Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 156 : Pergi ke Tebing Shouhai


__ADS_3

Mo Lian dan Mo Fefei berada di ruangan yang sama di Hotel Luoli. Keduanya berada di lantai teratas, yang sudah dipesan saat ia masih berada di kedalaman Segitiga Bermuda.


Mo Lian melihat Mo Fefei yang duduk di seberangnya, yang mana sedang mengepalkan kedua tangan di atas lutut. "Fefei. Apakah kau masih teringat kejadian saat masih sekolah menengah pertama?"


Mo Fefei terperanjat ketika mendengar pertanyaan itu, dengan kepala tertunduk, ia mengangguk kecil. "I- Iya," jawabnya pelan.


"Karena hari masih pagi. Bagaimana kalau kita berlatih bersama, tapi setelah menunggu mobilmu datang." Meski berkata begitu, tapi sebenarnya ia ingin mendatangi tempat yang didatangi oleh pria tua yang ditemuinya saat di Kota Chengdu.


Mendengar ajakan itu, Mo Fefei mendongak perlahan. "Baik, Kakak." Suaranya kembali naik.


Mo Lian tersenyum tipis. Setelah mobil datang nanti, ia akan membawa Mo Fefei untuk pergi ke tempat yang kaya akan energi spiritual, di sana ia bisa meningkatkan kekuatannya ke tahap Menengah dari Ranah Inti Emas. Karena pelatihannya lima kali lebih lama, tentunya ia harus mencari tempat yang sesuai, serta herbal-herbal berkualitas.


Saat keduanya sedang berbicara, tiba-tiba handphone yang berada di saku celana Mo Lian berdering dan bergetar, ia menyelinapkan tangan kirinya memasuki saku celana dan mengeluarkan handphone itu. Terlihat jika ada panggilan masuk dari nomor Perusahaan Murong.


Mo Lian mengerutkan keningnya saat melihat nama itu, kemudian memilih mengangkat telepon itu.


"Halo, dengan Tuan Mo Lian?"


"Iya."


"Mobil yang Anda pesan sudah tiba di depan Hotel Luoli. Kami hanya perlu menunggu Anda datang dan membuat surat serah terima."


"Baiklah. Aku akan segera turun." Ia berdiri dari sofa panjang, kemudian menutup panggilan setelah mendapat balasan dari orang yang berbicara dengannya.


Mo Lian menunduk menatap Mo Fefei yang masih duduk di sofa di seberangnya. "Fefei, ayo turun. Mobilmu sudah tiba," ucapnya kemudian berjalan menuju pintu keluar tanpa menunggu balasan.


"Kakak! Tunggu aku." Mo Fefei beranjak dari sofa panjang dan berlari kecil mengejar Mo Lian.


Keduanya berjalan memasuki lift yang berada tidak jauh dari tempat mereka, sekitar lima puluhan meter. Kemudian masuk ke dalam lift itu untuk kembali turun ke lantai dasar, yang mana sudah menunggu orang-orang dari Showroom Xac.


Hanya dalam kurun waktu kurang dari lima menit, mereka sudah tiba di lantai dasar dari lantai 70. Itu adalah waktu yang cukup cepat mengingat tinggi lantainya. Ketika ia sudah tiba, ia mengamati lantai dasar, mencari tahu di mana orang dari Perusahaan Murong berada.


Sangat mudah mencari tahunya, itu ditandai dari kerumunan yang berada di luar hotel.

__ADS_1


Tanpa berlama-lama lagi, ia membawa Mo Fefei untuk keluar dari hotel dan menembus kerumunan orang yang berada puluhan meter dari pintu bangunan. Mo Lian melepaskan energi spiritualnya perlahan, membuat sedikit jalan di tengah-tengah yang dapat dilalui oleh satu orang.


Di tengah-tengah kerumunan orang itu terdapat truk atau lorry, dan di atasnya terdapat Lamborghini Veneno Roadster yang sebelumnya ditunjuk oleh Mo Fefei tanpa melihatnya.


"Ini ..." Mo Fefei mendongak melihat mobil itu, ia tidak bisa berkata-kata. Ia menarik lengan baju Mo Lian. "Kakak, apakah ini adalah mobil yang ku tunjuk tadi?"


"Tentu saja." Mo Lian berjalan menghampiri truk itu sembari menarik tangan Adiknya. Saat ia berjalan seperti ini, banyak tatapan mata yang tertuju pada mereka berdua, dan tidak jarang juga yang menatap sinis.


Di dunia manapun, akan selalu ada hal seperti ini. Orang akan selalu memandang rendah tanpa melihat bentuk aslinya.


Belasan orang yang menjaga truk bergerak saat melihat Mo Lian, mereka akan menghentikan siapapun yang mencoba masuk dalam jangkauan belasan meter dari truk. Namun saat mereka baru melangkah, mereka dihentikan oleh pemuda berambut hitam pendek, wajah halus dengan menggunakan setelan hitam.


Pemuda itu adalah salah satu penjaga keamanan yang mempersilakan Mo Lian dan Mo Fefei masuk ke dalam Showroom Xac.


Pemuda itu datang menghampiri Mo Lian, dan mengulurkan tangan kanannya untuk mengajak bersalaman. "Murong Di."


Mo Lian mengangkat tangannya dan membalas salam pemuda itu. "Mo Lian."


