Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 77 : Berpamitan


__ADS_3

Setengah tumpukan herbal di depan matanya sudah tersimpan di dalam Cincin Ruang. Meski hanya setengahnya saja, ia bisa mendapatkan lima miliar Yuan dengan menjualnya. Lalu jika menjualnya secara keseluruhan, ia bisa mendapatkan 20 miliar Yuan, lebih dari cukup untuk pembangunan sekte di lembah belakang kediamannya.


"Jadi ... ini ... adalah apa yang dinamakan Cincin Ruang." Wu Yengtu membuka matanya lebar, ia tidak percaya bisa melihat bagaimana cara kerja Cincin Ruang.


Begitupun dengan lainnya, mereka hanya bisa terpaku di tempat mereka berdiri tanpa bergerak sedikitpun. Mereka merasa pengetahuan mereka sangat rendah, pengalaman selama 700 tahun mereka sebagai seorang Pejuang seperti setetes air di hadapan Mo Lian, tapi apabila dipotong dengan waktu istirahat, pengalaman kultivasi mereka hanya 300 tahun.


Tapi pengalaman mereka masih kalah jauh dibandingkan dengan Mo Lian yang selama 1000 tahun. Terlebih lagi ia bekerja keras di Galaxy Pusat, bukan di Bumi.


Mo Lian menurunkan tangannya, ia berbalik menatap wajah semua orang yang masih memasang raut wajah tampak kaget. Melihat itu, ia dengan sengaja batuk untuk menyadarkan mereka, "Uhuk!"


Semua orang tersentak, mereka tersadarkan dari keterkejutan mereka.


Mo Lian menunjuk jarinya pada Danau Spiritual. "Aku akan mengambil di sisi sini."


Mereka mengalihkan perhatiannya pada arah yang ditunjuk Mo Lian. Kemudian mengangguk sebagai persetujuan, tanpa berlama-lama lagi mereka semua pergi menuju kelima sisi lainnya secara berpasang-pasangan.


Setelah ia sendirian, ia melepaskan semua pakaian yang dikenakannya dan berjalan memasuki danau secara perlahan. Energi spiritual dalam danau memasuki tubuhnya perlahan, ia merasakan jika energi dalam tubuhnya lebih murni dan padat dari sebelumnya, namun masih jauh jika dikatakan menembus tahap selanjutnya.


Mo Lian memejamkan mata, ia bersandar di tepi danau. Ketika ia memejamkan mata, ia mendengar suara tawa dan bahagia dari sisi lain. "Sepertinya sangat menyenangkan jika aku juga memiliki seorang kekasih. Apakah Qin Nian mau menikah dengank—"


"Tidak-tidak! Apa yang aku pikirkan." Mo Lian menggelengkan kepalanya.


"Dulu. Mungkin aku ingin kembali ke Galaxy Pusat dan mengejar kekuatan, tapi setelah mengenal lebih banyak orang di Bumi, dan mendapatkan kasih sayang yang lebih banyak. Entah mengapa keinginan ku untuk meninggalkan Bumi semakin kecil ..."


"Tapi ... meski aku tetap ingin bertahan di Bumi sekalipun. Itu tidak akan bisa terwujud, karena lambat laun Bumi akan kedatangan orang-orang dari Dunia Luar. Pada saat itu aku harus membangun kekuatan untuk menahan mereka, tapi apa yang akan terjadi jika aku sudah mencapai Ranah Jiwa Emas ..."

__ADS_1


Mo Lian terdiam, ia menyelam ke dalam air danau. Beberapa detik kemudian ia muncul kembali dengan tatapan mata sedih yang menjelaskan tidak ingin berpisah. "Pada saat itu, hukum langit di Bumi akan menolak ku dan memaksaku untuk meninggalkan Bumi."


Mo Lian menggigit bibir bawahnya, jika saja energi spiritual di Bumi tidak menipis dan berlimpah. Mungkin saja hukum langit di Bumi akan berubah dan tidak akan mengusir orang yang telah menembus Ranah Jiwa Emas.


Ia menyadari jika ada hukum langit di Bumi. Hukum langit ini tergantung seberapa banyak energi spiritual yang tersebar di antara bumi dan langit. Hukum langit bisa juga untuk dirubah, namun orang itu haruslah memiliki kekuatan yang sangat besar, paling tidak berada pada tingkat Heavenly Immortal.


Mo Lian menggeleng pelan. Ia membuang semua pemikirannya tentang penolakan hukum langit, bagaimanapun ia masih berada ditingkat Inti Perak. Masih jauh dari Ranah Jiwa Emas, dan mungkin saja dengan berjalannya waktu, kepadatan energi spiritual dapat berubah yang kemudian mempengaruhi hukum langit.


Ia memejamkan matanya menyerap energi spiritual dalam danau tanpa menghiraukan keadaan sekitar. Ia bisa tenang karena di sekitarnya tidak ada lagi bahaya, ia juga sangat mempercayai Wu Yengtu dan lainnya. Terutama untuk Xu Xumei yang sangat menyayanginya dan memberikan perasaan hangat.


Beberapa jam kemudian, ia membuka matanya perlahan. Air danau yang sebelumnya berwarna biru, berubah menjadi transparan dengan dasar berwarna hitam. Hal ini menandakan jika kandungan energi spiritual di dalam danau sudah habis terserap, dan jika ingin mengembalikannya seperti semula, maka akan membutuhkan waktu lebih dari 1000 tahun.


