
Mo Lian berjalan menaiki tangga batu yang di sana terdapat singgasana, dan terus berjalan menghampiri dinding di belakang singgasana yang tertutupi oleh kain berwarna emas dengan corak garis-garis halus berwarna merah.
Ia menyingkap kain yang menutupi dinding itu, dan terlihat pintu kembar lainnya yang terbuat dari baja.
Pintu kembar itu dipasang formasi array yang melindungi bagian dalamnya. Yang hanya bisa dibuka dari dalam, namun mengharuskan orang yang berada di dalam setidaknya ditingkat Fase Lautan Ilahi tahap Akhir.
Dari yang dirasakannya, mayat hidup di dalam sudah menembus Ranah Inti Perak. Dalam segi kekuatan memang sudah memenuhi syarat, tapi sayangnya sudah tidak berwujud manusia lagi, tidak benar-benar hidup, sehingga terkunci selamanya di dalam ruangan.
Mo Lian menyuruh Mo Fefei untuk berdiri di belakangnya, agar tidak terlalu merepotkan jika terjadi serangan secara tiba-tiba dari dalam sana. Ia menghirup napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan sembari mengangkat kedua tangannya, menyentuh pintu kembar.
Ia mengalirkan energi spiritualnya pada pintu serta matanya, memecahkan pola-pola pada permukaan pintu untuk membukanya.
Tidak lama kemudian, terdengar suara gesekan pintu yang terbuka perlahan. Namun detik berikutnya, pintu kembar itu terbuka sangat keras ke arah dalam hingga menimbulkan suara benturan yang keras.
Samar-samar aura berwarna hitam menerjang Mo Lian dengan angin kencang seperti pedang yang menyayat. Ia merentangkan tangan kirinya untuk melindungi Mo Fefei yang berada di belakang.
Saat pintu baru terbuka dan Mo Lian melindungi Mo Fefei, tiba-tiba dari dalam ruangan melesat bayangan hitam dengan bau amis yang menyengat. Bayangan merupakan mayat hidup yang memiliki mata merah menyala, serta di tangan kanannya terdapat sebuah tombak emas yang sudah mulai menghitam.
Mo Lian tidak bisa menghindari serangan itu, ia tidak ingin tombak yang dipegang mayat hidup mengenai Mo Fefei. Dengan cepat ia mengangkat kaki kanannya, menendang tombak untuk mengarah ke sisi lain. Kemudian ia memutar tubuhnya dan menendang perut mayat hidup itu dengan telapak kaki kirinya.
Boom!
Mayat hidup melesat cepat mengarah masuk ke dalam ruangan, dan menghantam dinding di dalam sana.
"Fefei, kau diam di sini sebentar. Aku sudah membuat pelindung di sekitarmu, seharusnya tidak ada yang bisa menembusnya." Mo Lian melompat masuk ke dalam ruangan setelah memberi pesan pada Mo Fefei.
Di dalam ruangan sangatlah gelap, tidak ada sedikitpun cahaya yang bersinar. Namun ia bisa merasakan keberadaan mayat hidup itu, maupun keadaan sekitar, termasuk meja maupun kursi di sini.
Saat Mo Lian baru melompat masuk, ia langsung menundukkan kepalanya dengan kedua lutut yang ditekuk, menghindari serangan tombak yang melesat ke arah kepalanya.
Tombak itu melesat dengan sendirinya, dengan mayat hidup yang tertanam di dalam dinding.
Setelah ia menghindar, ia kembali berdiri seraya mengulurkan tangan kirinya meraih pegangan tombak. "Dapat!"
Perubahan terjadi saat Mo Lian menyentuh tombak. Perubahan itu terjadi pada tangan kirinya yang mulai berubah warna menjadi hitam dan terlihat seperti hendak membusuk. Ia melepaskan sebagian besar energi spiritualnya pada tombak, membuat tangan kirinya yang menghitam itu kembali berubah dengan cahaya biru yang terpancar.
__ADS_1
Warna hitam pada tombak juga berubah. Pegangan tombak berubah warna menjadi merah, dengan mata tombaknya berwarna emas yang bersinar.
Mo Lian kembali menunduk saat merasakan serangan lain di belakangnya, kemudian ia memutar tubuhnya sembari mengayunkan tombak itu, membelah tubuh mayat hidup menjadi dua bagian.
Tidak berhenti disitu saja, ia melemparkan api yang muncul dari telapak tangannya dan membakar mayat hidup itu tanpa menyisakan apapun.
Mo Lian menoleh melihat tombak di tangan kirinya. "Tombak ini lebih kuat dari senjata yang sedang ku sempurnakan. Dengan tombak ini dan pedang, kekuatanku bisa meningkat pesat ..."
"Ngomong-ngomong ..." Ia mengalihkan pandangannya melihat sekitar. "Tidak ada satupun benda berharga kecuali tombak yang ku pegang ini. Semua urusan di sini sudah selesai, saatnya kembali ke hotel."
Mo Lian berbalik dan berjalan menuju pintu keluar yang memancarkan cahaya merah, cahaya yang dihasilkan dari obor.
