Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 466 : Perang Melawan Dewa Pembebasan Kehidupan


__ADS_3

Mo Lian berdiri seorang diri dengan mantap tanpa rasa takut saat memandang Markas Dewa Pembebasan Kehidupan di depannya. Dia seperti semut di hadapan bintang buatan, tapi tidak ada rasa takut sekalipun, melainkan semangatnya dalam bertarung mulai bangkit.


Dia ingin menggunakan kekuatan dari ... haruskah kita menyambutnya dengan “Dewa Kematian”?


Di Bintang Xiang, Mo Lian tidak sepenuhnya bisa mengungkapkan kekuatan itu karena terlalu kuat dan daya hancurnya luar biasa. Di sini, dia tidak perlu khawatir atau menahan diri akan kehancuran, karena niatnya datang ke sini memang untuk menghancurkan.


Mo Lian melihat sekeliling, dia melihat pesawat-pesawat kecil tanpa awak yang mengelilinginya dan mengarahkan senjata yang sudah memadatkan energi.


"Aku orang yang membunuh Wu Gouyu dan orang-orang yang kalian kirim ke Wilayah Selatan."


Tepat setelah Mo Lian mengatakannya, senjata yang sudah mengarah padanya langsung menembakkan energi berbentuk laser.


Mo Lian tidak bergerak sedikit pun ketika melihat semua serangan yang sudah bergerak ke arahnya, tapi saat serangan itu semakin mendekat dan ruang di sekitar semakin terdistorsi seperti memaksanya untuk masuk, dia langsung menghilang dari tempatnya berdiri.


Booom! Duarr!


Serangan itu saling menabrak, menciptakan sebuah ledakan keras yang menggetarkan ruang. Gelombang yang dihasilkan merusak pesawat-pesawat kecil itu, meledakkannya menjadi kembang api di kegelapan.


"Ada hubungan apa kau dengan Kaisar Tanpa Mahkota dari Wilayah Selatan?"


Suara itu datang dari Markas Dewa Pembebasan Kehidupan, diucapkan seperti melalui alat tertentu, bukan menggunakan energi spiritual yang harus disebarkan ke segala penjuru di mana suara itu ingin didengar.


Mo Lian penasaran dengan teknologi aneh yang mampu mengirimkan suara seperti ini, di mana tidak ada udara tapi suaranya tetap terdengar. Jika itu menggunakan energi spiritual, maka dia tidak merasa ada yang salah.


Mo Lian membuka mulutnya ingin menjawab, tapi menelan kata-katanya kembali dan mengirimkan pesan ke Hong Xi Ning melalui transmisi suara:


"Ning'er, aku minta maaf, aku melakukan ini agar mereka tidak lari lagi."


Hong Xi Ning bingung tak mengerti, sampai beberapa detik, dia memahami maksud dari perkataan Mo Lian. Jika Mo Lian mengaku sebagai orang terdekat dari Kaisar Tanpa Mahkota, ada kemungkinan Dewa Pembebasan Kehidupan akan melarikan diri lagi karena tidak ingin menyingung Kaisar Tanpa Mahkota.


"Kaisar Tanpa Mahkota? Orang lemah macam apa? Jika dia tidak memiliki mahkota, apa dia pantas dipanggil Kaisar?" Mo Lian mengatakannya dengan nada menghina, dan dibarengi dengan ekspresi yang sesuai.


Sementara itu, Hong Xi Ning mengepalkan tangannya dan memukul meja. "Nan Ren sialan! Ning'er tahu dia melakukan ini agar mengecoh mereka. Tapi mendengarnya seperti ini, tetap saja membuat kesal!"


Yun Ning merenung sejenak seraya melipat kedua tangannya di depan dada. "Bagaimana kalau kau menghukumnya? Jangan membiarkannya memelukmu, jangan biarkan dia mencium, dan tolak setiap kali dia ingin meminta hal itu padamu."


"Aku ..." Yun Ning menepuk dadanya sendiri dan menambahkan dengan bangga, "Aku siap menggantikanmu untuk melakukannya."


Hong Xi Ning menatap datar Yun Ning seraya mencoba menahan semua amarah. "Bukankah itu seperti aku menghukum diriku sendiri?"


Yun Ning mengangkat bahu dan merentangkan kedua adalah tanpa mengatakan sepatah kata pun.


***


Mo Lian menggaruk telinganya yang gatal, dia merasa ada yang membicarakannya. Ketika dia menyebarkan Kesadaran Ilahi-nya sampai menutupi Pelican di mana istri-istrinya berada, dia melihat mereka tidak berbicara.


