Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 447 : Meninggalkan Bintang Hijau


__ADS_3

"Kaisar Manusia ... masih hidup!"


Berita ini menimbulkan kegemparan, banyak yang tidak percaya dengan keasliannya, tapi karena yang mengatakannya adalah Kaisar Giok, semua orang mulai bertanya-tanya apakah ini benar? Semua orang ingin turun ke Alam Manusia untuk melihatnya langsung, tapi mereka tidak bodoh. Jika turun, maka Gerbang Selestial akan hancur, dan jika semuanya benar, mereka akan terbunuh oleh Kaisar Manusia.


Jadi, entah benar atau tidak, keduanya bukanlah keputusan yang baik. Sama-sama merugikan.


Meski mereka di sini tidak bertarung secara langsung, tapi pendahulu mereka sudah pernah merasakan kekuatan Kaisar Manusia. Hampir setengah Dewa Abadi dari Alam Selestial terbunuh, dan masih banyak yang terluka parah sampai sekarang dan tidak bisa disembuhkan, ataupun mati perlahan di bawah rasa sakit.


Semua orang di sini sangat marah dan memiliki dendam yang sama, tapi, apakah mampu? Apakah siap mati?


Di bawah kebahagiaan dan keamanan selama ini serta penghargaan yang dibawa pendahulu, banyak yang puas dengan apa yang mereka miliki, mereka sombong tanpa ingin berlatih, karena meski mereka tidak kuat, tidak ada yang berani menyinggung. Tapi sekarang setelah tahu bahwa Kaisar Manusia masih hidup, mereka takut, menyesal karena bermalas-malasan.


Apabila perang Tiga Alam kembali pecah, kebanyakan orang di sini pastinya akan terbunuh dengan mengenaskan dan mungkin tanpa perlawanan.


"Yang Mulia Kaisar Giok. Apakah Kaisar Manusia ... benar-benar masih hidup?" Yang bertanya adalah seorang pemuda yang membawa kapak besar di punggungnya, yang dari segi ukuran dua kali dari tubuhnya.


Kaisar Giok menatapnya tajam, dia sangat marah karena pertanyaan ini sama seperti meragukan kemampuannya untuk mengamati Alam Manusia. Dia membuka mulutnya, tapi sebelum sempat berbicara, ada yang menyela.


"Tidak mungkin!"


Kaisar Giok hendak memberi pelajaran pada orang yang menyela pembicaraannya, tapi saat melihat siapa yang datang, dia memilih untuk tetap diam dan menggigit bibirnya. Dia sangat kesal terhadap orang ini, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena bahkan Gurunya dulu tidak bisa melakukan apa pun. Orang itu adalah Pohon Perunggu Surgawi.


Kedatangan Pohon Perunggu Surgawi mematahkan kepercayaan semua orang terhadap Kaisar Giok dan mereka lebih mendengarkan Pohon Perunggu Surgawi. Meski kebanyakan orang tidak melihatnya langsung, tapi dikatakan bahwa Pohon Perunggu Surgawi memiliki andil besar dalam perang Tiga Alam.


Jadi saat Pohon Perunggu Surgawi mengatakan bahwa Kaisar Manusia tidak mungkin masih hidup, mereka menghela napas lega dan bahagia. Dengan demikian, mereka tidak perlu takut jika ada perang Tiga Alam lagi, karena ketakutan terbesar mereka adalah Kaisar Manusia.


Meski Kaisar Giok merasa kesal, dia tetap menunjukkan rasa hormatnya. "Pak Tua Perunggu. Apakah Anda sudah menemukan keberadaan Pohon Yin Surgawi?"


Senyum Pohon Perunggu Surgawi membeku, tapi dia mencoba untuk tetap tenang dan menjawab, "Aku sudah menemukannya, dia ada di Wilayah Utara di Alam Manusia." Jelas, dia sendiri tidak dapat menemukannya. Tapi, mau taruh di mana wajahnya jika dia mengatakan bahwa dia tidak tahu?


Kaisar Giok masih memiliki keraguan, tapi dia menahannya dan kembali bertanya, "Apakah kita akan mengirim Dewa Abadi lagi?"


