
Mo Lian terus berlari menjauh dari Perusahaan Meiliafei dengan menjaga jarak dari kedelapan orang yang mengejarnya, tidak dekat dan juga tidak jauh. Ia pergi menuju kawasan hutan yang masih terjaga keadaan alamnya dan mencari tempat yang tidak dapat dijangkau oleh CCTV.
Dengan kecepatannya yang sekarang, ia bisa saja sampai di hutan hanya dalam waktu tiga sampai lima menit. Namun karena ia harus memancing kedelapan orang di belakangnya, akhirnya ia harus memperlambat langkahnya dan membutuhkan lebih dari sepuluh menit.
Tidak lama setelah kepergiannya dari perusahaan, ia sudah sampai di hutan yang lebat tanpa ada tanda-tanda kehidupan dalam radius beberapa ratus meter darinya.
Mo Lian menghentikan langkah kakinya di tengah-tengah hutan. Diikuti oleh kedelapan orang juga berhenti dan mengepung Mo Lian.
"Karena kau dapat berlari secepat ini. Paling tidak kau seorang Pejuang ditingkat Wu-Zong. Aku tidak tahu apakah kau orang yang membunuh Lao atau tidak, tapi karena kau mengetahui tentang Organisasi Dunia Hitam. Maka kau harus mati!" Pria paruh baya maju selangkah.
Mo Lian menaikan sebelah alisnya, kemudian ia tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Mati? Harusnya aku yang mengatakan itu. Katakan di mana markas kalian, dan siapa yang memberikan perintah pada kalian untuk menangkap ibuku?!"
Ibu? Menangkap? Kedelapan orang itu terdiam sejenak memikirkan apa maksud dari perkataan Mo Lian, kemudian mereka berdelapan tertawa terbahak-bahak saat sudah mengetahui jika Mo Lian adalah anak dari CEO Perusahaan Meiliafei.
"Aku tidak menyangka anak dari Su Jingmei ternyata seorang Pejuang. Meski kau berada ditingkat Wu-Zong, tapi kau tetap akan mati, karena kami memiliki tiga orang setengah Wu-Dan!" Pria paruh baya itu kembali menatap tajam Mo Lian.
Mo Lian menggelengkan kepalanya pelan seraya menghela napas panjang dari mulutnya. Dengan sedikit gerakan, ia menghilang dari pandangan semua orang, ia mengayunkan tinju kanannya mengarah pemuda berpakaian abu-abu lengan pendek.
Ketika ia mengayunkan tangannya, terlihat api besar berbentuk bola yang keluar dari ujung tangannya. Api ini tercipta akibat gesekan antara tinjunya dengan udara di sekitar, api melesat cepat mengarah pada pemuda berpakaian abu-abu, kemudian terdengar ledakan keras yang memekakkan telinga.
Tubuh pemuda berpakaian abu-abu yang tidak diketahui namanya itu meledak menjadi potongan daging dan kemudian berubah menjadi abu.
Kejadian ini terjadi hanya dalam seperkian detik, sehingga ketujuh orang lainnya tidak bisa bereaksi dengan cepat.
"Baju****! Bunuh dia!" teriak pria paruh baya memberikan aba-aba.
Seketika keenam orang lainnya tersadar dari keterkejutannya, mereka semua mengeluarkan senjata yang mereka simpan di dalam baju. Kemudian mulai mengayunkannya secara membabi buta ke arah Mo Lian.
Siluet bulan sabit berbeda warna keluar dari pedang-pedang itu. Mo Lian yang melihat itu sedikit tersentak, pasalnya saat berada di dalam perusahaan tadi ia tidak mendapati senjata yang dibawa mereka semua. Namun entah mengapa sekarang mereka telah bersenjata, terlebih lagi mereka tidak memiliki Cincin Ruang.
"Hanya ada satu kemungkinan. Tubuh Pedang!"
Mo Lian menggelengkan kepalanya. "Mungkin mereka mengambilnya di mobil!"
Mo Lian mengalirkan energi spiritual ke seluruh tubuhnya, ia membuka kakinya membuat kuda-kuda, kemudian memutar kedua tangannya membentuk yin dan yang, lalu mendorongnya ke depan.
