
Mo Lian duduk di kursi yang berada tepat di teras bangunan. Ia menikmati secangkir teh yang ia sajikan dari dalam cincin ruang, saat ia sedang bersantai dan menunggu gilirannya. Tiba-tiba di depannya mendarat seorang wanita muda yang dikenalnya, dan memiliki dada yang besar, bahkan lebih besar dari Zhing Xumei, yaitu Ong Hei Yun.
"Mo Lian. Aku sudah datang, apakah kau sudah mempersiapkan surat yang akan aku antar nanti?" tanya Ong Hei Yun yang langsung duduk di depan Mo Lian.
Mo Lian menyesap tehnya sejenak, kemudian meletakkan cangkirnya di atas meja sembari mengeluarkan dua surat yang berada di saku bajunya. "Ini. Untuk Pasukan Taring Naga dan Aliansi Beladiri Huaxia. Kau juga boleh mengatakannya pada sekte lain, tapi jika sekte itu menyebalkan, aku akan melakukan hal yang sama seperti saat Pertandingan Beladiri."
Ong Hei Yun mengangguk kecil sembari mengambil dua amplop surat yang berada di atas meja. Kemudian ia menolehkan kepalanya melihat puluhan tenda yang berada di kiri depan bangunan. "Apa itu semua?"
Mo Lian menyandarkan badannya di sandaran kursi. "Mereka sedang mengukur ukuran tubuh mereka. Bagaimanapun aku sudah membangun sebuah sekte, tentunya harus ada seragam dan jubah untuk membedakan tingkat kultivasi para murid, maupun kedudukannya di sekte ..."
"Seharusnya aku membagi lagi tingkatan para murid. Seperti murid pelayan, murid luar, murid dalam, murid batin, murid penatua, murid langsung. Tapi itu terlalu merepotkan, terlebih lagi aku tidak memiliki wilayah yang cukup." Mo Lian melanjutkan penjelasannya setelah menyesap teh hangat.
Ong Hei Yun mengangguk kecil. Ia menolehkan kepalanya kembali menatap Mo Lian yang memejamkan matanya. "Kau mengatakan bahwa aku akan menjadi orang terhormat. Apakah aku juga mendapatkan seragam atau jubah?"
Mo Lian terdiam sejenak, kemudian menghela napas panjang. Ia membuka matanya perlahan menatap Ong Hei Yun. "Memang aku mengatakan akan membuatmu menjadi orang terhormat. Tapi belum saatnya, paling tidak kau harus menembus Ranah Inti Perak, atau Wu-Sheng. Pada saat itulah aku akan memberikan kau sebuah jubah, untuk sekarang aku hanya memberimu izin biasa."
Ong Hei Yun terdiam, kemudian menghela napas panjang menerima keputusan itu. "Baiklah," ucapnya tertunduk lesu.
Mo Lian menolehkan kepalanya ke arah kiri melihat puluhan tenda, lebih tepatnya Tae Gong Yu. "Tae Gong Yu. Ke sini sebentar," ucapnya pelan namun bisa didengar sampai jarak ratusan meter.
Tae Gong Yu yang sedang menulis laporan menolehkan kepalanya. Kemudian berjalan menghampiri Mo Lian dan meninggalkan pekerjaannya pada asistennya. "Ada apa?"
"Qin Zhang, Qin Tian, Qin Nian, Yun Hengtian dan Yun Ning. Berikan mereka jubah tambahan, warnanya putih. Kemudian tambahkan satu jubah berwarna merah untuknya," jawab Mo Lian menatap wajah Tae Gong Yu dengan jari menunjuk ke arah Ong Hei Yun.
"Apakah uangnya kurang?" lanjut Mo Lian.
Tae Gong Yu menggeleng pelan. "Tidak perlu. Untuk enam jubah ini tidak akan dikenakan biaya tambahan ... jika tidak ada lagi, saya undur diri."
Mo Lian hanya terdiam dan menaikkan sebelah tangannya sebagai balasan dari salam itu.
Ketika Tae Gong Yu sudah pergi. Ong Hei Yun membanting kedua tangannya di atas meja karena senang. "Apakah aku akan mendapatkan jubah?" tanyanya dengan mata yang bersinar-sinar.
"Tentu, tapi nanti saat kau sudah menembus Ranah Inti Perak. Akan sangat tidak masuk akal, kau yang baru Fase Lautan Ilahi mendapatkan itu, sedangkan Qin Nian yang hampir menembus Fase Lautan Ilahi tahap Akhir tidak akan kuberikan jubah berwarna merah."
