Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 171 : Tidak Menemukan Apapun


__ADS_3

Hanya dalam waktu empat puluhan menit saja, mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki kawasan Tahura Mandi Angin. Kiri kanan jalan banyak sekali pohon-pohon rindang yang tumbuh, dengan hewan-hewan yang menghuni di sana, udara juga masih sangat segar ketika kaca mobil diturunkan.


Mobil terus melaju menuju jalan aspal yang menanjak, jalan yang berada di lereng gunung, yang sebelah kirinya adalah jurang dengan pembatas jalan. Untuk naik ke paling puncak, setidaknya membutuhkan waktu dua puluhan menit untuk sampai di sana.


Qin Nian yang duduk di sebelah kiri Mo Lian menatap keluar jendela, melihat pemandangan yang sudah mulai berubah, karena kedatangan mereka yang terbilang sudah cukup terlambat. Mungkin jika mereka datang pukul lima dini hari, mereka bisa melihat lautan awan yang membentang.


Waktu terus berjalan hingga tidak terasa mobil sudah berhenti di suatu tempat yang memiliki cabang dua di depan, dan sebelum menuju dua jalan bercabang di depan, tepat di sebelah kanan mobil ada sebuah jalan yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.


Sopir serta Wanda yang duduk di kursi depan, membuka pintu dan keluar dari mobil.


Melihat hal itu, Mo Lian dan juga Qin Nian juga melakukan hal yang sama.


Saat keluar dari mobil, perhatiannya tertuju pada tengah-tengah dari cabang jalan di depan. Ia merasakan aura yang berasal dari jiwa liar yang tertahan di sekitar bangunan di sana, dan tidak bisa bergerak lebih jauh.


"Apakah ada sebuah bangunan di sana?" Mo Lian menunjuk jarinya pada tengah-tengah cabang.


Wanda yang melihat Mo Lian dengan cepat menurunkan jarinya. "Ja- Jangan asal menunjuk ..." Ia menolehkan kepalanya ke tempat di mana Mo Lian menunjuk tadi. "Di sana memang ada bangunan, benteng peninggalan Belanda yang sudah hancur ratusan tahun lalu."


Mo Lian mengangguk kecil, kemudian mengikuti Wanda yang berjalan menanjak melalui jalan yang terbuat dari cor beton, dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Meski langkahnya mengikuti, namun tidak dengan pandangannya, tatapannya selalu tertuju pada benteng yang dikatakan telah hancur.


Ketika Mo Lian sudah berjalan belasan meter, aura yang dirasakannya mulai berubah, itu berasal dari belakang warung yang berada di bawah pohon besar tidak jauh di sebelah kiri jalan. Ia merasa di belakang sana ada suatu dimensi yang dihuni oleh suatu jiwa, jiwa-jiwa itu sedang tertidur dan akan bangun di saat tertentu.


Banyak hal misterius yang ada di sini, bahkan lebih membingungkan ketimbang kedalaman Segitiga Bermuda itu sendiri. Dan meski aku bisa mengungkap semua hal di sini, namun aku tidak ingin melakukannya, karena itu tidak baik bagi penduduk yang tinggal di sekitar sini, dan bergantung hidup pada tempat wisata ini.


Mereka berempat terus berjalan mengikuti arahan jalan yang lumayan sulit untuk manusia melangkah, terkadang turun sekitar 30° dan naik 40°. Ia bisa dengan mudah untuk sampai ke puncak sana, namun harus menahan diri untuk tidak menggunakan kekuatannya.

__ADS_1


"Li- Lian ..." Qin Nian mengulurkan tangannya ke depan, mencoba meminta tolong pada Mo Lian yang berdiri di depannya.


Mo Lian menoleh ke belakang, melihat Qin Nian yang berpura-pura kelelahan dan tidak sanggup mendaki lagi. Ia memang meminta Qin Nian untuk bersikap selayaknya manusia normal tanpa kekuatan kultivasi, tapi tidak sebagaimana yang sekarang. Ia berjongkok dengan kedua tangan di ke belakang, seperti hendak menggendong.


Qin Nian sedikit kaget saat melihat posisi Mo Lian. Akhirnya ia melingkarkan kedua lengannya pada leher Mo Lian, dan mencari posisi yang nyaman.


Mo Lian berdiri perlahan setelah diberi tanda oleh Qin Nian yang mengetuk pundaknya. Kemudian melanjutkan perjalanannya yang hanya tersisa beberapa menit lagi untuk sampai.


Tiga menit kemudian, mereka sudah tiba di puncak gunung. Pada puncaknya banyak tenda-tenda yang terbangun di berbagai tempat. Ia juga merasakan ada jiwa yang bergentayangan di sekitar pondok yang tidak jauh darinya, serta di belakang batu yang tingginya hampir mencapai dua meter, kemudian di lahan menurun di sebelah kanan dari pondok, di sebelah pohon tunggal.


