
Mo Lian menunggu di luar ruangan seorang diri tanpa melakukan apa pun; hanya bersantai menunggu orang-orang yang di dalam untuk keluar menemuinya. Tapi, waktu bersantainya tidak berlangsung lama karena aura kuat yang sedang bergerak cepat ke Bintang Utama.
Aura ini bahkan lebih kuat dari Tao Wu yang sudah pernah ia kalahkan dan bunuh di Alam Hanzi.
Mo Lian kembali masuk ke dalam ruangan karena ada keperluan penting yang harus dilakukan sebelum melawan Hundun. Ia mendatangi Ibunya dan sedikit membungkuk. "Ibu, aku harus pergi sekarang untuk menghentikan Hundun."
Su Jingmei merasa tidak nyaman melihat anaknya yang baru saja kembali, tapi harus pergi lagi karena harus mengurus masalah Hundun—namun ia tidak bisa berbuat banyak. Ia tahu bahwa memiliki kekuatan yang besar—maka memiliki tanggung jawab yang besar.
Su Jingmei mengangkat tangannya perlahan; ekspresi wajahnya juga terlihat rumit karena tidak ingin melihat Mo Lian pergi. Tangannya menepuk-nepuk kepala Mo Lian secara perlahan; penuh kasih sayang yang ia berikan. "Ibu mengerti, tapi, kau harus berhati-hati dan kembalilah segera."
Su Jingmei tidak melepaskan tangannya dari Mo Lian, masih ingin berkumpul bersama untuk sebentar lagi karena kerinduan yang mendalam selama ini ia tahan.
Mo Lian merasakan perasaan Ibunya yang sampai di hatinya. "Ibu, aku tidak akan lama," ucapnya berdiri perlahan—mengalihkan perhatiannya pada Qin Nian dan Yun Ning. "Ada yang ingin aku katakan nanti, sampai saat itu, tunggulah di sini," ucapnya kembali.
Tatapan Mo Lian kembali dialihkan pada Hong Xi Ning yang mendekatinya. "Aku akan membantumu menembus tahap Akhir, atau bahkan God tahap Awal." Ia tidak ingin membiarkan Hong Xi merasa terbebani dengan status sebagai Matriak Sekte Zhongjian, namun kekuatannya lebih lemah darinya.
Mo Lian berbalik tanpa menunggu jawaban dari semua orang yang ada dan terus berjalan menuju pintu keluar seraya menepuk kepala Mo Fefei di sebelah kirinya.
Tubuhnya terpecah menjadi serpihan cahaya kecil seperti saat sinar matahari yang memasuki ruangan melalui jendela kaca.
***
Di Luar Bintang Utama
Mo Lian sudah ada di luar Bintang Utama untuk menunggu kedatangan Hundun, tidak langsung pergi ke sana karena ingin menjaga Bintang Utama. Jika Hundun sudah tiba, barulah akan ia bawa ke tempat yang lebih jauh—agar pertarungan ini bisa mengeluarkan kekuatan penuh.
"Dari belakang?" Mo Lian merasakan Hundun datang dari arah yang berlawanan dari Bumi.
Mo Lian berpindah tempat agar memudahkannya untuk menyingkirkan Hundun dari Bintang Utama dan tidak akan membiarkannya untuk mendekat.
Bintang-bintang di depan Mo Lian mulai redup seperti lampu yang padam karena kehabisan daya, itu adalah tanda Hundun sudah memasuki Galaxy Pusat.
"Kau sudah datang, untuk apa kau bersembunyi? Keluarlah dan bertarung, atau aku akan langsung membunuhmu." Harapan Mo Lian Hundun bisa muncul agar memudahkannya dalam mengambil Esensi Darah dan Inti Spiritual.
Pada awalnya Mo Lian berencana memberikan semuanya untuk Hong Xi Ning, tapi ia berubah pikiran karena ingin mencoba menembus tahap Akhir—agar saat datang ke Alam Selestial, kekuatannya tidak terlalu rendah!
