Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 347 : Aliansi Dewa Abadi


__ADS_3

Hong Xi Ning membuka matanya perlahan dan bibirnya melengkung membentuk senyuman yang manis. "Apakah Sayang penasaran?" Ia berpindah tempat dalam sekejap mata dan berdiri di depan Mo Lian.


"Ning'er sering bertarung di medan perang ribuan tahun lalu untuk memperebutkan sumber daya. Tapi setelah menerobos Heavenly Immortal, semuanya terasa membosankan dan akhirnya selalu berada di sekte."


Mo Lian terdiam tanpa kata, tidak menduga jika istrinya akan sangat keras seperti itu sampai pergi ke medan perang. Medan perang ini bukanlah medan perang di mana satu organisasi memperebutkan wilayah lain, tapi medan perang Dimensi Ruang yang kekuatannya lebih ganas.


Tapi, pastinya tidak seganas Zaman Kuno dan Zaman Keemasan.


"Baiklah. Selamat karena berhasil membuka Dua Puluh Tujuh Kelopak." Mo Lian mengecup kening Hong Xi Ning. Kemudian ia yang pergi ke tempat Hong Xi Ning sebelumnya menerima baptis dari Teratai Emas.


Mo Lian mengembuskan napas, kemudian melepaskan aura dari Dewa Hitam yang sudah ditahannya.


Bang!


Ledakan keras berasal dari tubuhnya yang menghempaskan Bumi dan Bulan beserta planet-planet di sekitar. Untungnya mereka mendapatkan perlindungan, atau akan meledak menjadi debu karena aura yang dilepaskan. Mereka langsung kembali ke jalur mereka dan bergerak normal seperti tidak pernah terjadi hal itu.


Jika Mo Lian melepaskan auranya dengan niat membunuh, mungkin Galaxy Bima Sakti akan hancur. Tapi, jika itu puluhan ribu tahun lalu saat Zaman Keemasan. Jangankan Galaxy Bima Sakti, bahkan kekuatan Dewa Bumi tidak mampu menghancurkan Bumi! Sungguh luar biasa!


Mo Lian sudah melepaskan auranya, tapi tidak ada tanda-tanda awan berkumpul ataupun kilauan emas yang membentuk teratai. Ia sampai mengangkat alisnya dan sedikit membuka mata karena sangat lama menunggu.


Tidak terjadi apa-apa, seperti tidak ada yang ingin menahan Mo Lian untuk maju. Tapi Mo Lian sendiri merasa tidak sesederhana itu, apalagi ia belum menerima energi dari Surga untuk menempa tubuhnya dan meningkatkan kekuatan.


Mo Lian menengadahkan kepalanya melihat angkasa luar di atasnya. "Kau, aku sudah menunggu cukup lama di sini, apakah kau hanya diam saja di sana? Turunkan petir yang kau miliki!"


Blarr!


Tiba-tiba ada ledakan yang berasal dari sambaran petir seperti menanggapi provokasi dari Mo Lian, tapi tidak ada petir sekalipun di sana. Namun, bukan berarti karena tidak ada petir, semuanya bisa selesai begitu saja; ada aura penindasan yang sangat luar biasa di atas dan mencoba menekan Mo Lian.


Crack! Craaang!


Angkasa di atasnya retak dan pecah pada saat yang bersamaan seperti kaca. Dari dalam pecahan ruang itu terlihat sebuah tangan yang sangat besar, memiliki kekuatan yang tidak jauh dari Dewa Hitam atau bahkan lebih.


Ukurannya sendiri lebih besar dari Matahari di Tata Surya.


Mo Lian menengadahkan kepalanya melihat tangan emas yang turun perlahan dengan aura penindasan yang mencoba menekan dan membunuhnya. Ia terbang lebih tinggi untuk mengurangi dampak pada sekitarnya, agar tidak berdampak buruk pada Bumi dan mengecewakan harapan Jia Shenjun.


Ngung, ngung...


Tiba-tiba ada dengungan keras yang mengganggu pendengaran dan menimbulkan getaran luar biasa di seluruh Galaxy Bima Sakti. Sembilan Niat Pedang berkumpul di belakang punggung Mo Lian, mereka semua sudah ditahannya sebaik mungkin.


Sepertinya, aku tidak bisa berlama-lama lagi. Aku harus membunuh Taotie agar Hukum Dharma di Bumi dan Galaxy Bima Sakti pulih. Sangat sulit untuk selalu menahan kekuatan. Jika Hukum Dharma kembali, aku bisa mengerahkan seluruh kekuatan, dan Galaxy Bima Sakti tetap utuh.


