Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 84 : Masalah


__ADS_3

Mo Lian yang sudah berada di dalam ruang kamarnya langsung duduk di sofa. Ia meletakkan kotak kayu yang dimenangkannya dengan harga 50 juta Yuan, harga yang cukup murah jika mengingat kelangkaan material di Bumi.


Mo Lian mengeluarkan pedang dari dalam kotak kayu, ia memandanginya dengan saksama. "Pedang ini, tidak seharusnya berada di Bumi jika mengingat bahan, metode, dan kekuatannya. Pedang ini, pastinya pedang yang pernah digunakan oleh Kultivator Dao Ranah Alam dan Manusia," ucapnya sedikit tak percaya.


Ia meletakkan pedangnya kembali di atas meja. Dengan kedua sikut bertumpu pada paha dan dagunya bertumpu pada kedua tangan yang ditangkupkan. Mo Lian kembali mengamati pedang yang berada di atas meja. "Apakah ribuan tahun lalu di Bumi ada Kultivator Dao Ranah Alam dan Manusia? Bahkan mungkin saja lebih tinggi, jika begitu ..."


Mo Lian terdiam sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya, "Pada saat itu aura Bumi sangat berlimpah, dan memiliki teknik-teknik yang sangat tinggi. Lalu mengapa pada zaman sekarang malah lemah?"


Mo Lian berpikiran akan sangat tidak mungkin pembudidaya di zaman ini memiliki kekuatan yang dibawah rata-rata jika pada zaman dulu ada metode yang bisa membuat senjata tingkat tinggi. "Kecuali, ada harta bumi dan langit, yang mengakibatkan peperangan antara pembudidaya dan menghabisi banyak sekali orang. Kemudian karena kejadian tertentu, energi spiritual menjadi sangat tipis, atau ..."


"Dahulu kala juga ada Kultivator dari bintang lain yang datang ke Bumi dan membunuh sebagian besar dari para Pejuang, serta menghancurkan semua teknik yang ada."


Ia menghela napas panjang, ia tidak terlalu mau memikirkan hal yang kebenarannya tidak pasti. Tanpa berlama-lama lagi, ia menyayat jari telunjuknya dan meneteskan darahnya pada permukaan pedang yang patah.


Ketika darah Mo Lian menetes di permukaan pedang, pedang itu bergetar dan secara tiba-tiba cahaya di dalam ruangan ini menghilang seperti tertelan oleh kegelapan. Hingga beberapa menit kemudian, saat cahaya kembali terlihat, pedang patah yang berada di atas meja menampilkan perubahan.


Karat yang menempel di permukaan pedang sudah menghilang dan tak lagi terlihat, bahkan bekasnya saja menghilang seperti tertelan oleh lubang hitam.


"Ini! Tadi tidak terlalu terlihat dengan jelas, tapi ketika karatnya telah menghilang. Akhirnya aku mengetahui jika pedang ini berada ditingkat Surgawi, tapi karena tidak lengkap, tentunya hanya bisa mengeluarkan setengah dari kekuatannya. Namun ini sudah cukup untuk membunuh Kultivator Ranah Alam dan Manusia." Mo Lian sedikit membelalakkan matanya.


Meski ia pernah memiliki senjata ditingkat yang lebih tinggi dan bahkan pernah membuatnya. Tapi tentu saja pedang ini sangat langka jika di Bumi. Bahkan pedang milik Ketua dari Pasukan Taring Naga dan Aliansi Beladiri Huaxia hanya berada ditingkat Kuning, itupun setengah jadi.


Mo Lian tersenyum, ia memasukkan pedang patah itu ke dalam kotak kayu, dan kemudian menyimpannya dalam Cincin Ruang.


***


Malam Harinya


Mo Lian berjalan-jalan seorang diri di Kota Beijing sebelum besok harinya akan kembali ke Kota Chengdu. Ia pergi menuju tempat makan yang berada di gang yang cukup besar, meski dikatakan yang, tapi sebenarnya bisa dilalui oleh lima mobil yang berjalan bersebelahan, di sana banyak sekali kedai pinggir jalan yang masih belum tutup meski sudah cukup malam.


Tanpa berlama-lama lagi, Mo Lian masuk ke dalam gang itu dan duduk di meja depan toko yang berada di sebelah kiri jalan dan nomor empat dari depan gang.


Mo Lian mengangkat tangannya. "Bibi, saya pesan satu botol soju, satu nampan jiaozi."

__ADS_1


"Baik." Wanita paruh baya mengenakan baju lengan pendek berwarna biru muda, bercelana hitam panjang dan mengenakan apron itu menundukkan kepalanya, kemudian berbalik untuk mengambil pesanan.


Belasan menit kemudian, wanita paruh baya itu kembali dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat pesanan Mo Lian. "Ini, Tuan. Silakan dinikmati," ucapnya sedikit membungkukkan badannya kemudian kembali berbalik.


"Terimakasih." Mo Lian mengangguk kecil.


Mo Lian menyantap makanan dengan tenang dan bahagia, sudah sangat lama ia tidak makan makanan seperti ini. Semenjak keuangannya berubah, ia selalu saja makan makanan yang terbuat dari bahan mahal. Tapi jika mengingat kembali saat-saat ia susah, ia juga tidak terlalu sering makan seperti ini.


Hanya dalam hitungan menit saja, Mo Lian sudah menghabiskan semua makanan yang berada di atas meja. Ia kembali mengangkat tangannya untuk memesan, namun baru setengah mengangkat, tiba-tiba terdengar suara keras yang menarik perhatian semua orang.


Brak!