Mendengar itu, semua orang di sini sangat gugup. Mereka tahu, arti dikirim maka tidak mungkin kembali setidaknya selama 100.000 tahun mengikuti waktu Alam Selestial. Jika mengikuti waktu Alam Manusia, itu adalah 13.322.500.000 tahun. Apakah mereka masih bisa bertahan di sana?


Pohon Perunggu Surgawi berbalik membelakangi Kaisar Giok. "Kita tunggu dulu, jangan tergesa-gesa mengirim Dewa Abadi. Kita tidak bisa selalu mengirim, kekuatan kita terbatas, untuk saat ini, tingkatkan kekuatan semua Dewa Abadi. Setelah siap, kita akan mengambil langkah besar, mengirim semua Dewa Abadi, musnahkan semua Ras Manusia."


Kaisar Giok ragu-ragu, tapi tetap menganggukkan kepalanya. Kemudian, ada hal penting lagi dan dia kembali bertanya, "Lalu, apakah Anda mengetahui tentang kekuatan yang menahan Mata Surgawi-ku?"

__ADS_1


Pohon Perunggu Surgawi menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Jangan terlalu banyak berpikir, itu hanya larangan dari Dao Surgawi. Setelah kendaliku menurun, Dao Surgawi melarang Dewa Abadi turun ..."


Pohon Perunggu Surgawi berbalik menatap Kaisar Giok. "Aku sendiri bingung, menurut Catatan Kuno Selestial, Dao Surgawi yang menginginkan perang Tiga Alam. Tapi mengapa sekarang melarangnya?"


Semua orang tercengang, ini adalah kali pertama mereka mendengar tentang Dao Surgawi yang memulai perang. Bahkan Kaisar Giok tidak mengetahuinya.


Pohon Perunggu Surgawi tersenyum tipis dan kembali datar, senyumnya hanya seperkian detik. Kemudian dia berbalik, lalu pergi tanpa kata.


Kaisar Giok mengerutkan keningnya saat melihat Pohon Perunggu Surgawi, dia masih curiga tentangnya. Terutama tentang bagaimana cara memanipulasi Dao Surgawi.


...***...


—Sekte Dongfangzhi, Bumi, Wilayah Timur—


"Sudah waktunya."


Mo Qian mengangkat sebelah alisnya ketika melihat Hong Xi Jiang yang menoleh ke belakang dan sedikit mengangkat kepalanya, tapi pandangnya seperti menembus semua hal di dunia. "Ada apa, Master?"


Hong Xi Jiang menoleh menatap Mo Qian dengan tatapan tajam. "Bisakah kau berhenti, itu memuakkan. Jika sebelumnya mungkin tidak masalah, tapi aneh rasanya saat putriku dan putramu sudah menikah, tapi kau memanggilku dengan sebutan “Master”."


Mo Qian tertawa terbahak-bahak. Dia mengangkat bidak catur dan meletakkannya di salah satu tempat di Papan Weiqi. "Aku menang."


Mo Qian terdiam tanpa kata saat melihat Hong Xi Jiang yang langsung pergi. Kemudian, dia tersentak saat mengingat sesuatu. "Sialan! Mana Batu Spiritual milikku? Kau belum membayarnya!"


...


Hong Xi Jiang mendengarnya, tapi memilih mengabaikannya. Dia datang ke belahan dunia lain, mendatangi Wang Yue Fei yang sedang membunuh monster di dalam lautan. "Sayang, Alam Selestial sudah mulai bertindak. Bocah Giok sudah memata-matai Alam Semesta, seharusnya tidak lama lagi perang akan pecah. Sudah waktunya kita memanggil yang lain."


Wang Yue Fei menganggukkan kepalanya saat menyeret mayat paus yang ukurannya sepuluh kali ukuran normal. "Haruskah kita memanggil yang lain atau menunggu Lian'er?"


"Bocah Gila itu?" Hong Xi Jiang merenung sejenak, dan menambahkan, "Baiklah, aku ingin melihatnya dan menamparnya."


Wang Yue Fei tertawa kecil seraya menutup mulutnya dengan tangan kanannya. "Jangan terlalu keras dengannya, dia sangat menggemaskan kau tahu. Aku menyukainya."