Sembilan Niat Pedang berputar di punggungnya, tapi hanya satu saja yang sedikit naik dan keluar dari barisan. Pedang itu memancarkan sinar putih cemerlang yang luar biasa, tapi aura membunuh di dalamnya sangat mengerikan.


Pedang itu sedikit bergetar, kemudian kembali tenang seperti tidak ada yang spesial. Hingga, tiba-tiba...


Bang!

__ADS_1


Tangan emas di angkasa itu berhenti bergerak dan ada retakan di telapaknya. Gelombang udara menghempaskan sekitarnya dengan kekuatan yang luar biasa.


Pedang lain kembali bergetar dan memancarkan cahaya sama seperti sebelumnya, kemudian padam.


Bang!


Tangan emas bergetar hebat seperti merasakan sakit, bahkan setengah tangannya sudah terluka dan hanya satu serangan lagi akan hancur. Tapi, tiba-tiba tangan emas itu jatuh dengan kecepatan yang luar biasa.


Namun Mo Lian tetap tenang saat melihatnya, ia bahkan menghilangkan 9 Niat Pedang. Tapi, ia tidak menyerah begitu saja karena di atasnya terdapat tangan dengan ukuran yang lebih besar lagi berwarna biru berkilau seperti terdapat bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya.


Dua telapak tangan itu bergerak secara bersamaan ke arah yang berlawanan; angin bertiup kencang dan keduanya saling menekan meski belum menyentuh satu sama lain.


Matahari yang sudah sangat jauh dari tempatnya, mulai mengalami perubahan dengan api yang menyala sangat besar dan suhu di Bumi hampir naik dua kalinya. Tapi detik berikutnya, suhu Bumi turun dua kalinya karena sinar matahari terlihat padam dan semuanya sangat gelap. Hanya dua telapak tangan saja yang merupakan sumber cahaya dalam kegelapan tak berujung.


Untungnya, Bumi sudah mendapatkan lebih banyak aura spiritual yang menyokong fondasi di sana, atau Bumi akan hancur. Bagaimanapun, Matahari membantu fotosintesis tumbuhan. Jika seluruh tumbuhan mati, maka tidak ada oksigen. Jika tidak ada oksigen, kerak bumi akan remuk dan tidak mempertahankan bangunan di atasnya.


Yang terparah, dalam lima detik, semua daratan di Bumi akan hancur.


Tangan biru yang hampir menabrak tangan emas, tiba-tiba mengubah haluannya dan menangkap bagian terdalam yang masih bersembunyi di dalam celah ruang


Mo Lian mengangkat tangan kanannya di depan dada membentuk segel dus jari.


Tangan biru itu menggenggam tangan emas, mencengkeramnya erat sampai menimbulkan suara kasar dan retakan-retakan besar mulai terlihat di permukaannya.


Booom!


Mo Lian merentangkan kedua tangannya merasakan aliran energi murni yang mengalir deras di dalam tubuhnya seperti air terjun. Penyerapan cahaya emas sangat cepat dan hanya beberapa menit saja, semuanya sudah habis terserap dan Tata Surya kembali gelap gulita.


Mo Lian mengarahkan tangan kirinya ke Matahari, melepaskan sedikit kekuatannya dan saat itu Matahari kembali bersinar menerangi Tata Surya.


"Belum cukup." Mo Lian masih belum puas dengan pencapaiannya yang sekarang.


Mo Lian menengadahkan kepalanya melihat celah ruang yang menutup perlahan. "Berhenti!"


Celah ruang itu berhenti bergerak, tapi bergetar hebat seperti mencoba memaksa untuk menutup dengan rasa takut yang mengerikan. Tapi itu bukanlah akhir, di bawah celah ruang itu berkumpul energi merah yang membentuk gumpalan dan terus membesar dengan suhu yang luar biasa panasnya.


Bahkan suhu matahari tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan gumpalan kecil energi merah.


"Pergi!"


Dengan sedikit teriakan, gumpalan itu melesat tajam memasuki celah dan menutup paksa. Jika awalnya celah mencoba untuk menutup, tapi sekarang mencoba untuk terbuka lebih lebar lagi, tapi dengan kekuatan Mo Lian, bahkan celah ruang tidak bisa bertahan.


Booom! Duarr!


Ledakan keras lain kembali terdengar dengan getaran kuat, ledakan itu bisa dirasakan bukan hanya di Galaxy Bima Sakti, tapi beberapa galaksi di sekitarnya. Kemudian, api meledak-ledak di angkasa dengan warna yang sangat terang sampai membutakan mata siapa saja yang melihatnya.


Setidaknya, butuh 30 detik sebelum api itu menghilang dan menggantikannya dengan pecahan cahaya emas cemerlang yang jatuh seperti air terjun.

