Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 266 : Pergerakan


__ADS_3

Hari sangat tenang tanpa adanya gangguan sama sekali di Kota Zhan, apalagi tidur di pangkuan Ibunya yang selama ini sangat ia rindukan. Ini benar-benar kenikmatan tersendiri, mendapatkan usapan lembut dari Ibunya.


Karena Mo Lian adalah Pedang Sekte, maka ia bisa bersantai-santai tanpa harus melakukan tugas lain yang diberikan oleh sekte. Biasanya murid lain akan mengerjakan sesuatu seperti mencari sumber daya tertentu, atau mengambil benda berharga di suatu tempat, bahkan membunuh monster.


Namun tidak dengan Mo Lian, tugasnya hanya satu, membunuh!


Puluhan menit kemudian, Mo Lian bangun dari tidurnya dan keluar dari ruangan langsung tanpa berkata-kata pada Ibunya yang heran. Mo Lian merasakan pergerakan aneh di luar Kota Zhan di pedalaman hutan bagian selatan, karena itulah ia ingin pergi ke sana.


Tidak peduli apa yang ada di sana, selama membahayakan orang-orang yang dilindungi Hong Xi Ning, maka ia akan membunuhnya tanpa ampun.


Su Jingmei menoleh ke kiri melihat Mo Lian yang membuka pintu. "Lian'er, berhati-hatilah. Ibu tidak ingin kau terluka."


Mo Lian menghentikan langkah kakinya, kemudian berbalik memperlihatkan senyum cerah yang indah. "Baik."


Mo Lian berbalik dan berjalan keluar seraya menutup pintu perlahan, dengan raut wajahnya yang kembali dingin. Ia melangkahkan kaki kanannya ke depan, melihat Qin Nian yang baru naik dari tangga. Qin Nian hendak menyapanya, namun ia menghilang di udara.


"Aku ada urusan penting."


Qin Nian menurunkan tangan kanannya, kemudian mengangguk kecil dan memasuki ruangan Su Jingmei.


***


2500 Mil ke Arah Selatan dari Kota Zhan


Mo Lian bergerak perlahan melompat dari satu dahan ke dahan pohon lain, namun tidak menimbulkan suara sama sekali seperti sehelai daun yang terhirup angin. "Ada sekitar seratus orang di sana, dan salah satunya adalah Jia Yaofa."


"Rencana apa lagi yang ingin kau buat." Mo Lian menaikkan sudut bibirnya dan ada keinginan membunuh yang terpancar dari matanya.


Jia Yaofa adalah genius yang berhasil menarik lima sambaran saat menembus Ranah Inti Perak, dengan Kesengsaraan Petir Ungu bentuk Biasa. Kemudian saat menembus Inti Emas, berhasil menarik enam sambaran Kesengsaraan Petir Ungu bentuk Pedang.


Banyak anggota sekte yang memuja Jia Yaofa, bukan hanya dari ketampanan dan bakatnya, tapi juga dari sikapnya yang lemah lembut. Tapi sebenarnya, di dalam hatinya ada sikap keji yang sangat senang melukai wanita dengan sebilah pisau untuk memberikannya kesenangan.


Jadi, ketika Mo Lian mendengar Jia Yaofa menggoda dan selalu mencari masalah dengan Mo Fefei, ia tidak bisa menahan diri dan ingin membunuhnya hari itu juga, bersama dengan Penatua Jia.


Namun ia dihentikan oleh Hong Xi Ning, tapi keberuntungan datang padanya dan hari ini bisa membunuh Jia Yaofa.

__ADS_1


Hanya membutuhkan beberapa menit saja dengan kecepatan terendahnya dan sudah sampai di tengah-tengah hutan, yang di sana ada gunung tinggi. Pada bagian kaki dan lereng gunungnya ada sebuah gua, tapi yang ada kehadiran manusia hanya berada di lereng.


Mo Lian mengembuskan napas panjang, benar-benar tidak mengerti bagaimana jalan pikiran orang di dalam sana. "Apakah mereka bodoh? Bersembunyi di dekat sekte dan memasang formasi array, sedangkan penglihatan Heavenly Immortal bisa menembus semua array dan bintang."


"Bahkan aku saja bisa melihatnya dengan jelas ..." Mo Lian duduk di dahan pohon, kemudian menengadahkan kepalanya melihat langit. "Bukan begitu, Master?"


"Berisik, murid bodoh."


Keberadaan Hong Xi Ning di langit sudah menghilang dalam sekejap, yang artinya Mata Langit sudah dinonaktifkan. Suara Hong Xi Ning terlihat sangat kesal, tapi tidak ada kebencian di dalamnya.


Mo Lian tertawa kecil saat mendengar suara Masternya yang malu-malu, tapi mencoba untuk tetap menjaga wibawanya sebagai seorang Matriak.


Mo Lian meluruskan kakinya dan bersandar pada batang pohon, seraya mengamati gua di lereng gunung. Ia tidak ingin langsung membunuh mereka semua, karena tidak menyenangkan.


"Ngomong-ngomong, ada Dao Immortal yang dibawa mereka." Mo Lian tersenyum ringan.


