
Hanya dalam kurun waktu kurang dari dua jam, helikopter yang ditumpangi Mo Lian dan Mo Fefei sudah berada di langit Mansion Bai Long, dengan di halaman depannya sudah berdiri Mo Qian dan Su Jingmei yang duduk bersantai bersama.
Mo Lian membuka pintu helikopter sembari membawa ketiga orang yang tidak sadarkan diri. Ia menoleh menatap Mo Fefei yang memainkan handphone. "Fefei, aku akan turun duluan," ucapnya kemudian melompat.
"Eh?!" Mo Fefei menolehkan kepalanya ke kiri melihat Mo Lian yang melompat. Dengan cepat ia melepaskan sabuk pengaman dan mengikuti Mo Lian yang lompat dari helikopter.
Ketika Mo Lian sudah mendarat di halaman depan, Mo Qian dan Su Jingmei beranjak dari kursi yang berada di teras rumah, kemudian berjalan menghampirinya dengan langkah kaki yang berat seperti menahan kemarahan.
Mo Qian berhenti saat hanya tersisa dua meter dari Mo Lian. Ia mengalihkan pandangannya pada tiga orang yang tergeletak tak berdaya di belakang Mo Lian. "Siapa dari mereka yang ingin meniduri istriku?! Saat masa-masa kuliah, ada yang mengatakan hal yang sama, dan orang itu tidak lagi bisa berjalan dan hanya bisa hidup di tempat tidur sampai sisa hidupnya."
Kemarahan Mo Qian terlihat jelas di wajahnya, tangannya terkepal erat dan membuat sedikit retakan di batu alam yang menjadi jalan di halaman.
Mo Lian mengalihkan pandangannya pada Su Jingmei untuk memastikan apakah yang dikatakan Mo Qian adalah kebenaran, ataukah hanya untuk menakut-nakuti ketiga orang yang dibawanya.
Su Jingmei yang merasakan tatapan mata Mo Lian hanya diam dan mengangguk kecil sebagai balasan.
Mo Lian membuka mulutnya. Ternyata Ayahnya sudah keras dari dulu sebelum menikah, dan mungkin saja itulah yang membuatnya juga sangat keras pada orang lain, seperti saat masih sekolah menengah pertama, ia sering terlibat dalam perkelahian.
"Dia adalah orang yang melecehkan Ibu, berasal dari Perusahaan Lianjin, dan ini adalah Lu Fan Gang, orang yang saat di sekolah menengah pertama selalu mencari cara untuk berbuat yang tidak baik pada Fefei, saat di acara reuni, dia menggunakan obat tidur dan perangsang kepada semua orang, yang nantinya akan dijual pada puluhan pria paruh baya. Kemudian satu lagi, dia adalah Lu Xian Zhi, Kepala Keluarga Lu." Mo Lian mengenalkan satu persatu dari ketiga orang yang dibawanya dari Kota Hanzhong.
Bang!
Kekuatan Mo Qian dan Su Jingmei terlepas dari dalam tubuh mereka saat mendengar penjelasan Mo Lian. Terlihat jelas kemarahan di wajah keduanya, serta keinginan membunuh yang terpancar di mata mereka.
"Apakah karena dia juga yang membuatmu sering terluka saat kecil dulu? Fefei pernah bercerita pada Ibu, jika kau bertarung melawan belasan orang, dan dia memukul punggung mu dengan tongkat besi."
Mo Lian terdiam, ia tidak pernah melihat Ibunya yang sangat marah seperti saat ini. Saat sudah berlatih, ia juga tidak pernah sekalipun melihat Ibunya menggunakan kekuatannya sebagi seorang Kultivator, bahkan aura pun tidak pernah dilepaskan, meski hanya sedikit.
__ADS_1
Mo Qian berjalan melewati Mo Lian, dan berjongkok untuk mengangkat kepala pria paruh baya. "Kau melakukan apa yang Ayah katakan, tulang-tulangnya juga banyak yang hancur dan tidak mungkin bisa disembuhkan lagi dengan teknologi modern." Ia berdiri perlahan, kemudian melompat pergi dari halaman seraya membawa pria paruh baya itu.
Mo Lian melihat Mo Qian yang pergi untuk beberapa saat, kemudian mengalihkan pandangannya pada Su Jingmei. "Apa yang akan dilakukan Ayah? Apakah dia akan membunuhnya? Bukankah nama Perusahaan Meiliafei agak buruk jika kita membunuhnya?" Ia tidak masalah jika harus membunuh, hanya saja ia tidak ingin jika Perusahaan Meiliafei dicap sebagai organisasi kriminal.
Su Jingmei menarik kembali aura kultivasinya, ia berjalan menghampiri Mo Lian dan menyentuh kedua pipi anaknya. "Lian'er tidak perlu khawatir, ayahmu sudah mengirimkan orang penting dari Pasukan Mata Setan dan Pasukan Taring Naga itu pergi ke Hua Canting, serta Walikota di sana juga pergi ke sana ..."
"Kau mungkin sudah bisa menebaknya, Perusahaan Meiliafei hanya melakukan pembalasan, menjaga diri. Semua kesalahan sudah dilemparkan pada Keluarga Lu dan Perusahaan Lianjin, Lian'er juga bisa tenang, kita tidak membayar Walikota di sana ..."
"Sebelum pergi ke acara reuni, Fefei sudah mengatakan dengan jelas siapa saja yang datang ke acara reuni dan di mana tempatnya berada. Kemudian ibu dan ayah menyelidiki satu persatu orang dari keluarga besar, dan menemukan fakta bahwa Perusahaan Lianjin serta Keluarga Lu sering melakukan kejahatan, seperti menjual anak-anak ke luar negeri, menculik wanita dan mengambil organ dalamnya ..."