"Fefei, kita sudah selesai di sini. Saatnya kembali, kita masuk ke sini pada pagi hari, mungkin saat keluar sudah sore. Itu adalah hal yang wajar karena perbedaan waktu tiap dimensi ..."
Mo Fefei hanya diam dengan anggukan kecil sebagai balasan. Ia berjalan menghampiri Mo Lian dan kembali menggandeng lengannya, namun dihentikan oleh Mo Lian pada saat itu juga.
"Sulit untuk menjagamu jika kau menggandeng lenganku," ucap Mo Lian yang merangkul pinggang Mo Fefei.
Mo Lian menengadahkan kepalanya melihat langit-langit ruangan. Ia mengalirkan energi spiritualnya pada tangan kanannya, kemudian memukulkan tinjunya ke atas, mengarah pada langit-langit ruangan.
Boom!
Mo Lian menekan kakinya di lantai, kemudian melompat tinggi ke langit, meninggalkan ruangan yang jauh di bawah tanah.
Hanya dalam hitungan detik saja, ia sudah berada di luar dan melayang di langit yang biru. Posisi berdirinya dengan Mo Fefei juga berubah, kali ini Mo Fefei memeluknya sangat erat karena tolakan angin saat melompat tadi sangatlah kencang.
Mo Lian menundukkan kepalanya sembari mengusap punggung Mo Fefei. "Bagaimana? Apakah menyenangkan berpetualang bersamaku?"
Mo Fefei mendongak menatap wajah Mo Lian. "Iya, tapi tadi itu sangat mengerikan saat Kakak meninggalkanku sendirian di ruang besar tadi." Matanya nanar memancarkan kesedihan.
"Hahaha. Maaf-maaf, aku akan memberikanmu Cincin Ruang dan memberikan apapun yang kau mau," ucap Mo Lian yang mengusap air di sudut mata Mo Fefei.
"Benarkah?!" Mo Fefei mendorong dada Mo Lian dengan kedua tangannya. Ia memiringkan kepalanya sembari menyentuh pipinya sendiri. "Kalau begitu, aku ingin Kakak memasakkan makanan untukku!" teriaknya bersemangat.
Mo Lian mengerutkan keningnya. "Apakah hanya itu saja? Kau tahu, keluarga kita sudah berubah, kita memiliki banyak uang. Aku bisa membelikan apapun yang kau mau, jet pribadi? Rumah? Hotel—"
__ADS_1
Mo Fefei meletakkan jari telunjuknya di bibir Mo Lian. "Aku tidak ingin itu, aku ingin masakan Kakak. Sudah lama aku tidak memakannya. Lagu pula, aku ingin terus bermanja-manja pada Kakak, sampai saat di mana Kakak memutuskan ingin menikahi siapa di antara Qin Nian, Yun Ning, atau Ong Hei Yun," ucapnya kemudian tersenyum cerah.
Mo Lian terdiam dengan wajah datar tanpa memperlihatkan perubahan ekspresi. Menikah? Itu adalah sesuatu yang belum dipikirkannya sampai saat ini.
"Usiaku baru sembilan belas tahun, masih terlalu cepat untuk memikirkan pernikahan." Mo Lian berbalik dan terbang perlahan menuju perbukitan, meninggalkan Mo Fefei seorang diri.
Mo Fefei yang melihat tingkah Kakaknya tidak bisa menahan diri untuk tertawa. "Hahaha. Kakak sangat lucu, dia berkata seperti itu, tapi aku yakin dia ingin menikahi salah satu dari mereka," gumamnya kemudian terbang mengikuti Mo Lian.
***
Daratan Huaxia, China
Di suatu tempat yang sangat rahasia, tidak ada satupun orang yang mengetahui tempat itu berada di mana. Ribuan tahun lalu, tempat ini pernah memperlihatkan wujudnya, namun kembali bersembunyi karena penurunan energi spiritual di Bumi.
Tempat ini adalah tempat yang dilihat Mo Lian dari gumpalan energi spiritual dari pria tua yang ditemuinya di pesawat.
Tempat itu memiliki banyak bangunan kuno berwarna merah. Pada gunung tinggi, di kaki gunungnya terdapat gua kecil yang menghubungkan ruang, ruang yang berada jauh di kedalaman bawah tanah.
Di dalam ruangan yang sekiranya mampu menampung sembilan puluhan orang itu terlihat pria tua yang duduk bersila di sebuah altar kecil. Napas pria tua itu sangat kuat, bahkan hanya dengan napasnya saja membuat obor yang menggantung di dinding bereaksi.
Tak lama kemudian, pria tua itu membuka matanya secara tiba-tiba dengan keinginan membunuh yang sangat kuat keluar darinya. "Siapa?!"
"Siapa yang mengambil tombak itu?! Energi yang ku tanamkan padanya juga menghilang, dan dia juga telah terbunuh!"
Pria tua itu menopang badannya untuk berdiri. "Setelah berkultivasi selama seratus tahun. Akhirnya aku akan pergi dari sini! Aku akan mencari tahu siapa yang mengambil tombak itu, dan membunuhnya!"
Bang!
Energi kuat terlepas darinya dan menghantam dinding sekitar, membuat gunung yang jauh berada di atasnya ikut bergetar.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1