Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 392 : Menangkap Dewa Kabut Pembantaian


__ADS_3

Apakah perubahan rencananya untuk mengampuni atau bekerja sama dengan Dewa Kabut Pembantaian? Tentu tidak, tidak mungkin Mo Lian akan melakukan hal semacam itu. Dia tetap akan mengambil Inti Jiwa Dewa Kabut Pembantaian, tapi tidak digunakan untuk meningkatkan kekuatan, melainkan untuk alat pertukaran.


Mo Lian menghela napas saat menundukkan kepalanya dan mengepalkan tangan kanannya.


Dewa Kabut Pembantaian melihat perubahan aura di sekitar Mo Lian dan itu terasa lebih dingin dari sebelumnya. Dia bisa menyadari ada yang salah, dan rasa bahaya yang dirasakannya meningkat. Jika dia tidak bersungguh-sungguh, kali ini akan mati.


Mo Lian mendongak dengan tatapan tajam saat melihat Dewa Kabut Pembantaian. Aura membunuhnya menjadi lebih kuat dan padat.


Dewa Kabut Pembantaian mengayunkan tangannya secara menyilang ke arah Mo Lian dengan kekuatan penuhnya.


Mo Lian melihat serangan kabut awan yang melesat ke arahnya, membuat bintang-bintang yang dilaluinya langsung layu dan mengering.


Mo Lian melambaikan tangannya seolah membuang lalat yang mengganggunya. Tapi lambaian sederhana ini membawa kekuatan yang tak terbayangkan.


Dengan ledakan keras, kabut awan menghilang dalam sekejap, membiarkan penglihatannya kembali berfungsi. Mo Lian bisa melihat Dewa Kabut Pembantaian yang melesat ke arah yang berlawanan, mencoba lari darinya.


Mo Lian tidak akan membiarkannya pergi. Dewa Kabut Pembantaian adalah alat tukar yang baik untuk mendapatkan informasi tentang Pembaptisan Dewa yang saat ini sedang dicarinya.


Mo Lian mengejar Dewa Kabut Pembantaian dengan kecepatan penuhnya, tapi Dewa Kabut Pembantaian bukanlah bentuk fisik, sehingga lebih cepat, sehingga jarak antara keduanya semakin melebar.


Dewa Kabut Pembantaian terus terbang tanpa menoleh ke belakang, dan saat melihat benda-benda besar seperti bintang di sekitar, dia akan melemparkannya ke arah Mo Lian.


Mo Lian terbang dan saat melihat bintang yang melesat ke arahnya, dia hanya mengibaskan tangannya secara vertikal ke atas. Itu menciptakan garis pedang berwarna biru yang membelah bintang menjadi dua bagian.


"Lari 'lah sejauh yang kau bisa! Bahkan jika kau pergi ke Wilayah Barat! Aku akan mengejarmu!"


Dewa Kabut Pembantaian sedikit melambat saat mendengarnya, dia tidak tahu apa itu Wilayah Barat. Tidak peduli apa, dia kembali mempercepat terbangnya.


Mo Lian mengejar Dewa Kabut Pembantaian dengan sesekali melepaskan serangan mematikan; serangan pedang yang menembus kabut awan, membuat awan itu menipis meski tidak menghilangkannya langsung.


Hanya dalam waktu singkat pengejaran, mereka sudah melewati beberapa galaksi di Wilayah Selatan. Sampai akhirnya Dewa Kabut Kematian pergi ke salah satu bintang yang berkali-kali lebih besar dari Bintang Mu, dan puluhan ribu kali lebih besar dari Bumi.


Banyak Profound Ark yang menjaga bintang berwarna biru yang memancarkan cahaya putih. Tapi dengan kekuatan Dewa Kabut Pembantaian, sangat mudah baginya untuk melewatinya.


"Tunggu! Berhenti —"


Profound Ark yang menghalangi jalan Desa Kabut Kematian langsung berubah menjadi abu dengan semua orang di dalamnya yang berubah menjadi kerangka tulang.


Mo Lian terus mengejar Dewa Kabut Pembantaian meski awalnya sedikit kaget karena di bintang ini ada beberapa Dewa Bumi dan eksistensi lebih kuat, itu lebih kuat dari Sesepuh Pertama, tapi sepertinya belum menembus Dewa Surga.

__ADS_1


Dari sini sudah jelas bahwa kualitas kultivator di Wilayah Selatan lebih baik dari Wilayah Timur.


Dalam sekejap, mereka menembus penghalang Bintang Cahaya Biru.


Ketika mereka berdua datang, Dewa Bumi di Bintang Cahaya Biru bangun dari pengasingan mereka. Jika Dewa Bumi datang ke Bintang Cahaya Biru dengan cara baik-baik, mereka akan mengabaikannya, tapi sekarang memasukinya dengan cara menerobos.


Mo Lian merasakan fluktuasi energi yang datang dari berbagai arah, mereka bersiap-siap untuk datang. Dia tidak peduli dengan mereka dan hanya mengejar Dewa Kabut Pembantaian.


Dewa Kabut Pembantaian melewati gunung-gunung batu berbentuk pilar dan mereka langsung meledak menjadi debu. Danau yang dilewatinya akan langsung mengering menjadi tanah gersang yang tandus.


Melihat ini, Mo Lian melambaikan tangannya, mengembalikan semua kehancuran yang disebabkan oleh Dewa Kabut Pembantaian seraya mengibaskan tangannya secara vertikal ke bawah.


Booom!


Garis pedang biru jatuh, membelah daratan dan menciptakan jurang yang sangat dalam. Setiap hal yang dilewati oleh garis pedang akan langsung hancur, binatang buas, binatang spiritual dan monster terbunuh tanpa meninggalkan jejak.