Siluet lingkaran berwarna hitam dan putih muncul di depan Mo Lian, lingkaran itu melesat tajam bagaikan peluru ke arah tujuh siluet. Saat lingkaran yang dibuat Mo Lian dan tujuh siluet bulan sabit beradu, terciptalah suara keras yang memekakkan telinga dengan angin kencang yang berembus.
Tidak berhenti disitu saja, dengan pedang biru transparan di tangannya. Mo Lian kembali bergerak dan menghilang dari pandangan semua orang, lalu muncul kembali tepat di belakang salah satu dari mereka yang berada ditingkat Wu-Zong tahap Awal.
Jleb!
__ADS_1
Mo Lian menusuk punggung pemuda berambut hitam pendek, berpakaian tradisional China berwarna merah. Setelah ia menembus punggung pemuda itu, Mo Lian mengayunkan pedangnya secara horizontal, seketika badan bagian atas terbelah dua.
"Mati!"
Dari belakangnya terdengar suara nyaring yang dipenuhi akan kebencian dan nafsu membunuh yang tinggi.
Mo Lian yang mendengar dan merasakan itu hanya terdiam tak bergeming dari tempatnya berdiri, ia menerima serangan itu dengan senang hati.
Clang!
Pedang yang diayunkan pria paruh baya yang tampaknya seperti pemimpin itu patah saat mengenai tubuh Mo Lian. Ia terdiam dengan mulut terbuka lebar, terlihat keringat dingin mengalir di dahi. Dengan cepat ia mundur beberapa puluh langkah ke belakang. "Ba- Ba- Bagaimana mungkin. Aku hampir menembus tingkat Wu-Dan, tapi kenapa serangan ku tidak berefek padamu!" ucapnya dengan ekspresi rumit.
Mo Lian hanya terdiam tak membalas perkataan orang itu, ia menepuk-nepuk pundaknya yang sebelumnya terkena serangan pedang. Ia membalikan tubuhnya menatap wajah pria paruh baya. "Entahlah!"
"Ketua! Aku tahu! Dia memiliki Artefak! Ayo kita serang dia dengan serangan gabungan kita!" teriak salah satu dari mereka.
Pria paruh baya yang tak diketahui namanya itu terdiam sejenak, kemudian menganggukkan kepalanya sebagai persetujuan. Dengan cepat keenam orang yang tersisa itu berkumpul bersama menatap Mo Lian.
Pemimpin dari mereka berdiri di depan seraya mengangkat pedang lainnya mengarah ke langit. Sedangkan kelima orang lainnya memberikan seluruh energi spiritual mereka pada pemimpin mereka.
Perlahan, energi spiritual berkumpul pada pedang. Pedang bergetar seraya memancarkan sinar berwarna merah terang, dedaunan di sekitar berterbangan karena tertiup angin kencang yang entah dari kapan sudah bertiup.
Melihat itu, Mo Lian hanya diam tak menghentikan serangan gabungan mereka. Itu karena ia sangat penasaran dengan serangan gabungan dari pembudidaya yang ada di Bumi.
Bukannya takut, Mo Lian malah tersenyum lebar saat melihat siluet bulan sabit yang sangat besar itu, bahkan jika empat mobil ditumpuk menjadi satu, tumpukan mobil itu bisa terbelah dua dengan rapi.
"Hahaha! Terimakasih!" Mo Lian berteriak lantang dengan dengan telapak tangan saling bertemu, seketika di belakang punggungnya muncul dua tangan besar berwarna biru.
Kedua telapak tangan itu mencuat naik. Ketika siluet bulan sabit hendak mengenai kulit kepala Mo Lian, tiba-tiba kedua telapak tangan besar bergerak cepat dan menangkap siluet bulan sabit merah. Saat itu juga angin kembali berhembus kencang, pepohonan di sekitar tercabut dari akarnya dan terbang menjauh.
Kini dalam radius seratus meter tidak ada lagi pepohonan yang tumbuh, yang ada hanya tujuh manusia berbeda usia yang sedang bertarung.
Keenam orang dari Organisasi Dunia Hitam terperangah dengan mulut terbuka lebar, mereka semua tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa dia masih hidup? Pertanyaan-pertanyaan itu terlihat jelas di wajah mereka semua.
Mo Lian tersenyum lebar saat merasakan tatapan itu, ia kembali memvisualisasikan pedang di kedua tangannya. Dengan sedikit gerakan, ia menghilang di udara kosong di hadapan semua orang, dan muncul kembali di belakang mereka.