Ruang di depannya terbuka cukup lebar; ada tekanan kuat yang mampu menelan Bintang Utama sedang keluar dari celah dan mencoba menyerang Mo Lian.
Mo Lian mengangkat tangannya sampai setinggi wajahnya; jari telunjuknya mengarah pada celah ruang yang terus mengeluarkan tekanan. "Aku akan mencoba serangan mantra menggunakan pola kuno lainnya yang telah aku teliti selama seratus tahun, aku tidak pernah menggunakan ini. Kau harus bahagia karena menjadi orang pertama yang merasakannya."
__ADS_1
Ukuran pola yang muncul di depan Mo Lian sekitar setengah tubuhnya, memancarkan aura dari: Element Kayu, Petir, Bumi, Air, Waktu dan Angin; ada pula aura lain yang sangat penting bagi kehidupan: Yin dan Yang.
Hundun masih tidak berencana keluar walau sudah membuka celah ruang.
Mo Lian menurunkan tangannya perlahan, menimbulkan perubahan pada pola asing yang ia ciptakan; angin mulai bertiup kencang dengan air yang juga datang membentuk aliran sungai, aliran petir mulai bermunculan di aliran sungai yang menambah daya serang, tanah mulai tercipta dari kekosongan yang membentuk sebuah pulau, dan tunas baru yang tumbuh di pulau.
Ada empat pulau yang mengelilingi celah ruang dan setiap pulau ada pohon yang tingginya belasan mil, aliran sungai saling terhubung pada pulau seperti satu ikatan yang kekal, angin menerbangkan dedauan yang berputar seperti tornado mengelilingi celah ruang.
Waktu, masih belum muncul karena memang belum waktunya.
"Keluar."
Bang!
Celah ruang terpecah seperti kaca yang tercerai-berai menjadi beberapa bagian, memperlihatkan bagian dalamnya yang merupakan Hundun.
Kemunculan Hundun yang keluar dari celah ruang mengubah segalanya menjadi lebih gelap lagi, bahkan kabut hitam mulai mendekat ke arah Mo Lian untuk menelan kekuatannya.
"Kau lebih buruk dari yang aku bayangkan." Mo Lian mengambil langkah seperti sedang berjalan di lantai; kabut hitam berhenti bergerak seperti membeku, sayap Hundun juga terlihat tidak bisa digerakkan dan semua bintang di Galaxy Pusat berhenti.
Walaupun Hundun tidak bisa mengendalikan tubuhnya, tapi suaranya masih bisa keluar.
Mo Lian tidak menjawab pertanyaan Hundun, tapi ada suara dengungan yang berasal darinya dan itu adalah kemunculan 9 Cincin Dewa.
Mo Lian kembali mengangkat tangannya perlahan; menimbulkan pergerakan pada pulau yang mengelilingi Hundun, petir juga bergerak membentuk rantai yang mengikat keenam kalinya agar tidak mampu bergerak lebih jauh meski mencoba mematahkan Element Ruang dan Waktu.
"Alasan mengapa aku bisa melakukannya ...." Mo Lian tidak menjelaskannya dengan kata-kata—karena terlalu membuang waktu.
Bang!
Aura kultivasinya meledak karena segel yang ia tanam di tubuhnya sudah ia buka, segel ini ia pasang agar tidak menekan orang-orang yang berada di sekitarnya. Mereka tidak akan mampu menahan tekanan berdiri di sebelahnya meski tidak ada aura kultivasi yang bocor.
Hundun gemetaran ketika merasakan aura yang sangat menekan, gemetaran bukan karena mampu bergerak untuk lepas dari ikatan rantai petir, melainkan karena takut akan kematian yang sudah berada di depan mata.
Mo Lian merasa tidak perlu berlama-lama menemani Hundun; masih banyak yang harus dilakukannya. "Kemarilah."
"Gruoahhhh!" Hundun tidak bisa menahan rasa sakit saat ratusan ribu dahun diselimuti petir mulai menyayat tubuhnya dan rantai petir yang menyerang jiwanya langsung.
