
Wang Yue Fei sudah menganggap Mo Lian dan Hong Xi Ning menikah, karena itulah ia membiarkan keduanya tinggal dalam satu kamar. Bagaimanapun, jika saja tidak ada janji antara mereka berdua, ia sudah menikahkan keduanya tanpa harus melalui acara pertunangan yang tidak perlu.
Tapi Mo Lian merasa dirinya terlalu cepat untuk memiliki keturunan, mengingat usianya yang baru mencapai 22 tahun tiga bulan lalu.
Untuk melakukannya mungkin tidak masalah, tapi apabila untuk keturunan, setidaknya menunggu saat sudah berusia tiga puluhan tahun. Terlebih, sangat tidak baik untuk reputasi Hong Xi Ning apabila hamil saat masih berstatus tunangan.
Setelah berbicara panjang lebar, menjelaskan berkali-kali pada Wang Yue Fei. Akhirnya Mo Lian bisa tenang karena tidak ditekankan untuk memiliki keturunan dalam waktu dekat.
Kemudian, walaupun Mo Lian bisa dikatakan sebagai Kultivator yang masuk dalam jajaran 5 Kultivator Terkuat di Alam Semesta. Ia tidak bisa meninggalkan pelatihannya begitu saja, mengingat ada beberapa tempat misterius di Alam Semesta, serta perubahan-perubahan kejadian yang tak terduga. Contohnya, Bumi.
Walau ia harus terus berlatih, saat ini ia ingin bersantai sejenak bersama Hong Xi Ning, menikmati masa-masa mereka bertunangan.
Keduanya sedang berada di salah satu bintang tidak berpenghuni, meski aura spiritual di sini sangat kental dan padat, sangat cocok untuk digunakan sebagai tempat kultivasi, namun tidak ada yang berani pergi ke sini karena tekanan aura yang terlalu berat untuk pembudidaya biasa.
Mo Lian duduk dengan kedua kaki terbuka dan lututnya ditekuk, lalu ada Hong Xi Ning yang duduk bersandar di dadanya.
"Sangat indah." Hong Xi Ning tersenyum cerah memandangi lautan awan dan terlihat Matahari yang terbenam, mengubah warna lautan awan.
Matahari dan Bulan, di setiap bintang memiliki sistemnya sendiri. Mungkin terdengar tidak masuk akal dan aneh, namun itulah, tidak ada sistem logika untuk hal-hal semacam Kultivator.
Mo Lian memeluk erat Hong Xi Ning dari belakang, kemudian membisikkan kata-kata di telinganya, "Tapi, tidak ada yang lebih indah darimu."
Hong Xi Ning mengangkat tangan kanannya dan mencubit pipi Mo Lian yang bersandar di pundaknya. "Jangan lupa, aku tetaplah Mastermu."
Mo Lian tertawa kecil menanggapi pernyataan itu, kemudian membalasnya, "Tapi aku adalah tunanganmu. Lagi pula, Ning'er memang sangat cantik." Ia mengecup lembut pipi Hong Xi Ning.
Hong Xi Ning tidak bisa menyangkalnya, dan memilih untuk tetap diam seraya menutup matanya, beristirahat di dalam pelukan Mo Lian. Namun, baru saja menutup mata, ia kembali membukanya lagi. "Terimakasih karena telah meyakinkan Ibu ..."
Mo Lian mengangguk kecil, kemudian menjawab, "Tidak perlu berterimakasih. Tapi, apakah itu artinya Ning'er tidak ingin melakukannya?"
Hong Xi Ning terdiam sejenak seraya mencengkeram jari-jarinya di dada Mo Lian. "Bukan begitu, aku hanya takut, Ibu mengatakan bahwa itu sangat sakit."
Mo Lian tertegun atas pernyataan tidak penting dari Hong Xi Ning. Heavenly Immortal yang sudah mengalami banyak pertarungan hidup dan mati, sudah mengakali banyak siksaan dalam pelatihan, dan masih takut dengan malam pertama?
Tapi, Mo Lian tidak bisa memaksa—
"Malam ini." Hong Xi Ning mendongak menatap wajah Mo Lian dalam-dalam. "Ayo—"
__ADS_1
"Ayo lakukan." Mo Lian tidak bisa membiarkan Hong Xi Ning yang mengajaknya, itu terlihat jelas dari wajah tunangannya yang memerah.
Hong Xi Ning tertegun, lalu menundukkan kepalanya dengan membenamkan wajahnya di dada Mo Lian. "Iya ..."
"Haruskah kita pulang?"
Masih dengan wajah yang ia benamkan di dada Mo Lian, Hong Xi Ning menjawabnya, "Tidak, aku ingin di sini sebentar lagi. Aku ingin melupakan sejenak tentang urusan sekte, aku ingin bersantai bersama mu." Butuh keberanian tinggi untuknya mengeluarkan ucapan ini.
Mo Lian menundukkan kepalanya, samar-samar bisa melihat wajah Hong Xi Ning yang memerah. Jika ada yang melihat Dewi Abadi memperlihatkan raut wajah seperti ini, pastinya akan terjadi kehebohan, Dewi Abadi yang dingin, bisa terlihat malu-malu.
Tanah di belakang Mo Lian mulai bergetar dan ada tunas baru yang tumbuh. Tunas itu tumbuh cukup cepat mulai membentuk sebuah rumah yang tidak terlalu besar, namun cukup nyaman dengan beberapa ruangan di dalamnya.
