teknik Surga? Ingin mendapatkan kepercayaannya agar bisa membujukku untuk membiarkanmu menjadi Patriak Sekte Dongfangzhi?" Mo Lian sangat marah. Ia mengangkat tangannya, memindahkan pemuda itu ke dalam cengkeramannya.
Mo Lian menatap tajam pemuda yang lehernya ia cengkeraman. Kemudian mata pemuda itu kehilangan cahayanya dan tampak kosong.
"Kakak!" Mo Fefei berteriak dengan air mata.
Mo Lian mengabaikannya, dan menjatuhkan pemuda itu di lantai. "Katakan, katakan semua rencana yang kau miliki."
Pemuda itu membuka mulutnya dan menjawab dengan datar, "Mendekati Mo Fefei dan mengambil alih Sekte Dongfangzhi, memanfaatkan semua sumber daya untuk meningkatkan kekuatan Klan Serigala Darah."
Mo Fefei tersentak dengan kedua tangan yang menutup mulutnya. Walaupun baru kenal belum satu bulan, ia sangat memercayai pemuda bernama Chen Jianzhou, tapi tidak menduga bahwa selama ini ia dimanfaatkan. Sudah banyak yang ia habiskan, seperti pil tingkat empat sampai enam.
Mo Fefei sudah sering diberi tahu oleh Mo Lian untuk mengecek ingatan seseorang apabila sulit dipercaya. Tapi, ia mengabaikan hal itu karena ingin berhubungan normal.
"Kau berasal dari China, kau memiliki darah Bangsa Zhongguo. Tapi, mengapa kau malah ingin meningkatkan kekuatan Klan Serigala Darah, dan yang lebih penting, bagaimana caramu mengetahui tentang Klan Serigala Darah?" tanya Mo Lian. Tidak banyak yang tahu tentang ras-ras di Bumi, dan tentunya ini membingungkan karena pemuda di depannya belum genap 30 tahun.
__ADS_1
Chen Jianzhou kembali menjawabnya, "Saat aku pergi ke Canada untuk berlibur, aku ditangkap kelompok aneh. Hampir semua orang yang bersamaku dibunuh, hanya aku saja yang dibiarkan hidup. Kemudian, aku bertemu dengan pria tua yang sepertinya adalah pemimpin mereka ..."
"Dia memiliki telinga serigala, dan matanya merah seperti darah. Sebelum kebangkitan spiritual, aku membawa wanita-wanita ke Canada untuk dipersembahkan untuk Klan Serigala Darah."
"Pemimpin Klan Serigala Darah, hanya meminta wanita dari keturunan asli China."
Mo Lian terdiam, tidak mengharapkan ada keturunan dari Dewa yang pernah melawan Bangsa Zhongguo di masa lalu, dan keturunan ini tentunya lebih kuat dan berpengetahuan, karena sudah memiliki metodenya bahkan sebelum Kebangkitan Spiritual.
Kemarahan memuncak di lubuk hati Mo Fefei saat mendengarnya. Ia mengepalkan tangannya sampai kuku jarinya menusuk daging dan mengeluarkan darah.
Mo Lian menggenggam pergelangan tangan Mo Fefei. "Fefei, jangan melukai dirimu sendiri. Bagaimana, jika aku membawamu untuk membunuh semua anggota Klan Serigala Darah?"
Mo Fefei menggertakkan giginya, lalu menghela napas setelah beberapa menit dan mengganggarkan tangannya. "Baik, Kakak. Tapi tunggu sebentar." Ia melangkah menghampiri Chen Jianzhou.
Mo Fefei meminta Mo Lian untuk menghilangkan teknik yang mengunci jiwa Chen Jianzhou, membuat Chen Jianzhou kembali sadar.
Chen Jianzhou mendongak menatap Mo Fefei setelah berkedip-kedip. Kemudian matanya terbelalak dengan napasnya yang terengah-engah seperti panik. "Fe- Fefei, ak- aku bisa menjelaskan semuanya—"
Mo Fefei mencengkeram kepala Chen Jianzhou. "Kau tahu, aku tidak pernah menjalin hubungan dengan pria. Kau adalah yang pertama, tapi, siapa yang menduga semuanya akan menjadi seperti ini."
Duarr!
Kepala Chen Jianzhou meledak dan mengeluarkan darah dalam jumlah besar. Darah itu terbang ke arah timur sedikit ke timur laut, mengarah ke Canada dengan kecepatan sedang.
Mo Fefei terbang dengan kecepatan sedang mengikuti arah darah yang terbang. Ada kilatan dingin di matanya saat amarah memuncak. Auranya meningkat pesat dan diambang batas untuk menembus Heavenly Immortal.
Mo Lian yang ditinggalkan di belakang, terdiam tanpa kata. Ia berniat mencarikan Mo Fefei kekasih hidup, tapi setelah kejadian ini, ia tidak tahu bagaimana ke depannya. Mungkin, ada trauma tersendiri bagi Mo Fefei dan tidak ingin menjalin hubungan lagi.
Ia menghela napas, kemudian terbang jauh di belakang Mo Fefei. Ia ingin membunuh semua Klan Serigala Darah, tapi lebih baik membiarkan Mo Fefei yang melakukannya.
Hong Xi Ning dan Qin Nian mengikutinya dari belakang, termasuk Yun Ning yang baru saja keluar dari Istana Dongfangzhi.
Mo Qian dan Su Jingmei yang sudah sadar dari tadi, memiliki perasaan yang sama. Akhirnya, mereka berdua terbang dengan kemarahan dan niat membunuh yang sama.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...