
Mo Lian melompat turun dari satu tempat ke tempat lain, dan mendarat tepat di depan Qin Nian, dengan jarak belasan inchi saja. Wajahnya sangat dekat dan keduanya hampir berciuman, namun dengan sigap ia melangkah mundur.
Mo Lian menoleh menatap Wanda yang matanya terbelalak keheranan. "Sudah tidak ada lagi yang ingin ku cari di sini, saatnya pergi ke Lebak Naga." Ia berucap sembari mengusap puncak kepala Qin Nian.
Ia berjalan menuruni gunung, bersama dengan Qin Nian yang tangannya ia genggam, tanpa menunggu jawaban dari Wanda maupun sopir yang masih terdiam mematung.
Apa yang dilakukan Mo Lian tentunya mengejutkan dan sangat tidak wajar, karena bisa melompat dari tempat yang rendah ke tempat yang lebih tinggi.
Meski mendapat tatapan mata dari banyak orang yang berada di sini, Mo Lian tetap bersikap tenang seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Seharusnya hal ini bukanlah hal baru, karena sebelum pergi ke Indonesia, ia sudah membaca artikel-artikel yang mengatakan bahwa ratusan tahun lalu ada Pendekar, nama lain dari Pejuang atau Kultivator, meski kekuatannya hanya sebatas Fase Mendalam.
Belasan menit lainnya terlewati semenjak mereka semua menuruni jalan yang curam, dan tiba di mobil yang terparkir di bawah. Tanpa berlama-lama lagi, mereka pergi ke Lebak Naga yang membutuhkan sekitarnya waktu dua jam untuk sampai.
Ketika dalam perjalanan, tiba-tiba handphone miliknya bergetar dan berdering di dalam saku celananya. Ia menyelinapkan tangannya dan mengambil handphone, terlihat ada sebuah pesan masuk dengan nama Mo Fefei sebagai pengirim.
Senyum cerah terukir di wajah Mo Lian saat ia membaca pesan yang dikirimkan oleh Mo Fefei padanya. Kemudian ia kembali menyimpan handphone-nya ke dalam saku celana tanpa bersuara.
Qin Nian yang berada di sebelah Mo Lian juga tidak berucap. Ia tidak ingin mengetahui pesan yang diterima Mo Lian, karena memang itu bukan haknya untuk mengetahui, dan semua orang memiliki rahasianya sendiri yang tidak ingin diberitahukan pada siapapun.
Mo Lian menyandarkan badannya pada sandaran kursi dengan mata terpejam. Fefei memintaku untuk membelikannya oleh-oleh, mungkin aku akan membelinya saat pulang nanti, di kota ini dan di Jakarta.
Untuk berangkat ke Lebak Naga, Mo Lian memilih untuk tidur bersandar pada bahu Qin Nian. Semalaman ia tidak tidur dan harus menjaga Qin Nian yang merasa tidak nyaman setelah turun dari pesawat.
Qin Nian juga tidak mempermasalahkan, dan malah senang jika Mo Lian bersandar padanya. Diam-diam ia mengangkat tangannya dan mengusap kepala bagian kanan Mo Lian, serta sesekali mencium keningnya.
Dua jam kemudian semenjak mobil berjalan, akhirnya mereka sudah memasuki kawan permukiman penduduk. Mobil memasuki gang yang cukup dilalui satu mobil, kemudian memarkirkannya di tanah lapang yang lumayan luas.
__ADS_1
Untuk naik ke puncak Lebak Naga, setidaknya mereka harus berjalan satu mil jauhnya. Memiliki dua jalan yang berbeda, jika melalui jalan yang normal, maka akan membutuhkan waktu yang lebih lama. Apabila melalui jalan terjal, memiliki sudut 30 sampai 45°, maka akan sampai dua kali lebih cepat.
Mo Lian keluar dari mobil setelah dibangunkan Qin Nian. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya yang lumayan kaku karena sudah lama tidak bertarung dan membunuh. "Seharusnya hanya perlu menunggu waktu tiga bulan lagi untuk organisasi yang bersembunyi mulai muncul ke permukaan. Pada saat itu, pertempuran besar akan terjadi, dan aku bisa memanaskan tubuh."
"Kalian berdua ingin melewati jalan yang mana?" Wanda menghampiri Mo Lian.
Mo Lian menoleh ke belakang menatap Wanda, kemudian melihat Qin Nian, dan kembali lagi menatap Wanda. "Jalan yang normal dan tidak terlalu terjal."
Meski pakaian yang dikenakan Qin Nian kurang lebih cocok untuk menaiki gunung, tapi tetap saja terlalu menyulitkan untuk mengambil langkah tinggi. Bagaimanapun celana yang dikenakannya adalah jeans ketat.
Wanda mengangguk kecil dan berjalan di depan, dengan seorang pria paruh baya mengenakan kaus tanpa lengan yang memimpin jalan untuk naik ke puncak.
