
Walaupun hari sudah berganti, keributan di Kota Sheng masih saja terjadi. Entah keributan karena hancurnya Sekte Qingzhaou, atau awan putih keemasan yang muncul. Dan sekarang, hamparan rumput berubah menjadi hamparan bunga dengan pepohonan yang tumbuh.
Mo Lian, masih bersantai menikmati pemandangan kota dan menunggu waktu sewa kamarnya habis.
Hingga saat sinar matahari sudah berada di posisi puncaknya, Mo Lian berjalan keluar setelah mengembalikan kunci kamar. Ia langsung meninggalkan Kota Sheng tanpa berpamitan pada Keluarga Shen, karena itu hanya memperbanyak hubungan yang tidak perlu.
Bagaimanapun, ia di Bintang Tianjin ini tidak bermaksud untuk bermain-main, ia datang ke sini karena ingin beristirahat dan membasmi Kultivator Iblis sampai tanpa sisa.
"Ibukota Kekaisaran Tang sekitar dua ratus ribu mil ke arah selatan. Setidaknya membutuhkan waktu satu hari penuh tanpa beristirahat untuk sampai."
Mo Lian berjalan kaki melewati jalan tanah yang kiri kanannya adalah hamparan rumput, dengan pepohonan yang jarang-jarang.
Banyak orang yang lalu lalang di langit, namun tidak di jalanan. Sangat jarang ada manusia yang bepergian melalui jalur darat, kecuali manusia biasa yang bukan Kultivator.
Mo Lian menengadah melihat langit. "Kebanyakan Kultivator di Bintang Tianjin menggunakan Pedang Terbang. Apakah mereka tidak bisa terbang menggunakan kekuatan sendiri, atau mungkin kecepatan mereka sangat lambat, karena itulah membutuhkan bantuan."
Mo Lian terus berjalan santai seraya menikmati terpaan angin sejuk yang mengenai wajah tampannya, menerbangkan rambut hitam panjangnya. Ia mengangkat tangan kanannya dan menutupi wajahnya dengan lengan saat dedaunan beterbangan ke arahnya.
"Berjalan santai seperti ini, mengingatkanku saat di Kediaman Yongheng."
Kediaman Yongheng adalah pulau terapung seluas 250 hektar yang Mo Lian buat di angkasa luar, sebagai tempatnya beristirahat dan tinggal seorang diri. Banyak yang melewati kediamannya hanya untuk melihat-lihat, namun tidak ada yang berani terbang di atas maupun di dekatnya Kediaman Yongheng.
Satu jam berjalan kaki, Mo Lian sudah memasuki kawasan yang sepi dengan manusia. Tidak ada tanda-tanda manusia yang berjalan, kiri kanannya adalah hutan lebat dan terdengar kicauan burung yang terdengar menyeramkan.
Mo Lian memutuskan beristirahat di tengah-tengah hutan dengan membakar kelinci yang ia tangkap barusan.
Walaupun sudah berhasil menembus Jiwa Emas Ilahi dan sangat mudah baginya untuk menyingkat jarak jutaan mil jauhnya. Mo Lian masih memilih untuk berjalan kaki, berlama-lama di Bintang Tianjin, meski ia sangat merindukan orangtuanya.
"Lima tahun, aku akan pergi ke Galaxy Pusat setelah lima tahun berkelana."
Mo Lian membolak-balik kelinci utuh yang telah dibersihkan di depannya. "Dalam waktu lima tahun, aku harus bisa menembus Dao Immortal. Tidak ada Dao Immortal Ilahi atau apa pun itu."
Meski tidak ada, dengan kekuatannya yang sekarang, ia sudah bisa menandingi kekuatan Setengah Heavenly Immortal. Energi dalam tubuhnya sudah berganti dengan energi murni, sangat mudah untuk melawan puluhan ribu Kultivator ditingkat yang sama.
__ADS_1
Puluhan menit berlalu semenjak ia datang ke tengah-tengah hutan untuk beristirahat. Mo Lian sudah cukup beristirahat dan berkultivasi untuk beberapa saat, meningkatkan lima elemen lain yang ia kuasai.
Mo Lian berdiri dari batang kayu yang digunakan sebagai tempat untuknya duduk. Kemudian menatap jauh ke arah selatan. Ia melangkahkan kaki kanannya ke depan, dan seketika itu juga pemandangan sekitarnya mulai berubah.
Tidak ada lagi pepohonan rimbun dengan kicauan burung. Saat ini ia sudah berada di tengah-tengah danau yang berdekatan dengan Kekaisaran Tang, sekitar tiga puluhan ribu mil lagi.
Mo Lian berjalan santai di atas permukaan air danau yang berwarna biru gelap karena kedalamannya. Bahkan di tepian danau banyak sekali orang-orang yang menatapnya heran saat melihat kedatangan Mo Lian yang secara tiba-tiba. Tapi lebih banyak yang menatap takut dan memperlihatkan ekspresi kasihan.
Mo Lian menyadari arti dari tatapan itu. Ia merasakan ada kehidupan monster yang jauh di bawah danau, memiliki kekuatan yang setara dengan Dao Immortal.