"Keberanian apa yang kau miliki untuk datang dan menyerang Dewa Pembebasan Kehidupan?"


"Apakah aku harus berani dulu untuk menyerang kalian?"


Tidak ada jawaban dari dalam Markas Dewa Pembebasan Kehidupan. Tapi tiba-tiba markas itu terbelah di salah satu sisi, memperlihatkan logam besar berbentuk rudal balistik, tapi dengan ukuran yang tidak masuk akal.


Sedetik setelah kemunculan, rudal balistik langsung diluncurkan.


Rudal balistik ini berbeda dengan yang ada di Bumi. Rudal balistik ini mampu membuka ruang dan mengeluarkan sambaran seperti Kesengsaraan Petir.


Mo Lian mengangkat tangannya dengan telapak mengarah ke bawah, kemudian menurunkannya perlahan.

__ADS_1


Distorsi ruang yang dibentuk oleh rudal balistik kehilangan kendali, celah ruang berwarna biru terbuka lebar di atas rudal. Dari celah itu terlihat telapak tangan besar berwarna biru yang jatuh, menangkap rudal agar tidak terbang lebih jauh.


Rudal balistik berhasil ditangkap, tapi sesuatu yang tak terduga terjadi. Ada kekuatan tak kasat mata yang membentuk seperti duri, itu menembus tangan biru yang terbuat dari energi.


Whooooosh! Whooooosh! Whooooosh!


Rudal lain melesat saat rudal pertama mulai retak dan mengeluarkan kilatan listrik di sekitarnya.


Mo Lian mengepalkan tangannya, menghancurkan rudal pertama yang sudah ditangkapnya. Kemudian dia menarik tangannya sampai hampir menyentuh dada, lalu mendorongnya ke depan dengan telapak mengarah ke semua rudal.


Fluktuasi energi memadat di depan Mo Lian, dan dalam waktu seperkian detik, ribuan telapak tangan biru muncul. Tangan itu melesat sama cepat seperti rudal balistik, ketika mereka bertemu, ledakan demi ledakan tercipta sampai merusak ruang sekitar. Angkasa tidak lagi gelap, tapi terbagi menjadi dua: biru dan merah.


Mo Lian menggambar Diagram Delapan Yin dan Yang di depannya dengan ukuran yang sama seperti Markas Dewa Pembebasan Kehidupan.


Bang!


Diagram Delapan Yin dan Yang sedikit bergetar ketika terkena serangan tak kasat mata. Dentuman keras itu merobek celah ruang dak waktu, membuat waktu di tempat ini bergerak lebih lambat dari tempat lain.


Mo Lian tidak menunggu pihak lawan menyerang, dan memilih menyerang balik secepat mungkin. Dia mengangkat tangannya yang memancarkan sinar dengan cahaya merah darah, aura kematian yang mematikan berkumpul mengelilingi Markas Dewa Pembebasan Kehidupan.


Celah ruang terbuka, tapi tidak seperti sebelumnya yang terbuka secara biasa. Kali ini, celah terbuka seperti ada yang merobeknya dari luar, terlihat tangan merah darah yang membukanya paksa.


Ketika celah itu terbuka cukup lebar, terlihat tengkorak hitam dengan api merah menyala di rongga matanya. Itu memandang rendah semua kehidupan, menganggap mereka hanyalah makhluk rendahan yang tak berarti.


Markas Dewa Pembebasan Kehidupan tidak tinggal diam, mereka terus melepaskan serangan gabungan antara senjata konvensional dan modern.


Mo Lian dan “Dewa Kematian” bergerak bersamaan. Membalas serangan dengan kekuatan penuh yang mengakibatkan badai besar, bukan hanya celah ruang yang hancur berkeping-keping, markas besar pun rusak parah akibat serangan bertubi-tubi.


Dewa Kematian mengulurkan tangan merah darahnya, mengayunkannya dengan tamparan keras mengenai Markas Dewa Pembebasan Kehidupan seperti menampar nyamuk.


Dampak dari tamparan Dewa Kematian itu mengguncang Markas Dewa Pembebasan Kehidupan, atau Bintang Shang. Daratan asli yang dimilikinya hancur berkeping-keping, meninggalkan daratan yang terbuat dari logam dalam keadaan yang tidak jauh berbeda.


Tepat sebelum tangan merah darah itu mengenai Bintang Shang, Bintang Shang meledak terlebih dahulu, menciptakan ledakan keras seperti Supernova. Api menyala ke segala arah seperti gelombang tsunami, membakar apa pun yang dilewatinya. Retakan-retakan menjalar seperti sarang laba-laba, kemudian pecah seperti kaca dan melepaskan ledakan api lainnya.