Mo Lian beranjak dari danau, ia naik ke atas permukaan tanah dan mengenakan pakaian yang terletak di atas stalaktit yang menancap di tanah. Ketika ia baru mengenakan dalaman, tiba-tiba ia merasakan ada yang sedang mengawasinya. Ia menolehkan kepalanya, terlihat Xu Xumei, Jia Yaoyu dan ketiga wanita lainnya sedang memandangi tubuhnya.


"Oho! Tubuh anak muda zaman sekarang sangat terawat, otot-otot tubuhnya sangat kencang. Berbeda sekali dengan orang tua seperti kita." Jia Yaoyu mengusap dagunya dengan mata yang tertuju pada otot perut Mo Lian.


"Hei kalian! Jangan memandangi tubuh cucuku!" Xu Xumei memukul kepala empat wanita lainnya.


Tubuh Mo Lian bergetar, wajahnya telah memerah, ia tidak berharap akan membiarkan kewaspadaannya mengendur hingga tidak menyadari jika ada yang tengah mengintipnya. "Kakek! Istri kalian mengintip ku berganti pakaian!"


Xu Xumei dan keempat wanita lainnya hanya terkekeh kecil saat melihat Mo Lian yang malu-malu. Sedangkan untuk Wu Yengtu dan keempat orang tua lainnya, mereka hanya diam dan menggeleng pelan di balik dinding.


Mo Lian mengambil pakaian yang berada di atas batu, ia menutupi tubuhnya dan berlari di belakang ular besar untuk mengenakan pakaiannya. Ketika ia sudah selesai, ia berjalan keluar dari balik ular, terlihat kelima wanita masih memandanginya dengan senyum tipis.


Ia menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan, setelah dirasa cukup tenang. Mo Lian melompat menuju kepala ular, dengan tangan kanan diselimuti energi spiritual, ia mencoba melepaskan sisik-sisik yang melindunginya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, ia sudah melepaskan semua sisik yang melindungi kepala ular, beserta daging yang menghalangi. Di tengah-tengah dahi ular, terlihat sebuah bola bercahaya kuning sebesar bola baseball. Ini adalah Inti Spiritual, hanya binatang spiritual yang berada ditingkat Inti Perak dan seterusnya 'lah yang memilikinya.


Inti Spiritual bisa digunakan sebagai bahan tambahan untuk membuat pil, tapi jika binatang spiritual itu berada diatas Ranah Inti Perak. Inti Spiritual yang di tangan Mo Lian ini tidak cocok, sehingga hanya bisa diserap seperti biasa.


Mo Lian melompat dari atas kepala ular, ia berjalan menghampiri 10 orang yang sedang menunggunya. "Ayo kita pulang, entah ini sudah malam, atau bahkan sudah pagi."


Kesepuluh orang itu menganggukkan kepala, kemudian berjalan terlebih dahulu di depan Mo Lian.


Mo Lian menolehkan kepalanya sejenak melihat mayat ular, ia menggelengkan kepalanya kecewa karena tidak bisa membawa mayat ular itu. Kemudian berjalan mengejar ketertinggalannya, saat di perjalanan keluar, ia memasukkan herbal maupun rempah ke dalam Cincin Ruang.


Beberapa menit kemudian, mereka melihat setitik cahaya. Cahaya itu semakin membesar seiring dengan jarak yang ditempuh. Ketika mereka sudah sampai ke ujung jalan, terlihat sinar yang menyilaukan mata, kemarin sudah berganti besok. Tidak terasa mereka semua sudah berdiam di dalam gua selama semalaman.


Mo Lian meregangkan otot-otot yang kaku, ia menikmati udara pagi di atas gunung dengan santainya. Namun waktu bersantainya tidak berlangsung lama, itu karena ia teringat akan sesuatu yang penting. Yaitu, ini sudah hari ketiga ia berada di Provinsi Qinghai.


"Kakek, Nenek. Mohon maaf, aku harus kembali secepatnya. Aku takut ibuku akan mengomeliku jika berlama-lama di sini." Mo Lian menangkupkan kedua tangannya, ia berucap dengan nada yang sangat cepat dan terlihat keringat dingin mengalir di dahinya.


Xu Xumei terdiam, ia berjalan mendekati Mo Lian dan memeluknya. "Lian. Jangan lupakan kami, sering-seringlah berkunjung kemari."


"Baik, Nenek. Aku akan sering-sering kemari, dan dalam waktu tiga bulan, aku akan membawa kalian semua termasuk penduduk desa ke kota."


Xu Xumei melepaskan pelukannya, ia memegang kedua pundak Mo Lian. "Terimakasih, jaga baik-baik dirimu. Nenek dan lainnya akan menunggumu di sini," ucapnya lembut.


Mo Lian menganggukkan kepalanya, ia mundur beberapa langkah. Kemudian sedikit membungkukkan badannya sembari menangkupkan kedua tangan mengarah pada kesepuluh orang di depannya. Lalu ia menegakkan tubuhnya kembali, dan pergi meninggalkan mereka semua dengan terbang menuju langit yang tinggi.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2