Mo Lian menolehkan kepalanya ke arah kebisingan. Terlihat enam pemuda berpakaian bermerek tengah menyiram wanita paruh baya yang terduduk di tanah dengan soju, wanita paruh baya itu adalah pemilik kedai ini.


"Ibu!"


Terdengar teriakan keras yang berasal dari pintu masuk kedai. Terlihat wanita muda berambut hitam panjang sepinggang dan diikat kuda, mengenakan kaus putih lengan pendek dan memakai rok kembang di atas lutut berwarna biru. Untuk usianya sendiri, wanita itu memiliki usia berkisar 16 tahun.


Mo Lian yang melihat itu hanya terdiam dan mengerutkan keningnya, ia sudah sering melihat kejadian yang klise ini di dalam novel maupun manhua yang dibacanya. "Setelah ini, seharusnya akan ada orang yang melindungi wanita itu," ucapnya mengangguk kecil.


"Uhuk. Ini memalukan, ini gara-gara Fefei yang selalu bergaya seperti ini di depanku." Mo Lian berdehem, ia membenarkan posisi berdirinya dan berjalan menghampiri enam pemuda itu.


Mo Lian berjalan dengan percaya dirinya, namun baru saja ia berjalan untuk beberapa langkah. Tiba-tiba ia menghentikan langkah kakinya saat melihat apa yang terjadi di depan matanya, terlihat ada pria tua dengan rambut putih panjang menghentikan enam pemuda itu.


Pria tua itu mengenakan pakaian tradisional China berwarna abu-abu.


"Orang tua! Apakah kau ingin mati? Menyingkir!" teriak pemuda yang tangannya digenggam oleh pria tua.


Pria tua yang tidak diketahui namanya itu membuka satu matanya. "Hoho. Beginikah caranya anak muda zaman sekarang bersikap pada orang yang lebih tua."


"Berisi—" Pemuda itu mengayunkan botol yang dipegangnya mengarah pada kepala pria tua.


Pria tua tidak tinggal diam, dengan kecepatan yang tidak bisa terlihat oleh mata. Pria tua itu bergerak sangat cepat dan membanting pemuda itu ke tanah.

__ADS_1


Kejadian ini sangat cepat, membuat semua orang yang hadir termasuk enam pemuda hanya bisa terdiam tak mengerti apa yang terjadi. Tapi berbeda dari sudut pandang Mo Lian, gerakan itu sangat-sangatlah lambat.


Mo Lian mengerutkan keningnya. "Sepertinya aku pernah bertemu dengan orang itu, tapi di mana?" tanyanya seorang diri sembari menyentuh dagunya. Ia terdiam sejenak mencoba mengingat-ingat, tapi hanya dalam hitungan detik, ia mengangkat kedua bahunya menyerah untuk mengingat orang tua itu.


Mo Lian menggeleng pelan, ia merogoh kantung celananya mengeluarkan uang dengan jumlah 500 Yuan dan diletakkannya di bawah botol soju, ia mengangkat tangannya untuk memberi tanda pada wanita paruh baya yang masih duduk di tanah. Kemudian pergi menjauh dari tempat kejadian.


Mo Lian berjalan meninggalkan gang, namun ia tidak langsung kembali ke hotel tempatnya menyewa kamar, melainkan pergi ke tempat sepi yang tidak ada kamera pengawasnya sama sekali. Bukan tanpa alasan ia pergi ke tempat sepi, itu karena dari awal ia keluar dari hotel sampai ke kedai, ia selalu merasa jika ada yang mengawasinya.


Belasan menit kemudian, ia sudah sampai di tempat yang cukup sepi tanpa pencahayaan. Ia menghentikan langkah kakinya. "Pria tua, bukankah ini sudah saatnya kau keluar? Aku tahu kau sudah mengikutiku dari kedai tadi sesaat setelah kau memberi pelajaran pada enam pemuda."


Tap... Tap... Tap...


Terdengar langkah kaki dari belakang Mo Lian.


"Aku tidak menyangka kau bisa menyadari keberadaan ku. Sepertinya kau memiliki sedikit kemampuan," ucap pria tua berambut putih mengenakan pakaian tradisional China.


Mo Lian berbalik, ia menatap tajam pria tua itu. "Apa yang kau inginkan?"


"Hoho. Anak muda zaman sekarang sangat suka sekali tergesa." Pria tua itu terkekeh kecil dengan senyuman. Beberapa detik kemudian ekspresi wajahnya berubah dan menatap tajam wajah Mo Lian dengan niat membunuh yang keluar darinya. "Serahkan pedang patah yang kau dapatkan di pelelangan!"


Pelelangan? Mo Lian kembali menatap wajah pria tua yang sampai saat ini ia tidak mengetahui namanya. "Ah! Kau adalah pria tua yang bersaing denganku untuk sebuah pedang," ucapnya seraya memukul telapak tangannya sendiri.


"Jadi. Bagaimana?" Pria tua itu kembali tersenyum.


Mo Lian tersenyum lembut membalas senyuman itu, namun detik berikutnya ia menatap tajam pria tua. "Bagaimana jika aku katakan tidak?"


Pria tua itu tetap tersenyum, ia mengangkat tangan kanannya dengan telapak tangan yang terbuka seperti memberikan aba-aba. Secara tiba-tiba terdengar gerakan dari atas pohon sekitar, terlihat puluhan orang yang mengenakan pakaian hitam dengan penutup wajah.


"Hanya kematianlah yang menantimu!"


"Oho?" Mo Lian menaikkan sebelah alisnya. Ia mengalirkan energi spiritualnya pada Cincin Ruang, kemudian mengeluarkan pedang patah di tangan kanannya. "Aku menemukan bahan yang cocok untuk meningkatkan pedangku! Saatnya makan!"


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2