
Dalam perjalanan pulang, Mo Lian tidak lupa membeli oleh-oleh untuk Mo Fefei, entah itu makanan khas daerah maupun pakaian, serta benda-benda lain yang menurutnya sangat unik, seperti ukiran kayu.
Uang cash yang ditukarkan Mo Lian juga tidak terlalu banyak, sehingga ia harus menahan diri meski ingin membeli banyak barang, dan harus menyisakan untuk di Kota Jakarta nanti.
Ketika sudah kembali ke Novotel Banjarmasin Airport, ia langsung check out tanpa menunggu keesokan harinya, dan berniat untuk kembali ke China pada hari ini juga. Karena ia masih harus mengurus banyak hal, salah satunya adalah mengevaluasi pelatihan semua orang di Sekte Dongfangzhi.
Saat ini ia berada di halaman depan hotel dengan Wanda maupun sopir yang membawanya ke Lebak Naga.
"Apakah kalian memiliki dompet digital?" Mo Lian berencana mengirimkan uang tip melalui dompet digital yang mampu mentransfer antar bank di dunia.
Keduanya terdiam untuk beberapa saat, mereka tidak mengerti mengapa Mo Lian menanyakan itu. "Tentu."
Mo Lian menganggukkan kepalanya, dan mulai menscan barcode milik keduanya secara bergantian, kemudian mengirim sejumlah uang yang menurutnya sesuai, atau bahkan lebih. Ia memberi uang pada sopir mobil itu sebanyak $20.000, dan untuk Wanda sebanyak $25.000.
"I- Ini ..." Wanda tidak bisa berkata-kata lagi saat melihat jumlah uang yang masuk ke akunnya. Itu adalah jumlah yang sangat banyak.
Begitupun dengan pria yang tangannya bergetar saat memegang handphone, dengan jumlah sebanyak itu, ia bisa membuka usaha sendiri dan tidak harus bekerja menjadi sopir untuk hotel.
Mo Lian berjalan menuju jalan utama untuk menunggu kedatangan taxi yang telah dipesan oleh Wanda sebelumnya, yang nantinya mengantarkannya ke Bandara Syamsudin Noor.
Keberangkatannya ke Kota Jakarta bukan hanya ia dengan Qin Nian, tapi dengan Wanda yang ingin kembali ke tempat tinggalnya di sana, dan melanjutkan sekolahnya setelah mengambil beberapa hari izin.
Tak lama setelah menunggu, akhirnya taxi berwarna biru sudah datang. Ia dan Qin Nian duduk di kursi belakang, dengan Wanda yang berada di sebelah setir kemudi.
Tanpa berlama-lama lagi, taxi itu melesat dengan kecepatan stabil menuju bandara yang berada di seberang mereka, namun pintu masuknya sangat jauh karena harus memutar dan menelusuri jalan-jalan yang berliku-liku, berkelok-kelok bagaikan hidup yang tidak menentu.
***
Keesokan Harinya
__ADS_1
Mo Lian dan Qin Nian sudah sampai di Bandara Shuangliu Chengdu dengan selamat tanpa ada hal-hal yang aneh. Selama di Kota Jakarta, ia sudah membeli oleh-oleh untuk Mo Fefei dalam jumlah yang lumayan banyak.
Ketika Mo Lian menginjakkan kakinya di ruang tunggu bandara di mana pesawat mendarat, ia merasakan adanya perubahan aliran energi spiritual di Daratan Huaxia. Energi spiritual di sini menjadi lebih padat dari sebelumnya, dua kali lipat dari sebelumnya.
"Kita harus kembali ke Sekte Dongfangzhi secepatnya, perubahan terjadi di Daratan Huaxia. Sepertinya akan ada harta Surga dan Bumi yang terlahir, seperti Teratai Sembilan Warna. Kemungkinan organisasi tersembunyi di Bumi akan muncul ke permukaan, dan jika itu terjadi, ketenangan di Bumi akan berakhir."
Mo Lian berlari di dalam bandara, bersama dengan Qin Nian yang mengikutinya. Ia berlari tanpa menghiraukan himbauan dari penjaga keamanan ataupun pendatang lainnya yang menegurnya. Mungkin bagi manusia biasa tidak ada yang aneh dengan hari ini, karena mereka tidak bisa merasakannya, namun bagi Kultivator, ini adalah perubahan yang luar biasa.
Tapi tentu saja ada hal lain yang yang bertolak belakang dengan berkah meningkatnya kepadatan energi spiritual.
Setelah tiba di bagian terminal hanya dalam hitungan menit, mereka berdua kembali berlari menuju tempat yang lumayan sepi, kemudian melompat dari tempat itu untuk terbang jauh ke kawasan Real Estate Emei.
"Mungkin karena perubahan aura inilah yang mengakibatkan organisasi di seluruh dunia akan keluar. Waktu kemunculan mereka hampir sama dengan perubahan aura, apakah mereka sudah menduga akan terjadi hal ini? Jika begitu, maka ada orang yang kuat di sana, yang mampu melihat waktu ke depan ..."