Mo Lian mengangguk kecil, kemudian memasuki mini bus bersama Mo Fefei, dengan Murong Di yang berada di depan.


Pandangan semua orang terhadap Mo Lian dan Mo Fefei kembali berubah total. Para wanita memandang takjub, dan para pria memandang iri.


Ketika mereka bertiga sudah berada di dalam, Murong Di mulai menjelaskan fitur-fitur yang ada pada Lamborghini Veneno Roadster, perawatan, asuransi, dan lain sebagainya. Ia sendiri hanya menganggukkan kepala saat mendengar penjelasan Murong Di, karena baginya yang tidak bisa menyetir mobil, mendengar penjelasan itu adalah sesuatu yang percuma.


Setelah semua penjelasan selesai, dan Mo Fefei memahami semuanya. Mo Fefei menandatangani surat-surat yang berada di atas meja, dan surat penyerahan maupun surat mobil sementara.


Mo Lian merogoh saku celananya dan mengeluarkan handphone. Ia membuka M-banking dan mengirimkan sejumlah kecil yang itu. Hanya dengan menjual satu buku teknik saja ia bisa membeli 200 unit Lamborghini ditipe maupun seri yang sama, sehingga baginya harga ini sangatlah murah.


Mereka bertiga berdiri secara bersamaan, dan bersalaman.


Mo Lian dan Mo Fefei keluar dari dalam mini bus, terlihat mobil yang telah dibeli itu sudah diturunkan dari lorry, yang membuat semua orang semakin tertarik untuk melihat lebih dekat. Bagaimanapun sangat jarang ada yang memiliki mobil jenis ini, biasanya yang paling mewah hanya setinggi ¥4000.000, tidak lebih.


Mo Fefei berjalan perlahan menghampiri mobil barunya, ia membuka pintu mobil secara hati-hati agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ia memegang setir mobil dengan kedua tangan dan melihat semua tombol ataupun fitur di sana.

__ADS_1


"Kakak, ayo naik." Mo Fefei berdiri dan berucap dengan suara sedikit tinggi.


Mo Lian tersenyum tipis. Ia menoleh menatap Murong Di di sebelah kanannya. "Aku duluan," ucapnya yang kemudian menghampiri Mo Fefei.


Setelah ia duduk di sebelah Mo Fefei, ia kembali mengeluarkan handphone miliknya dan membuka fitur map. Ia menerka-nerka seberapa jauh jaraknya dari sini ke pria tua, dengan tempatnya sekali yang cukup memungkinkan. "Kita akan pergi ke sana." Ia menunjukkan layar handphone pada Mo Fefei.


Tempat yang tertulis pada map adalah Tebing Shouhai. Meski ia pernah mendengar tentang nama itu, tapi ia tidak pernah mengerti mengapa dinamakan dengan nama yang cukup mengerikan bagi orang biasa, yang mana memiliki arti lain 'Korban'.


Mo Fefei melihat sekilas tempat yang ingin dituju, kemudian mengangguk kecil dengan senyum tipis di wajahnya. Ia menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan, dan mulai menginjak pedal gas.


Mobil melaju dengan cepat, meninggalkan tempat melalui jalan yang sudah dibukakan oleh belasan pengawal dari Perusahaan Murong.


Jarak antara Hotel Luoli dengan tempat yang ditandai berjarak sekitar 37,5 mil, yang dapat ditempuh dengan waktu satu jam untuk mobil biasa. Lalu apabila menggunakan mobil ini, tidak ada perbedaan, karena Mo Fefei baru memiliki mobil, sehingga hanya berani mengemudi dengan pelan.


Mo Lian bersandar pada sandaran tempat duduk dengan mata terpejam sembari menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Ia mencoba mencari tahu apakah keberadaan pria tua itu masih berada di sana, ataukah sudah berpindah tempat.


Tidak lama kemudian, ia mengerjapkan mata dengan kerutan di dahi. Ia hanya bisa merasakan samar-samar aura pria tua itu, yang mana auranya turun secara signifikan dan menghilang total. Menghilang di sini bukan disembunyikan, melainkan terbunuh tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.


Mo Lian membuka matanya perlahan, ia menatap lurus ke depan mengikuti arah mobil yang membawanya. "Fefei. Mungkin akan ada sedikit bahaya di tempat yang kita datangi, tapi kau tidak perlu khawatir, aku akan selalu menjagamu."


Mo Fefei yang mengemudi itu sedikit kaget, kemudian mengangguk kecil dengan wajah tegas. Ia mencoba untuk tidak lagi menyusahkan Kakaknya, ia ingin belajar menjadi lebih kuat dan dapat membantu Kakaknya bertarung, seperti saat terjadi penyerangan ke Sekte Dongfangzhi.


"Baik, Kak!"


Mo Lian menoleh menatap wajah Mo Fefei dari samping, kemudian ia tersenyum hangat saat melihat Adiknya yang tidak lagi merasa sedih. Ia tidak tahu perasan Mo Fefei membaik karena dibelikan mobil, atau karena dapat berlatih bersama.


Mo Lian menghembuskan napas panjang dengan senyum tipis terukir di wajahnya, kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada jalan di depan. Aura di sana hampir setara dengan Negeri Surgawi, semoga saja ada harta yang dapat menyatukan pedangku.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2