Mendengar itu, Ong Hei Yun kembali terdiam lesu dan meletakkan kepalanya di atas meja. "Menyebalkan," gumamnya.
Mo Lian hanya diam tak bersuara, ia bersandar pada sandaran tempat duduk menunggu gilirannya. Hingga tiga jam berlalu, semua orang sudah selesai dalam pengukuran tubuhnya, lalu pada saat itu juga Mo Lian meminta perubahan desain seragam.
Memang menyebalkan, tapi Tae Gong Yu tidak mempermasalahkannya, bagaimanapun belum ada pengerjaan dan baru dalam proses pengukuran.
__ADS_1
Jika seragam sebelumnya mengenakan tali sebagai pengikatnya. Maka sekarang tidak menggunakan apapun, dan cara memakainya adalah dengan cara disilangkan, kemudian diikat dengan sabuk yang terbuat dari kain. Barulah dilapisi lagi dengan jubah untuk menutupi seragamnya.
Lalu untuk model jubahnya juga dibedakan, untuk pria memiliki kain yang lebih berat dan tebal. Sedangkan untuk wanita mengenakan kain tipis yang lembut, namun tetap kuat dan tahan akan cuaca apapun.
Kemudian untuk lambang. Lambang utamanya adalah matahari, kemudian di atas lambang matahari terdapat sebuah pedang berwarna biru.
Matahari ini diambil dari Daratan Huaxia yang berada di timur meski bukan negara matahari terbit. Lalu di tepi lambang matahari memiliki garis-garis halus berwarna putih yang mengelilingi, ini memiliki makna sebagai pembatas pada hati agar tidak selalu panas dan mencoba tetap tenang.
Terakhir, pedang. Pedang diambil dari keahlian utama sekte ini, lalu untuk warna biru itu melambangkan air yang tenang. Namun bisa berubah-ubah jika diganggu oleh pengacau, artinya sekte ini akan mengangkat pedangnya pada siapapun yang mencari masalah.
Kembali lagi pada pakaian, bukan hanya dalam desain bajunya saja yang berubah, tapi coraknya juga. Akan sangat monoton dan membosankan jika seragamnya memiliki warna polos tanpa hiasan. Lalu warna orange, itu akan dibuang, emas juga akan dibuang, itu karena saran dari Qin Zhang. Menurutnya warna itu hanya boleh dipakai oleh seorang Patriak.
Sehingga warna yang diperoleh adalah putih, abu-abu, dan hitam.
"Maafkan aku. Aku merubah semua desain yang sebelumnya aku minta, saat barangnya datang nanti, aku akan menambahkan satu juta Yuan sebagai permintaan maaf." Mo Lian menangkupkan kedua tangan mengarah pada Tae Gong Yu.
Tae Gong Yu memegang kedua tangan Mo Lian. "Tidak masalah Tuan, saya yang harusnya berterimakasih pada Anda. Karena Anda, perusahaan yang dijalankan oleh keluarga kami dapat kembali berjalan," ucapnya membantu Mo Lian untuk berdiri tegak.
Mo Lian menegakkan tubuhnya. "Baiklah, kalau begitu kami akan kembali memesan baju pada perusahaanmu nantinya jika kami memiliki tambahan orang."
"Terimakasih." Tae Gong Yu mengangguk kecil, kemudian memberikan salam seperti yang diperlihatkan oleh Mo Lian sebelumnya.
Ketika sudah tiba di belakang bangunan, ia mengeluarkan barang dari dalam cincin ruang. Terlihat di tangan tangannya sebuah dahan pohon dengan panjang setengah meter, dahan ini tampak layu, ini didapatnya saat berada kedalaman gua, lebih tepatnya saat sedang mengosongkan tumpukan herbal.
"Sudah lama berada di dalam cincin ruang, namun aku baru memiliki kesempatannya hari ini untuk menanamnya. Itu karena Vena Naga baru stabil, tidak seperti sebelumnya." Mo Lian berjalan menuju halaman rumput yang cukup luas.
Mo Lian menggali tanah untuk beberapa puluh centimeter, atau setengahnya dari dahan pohon. Kemudian dahan pohon itu ia masukkan ke dalam lubang yang telah digali, dan menutupnya kembali.
Kemudian ia mengambil posisi duduk bersila di depan dahan pohon. Dengan kedua tangan di arahkan pada Dadan pohon, ia mengalirkan energi spiritualnya untuk membantu dahan pohon itu menyerap energi spiritual dari Vena Naga.