Pria paruh baya itu adalah salah satu orang yang tinggal di sini, biasanya penduduk sekitar akan membantu pendaki untuk naik hingga pada batas tertentu, kemudian di arahkan ke jalan yang benar agar tidak salah mengambil jalan.
Mo Lian dan Qin Nian berjalan bersebelahan di belakang Wanda yang memimpin jalan bersama dengan pria paruh baya itu.
Mereka terus berjalan dipimpin oleh pria paruh baya tadi, mengikuti jalan setapak yang terkadang menanjak maupun datar, dan saat melewati ranting-ranting pohon yang ditumbuhi akar menjalar membentuk gerbang. Mo Lian mulai merasakan keanehan di sana, ia menoleh ke kiri, melihat tiga batu gunung yang besar dan di belakangnya terdapat jurang dalam.
Tanpa berlama-lama, Mo Lian berucap dengan santainya, "Apakah dulu ada wanita yang terjatuh ke dalam jurang dan mayatnya tidak ditemukan?"
Wanda terdiam sejenak dan mengatakan pertanyaan Mo Lian pada pria paruh baya yang memimpin jalan, membuat pria paruh baya itu menghentikan langkah kakinya dan diam dalam hening.
Wanda menoleh menatap Mo Lian dan menyampaikan pesan pria paruh baya itu pada Mo Lian, "Dia bilang, jangan mengatakan hal-hal aneh di sini, dan selalu berpikir positif. Jangan biarkan perasaan negatif menyerang mu, atau kau akan celaka saat dalam perjalanan." Terlihat kekhawatiran di wajahnya saat menyampaikan pesan.
"Ah! Baiklah." Mo Lian mengangguk dan kembali melanjutkan perjalanannya mengikuti langkah kaki pria paruh baya itu. Hingga belasan menit berlalu, akhirnya mereka sudah tiba di puncak.
__ADS_1
Mo Lian mengamati sekitar, mencari tahu datangnya suara yang di dengarnya tadi. Ia mengambil posisi duduk bersila dengan mata terpejam, menghadap lereng bukit yang cukup terjal di depannya, yang dipenuhi oleh pepohonan.
Dari pandangan Mo Lian, lereng di depannya yang terlihat biasa itu sebenarnya adalah sebuah tempat yang kaya akan sumber daya dan energi spiritual, hanya saja dihalangi oleh formasi array yang sangat kuat. Dengan kekuatannya yang sekarang, meski ia reinkarnasi dari Dewa Semesta, tetap saja akan menyulitkan untuk mengetahui formasi yang diciptakan oleh Hewan Suci.
Ketika Mo Lian membuka matanya perlahan, terlihat kilatan cahaya biru di sudut matanya dengan aura kultivasinya yang terlepas, membuat angin bertiup kencang dan hampir menerbangkan pondok kecil di sana.
Ia menekan tangan kirinya di tanah dan tangan kanan bertumpu pada lututnya. Ia menopang badannya untuk berdiri dari tempat duduknya. Mo Lian menoleh ke kiri menatap Qin Nian, dan kemudian merangkul pinggangnya erat. "Pegangan yang erat padaku."
Qin Nian tersentak dengan apa yang dilakukan Mo Lian, kemudian melakukan apa yang disuruh.
Mo Lian menatap Wanda maupun sopir yang ikut naik, serta mengamati ratusan orang yang beraktivitas di luar tenda-tenda. "Kalian berdua bisa kembali ke mobil ataupun hotel terlebih dulu. Aku ingin menyelesaikan urusanku yang ada di sini."
Wanda mengerutkan keningnya tidak mengerti apa yang dimaksud oleh perkataan Mo Lian. Ia membuka mulutnya hendak berucap, namun terhenti saat melihat Mo Lian yang melompat ke lereng terjal atau jurang itu.
Saat Mo Lian melompat bersama dengan Qin Nian dipelukannya, tiba-tiba terlihat jubah emas dengan mahkota yang menyelimuti tubuhnya. Ia terbang sejajar dengan puncak gunung, di atas jurang yang cukup dalam itu.
Di tangan kanan Mo Lian terdapat sebuah pedang biru yang terbuat dari energi spiritual. Ia mengayunkan pedangnya ke udara kosong di depannya secara vertikal, dari bawah ke atas, dan terlihat sobekan ruang yang memperlihatkan alam lain dengan cahaya emas, beserta angin yang bertiup kencang.
Tanpa berlama-lama, Mo Lian melompat masuk ke dalam dimensi yang dibukanya secara paksa dan mengabaikan tatapan mata semua orang yang tertuju padanya.
Ketika Mo Lian sudah masuk ke dalam dimensi ruang, ruang yang terbuka itu kembali menutup dengan cepatnya.
Mo Lian bisa saja menghancurkan dimensi ruang dan bukan membukanya untuknya masuk. Namun jika ia menghancurkannya, maka bisa dipastikan akan terjadi bencana yang mengerikan, karena kemarahan Hewan Suci yang berdiam di dalam sana.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...