Su Jingmei terdiam sejenak untuk mengambil napas, kemudian melanjutkan perkataannya, "Banyak hal lain lagi, namun akan memakan waktu lama untuk menceritakannya. Lagi pula, itu semua tidak terlalu penting."
"Baiklah." Mo Lian mengangguk kecil sembari menyentuh tangan Ibunya yang sedang menyentuh kedua pipinya. "Terimakasih, Ibu." Ia mengecup lembut kening Su Jingmei.
Su Jingmei sedikit kaget saat Mo Lian mencium keningnya. Ia terdiam sejenak sebelum kembali berucap, "Apakah kau mencoba menggoda Ibumu sendiri," ucapnya sembari memukul pinggang Mo Lian.
"Hahaha, maaf-maaf." Mo Lian tertawa kecil dan pergi meninggalkan Su Jingmei dengan Mo Fefei di halaman depan.
"Aku merasa ada sesuatu yang aneh." Ia mengalihkan pandangannya pada Mo Fefei. "Fefei, apakah kau juga merasakan hal yang sama saat sudah lama tidak bertemu dengan Kakakmu?"
Mo Fefei terdiam sejenak dengan mata terpejam sembari menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Tak lama kemudian, ia membuka matanya kembali. "Perubahan yang aneh, sekitar seminggu setelah tidak bertemu dengan Kakak. Dia datang ke sekolahku, dan memelukku erat dengan mata nanar, seperti orang yang menyimpan rindu, kesedihan, takut kehilangan, kesepian, marah, dendam," ucapnya yang mengangkat kedua bahunya.
Su Jingmei menganggukkan kepalanya. Ia juga merasakan apa yang dirasakan Mo Fefei. Ketika sudah lama tidak bertemu dengan Mo Lian, ia merasa Mo Lian sangat berubah, seperti orang yang sudah pernah merasakan rasa yang sangat menyakitkan di dunia, sudah pernah merasakan kehilangan orang yang sangat disayangi dan tidak ingin mengulangi kejadian itu.
"Biarlah, apapun itu, Ibu sangat senang jika dia sangat menyayangi keluarganya, meski saat kecil juga sudah menyayangi Ibu dan dirimu," ucap Su Jingmei yang mengusap lembut puncak kepala Mo Fefei.
Sementara itu. Mo Lian yang berada di kejauhan bisa mendengar pembicaraan antara Su Jingmei dengan Mo Fefei. "Seperti yang diharapkan dari Ibu, hanya dari tatapan mata saja, dia sudah bisa menyimpulkan apa yang telah ku lalui. Mungkin, sebentar lagi aku akan menceritakan apa yang pernah ku lalui dulu."
__ADS_1
"Hanya mereka bertiga, tidak lebih ..."
Mo Lian sudah berada di hutan yang terus berseberangan dengan Danau Bulan. Ia terus masuk mencari keberadaan Ayahnya yang dirasakannya jauh di dalam, ia merasakan adanya dua orang di sana, namun tak lama kemudian, keberadaan satu di antara mereka berdua menghilang.
Hanya membutuhkan belasan detik, ia sudah tiba di aura yang dirasakannya. Di sana terlihat Ayahnya berdiri di depan api merah dengan bau daging yang terbakar. Tanpa berlama-lama, ia turun perlahan di tengah-tengah hutan dan mendarat di belakang Ayahnya berdiri.
"Bagaimana dengan yang di sana?" tanya Mo Qian langsung pada intinya.
Mo Lian berjalan dan berhenti tepat di sebelah Ayahnya sembari melihat pria paruh baya yang terbakar. "Ibu dan Fefei yang mengurus. Ngomong-ngomong, aku ingin pergi ke Negara Indonesia dalam waktu dekat."
Mo Qian mengangguk kecil, kemudian kembali bertanya, "Apakah ada sesuatu yang ingin kau urus di sana?"
"Aku ingin pergi ke suatu pulau yang bernama Borneo atau Kalimantan. Aku mendengar jika di sana ada suatu benda atau tempat yang cocok untuk memurnikan senjata, meski bahan yang digunakan tidak lengkap."
Informasi ini didapatnya saat menyelam ke internet saat masih berada di bangku sekolah menengah atas di tahun pertama. Ia tidak sengaja melihat artikel tentang Pulau Kalimantan, dan dikatakan banyak tempat yang menyimpan suatu misteri, seperti dimensi lain maupun benda pusaka yang terkubur jauh di kedalaman tanah.
Mo Lian mengingat informasi yang diketahuinya dulu saat berada di dalam helikopter tadi ketika perjalanan pulang.
"Pulau Kalimantan 'kah?" Mo Qian menengadahkan kepalanya melihat langit malam seraya menghembuskan napas panjang. "Sepertinya itu menarik ..."
Mo Qian menolehkan kepalanya menatap Mo Lian. "Ayo kita pergi bersama!" ucapnya yang mengangkat ibu jarinya.
"Tentu." Mo Lian mengangguk kecil. Ia menoleh membalas tatapan Mo Qian. "Asalkan Ayah mendapatkan izin dari Ibu."
Mulut Mo Qian terbuka saat mendengar jawaban Mo Lian. Ia mengalihkan pandangannya lurus ke depan. "Sepertinya, Ayah tidak jadi ikut denganmu. Ayah ingin membantu Ibu mengurus perusahaan ..."
...
__ADS_1
***
*Bersambung...