Meski di sini banyak sekali jiwa yang bertahan di dunia, namun jiwa-jiwa itu tidak mengganggu wisatawan yang datang ke sini, bahkan di sekitar pondok, jiwa itu bisa menjawab pertanyaan, ataupun memanggil jiwa lain yang ingin dipanggil. Seperti halnya jika orang yang ingin berbicara dengan leluhurnya, orang itu bisa meminta tolong pada jiwa yang berada di pondok.


Mo Lian menolehkan kepalanya ke kiri, menatap Wanda yang menatap lurus ke arah barat. "Apakah ada cerita khusus di Tahura Sultan Adam ini?"


Wanda menoleh menatap Mo Lian, kemudian menunduk melihat tanah sembari menyentuh dagunya. "Cerita khusus? Aku tidak tahu tentang kebenarannya, namun aku mendengar dari kakakku yang mengatakan, jika di gunung ini terdapat emas yang berlimpah. Emas yang terkandung di gunung ini mampu untuk membiayai seluruh penduduk Indonesia selama ratusan tahun ..."


Mo Lian hanya diam dengan anggukkan kecil, cerita itu memang terdengar konyol dari sudut pandang manapun. Tidak ada seorang pun yang akan mempercayainya, hingga pandangannya tertuju pada lubang galian yang tidak jauh darinya. Ah! Sepertinya ada yang mencoba memastikan kebenaran dari cerita itu.


Mo Lian menoleh ke kanan, menatap wajah Qin Nian yang menyelinap di sebelahnya. "Aku akan menurunkanmu, ada sesuatu yang harus ku lakukan," bisiknya sembari berlutut.


Qin Nian melepaskan kedua lengannya yang melingkar pada leher Mo Lian, kemudian berdiri normal.


Mo Lian berdiri sembari menepuk-nepuk pakaiannya yang terdapat daun menempel di sana. Ia menengadahkan kepalanya melihat puncak yang lebih tinggi, yang sangat tidak mungkin untuk di daki.


Mo Lian menekan kakinya di tanah, kemudian melompat dari satu tempat ke tempat lain hingga sampai ke puncak tertinggi.

__ADS_1


Setelah sampai di puncak, ia mengambil posisi berlutut sembari menyentuh tanah dengan energi spiritual yang disebarkan pada seluruh gunung yang dipijaknya, serta menutup matanya perlahan.


Ketika ia membuka matanya perlahan, terlihat kerutan di dahinya dengan tatapan tajam melihat tanah di bawahnya. "Gunung emas, itu benar adanya. Hanya saja berada di dimensi yang berbeda, dan harus menggunakan metode tertentu untuk membuka dimensi, maupun mengeluarkan emas-emas ini ..."


Mo Lian berdiri perlahan sembari mengamati sekitar. "Kemurnian emas ini sangat tinggi, namun sangat tidak disarankan untuk mengambilnya. Karena, orang itu akan mengalami gangguan yang tidak ada habisnya, dan yang terpenting adalah, emas ini menunjang kehidupan di Tahura Sultan Adam ..."


Mo Lian tidak habis pikir dengan Tahura Sultan Adam yang memiliki banyak sekali dimensi ruang berbeda, dimensi ruang yang mengandung energi yang berbeda dan fungsi yang berbeda pada satu tempat.


"Bukan hanya gunung emas, aku juga merasakan adanya senjata yang telah tertanam selama dua ratus tahun jauh di kedalaman tanah. Senjata itu juga menunjang kedamaian di sini, dan mengatur agar jiwa-jiwa itu tidak menjadi lebih liar, dan tidak sampai mencelakai wisatawan, seperti menyamarkan pandangan yang mungkin saja menggiring untuk terjun ke jurang."


Mo Lian menunduk melihat tanah yang dipijaknya. "Sepertinya kedatangan ku kemari tidak mendapatkan apapun, meski banyak barang berharga di sini. Aku memang berencana untuk mencari harta, namun tidak ingin merusak tatanan alam di sini, yang mungkin saja berdampak besar pada Bumi di kemudian hari ..."


Jika itu terjadi, tidak menutup kemungkinan akan terjadinya peperangan untuk memperebutkan gunung emas, banyak pembunuhan terjadi, dan mungkin saja ada bencana yang lebih besar dari itu semua.


Karena tidak mendapatkan apapun di Tahura Sultan Adam, maka ia berencana untuk melanjutkan perjalanannya Lebak Naga, dan untuk Pantai Batakan, ia akan meninggalkan daftar itu untuk tidak dikunjungi.


"Yang tersisa hanyalah Lebak Naga, aku berharap jika auman di sana benar-benar seekor naga, yang dapat membantuku untuk memurnikan dua patahan pedang ..."


Mo Lian mengalihkan perhatiannya ke arah selatan, di mana Lebak Naga berada. "Seandainya saja aku memiliki bahannya sendiri, aku tidak akan datang kemari untuk memurnikan senjata ..."


"Tapi, tidak ada salahnya! Setidaknya aku bisa bertemu dengan seekor naga, meski itu belum pasti kenyataannya!"


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2