
Kota Zhan, Bintang Utama
Hong Xi Ning selalu memikirkan keadaan Mo Lian yang ada di Alam Hanzi. Setiap malam akan selalu mengamati langit malam penuh bintang, selalu berharap jika suaminya kembali dengan selamat. Walau tidak pernah ke sana, ia tahu jika Alam Hanzi adalah tempat yang tidak boleh dimasuki manusia atau makhluk hidup.
"Ning'er, apakah kau benar-benar serius dengan keputusanmu?"
Hong Xi Ning tetap memandangi langit malam melalui jendela kamar, tanpa menoleh ke belakang melihat siapa yang berbicara. "Iya, Ibu. Ning'er tahu Lian Gege memiliki banyak penggemar, memang terasa menyakitkan, tapi Ning'er juga menyakiti hati orang lain karena mengambil Lian Gege."
Wang Yue Fei menghampiri Hong Xi Ning dan berdiri di sebelahnya, memandangi langit malam yang sama. "Bagaimana sikap Lian?"
Hong Xi Ning menundukkan kepalanya, melihat kedua tangannya yang mencengkeram kusen jendela. "Dia, terlihat marah dan kesal karena Ning'er memaksanya. Sepertinya dia terpaksa menuruti keinginan Ning'er."
Wang Yue Fei menghela napas, berbalik dan bersandar pada dinding. "Harusnya kau tahu karena sudah membaca ingatannya, dia sangat mencintaimu meski kau mengabaikannya. Dia terlihat akan melakukan apa pun untuk mendapatkanmu ..."
Wang Yue Fei mengusap kepala Hong Xi Ning. "Tapi, kau memaksanya untuk menikahi wanita lain, kau seperti tidak menghargai perasannya padamu."
Hong Xi Ning hanya diam tidak membalas ucapan Ibunya. Ia memikirkan apakah semua keputusan yang ia ambil selama ini akan terus berjalan lancar sesuai keinginannya, atau malah memperburuk keadaan.
"Kasih sayang Lian akan terbagi, karena bukan hanya kau yang menjadi pasangannya nanti. Tapi, Ibu tidak bisa berbuat apa-apa, itu semua adalah keputusanmu. Ibu hanya berpesan agar Ning'er tidak menyesalinya."
Wang Yue Fei pergi meninggalkan Hong Xi Ning seorang diri di ruangan luas itu, membiarkannya untuk memikirkan langkah apa yang akan diambil. Entah tetap memaksa Mo Lian untuk menikah, atau membatalkannya.
Hong Xi Ning melonggarkan cengkeramannya pada kusen jendela seraya menghela napas, lalu kembali menengadahkan kepalanya melihat langit malam penuh bintang. "Sayang, aku mempercayaimu. Maafkan aku karena memaksamu, hanya saja, aku tidak ingin ada penyesalan ketika naik ke Alam Selestial ..."
"Aku tidak ingin merasa bersalah karena mengambilmu dari Qin Nian dan Yun Ning. Aku ... aku ... aku ..."
Hong Xi Ning menundukkan kepalanya lagi dengan air mata yang menetes, jatuh di punggung tangannya. "Aku mencintaimu."
"Matriak Hong ..."
Ada suara yang terdengar tidak nyaman atau merasa bersalah, suara itu sangat pelan dan berasal dari belakang Hong Xi Ning.
Hong Xi Ning tidak menyadari jika ada yang datang ke kamarnya, tapi ia mengetahui mengapa tidak bisa merasakannya. Itu semua ulah Ibunya yang sudah menembus Heavenly Immortal tahap Akhir, sehingga bisa menyembunyikan keberadaan orang lain yang membuatnya tidak bisa merasakannya.
Hong Xi Ning mengusap wajahnya yang basah akan air mata. Setelah air matanya menghilang dan ekspresinya kembali normal, ia berbalik melihat Qin Nian dan Yun Ning. "Ada apa?" Ia mencoba untuk tetap tersenyum.
__ADS_1
Yun Ning menghampiri Hong Xi Ning dengan langkah cepat, lalu memeluknya erat. "Maaf."
Hong Xi Ning terdiam tidak mengerti mengapa Yun Ning memeluknya, tapi ia tetap membalas pelukan itu seraya melihat Qin Niang yang juga datang.
Qin Nian terdiam untuk beberapa saat dengan kepala tertunduk, napasnya juga terdengar berat seperti habis menangis, serta pikirannya juga sedikit kacau. "Kami datang, ingin membatalkan rencana pertunangan kami dengan Mo Lian." Ia mendongak menatap Hong Xi Ning.
Hong Xi Ning tersentak saat mendengarnya, mulutnya sedikit terbuka. "Ap- Apakah kalian— Tidak!" Ia mencoba menggelengkan kepalanya. "Bolehkah aku mengetahui, bagaimana kalian berdua bisa jatuh cinta padanya?" Ia hanya tahu jika Qin Nian dan Yun Ning mencintai Mo Lian, tapi tidak dengan awal kisahnya.
Hong Xi Ning sendiri sudah tahu pertemuan awal mereka, melihat dari ingatan Mo Lian.
Yun Ning melepaskan pelukannya, lalu menoleh ke arah Qin Niang yang berdiri di kanan belakangnya. Keduanya saling menatap satu sama lain, lalu menganggukkan kepala.