Dewa Kabut Pembantaian merasakan dingin di punggung kaburnya. Dia menoleh ke belakang seraya mengibaskan tangannya secara vertikal ke bawah.


Tirai awan gelap turun dari langit, menghantam tanah dengan kekuatan keras yang menggetarkan dunia. Kota-kota yang jaraknya jutaan mil bergetar dan runtuh, yang jaraknya ratusan ribu mil hancur lebur hanya karena gelombang kejutnya.


Ketika dua serangan bertemu, langit runtuh dan bumi retak. Kehancuran yang tak terbayangkan meratakan daratan di sekitar serangan.


Mereka melihat ke arah Mo Lian, lalu ke arah Dewa Kabut Pembantaian.


Keterkejutan datang saat melihat Dewa Kabut Pembantaian, yang kemudian kemarahan terlihat jelas di wajah mereka saat aura membunuh mulai naik.


"Kau! Kabut Pembantaian! Beraninya kau kembali ke Bintang Cahaya Biru!"


Mo Lian mengabaikan teriakan orang-orang. Dia mengangkat tangannya perlahan di depan dada, membawa aura kuat yang mendorong semua Dewa Bumi yang mencoba mendekati.


Tiba-tiba api biru muncul di udara kosong, membentuk sebuah tungku besar yang mengurung Dewa Kabut Pembantaian.


"Bumi dan Langit menjadi tungku. Hukum menjadi api."


Dengan suara mendengung, api menyala lebih kuat. Tanah-tanah mulai mencair membentuk lava panas.


Mo Lian tidak bermaksud untuk menyuling Dewa Kabut Pembantaian. Dia hanya mengambil sedikit kekuatannya dengan cara menghilangkan semua kabut awan yang melindungi Inti Jiwa-nya.


Raungan dan teriakan keras terdengar dari dalam tungku api.

__ADS_1


Semua Dewa Bumi yang melihat itu terdiam tanpa bisa berkata-kata. Mereka bahkan mundur selangkah untuk menghindari suhu panasnya, dan selangkah yang diambil ini memungkinkan mereka untuk mundur ribuan mil.


Pada saat ini, tiba-tiba datang orang lain yang berada di belakang Mo Lian. "Siapa kau?"


"Diam!" Mo Lian mengayunkan tangan kirinya ke belakang, membuat Dewa Bumi tahap Akhir membeku di udara tanpa bisa menggerakkan jari-jarinya.


Melihat itu, semua orang sangat terkejut. Yang sedang dihentikan itu adalah orang terkuat di Bintang Cahaya Biru, tapi saat ini membeku hanya karena lambaian tangan.


Mo Lian tidak peduli lagi dan kembali fokus untuk menghabiskan kekuatan Dewa Kabut Pembantaian.


Teriakan Dewa Kabut Pembantaian terus terdengar, membuat langit nampak runtuh dengan dentuman keras yang menggelegar.


Sampai beberapa menit kemudian, teriakan itu melemah.


Mo Lian menurunkan tangannya, menghilangkan tungku api dan memperlihatkan Inti Jiwa berwarna biru kehitaman yang melayang di udara. Tanpa membuang waktu, dia datang di depan Inti Jiwa dan mengambilnya langsung.


Setelah mengambil Inti Jiwa, waktu di sekitarnya kembali berjalan normal. Dia melihat sekitar, banyak sekali kehancuran yang terjadi karenanya. Mo Lian menghela napas, dia turut andil dalam kehancuran ini. Dengan melambaikan tangannya, waktu nampak berputar mundur saat serpihan debu berkumpul di udara membentuk bebatuan besar yang pada akhirnya menjadi ratusan gunung.


"Apa yang terjadi antaramu dengan Kabut Pembantaian?"


Mo Lian menoleh ke belakang melihat pria tua berambut putih yang dibekukannya tadi. "Dia berniat membunuh dan mengambil tubuhku. Aku marah, kesal, dan mengejarnya sampai ke sini."


Mendengar kata-kata itu, semua orang terdiam. Mereka tahu kekuatan Dewa Kabut Pembantaian karena mereka pernah mengepungnya, mereka tidak berhasil membunuhnya, hanya berhasil memberikan luka parah dan mengusirnya dari Bintang Cahaya Biru.


Sekarang, datang orang asing yang mengejar Dewa Kabut Pembantaian dan melihat dari usia tulangnya, itu belum berusia 100 tahun.


"Apakah kau ingin berkunjung ke tempatku?" tanya pria tua.


Mo Lian hendak menolaknya saat teringat tentang “Pembaptisan Dewa” yang membuatnya sangat penasaran. Dia menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Tentu. Kebetulan ada yang ingin kutanyakan padamu."


Ada yang menawarkannya untuk datang bertamu, dan Mo Lian bisa mencari informasi. Jika datang informasi kepadanya secara gratis, untuk apa dia menolak? Dengan demikian, dia bisa menyimpan Inti Jiwa yang sudah ditangkapnya untuk dirinya sendiri.


Dia bisa menggunakan Inti Jiwa Dewa Bumi untuk melakukan apa pun, lalu masih banyak simpanan yang telah didapatnya dari membunuh Aliansi 10.000 Ras. Dia bisa menyuling artefak berharga, mungkin setingkat Artefak Dewa.


Jika Dewa Bumi di Bintang Cahaya Biru merencanakan sesuatu untuk menahannya di sana, dia tidak akan bersikap sopan. Mo Lian akan menghancurkannya langsung, atau bisa membiarkan Inti Jiwa dari Dewa Kabut Pembantaian untuk meledak di sana.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2