Tapi, aku kira itu tidak mungkin. Seandainya dia benar-benar mampu melihat masa depan, seharusnya dia sudah terdengar di kehidupan sebelumnya. Ini pasti ada hubungannya denganku yang terlahir kembali, dan tindakanku yang menyembuhkan naga terakhir.
Hanya dalam hitungan menit saja, Mo Lian sudah berada di langit Sekte Dongfangzhi. Tanpa menunggu lama, ia turun dari ketinggian langit, dan mendarat di tengah-tengah danau dengan cukup keras, membuat angin menyebar ke segala arah.
Kedatangan Mo Lian yang sangat tiba-tiba ini membuat semua orang di Sekte Dongfangzhi yang sedang berlatih terkejut, dan mereka menganggap ada serangan yang menyerang sekte. Bahkan sudah ada yang mempersiapkan serangan, namun dihentikan oleh Mo Qian.
"Tunggu! Itu bukanlah serangan, itu Lian'er yang bepergian ke negara lain." Mo Qian berjalan menuju tengah-tengah danau yang tertutupi oleh kabut putih.
Dengan kibasan tangan Mo Lian yang berada di dalam kabut, angin bertiup membelah kabut putih itu untuk menyebar, kemudian memperlihatkannya pada semua orang yang masih berdiri dengan tegang.
"Ayah, apakah ada hal aneh yang terjadi dalam beberapa hari terakhir? Aku merasa kepadatan aura spiritual di Daratan Huaxia mulai meningkat pesat."
Mo Qian mengerutkan keningnya saat melihat ekspresi Mo Lian yang terlihat tidak biasa. "Apakah itu hal yang buruk jika aura spiritual meningkat?"
Mo Lian mengangguk kecil, kemudian menjawab pertanyaan itu sembari berjalan, "Mungkin ini terlihat sebagai berkah untuk para Kultivator, tapi harus diingat. Jika perubahan aura terjadi, mungkin ada sesuatu yang memicunya, mungkin itu adalah harta. Jika benar, maka akan terjadi pertempuran besar yang terjadi karena memperebutkan harta itu."
__ADS_1
Mo Qian menghentikan langkah kakinya yang menuju Aula Sekte. Ia teringat akan suatu hal yang menurutnya sangat tidak masuk akal. "Tiga hari lalu, banyak pilar-pilar cahaya dari berbagai tempat di Daratan Huaxia. Pilar itu seperti mewakilkan satu organisasi, dan jumlahnya lebih dari dua puluh pilar."
Tiga hari lalu? Itu adalah hari di mana ia memasuki dimensi ruang yang berada di Lebak Naga. Ia berpikiran bukan itu alasan mengapa aura spiritual di Bumi mulai berubah, lebih tepatnya di Daratan Huaxia. Bagaimanapun selama ia memasuki berbagai dimensi ruang, itu tidak menimbulkan dampak apapun.
Mo Lian menengadahkan kepalanya melihat langit biru. "Ayah, mungkin saja dalam waktu dekat, akan ada orang yang menyerang Sekte Dongfangzhi, atau organisasi yang menyerang berbagai organisasi lain, entah hanya di Daratan Huaxia, atau seluruh penjuru dunia," ucapnya datar tanpa memperlihatkan emosi.
"Baiklah ..." Mo Qian menganggukkan kepalanya. "Ngomong-ngomong, aku mendengar dari Ong Hei Yun yang sedang bertugas di Kota Beijing, jika di Laut Kuning sering terdengar suara aneh dari dalam laut ..."
Mo Lian menolehkan kepalanya menatap Mo Qian. "Kapan?" Ia menduga di dalam air laut sana terdapat suatu makhluk yang mungkin saja bisa menjadi ancaman bagi Daratan Huaxia.
Mo Qian menoleh ke kiri membalas tatapan Mo Lian. "Sama saat aura spiritual mulai berubah, dan sampai saat ini terus terdengar."
Mo Lian terdiam dengan mulut sedikit terbuka. Kloningannya sedang berada di ruang bawah tanah Aula Sekte, namun ia tidak merasakan keanehan saat masih berada di Indonesia.
Apa mungkin karena aku berada di dalam ruang dimensi yang dibuat oleh naga itu? Sehingga kesadaranku sedikit terganggu, terlebih aku menyuling Pil Ilahi dan menyempurnakan Pedang Minghai.
Tapi jika hanya sebatas itu, harusnya aku masih bisa merasakannya. Kecuali, benar-benar ada orang kuat yang berusia puluhan ribu tahun, yang setidaknya berada ditingkat Jiwa Emas.
Untuk ukuran Bumi, Jiwa Emas merupakan kekuatan yang sangat luar biasa. Bisa mengatur aliran udara di Bumi, bisa memanipulasi pendengaran, bahkan bisa mengubah siang menjadi malam, dan sebaliknya.
Mo Lian menghembuskan napas panjang mengungkapkan rasa lelahnya. Baru saja kembali dari perjalanan dan berharap bisa beristirahat dengan tenang bersama keluarga kecilnya, dan memanjakan Adik kecilnya. Tapi malah ada kejadian yang tidak biasa di Daratan Huaxia.
Meski ia sedikit lelah, tapi masih terlihat jelas seringai lebar di wajahnya, dengan keinginan membunuh yang kuat terpancar di matanya.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1