Belasan menit setelah menunggu, akhirnya ada pergerakan di dalam sana. Mo Lian berdiri dan terbang ratusan meter ke langit, yang kemudian mendarat di gua yang ada di lereng gunung. "Apakah kalian akhirnya memutuskan untuk bergerak?"


Jia Yaofa tersentak saat melihat ada orang yang sudah berdiri di sana, kemudian menyeringai dingin saat mengetahui itu adalah Mo Lian. "Apa yang semut lakukan di sini? Ah! Kau adalah kakak Fefei? Jika aku mengalahkanmu, aku bisa mendapatkannya—"


Mo Lian menangkap wajah Jia Yaofa dan membantingnya ke lantai batu yang sangat keras, hingga menimbulkan getaran di gunung yang besar ini.


"Uhuk!" Jia Yaofa memuntahkan seteguk darah segar saat belakang kepalanya terluka dan punggungnya yang patah.


Patahnya punggung Jia Yaofa karena terkena batu sebesar kelapa di lantai.


Pria tua yang mengenakan jubah dan hanya terlihat janggut putih panjangnya itu terdiam. Ia yang sudah menembus Dao Immortal saja tidak menyadari perpindahan Mo Lian yang sangat cepat seperti angin.


"Apakah kau tidak tahu jika di adalah putra Penatua Jia?!" Pria tua itu berteriak kesal. "Jika kau membunuhnya, Sekte Zhongjian akan memburu mu!—"


Mo Lian berdiri dan mengulurkan tangan kanannya secepat kilat, menangkap leher pria tua yang ia kenal sebagai Hantu Malam. Pembunuh bayaran yang tidak pernah gagal dalam menyelesaikan misinya, tapi di hadapan Mo Lian, Hantu Malam tidak berdaya.


"Memangnya apa? Bahkan jika Sepuluh Organisasi Kuat datang bersama, aku tidak takut!" Mo Lian mencengkeram erat leher Hantu Malam.


Hantu Malam tidak bisa bergerak sama sekali, seperti ada energi tak kasat mata yang mengikat tubuhnya. Darah mulai mengalir dari mulut, hidung dan kedua matanya. Hingga gak lama kemudian, matanya mulai sayu dan kehilangan cahayanya.

__ADS_1


Zrash!


Leher Hantu Malam terputus dengan darah yang memercik. Dengan kibasan tangannya, ia menangkap Inti Jiwa milik Hantu Malam dan menyimpannya di Botol Jiwa untuk digunakan jika ada hal-hal mendesak.


Kemudian ia menoleh melihat 100 orang yang tersisa, terlihat mereka semua sangat ketakutan, terutama untuk Jia Yaofa yang benar-benar pucat seperti orang mati.


Mo Lian menyeringai dingin, melepaskan Esensi dari Dao Waktu. Sekarang ia bisa dengan bebas menghentikan waktu, mempercepat atau memperlambat. Tapi tidak untuk kembali, bahkan walaupun ia bisa melakukannya, ia tidak akan mengembalikan waktu lagi, kecuali ada hal mendesak.


Semua orang berhenti tidak bergerak sama sekali, dan ketika Mo Lian menarik kembali kekuatannya. Jeritan menyakitkan terdengar secara bersamaan dan tiba-tiba.


Mereka semua ketakutan saat menyadari tubuh kedua kaki dan tangan mereka telah terputus dan menggantung di langit-langit gua. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, yang mereka tahu sebelumnya masih berdiri, dan sekarang bersandar di dinding.


Untuk Jia Yaofa, Mo Lian mengikatnya di dinding gua, dengan tangan dan kaki yang direntangkan paksa.


Mo Lian mengeluarkan sebilah pisau dapur yang berkarat dan bergerigi, benar-benar tumpul. Ia berjalan mendekati Jia Yaofa dan menatapnya tajam. "Sekarang, kau akan merasakan rasa dari hal yang sangat kau senangi selama ini."


"Membuat maha karya di kulit dengan sebilah pisau, akan jadi apa hasilnya, pastinya akan sangat indah sekali."


Jia Yaofa tidak bisa bergerak sama sekali dan lidahnya juga sudah dipotong, ditambah mulutnya yang disumpal oleh akar pohon.


Mo Lian memiringkan kepalanya. "Penatua Jia? Kau bisa tenang, dia tidak akan bisa mengetahui keberadaanmu. Tempat ini sudah terhalang oleh formasi array, bahkan waktu di sini berbeda dengan di luar ..."


"Bahkan jika aku menyiksa kalian selama ratusan tahun, aku bisa mengaturnya jika di luar hanya berlalu satu menit. Bukankah ini menarik?"


Jia Yaofa benar-benar tidak menyangka, namun berusaha tidak mempercayai apa yang diucapkan Mo Lian, meski ia wajahnya sudah basah akan air mata dan pangkal pahanya juga basah karena kencing di dalam celana. Ia benar-benar ketakutan.


Mo Lian tertawa kecil untuk beberapa saat, kemudian menengadahkan kepalanya melihat langit-langit ruangan dengan merentangkan kedua tangan, serta tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha!"


"Sekarang, ayo kita mulai." Mo Lian kembali melihat Jia Yaofa dengan tatapan dingin yang menelan jiwa.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2