Karena Hong Xi Ning sudah memberi izin namun tidak ingin kembali ke Bintang Utama, maka ia hanya perlu membangun sebuah rumah untuk tempat tinggal sementara waktu.
"Sudah malam." Mo Lian menundukkan kepalanya melihat Hong Xi Ning yang tidak bergerak, dan sepertinya sudah tertidur.
Mo Lian menghela napas seraya mengeluarkan selimut dari Cincin Ruang, kemudian menyelimuti Hong Xi Ning yang berada di dalam pelukannya. "Malam ini batal, tapi tidak masalah. Lagi pula kami baru empat hari bertunangan ..."
Mo Lian mengulurkan tangan kanannya ke depan, menciptakan bola api kecil agar menghangatkan mereka berdua yang bersantai di gunung tinggi.
***
Mo Lian terjaga sepanjang malam untuk menjaga Hong Xi Ning yang tidur di dalam pelukannya.
"Maaf ..."
Mo Lian menundukkan kepalanya saat mendengar suara Hong Xi Ning yang cukup pelan seperti berbisik. "Tidak masalah, aku tahu Ning'er tidak pernah beristirahat karena mengurus sekte." Ia mengecup lembut kening Hong Xi Ning.
Hong Xi Ning mencengkeram erat jari-jarinya di dada Mo Lian, seraya menahan bibirnya seperti hendak mengatakan sesuatu namun masih berpikir apakah harus memberi tahu atau tidak. Namun belasan detik kemudian, ia memilih untuk berucap, "Tempat yang pernah kau datangi di kehidupan sebelumnya, sudah diperiksa oleh Ayah dan menemukan sesuatu yang aneh."
"Maksudnya?" Mo Lian sudah mengunjungi tempat yang tak terhitung jumlahnya, dan sering menemukan hal-hal berbahaya. Jadi, tidak ada yang luar biasa sampai mengatakan hal itu aneh.
"Ayah mengatakan ada celah ruang yang sangat gelap tak berujung, semua indra seperti mati saat memasukinya."
Mo Lian mengerutkan keningnya. Tidak pernah ada tempat semacam itu selama ia berkelana di kehidupan sebelumnya, kalaupun ada yang aneh, paling-paling hanya gravitasi di sangat sangat kuat, sampai mampu menarik bintang di sekitar.
Jika ada yang lebih parah, monster aneh yang bentuknya tak beraturan, dengan kekuatan Heavenly Immortal, dan itupun hanya muncul saat 800 tahun ke depan.
__ADS_1
"Apakah Yue Fu sudah kembali dari sana?" Jika Heavenly Immortal saja kehilangan indra, sangat sulit untuk bisa keluar dari celah ruang itu.
Hong Xi Ning mendongak menatap wajah Mo Lian. "Ayah mengirimkan klon untuk mengeceknya, jadi tidak ada bahaya. Tapi, Ayah memintamu untuk pergi bersamanya ke sana."
"Tentu." Mo Lian mengecup bibir Hong Xi Ning, kemudian berdiri seraya menggendongnya di kedua tangan. "Haruskah kita kembali sekarang?"
"Tunggu!" Hong Xi Ning melepaskan aura kultivasinya untuk menahan gerak Mo Lian yang ingin terbang meninggalkan gunung.
Mo Lain kembali mendarat dengan kedua kaki yang menyentuh tanah. Ia menunduk menatap Hong Xi Ning. "Ada apa? Bukankah kita harus kembali ke Bintang Utama?"
Wajah Hong Xi Ning mulai memerah dan kata-katanya terbata-bata, lalu memilih untuk tetap diam seraya membenamkan wajahnya.
Mo Lian tersenyum tipis, lalu berbalik memasuki rumah yang sudah ia siapkan. Ia juga menciptakan formasi array agar tidak bisa dilihat dari luar, serta menahan agar suara tidak bisa didengar, meski bintang ini sendiri hanya ada mereka berdua.
Mo Lian membawanya ke dalam kamar yang di sana sudah ada tempat tidur berwarna putih, dengan bunga-bunga yang bertaburan di atasnya. Hiasan berwarna merah juga sudah tersusun rapi di dinding ruangan. Ini ia siapkan tadi malam dengan klon, ketika Hong Xi Ning ingin melakukannya, namun tertunda karena tidur.
Ia menurunkan Hong Xi Ning di atas kasur dengan pelan, lalu membuka pakaian atas yang ia kenakan, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang kencang.
Hong Xi Ning menutup wajahnya dengan kedua tangan, namun matanya masih melihat tubuh Mo Lian melalui sela-sela jari.
Mo Lian melepaskan celananya, yang pada saat itu juga membuat Hong Xi Ning sedikit melompat ke belakang.
"Ap- Apa itu?!" Hong Xi Ning gemetaran saat melihat benda yang menggantung di pangkal paha Mo Lian.
Mo Lian tidak bisa berkata-kata lagi dengan tingkah Hong Xi Ning yang sangat polos, meski usianya sudah ribuan tahun. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan menaiki tempat tidur seraya menarik kedua kaki Hong Xi Ning.
Hong Xi Ning kembali ke posisi awalnya yang tidur terlentang di atas kasur.
Mo Lian berada di atas Hong Xi Ning dengan lengan kanan yang menahan tubuhnya agar tidak menindihnya. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi." Ia mengecup lembut bibir Hong Xi Ning, seraya melepaskan pakaiannya.
Hong Xi Ning yang berada di bawah hanya diam pasrah, membiarkan Mo Lian melakukan semua yang diinginkan kepada dirinya tanpa ia tolak sama sekali.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1