Keduanya mulai bercerita tentang pertemuan awal dengan Mo Lian, dimulai dari Qin Nian yang mencintai karena Talisman Penyembuh seharga ¥100.000, sungguh harga yang diluar nalar. Kecintaannya karena Talisman yang dijual berhasil menyembuhkan Neneknya, melindungi saat penyerangan setelah kembali dari Paviliun Baozang dan lain sebagainya.
(¥100.000 \= Rp.226.120.735)
Untuk Yun Ning, awalnya hanya bermain-main dan penasaran karena ada yang berhasil masuk ke Business Class di kala satu kabin sudah ia pesan. Yang kemudian ia datang bersama ke rumah Mo Lian di Kota Hanzhong, mengenal Su Jingmei dan Mo Fefei, merasa bahwa keluarga Mo Lian sangat ramah dan menenangkan.
Hong Xi Ning hanya diam dan tersenyum ringan, mendengarkan semua cerita tentang Mo Lian dari mulut Qin Nian dan Yun Ning. Ada perasaan cemburu, tapi tidak sampai membuatnya merasa sakit.
Qin Nian dan Yun Ning kembali menatap satu sama lain untuk beberapa saat, kemudian menundukkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan Hong Xi Ning. Mereka sendiri masih ragu apakah keputusan mereka benar-benar dari hati atau tidak.
Hong Xi Ning yang tidak mendapatkan jawaban, ikut diam tanpa berucap lagi, sehingga suasana di ruangan itu sangat sunyi.
***
30 Tahun Kemudian
Dunia Kecil, Alam Hanzi
Mo Lian berkultivasi tanpa henti selama tiga puluhan tahun terakhir di Dunia Kecil, yang di dunia luar hanya berlalu selama tiga tahun. Dalam waktu itu, bukan hanya meningkatkan kekuatannya untuk menembus Heavenly Immortal, tapi ia mengubah tubuhnya.
Ada aura emas yang menyelimuti tubuh Mo Lian yang sedang duduk bersila di bawah Pohon Zhiliao. Sangat disayangkan Akar Sumsum yang ia miliki, ia berikan pada Hong Xi Ning sebagai hadiah pertunangan, dan sudah digunakan. Tapi karena ia sudah mencapai tingkat tertinggi dari Tubuh Emas, sudah tidak terlalu penting lagi Akar Sumsum yang ia miliki.
Tiga puluh tahun berkultivasi, rambut Mo Lian yang sebelumnya hanya sampai punggung, kini sudah menyentuh lutut apabila ia berdiri. Warnanya juga bukan lagi hitam, melainkan putih berkilau karena kekuatan lain yang ia tambahkan.
__ADS_1
Banyak yang harus ia korbankan untuk mengubah warna rambutnya, salah satunya adalah turunnya basis kultivasi Mo Lian yang sempat jatuh ke Ranah Jiwa Emas. Tapi ini sepadan, anggap saja sebagai investasi untuk melawan musuh-musuh di Alam Selestial nanti.
"Hah..." Mo Lian mengembuskan napas panjang, terlihat ada benang putih yang menggeliat seperti ular.
Benang putih yang keluar dari dalam mulutnya itu terlihat sederhana, tapi menciptakan badai besar di Dunia Kecil, fluktuasi energi mulai bergerak tidak beraturan.
Ketika Mo Lian membuka matanya perlahan, ada fenomena lain di langit. Terlihat ada lingkaran array emas dengan pola-pola putih yang sangat luas, beserta dengan fluktuasi energi yang mulai berkumpul di sana.
Mo Lian mengangkat tangan kanannya perlahan, hingga saat sudah sejajar dengan kepalanya, ia mempercepat tangannya yang terangkat setinggi mungkin.
Bang!
Lingkaran array di langit meledak mengubahnya menjadi kepingan cahaya emas yang terus mengecil hingga menjadi molekul-molekul.
"Aku berhasil kembali ke Ranah Dao Immortal tahap Akhir, bahkan aku juga sudah bersiap-siap untuk menerima Kesengsaraan Petir ..."
Kesengsaraan Petir itu sudah dihilangkannya, atau bisa dibilang sedang ia tunda dan akan ia tarik lagi saat berhadapan dengan Kerajaan Monster Binatang atau Monster, atau bahkan Kerajaan Iblis Hitam.
"Setelah mengorbankan banyak hal, tubuh yang meledak ratusan kali, Ranah yang turun ke Jiwa Emas sebanyak sembilan kali. Akhirnya, aku berhasil membentuk Tubuh Abadi dan Energi Sejati!"
Mo Lian berdiri dari tempatnya duduk di hamparan rumput seraya menghilangkan sulur tanaman yang melilitnya. "Energi Spiritual lebih kuat dari Energi Internal, Energi Murni lebih kuat dari Energi Spiritual ..."
"Energi Hukum, lebih kuat dari Energi Murni. Energi Sejati? Yang tertinggi!"
"Aku bisa melepaskan serangan sesuka hati tanpa perlu melakukan persiapan, menciptakan formasi array hanya dengan jentikkan jari atau menatapnya saja."
Mo Lian mengepalkan tangan kanannya, merasa puas dengan peningkatannya kali ini. Ini semua sepadan melukai Meridian dan Dantiannya berulang-ulang. Kali ini ia lebih kuat dari ia yang di kehidupan pertama, yang mana hanya memiliki 1 Element, 1 Teknik Budidaya Utama, 2 Teknik Budidaya Sampingan.
Sekarang, sudah tidak perlu ditanya lagi seberapa kuatnya ia, meski masih belum mampu untuk melawan Ranah God.
"Sekarang, saatnya menyelesaikan semuanya."
...
***
__ADS_1
*Bersambung...