Hong Xi Jiang terdiam sejenak seperti sedang bertarung dengan pikirannya sendiri, kemudian dia menyerah dan menghela napas panjang. "Baiklah ..."


Wang Yue Fei kembali tertawa kecil, lalu dia meminta Hong Xi Jiang untuk kembali bersamanya ke Sekte Dongfangzhi.

__ADS_1


...***...


—Kota Louhu, Bintang Hijau, Wilayah Barat—


Mo Lian melayang di langit Kota Louhu bersama dengan istri-istrinya dan Xiao Yi yang menunggu di belakang dalam diam tanpa suara.


Xiao Yi memandangi empat orang di depannya dengan alisnya yang turun, mengungkapkan tatapan tatapan kerinduan, kesedihan dan keengganan. Dia meremas tangannya sendiri di depan dada, tubuhnya gemetar dan air matanya mengalir.


Semua orang yang berada di bawah, melihat ke atas. Banyak yang sedih, mereka tahu bahwa hari ini dan seterusnya, Paviliun Jarum Emas tidak lagi sama.


Pegawai dari Perusahaan Pengawalan Yun merasakan emosi yang lebih dalam, karena awalnya mereka semua adalah pengangguran yang kebingungan mencari pekerjaan, bingung untuk menghidupi istri maupun anak-anaknya. Tapi setelah bergabung dengan Perusahaan Pengawalan Yun, bukan hanya mereka bertambah kuat, penghasilan mereka di atas rata-rata dan tiap tahunnya mendapatkan bonus.


Mo Lian membuka matanya perlahan dan mengangkat tangannya. Profound Ark muncul udara dari kekosongan ruang, menghalangi sinar matahari dan membuat Kota Louhu gelap seperti malam hari.


Mo Lian langsung melompat ke Profound Ark meninggalkan istri-istrinya.


Hong Xi Ning dan Yun Ning mengusap kepala Xiao Yi, lalu mengikuti Mo Lian.


Qin Nian memeluk Xiao Yi, dia sedikit sedih harus meninggalkan Xiao Yi. Meski hanya setengah tahun, dia sudah memiliki hubungan yang dalam dengan Xiao Yi. Dia menarik napas dalam-dalam, dan berkata dengan lembut, "Xiao Yi, terus berlatih dan bertambah kuat."


Xiao Yi menganggukkan kepalanya saat memeluk Qin Nian. Tapi tiba-tiba, dia merasakan kosong, dia membuka matanya, menemukan bahwa Qin Nian tidak ada lagi. Dia mendongak, melihat Profound Ark yang terbang menjauh.


Xiao Yi terbang lebih tinggi mencoba menggapai Profound Ark, tapi dengan kekuatannya, dia tidak mampu menahan atmosfer dan akhirnya terhempas menjauh. "Guru!" Ia berteriak dalam kesedihannya.


Tidak ada balasan dari Profound Ark, sampai Profound Ark itu menghilang dari pandangannya.


Tepat setelah Profound Ark menghilang, tiba-tiba dia merasakan sakit dan gambaran-gambaran mulai memasuki benaknya. Itu bukan hanya terjadi pada Xiao Yi, tapi semua orang di Kota Louhu merasakannya.


Setelah beberapa waktu yang tidak diketahui, Xiao Yi masih memegangi kepalanya. Mata dan mulutnya terbuka lebar, dia terkejut dengan ingatan yang tiba-tiba muncul, atau harus mengatakan bahwa ingatannya kembali.


"Tuan Guru ... adalah Dewa." Di sini, Xiao Yi mengetahui bahwa yang dia katakan bukan tentang tingkatan Dewa dalam kultivasi, tapi benar-benar “Dewa”.


Yang lain tidak berpengetahuan seperti Xiao Yi, tapi mereka semua di kota ini sudah bisa menebak tentang alasan mengapa mereka memiliki kualifikasi untuk melangkah ke Jalan Kultivasi. Itu semua karena Mo Lian. Tanpa aba-aba atau perintah, hampir semua orang di kota bersujud untuk mengungkapkan rasa terima kasih mereka.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2