Tangan Dewa Kematian yang ingin menghancurkan Bintang Shang, terlempar karena gelombang kejut yang terlalu kuat, bahkan sampai memberikan retakan-retakan kecil di permukaannya.


Mo Lian tidak mengharapkan bahwa Dewa Pembebasan Kehidupan sangat lemah, dan dia mulai bertanya-tanya bagaimana Hong Xi Jiang bisa diusir dari Wilayah Selatan oleh mereka. Bahkan meski saat itu kekuatannya hanya Jiwa Emas atau Dao Immortal, harusnya bisa bertahan di Wilayah Selatan.


Mo Lian mengangkat alisnya dan tersenyum setelah menemukan jawabannya. "Yue Fu pergi dari Wilayah Selatan bukan karena Dewa Pembebasan Kehidupan, tapi karena ingin menemui Yue Mu yang lahir di Wilayah Utara."


Dia mendongak ketika merasakan fluktuasi spasial yang padat di belakang Bintang Shang, tapi itu hanyalah energi, belum benar-benar membentuk sebuah portal, seolah menunggu ledakan Bintang Shang benar-benar padam.


Setelah ledakan memudar dan celah ruang menutup perlahan, portal biru dengan ukuran yang sama seperti Bintang Shang terbentuk.


Mo Lian bisa merasakan angin panas bertiup kencang mengenai wajahnya. Uap panas dengan asap putih terlihat keluar dari dalam pusaran, membuat ruang terdistorsi. Aura Dewa Surga tahap Akhir dapat dirasakan dari dalam, tidak sedikit, setidaknya ada ratusan dan yang terkuat hampir setara dengan memiliki Simbol Dewa 1 Garis!


Harus dikatakan, ini adalah lawan terkuat Mo Lian yang berasal dari Alam Semesta dan bukan Selestial. Meski dia memiliki banyak Kartu As, dia tidak bisa menggunakan semuanya dan harus berhati-hati dalam bertindak.


"Kau bukan Kaisar Tanpa Mahkota dan tidak ada hubungan dengannya, tapi aku harus mengakui kekuatanmu memang kuat. Saat itu dia masih Dao Immortal, tapi berani melawan Heavenly Immortal, Dewa Pemula bahkan Dewa Merah. Kudengar dia datang ke Wilayah Selatan saat Wu Gouyu memimpin penyerangan ke sana."


"Kekuatanmu, tidak seburuk dari apa yang bisa dicapai Kaisar Tanpa Mahkota."


Suara itu sudah terdengar menggema sampai membuat sedikit getaran, meski yang berbicara masih di dalam pusaran cahaya.


"Tidak seburuk?" Mo Lian mengerutkan keningnya, dia merasa ingin tertawa terbahak-bahak tapi menahannya. Tidak seburuk? Bukankah itu artinya Mo Lian lebih baik?


Walaupun itu adalah pujian, Mo Lian tidak senang sedikit pun, karena dia tahu, kekuatannya di mata Hong Xi Jiang seperti semut. Dia bukannya menyerah karena menganggap dirinya lemah, tapi karena memang dia tahu betul kekuatannya dan harus menerimanya. Tapi alih-alih itu sebagai beban yang mempengaruhi semangatnya, dia menganggapnya sebagai motivasi untuk terus berkultivasi dan melampaui Hong Xi Jiang.

__ADS_1


Meski berat, dia akan melakukannya!


Pusaran cahaya biru mengeluarkan dengungan kuat yang menyakitkan telinga. Terlihat, Profound Ark mulai keluar darinya dengan jumlah ribuan, Profound Ark itu seperti bahtera dengan layar di atasnya. Layar itu berwarna putih, dan samar-samar ada aura membunuh yang tertinggal di sana.


Mo Lian mengerutkan keningnya. Dia bisa merasakan bahwa aura itu tidak jauh berbeda dengan Tulang Monster Dewa Surga, meski dari segi kekuatannya jauh lebih lemah. Mungkin monster itu adalah monster yang belum matang saat terbunuh, tapi tertimbun di tempat terbaik sehingga materialnya masih bertahan sampai saat ini.


Ribuan Profound Ark berhenti tepat di mana Bintang Shang dihancurkan.


Dari Profound Ark terlihat sosok-sosok yang diselimuti energi berbeda warna. Energi mereka seperti campuran antara energi spiritual dari kultivator dan energi bawaan dari monster ataupun binatang buas.