Perlahan, dahan pohon yang sebelumnya layu berubah sedikit subur. Tidak lama kemudian, muncul satu daun yang berada di pucuk dahan, hingga setengah jam berlalu, dahan pohon itu sudah berubah menjadi batang pohon dengan tinggi dua meter dan terus tumbuh tanpa ada tanda-tanda akan berhenti.
Tiga jam kemudian kembali terlewat, pohon yang sebelumnya hanya dahan kecil telah tumbuh subur dengan tinggi lima meter dan memiliki daun yang sangat lebat. Di sekitar pohon itu terlihat sebuah energi spiritual berwarna emas yang samar-samar mengelilingi, bukan hanya itu saja, dedaunannya juga bergerak-gerak seperti sedang bernapas.
Dengan tangan kiri menyentuh tanah dan tangan kanan menyentuh lututnya, ia menopang badannya untuk berdiri dari tempat duduknya. Ia mengangkat tangannya dan memetik satu lembar daun, kemudian menelannya. "Segar. Seperti yang diharapkan dari Pohon Surgawi, meski di Galaxy Pusat ini adalah pohon yang hampir bisa ditemui di manapun. Tapi di sini adalah harta karun, pohon ini memiliki khasiat yang sama seperti Pil Pembersih Tubuh, namun hanya sepertiganya saja ..."
"Tapi ... ini sudah lebih dari cukup sebagai minuman yang akan disajikan dalam upacara pembukaan Sekte Dongfangzhi."
Ketika Mo Lian masih memandangi pohon, tiba-tiba dari belakang ada yang memeluknya, tentu saja ia tidak terkejut dan hanya membiarkannya saja, itu karena ia sudah merasakan kehadiran orang itu.
__ADS_1
"Kakak!"
Mo Lian hanya terdiam dan tak bersuara.
Merasa tidak ada balasan dari Mo Lian, tentunya membuat Mo Fefei kesal, ia melepaskan pelukannya dan berjalan di depan Mo Lian, kemudian bersandar. "Apa yang Kakak lakukan?"
Mo Lian tersenyum tipis, ia mengusap lembut puncak kepala Mo Fefei. "Aku sedang menanam pohon. Ngomong-ngomong, bukankah beberapa bulan ini kau sangat manja?"
Mo Fefei mendengus dingin dan menggembungkan pipinya. "Biarlah. Habisnya saat Kakak berpacaran dengan Xia Fei, waktu yang Kakak luangkan padaku jadi sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada, lalu saat kaki Kakak ..."
Mo Fefei tidak kuat lagi melanjutkan perkataannya saat mengingat sembilan bulan lalu, saat di mana Mo Lian mengalami kecelakaan parah yang membuat kakinya terluka.
Mo Lian tersenyum masam, jika melihat ke belakang, ia memang pernah mengabaikan Mo Fefei. Saat berpacaran dengan Xia Fei, ia hampir tidak pernah lagi datang mengunjungi SMA 2 Chengdu, tempat di mana Adiknya bersekolah. Padahal dulu ia akan pergi ke sana tiga kali untuk seminggu, dan pada saat ia mengalami kecelakaan, ia dibuang oleh Xia Fei.
"Maafkan Kakak."
Mo Fefei berbalik, ia menggeleng pelan. "Tidak apa. Memang menyebalkan jika melihat ke belakang saat Kakak berpacaran dengan wanita baji**** itu, tapi saat mengingat lagi masa-masa dulu, aku sangat bersyukur memiliki seorang kakak seperti Kakak. Lalu karena Kakak jugalah, kehidupan kita membaik," ucapnya tersenyum lembut, kemudian memeluk erat Mo Lian.
"Terimakasih. Ngomong-ngomong, apakah kau lari dari Ibu? Sepertinya kau ke sini untuk bersembunyi." Mo Lian mengusap punggung Mo Fefei.
Seketika itu juga Mo Fefei tersentak dan melepaskan pelukannya, kemudian berlari meninggalkannya seorang diri.
Melihat itu, Mo Lian hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, kemudian kembali ke halaman depan.
...
***
*Bersambung...
**Contohnya saja.
Perempuan** :
Pria :
__ADS_1
Di dalamnya ada celana panjang. Jubah hanya digunakan saat acara formal, seperti upacara, bepergian ke kota lain, pertandingan beladiri, dan sebagainya.