Mo Lian mengayunkan dua pedangnya secara menyilang. Pada saat itu juga tubuh dua orang di depannya terbelah dua.
Tidak berhenti disitu saja, ia kembali mengayunkan pedangnya secara vertikal dari bawah ke atas, membelah dua tubuh dari dua orang di depannya. "Itu karena aku adalah seorang setengah Wu-Sheng!" ucapnya seraya mengeluarkan aura puncaknya.
"Wu- Wu- Wu-She—" Pria paruh baya menghentikan ucapannya ketika merasakan sakit di dadanya dan dingin di lehernya. Ia menundukkan kepalanya, terlihat dua pedang biru menancap di kedua bagian yang ia rasakan.
__ADS_1
Slash!
Pandangan pria paruh baya itu berubah-ubah, langit dan tanah secara bergantian. Hingga akhirnya ia melihat tubuhnya yang tanpa kepala, dan di belakangnya berdiri seorang pemuda yang menggenggam pedang. "Baga—"
Pria paruh baya itu terbunuh begitu saja dengan kepala terpisah dari tubuhnya, dan mata yang terbuka lebar karena keterkejutannya terhadap kecepatan Mo Lian membunuh.
Kini yang tersisa hanya Mo Lian dan seorang pemuda ditingkat Wu-Zong tahap Menengah, mengenakan pakaian tradisional China berwarna orange tanpa lengan.
Pemuda itu mundur beberapa langkah ke belakang, kemudian terduduk di tanah karena ketakutannya terhadap Mo Lian. Saat melihat jaraknya dengan Mo Lian cukup jauh, ia tergesa-gesa berjalan merangkak menjauh dari tempat duduknya tadi mencoba untuk menyelamatkan diri.
Buk!
Baru saja ia menolehkan kepala ke arah lain, secara tiba-tiba kepalanya merasakan rasa sakit yang amat menyakitkan. Ia mendongakkan kepalanya, terlihat Mo Lian berdiri di depannya dengan kaki kanan terangkat.
Mo Lian berjalan menghampiri pemuda itu. "Katakan! Di mana markas Organisasi Dunia Hitam!"
Pemuda itu menggelengkan kepalanya, kemudian menjawab, "Ti- Tidak akan!"
Mo Lian mengerutkan keningnya, ia menembakkan energi spiritual dari ujung jarinya mengarah pada bahu pemuda itu.
"Aarrgghh!"
"Katakan!" Mo Lian kembali menembakkan energi spiritual.
"Aarrgghh!"
"Ti- Tidak ... aka— Arrggghh!"
Mo Lian terus menembakkan energi spiritualnya pada tubuh pemuda dari Organisasi Dunia Hitam. Entah itu bahu, lengan, tangan, paha, kaki dan pinggang. Hal itu berlangsung selama setengah jam lamanya, ia juga menekan beberapa titik akupuntur pemuda itu agar rasa sakit yang diterima menjadi berkali-kali lipat.
Sepuluh menit kemudian setelah penyiksaan yang kejam, baju yang sebelumnya berwarna orange telah berubah menjadi warna merah gelap. Tubuhnya banyak dipenuhi oleh lubang-lubang seukuran kelereng kecil. Pemuda itu mendongakkan kepalanya menatap wajah Mo Lian. "A- A- Aku tidak tahu ... markas asli Dunia ... Hitam. Tapi ... aku tahu markas cabangnya yang berada di Kota Chengdu, itu berada di—"
Pemuda itu menghentikan perkataannya ketika merasakan panas di tenggorokannya. Ia memegangi lehernya dengan kedua tangan, tak lama kemudian ia kehilangan kesadaran, kedua matanya berubah putih, dan lidah yang menjulur keluar.
Mo Lian tertegun saat melihat kejadian di depannya. "Sial! Pengunci Jiwa!" umpatnya kesal dengan kedua tangan terkepal.
Mo Lian menggelengkan kepalanya. "Biarlah! Meski belum mengetahui di mana markas mereka, tapi aku mendapatkan untung dengan pertarungan tadi. Apalagi saat menahan serangan gabungan mereka."
"Aku hanya perlu menstabilkan energi spiritual di dalam tubuhku. Kemudian mencari tempat yang tenang untuk menembus Ranah Inti Perak!"
...
__ADS_1
***
*Bersambung...