"Cyborg?" Mo Lian tidak berharap akan melihat Cyborg di kehidupan ini.


"Sebelum kita bertarung, aku ingin bertanya, mengapa kalian mengambil Inti Bintang? Mengapa kalian bersikap baik di permukaan, tapi berbuat sebaliknya di balik layar?" Mo Lian tahu pertanyaan ini sangat kekanak-kanakan, tapi dia benar-benar penasaran dan ingin mendengarnya langsung dari Dewa Pembebasan Kehidupan itu sendiri.


"Bertarung?" Suara hinaan yang terdengar tertawa datang dari Profound Ark terbesar berwarna biru. "Hanya karena kau mampu menghancurkan Bintang Shang, kau sudah besar kepala dan menganggap setara dengan kami? Apa kau bodoh? Yang kau bunuh tadi hanyalah semut, Bintang Shang hancur juga bukan karena ulahmu, tapi karena disengaja."


Mo Lian tidak gampang terprovokasi oleh kata-kata semacam itu, setidaknya setelah pernah melihat kematian istri-istrinya, dia selalu bersikap tenang.


"Tapi karena pada akhirnya kau akan mati, tidak ada salahnya untuk memberitahukannya. Mengapa kami mengambil Inti Bintang? Tentu saja karena kami Dewa! Dewa bisa menciptakan kehidupan! Kami mencari Inti Bintang untuk membuat makhluk hidup yang sempurna! Memiliki pemikiran luar biasa, kekuatan yang tak terbayangkan!"


"Jika kami berhasil menciptakan makhluk seperti itu! Kami Dewa Pembebasan Kehidupan akan membuat aturan baru di mana semua orang dibebaskan dari aturan kultivasi, semua orang bisa mendapatkan kekuatan yang sama tidak peduli apakah mereka berbakat atau tidak, bekerja keras atau tidak. Mereka hanya perlu menawarkan darah dan jiwa, maka mereka akan mendapatkan kekuatan yang mampu menandingi Dewa Bumi bahkan Dewa Surga!"


Mo Lian merasa tujuan itu terlalu gila. Dilihat dari keuntungannya, memang baik karena semua orang akan sama tanpa harus melakukan banyak usaha, tidak ada lagi iri dengki terhadap orang-orang yang berbakat. Tapi untuk mengorbankan jiwa? Itu sama saja kehilangan diri sendiri dan hanya akan menjadi cangkang kosong tanpa akal.


Keinginannya untuk membunuh bangkit dari dalam lubuk hatinya. Dia mendongak melihat semua Profound Ark di depannya. "Singkatnya, kau ingin menguasai Alam Semesta?"


"Hahahaha! Ya!"


Mo Lian mengayunkan tangan kanannya ke depan seperti melempar batu. Tiba-tiba di atas kepalanya ada sosok Dewa Kematian yang diselimuti energi merah darah, itu melemparkan rantai dengan ketebalan pohon.


Rantai merah darah yang diselimuti kabut hitam, berayun seperti bulan sabit yang jatuh dari langit menghantam bumi.


Rantai itu menimbulkan tekanan angin yang mendorong formasi Profound Ark bahkan menghancurkan sebagiannya.


Mo Lian mengepalkan tangan kanannya, kemudian menariknya sekuat tenaga.


Rantai merah itu mengencang sampai menimbulkan suara benturan logam keras yang merusak permukaan Profound Ark. Kemudian rantai itu kembali ditarik, tapi di ujung rantai ada sabit merah besar yang memotong secara horizontal.


Barisan Profound Ark terbelah menjadi dua bagian dan menimbulkan reaksi berantai. Ledakan demi ledakan kembali terdengar dengan nyala api.


Bang!


Dewa Kematian menangkap sabit merah dan mengayunkannya perlahan.


Swoosh!


Ayunan sederhana itu menciptakan tebasan berbentuk seperti bulan sabit yang melesat secara menyilang, menyerang Profound Ark yang masih bertahan. Tapi saat hampir mengenainya, ribuan dinding oranye muncul membentuk formasi pertahanan yang menghalaunya.


Ledakan keras tidak bisa dihindarkan, kedua belah pihak terhempas ke sisi yang berlawanan.


Mo Lian hanya mundur beberapa mil. Dia menunduk melihat tangan kanannya yang gemetaran dan mati rasa. "Cukup sakit."


Walaupun tidak kekuatan penuh saat mengayunkan sabitnya, tapi tetap saja untuk mampu menghalau serangan, ini menandakan bahwa Dewa Pembebasan Kehidupan memiliki kemampuan untuk menyombongkan diri.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2