Ia memang sengaja datang ke danau ini, karena monster yang di kedalaman danau adalah targetnya. Ia ingin mengambil darah dan Inti Spiritual yang ada, untuk digunakan sebagai bahan tambahan menyuling Pil Penguat Darah.
Penguat Darah adalah pil yang menambahkan kualitas pada darah manusia, biasanya berfungsi untuk meningkatkan kecepatan regenerasi tubuh yang terluka.
Mo Lian sendiri sebenarnya tidak terlalu memerlukan lagi Pil Penguat Darah, mengingat ia sudah menyerap esensi dari Pil Darah, yang salah satu bahannya merupakan darah murni dari Ras Vampire. Namun, karena ia menemukan bahan yang cocok, mengapa tidak buat lagi.
Mo Lian menghentakkan kakinya di atas permukaan air, membuat getaran yang hebat dengan gelombang suara yang masuk jauh ke dasar danau.
Permukaan air danau mulai bergelombang, membuat Mo Lian yang berada di permukaannya bergerak-gerak mengikuti irama.
Mo Lian menengadahkan kepalanya melihat ular besar berwarna hitam di bagian luarnya, putih di bagian perut, dan merah di bagian atas kepala yang memiliki bentuk seperti cobra. Dari yang ia rasakan, ular ini memiliki panjang sekiranya berkisar satu sampai dua mil.
"Manusia! Beraninya kau mengganggu tidurku! Aku akan melanggar sumpah dan keluar dari Danau Zuzhou, dan kemudian membunuh semua manusia!" Ular itu terlihat seperti diam, namun terdengar suara yang berat dan menggema di langit.
"Sudah berapa banyak manusia yang kau makan untuk mendapatkan wujud ini?"
Ular itu mendesis, menjulurkan lidah panjangnya yang berlendir hijau, yang mana lendir itu memiliki kadar racun yang mengerikan. "Untuk apa aku menjawab pertanyaan dari manusia lemah!"
Ular itu membuka mulutnya lebar-lebar, dan menyemburkan asap hijau tua yang sangat beracun ke arah Mo Lian. Saking beracunnya, bahkan pepohonan yang berada sangat jauh dari pusat serangan mulai layu dan mengering.
Orang-orang yang berada di sekitar mulai menjauhi Danau Zuzhou tanpa memedulikan bagaimana nasib Mo Lian.
Mo Lian menatap datar kabut hijau yang sangat beracun itu dan mengangkat tangan kanannya perlahan. "Teknik Element Es, Domain Es!"
__ADS_1
Seketika itu juga semua air danau seluas dua sepuluh hektar itu mulai membeku sampai dasar-dasarnya, beserta pepohonan di sekitar, bahkan kabut asap hijau juga ikut.
Walaupun baru membangkitkan Element Es, Mo Lian bisa menguasainya sampai ketingkat tertinggi hanya dalam waktu hitungan menit saja.
"Apa? Terkejut? Tidak bisa bergerak?" tanya Mo Lian menatap datar wajah ular besar.
"Sialan! Jika kau membunuhku, warga desa akan terserang wabah memati—"
"Omong kosong!" Mo Lian memotong perkataan yang tidak masuk akal. "Wabah itu adalah racun yang kau gunakan, kau menyebarkan racun tubuhmu melalui sungai-sungai kecil bawah tanah ..."
"Setelah penduduk desa memberikan tumbal seorang gadis suci yang tidak berdosa, kau akan mengurangi takaran racun agar nampak seperti memberikan berkat."
"Ba- Bagaimana—" Ular itu menghentikan ucapannya. Ia hampir mengekspos kebohongannya selama ini di depan umum. Tapi yang anehnya, ini adalah kali pertamanya bertemu dengan Mo Lian, namun sudah bisa mengetahui rahasianya.
Mo Lian menaikkan sudut bibirnya. Ia sudah pernah menemui kasus seperti ini di salah satu bidang bintang yang ia kunjungi dulu. Monster akan menggunakan cara apa pun untuk mendapatkan gadis suci, meski itu membutuhkan waktu yang sangat lama.
Monster yang memiliki kesadaran biasanya tidak langsung menghancurkan satu desa atau kota, melainkan berdiam di satu tempat, memberikan kutukan dan menariknya perlahan.
Monster-monster akan menarik racun atau kutukan yang ia sebabkan, setelah mendapatkan apa yang dicari. Hal itu terus berulang-ulang sampai kekuatan mereka dianggap mampu menandingi Kultivator Heavenly Immortal.
Sederhananya, monster tidak menghancurkan kota untuk dijadikan penangkaran, dan sumber makanan.
"Kau tahu, aku sangat menyukai melepas sisik ular satu per satu, dan menyembuhkannya lagi, kemudian melepaskannya lagi. Aku bisa melakukannya sampai satu bulan penuh, dan menikmati setiap teriakan monster."
Ular itu terdiam dan merasakan dingin yang menusuk kulit, bukan dari es yang membekukan tubuhnya, melainkan dari niat membunuh yang sangat tajam dan kuat.
Mo Lian melayang perlahan dari permukaan air laut. "Sekarang, haruskah kita mulai?"
...
***
*Bersambung...
__ADS_1