__ADS_1


"Bagus!" Mo Lian sangat puas. Ia menyadari energi dari tangan itu sangat luar biasa, lebih kuat dari Teratai Emas.


Jika Kesengsaraan Petir mampu menempa tubuh: Tubuh, Darah, Daging, Tulang dan Otot; Teratai Emas mampu meningkatkan: Teknik, Jiwa, Dantian, Dunia Kecil, Element dan membersihkan kotoran. Maka, Tangan Emas yang entah apa ini, mengandung Energi Sejati yang sangat luar biasa—ratusan kali lebih berharga dari Energi Murni!


Mo Lian bisa langsung menerobos tahap Akhir dari Dewa Hitam dan bahkan melangkah ke Dewa Bumi. Tapi, seperti biasanya, ia meningkatkan Tiga Kekuatan Utama dan lain sebagainya—agar tidak ada ketidakseimbangan dalam tubuhnya.


...***...


Di angkasa luar dalam kegelapan yang tak berujung, terdapat sedikit fluktuasi energi yang sangat sulit untuk dirasakan. Itu adalah Dimensi Ruang tersembunyi, di dalamnya menyembunyikan sebuah dunia yang ukurannya lebih besar dari Bintang Utama.


Aura spiritual di sana lebih kental dan murni dari Bintang Utama, dan Ranah Heavenly Immortal dapat ditemukan di mana pun seperti bukanlah hal yang spesial.


Jauh di pendalaman hutan tak berujung, ada sebuah gua tersembunyi yang di dalamnya terdapat ruangan luas. Di sana sangat gelap dan apabila ada cahaya, akan terlihat kursi batu persegi dengan bantal di atasnya.


Kursi itu ada ratusan, dan di atasnya ada duduk pria maupun wanita dari berbagai ras. Masing-masing terlihat sangat kuat seperti senior tua yang sudah tidak tertarik lagi dengan urusan duniawi.


Tapi, salah satu dari mereka membuka matanya memperlihatkan mata merah menyala di dalam kegelapan seperti bola lampu. Ia membuka suaranya dan terdengar serak, "Apakah kalian merasakannya? Ada yang menembus Dewa Hitam, dan itu memiliki darah dari Bangsa Zhongguo!"


"Ya!" Suara wanita merdu terdengar, dan mengandung keinginan membunuh yang sangat kuat.


"Bangsa Zhongguo tidak boleh ada di Semesta, atau kedudukan kita akan menghilang!"


"Klan kami akan mengirimkan Dewa Hitam untuk membawa ribuan Dewa Merah. Harusnya cukup untuk memuaskan Bangsa Zhongguo yang tersisa!"


"Omong kosong! Klan Dewa Bersayap kalian sangat lemah! Biarkan Serigala Berdarah kami yang memimpin!"


"Apa kau bilang?! Klan Dewa Bersayap sudah mengembangkan kekuatan dan—"


"Diam!" Pria yang berbicara pertama mulai berucap lagi dan saat itu suasana kembali tenang. "Kita adalah Aliansi Dewa Abadi! Jangan bertarung satu sama lain dan mengurangi kekuatan kita!"


"Aku akan mengirimkan Armada Satu untuk berangkat, dan memurnikan semua Esensi Darah Abadi, Bangsa Zhongguo!"


Seketika itu juga, ratusan Dewa Bumi dan Surga yang berada di sana terdiam tanpa suara. Armada Satu sangat kuat, setidaknya ada 12 Dewa Hitam tahap Awal, 1000 Dewa Merah, 5.000 Dewa Pemula, 20.000 Heavenly Immortal.


Kekuatan itu, terlalu berlebihan. Tapi jika mereka mengingat kembali Perang Para Dewa, hanya 1000 Dewa Bumi Bangsa Zhongguo, 2.500 Dewa Hitam, berhasil memusnahkan 50 Armada dari Aliansi Dewa Abadi. Membunuh 5000 Dewa Bumi, 18.000 Dewa Hitam, 30.000 Dewa Merah, dan tak terhitung jumlahnya Dewa Pemula.


Mereka yang hadir di sini, saat itu hanyalah bocah Dewa Pemula yang bahkan tidak memenuhi kriteria untuk pergi ke Bumi. Mereka hanya mendengar berita dari beberapa Senior yang berhasil kembali dan itu pun mati keesokan harinya.


Ada keberadaan yang sangat mengerikan di sana. Satu pedang—membunuh, satu pedang—kehancuran, satu pedang—kematian. Jia Shenjun!


Kekuatan Bangsa Zhongguo—tidak boleh diremehkan!


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2