"Gruoahhhh!"
Pembuluh darah Hundun mulai terlihat di permukaan kulit dan berkumpul pada bagian depannya; gumpalan darah mulai keluar perlahan dari titik temu pembuluh darah dan itu terasa sangat menyakitkan, Hundun terus meraung keras namun tidak berdampak pada sekitar, karena kekuatan Mo Lian yang menahan Hundun.
__ADS_1
Jika Hundun tidak berdiam terlebih dahulu di dalam celah dan langsung menyerang, tidak mungkin akan terkena segel yang menahan kekuatannya.
"Mari kita sudahi cukup sampai di sini."
Telapak tangan yang terbentuk dari energi spiritual muncul di belakang Hundun; telapak tangan itu sangat besar bahkan Hundun terlihat seperti batu kerikil yang kecil tak berdaya. Mo Lian mengepalkan tangannya, mengendalikan Telapak Spiritual yang juga melakukan hal yang sama.
"Gruoahhhh—" Hundun kembali meraung merasakan sakit yang menyiksa saat tubuhnya meledak, meninggalkan Inti Spiritual yang melayang di angkasa.
Mo Lian mengangkat tangannya kembali dengan tinggi yang sama seperti kepalanya. "Kemarilah."
Inti Spiritual yang hendak melarikan diri, berbalik arah dan melintas seperti cahaya yang masuk ke dalam kepalan tangan Mo Lian.
Mo Lian melihat Inti Spiritual berwarna merah; masih ada jiwa Hundun yang tersimpan di dalamnya. Ia menyentuh Inti Spiritual dengan kedua tangannya, lalu menariknya perlahan.
Dari Inti Spiritual, terlihat ada api berwarna merah yang keluar darinya; samar-samar ada Hundun yang berada di dalam Api Jiwa.
"Aku sudah memisahkanmu dari Inti Spiritual, kau yang sekarang hanyalah jiwa lemah tak berkekuatan, kau tidak akan mampu mengkultivasikan diri lagi atau beregenerasi. Tapi, bukan berarti aku tidak memberiku hadiah."
Api Jiwa Hundun melayang di telapak kiri Mo Lian tanpa bisa meninggalkan tempat; ada api lain yang merupakan Api 9 Warna yang ia gunakan untuk membakar Inti Jiwa Yan Ji Nan.
"Aku akan membakar jiwamu selama seratus ribu tahun, tunggulah masa-masa itu dengan tenang sampai kematiamu."
Gruoahhhh!
Mo Lian membuka pusaran hitam yang merupakan tempat tak mendasar; hanya penuh dengan kegelapan dan jiwa-jiwa liar yang sangat merusak. Jika ada jiwa yang belum kehilangan kendali dilemparkan ke sana, jiwa itu akan diserang oleh ratusan juta jiwa liar dan tidak sampai membunuhnya.
Ini adalah teknik yang ditemukannya saat sedang berkelana di kehidupan sebelumnya, dan semua jiwa itu adalah jiwa dari Kultivator yang sudah mati pada masa lampau. Ditambah dengan Api 9 Warna, siksaan yang diterima akan lebih menyakitkan tapi mempertahankan jiwa agar tidak hancur sampai waktu yang telah diatur.
Mo Lian menghilangkan 9 Cincin Dewa; waktu kembali berputar dan pulau-pulau yang melayang di angkasa ia biarkan saja, anggap saja sebagai kenang-kenangan dan lagi pula itu baik untuk kultivasi di sana.
"Aku bisa mengalahkan Hundun dengan mudah, sekarang hanya tersisa Taotie dan Qiongqi."
Mo Lian kembali menatap Bintang Utama, lalu pergi ke sana untuk mendatangi keluarga yang menunggunya.
"Tapi, aku tidak boleh terlalu besar kepala, Alam Selestial adalah tempat yang berbeda. Dan, aku merasa God di sana terbagi menjadi beberapa tingkatan."
...
***
*Bersambung...
__ADS_1