Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 425 : Kembali ke Kota Louhu


__ADS_3

Gua yang sedang diselidikinya terlihat gelap dari luar, tapi ternyata setelah memasukinya tidak gelap seperti yang diduga. Bahkan gua ini tidak lembab dan cukup kering serta terawat seperti sering dimasuki oleh manusia.


Tidak ada yang tahu apa yang ada di dalam karena tidak bisa menggunakan Kesadaran Ilahi-nya, tapi Mo Lian masih bisa merasakan sedikit gerakan dari pengalamannya yang panjang.


Mo Lian terus melangkah dengan santai tapi tidak mengendurkan kewaspadaannya. Dia sangat berhati-hati meski kekuatan di Kota Louhu tidak bisa melukai tubuh fisiknya.


Dia mengeluarkan pipa besi sebagai senjata untuk berjaga-jaga, dan dengan pipa besi, dia bisa bertarung lebih baik karena bisa membunuh dengan mudah. Adapun pedang, semua senjatanya memiliki kemampuan sendiri dan itu bisa menghancurkan alam sekitar.


"Ngomong-ngomong, apakah Ning'er sedang mengamatiku?" Mo Lian berhenti melangkah, mendongak menatap langit-langit gua. Dia tersenyum tipis dan kembali berkata, "Malam ini, ayo lakukan sampai pagi."


Tiba-tiba, Mo Lian merasa salah setelah mengatakan hal itu. Saat ini kekuatannya disegel, dia tidak tahu apakah dia bisa bertahan sampai pagi. Jika tidak mampu bertahan, bukankah itu memalukan setelah dia mengatakannya dengan percaya diri?


Mo Lian menggigit bibirnya dalam penyesalan dan keringat mulai mengalir. Dia memijat keningnya, merasakan tekanan yang tidak bisa dijelaskan. "Semoga aku masih memiliki tenaga saat pagi dan bisa bangun dari tempat tidur. Kemudian, semoga Ning'er tidak menggunakan Kesadaran Ilahi-nya untuk mengamatiku saat ini. Jika dia melihatnya dan menagihnya ..."


Tapi yang tidak diketahuinya, Hong Xi Ning awalnya kesal dan tersipu karena harus mendengar saat berada di lobi. Tapi setelah mendengar ucapan kedua dan betapa paniknya Mo Lian, Hong Xi Ning sudah merencanakannya dan memberi tahu Qin Nian dan Yun Ning.


Tiba-tiba, Mo Lian merasakan dingin di tubuhnya. Dia melihat ke kiri-kanannya, lalu bergegas memasuki gua dengan panik. Dia tahu apa itu, itu adalah Hong Xi Ning yang mengamatinya.


Mo Lian terus berjalan tanpa memperlambat jalannya dan akhirnya samar-samar bisa mendengar suara tawa dari dalam gua. Dia langsung berhenti melangkah dan mengerutkan kening. "Ada orang di dalam, yang artinya ini adalah markas tersembunyi, tapi mengapa tidak ada penjaga di luar?"


"Sergapan?" Tiba-tiba Mo Lian memikirkan ada yang menunggunya di luar dan menahannya agar tidak melarikan diri. Tapi, apakah dia perlu lari? Tidak!


Mo Lian menggelengkan kepalanya dan terus memasuki gua, sampai akhirnya dia menemukan persimpangan yang menyala-nyala serta ada bayangan di sana. Dia terus melangkah, lalu menoleh ke kanan.


Ada belasan orang yang sedang berpesta minuman keras di dalam gua, mereka duduk di peti kayu yang sepertinya ada harta di dalamnya.


Belasan orang itu masih tertawa, sampai akhirnya pria kurus yang berhadapan dengan Mo Lian menatapnya.


Mo Lian tersenyum canggung ketika mata mereka saling bertemu. "Apakah kalian percaya jika aku datang karena ingin meminta arak dan minum bersama kalian?"


"Mencari kematian!" Pria kekar yang duduk membelakangi Mo Lian, berdiri dan mengayunkan pedangnya ke belakang.


Mo Lian bereaksi dengan cepat dan mengangkat pipa besi.


Percikan meletus di dalam ruangan gua, membuat angin berembus kencang. Ruangan langsung kacau saat pertempuran mulai meletus, membangkitkan semangat bertempur semua orang dan mereka mengangkat senjata mereka.


Tapi karena ruangan sedikit sempit dan terhalang oleh pria besar, belasan orang yang lain hanya bisa berteriak-teriak tanpa bisa bertindak.

__ADS_1


Mo Lian menyadari kecanggungan semua orang yang berada di belakang yang terhalang, dan dia tidak mungkin membiarkannya. Dia akan menekan lebih dalam sampai mereka tidak bisa bergerak.


"Bos Xiong! Tekan dia, kami tidak bisa bertarung di dalam sini!" Salah seorang berteriak karena tidak bisa bergerak.


Bos Xiong menggertakkan giginya kesal dan marah. Tangannya tidak berhenti saat terus menyerang dengan ganasnya tanpa henti, tapi semua serangannya dipatahkan dan tidak bisa mengenai Mo Lian sama sekali.


Mo Lian terus mengayunkan pipa besi dan mencari kesempatan untuk membunuhnya.


Bos Xiong mengayunkan pedangnya secara menyilang, dari kanan atas ke kiri bawah.


Mo Lian mengayunkan pipa besi ke arah yang berlawanan dengan serangan Bos Xiong. Kedua senjata mereka kembali bertabrakan, menimbulkan percikan api yang meletus. Kemudian dia melihat Bos Xiong yang terhuyung karena tekanan, dia memanfaatkan kesempatan itu dan menusuk pipa besinya ke kiri tubuh Bos Xiong.


Bos Xiong merasa tertekan dan tidak bisa bereaksi tepat waktu. Dia sudah memikirkan bahwa serangan ini pasti akan mengenainya. Tapi saat dia berpikiran seperti itu dan menunggu, tiba-tiba teriakan datang dari samping kiri belakangnya.


Bos Xiong menoleh, melihat anak buahnya yang terkena pipa besi tajam di bagian dada.


Mo Lian menarik pipa besi, dan luka terbentuk di dada lawannya. Luka itu mengikuti bentuk pipa besi, dan darah yang mengalir cukup deras seperti aliran air kran.


Mo Lian mengangkat pipa besi, mengayunkannya secara menyilang untuk menyerang Bos Xiong.


Mo Lian mengangkat kaki kirinya, menendang Bos Xiong cukup keras, menghempaskan Bos Xiong dan menabrak semua bawahannya yang berdiri di belakangnya.


Tidak berhenti, Mo Lian mengambil langkah kokoh dan menusuk pipa besi secara membabi buta.


Belasan orang itu tidak bisa menghindari karena sempitnya ruang dan saling terhimpit. Di bawah serangan membabi buta Mo Lian, mereka berteriak dengan ketakutan sebelum tubuh mereka melemah saat dipenuhi oleh lubang selebar satu inci, darah mengalir deras dan dengan cepat wajah mereka memucat saat pandangan mereka mulai menghitam.


Mo Lian melihat pipa besi yang berlumuran darah. Dia tertegun sejenak, kemudian menyimpannya kembali.


"Terima kasih, aku menghargai kalian karena telah mengumpulkan semua harta untuk aku ambil." Mo Lian tersenyum tipis. Dia berjongkok untuk menggenggam pergelangan kaki mereka, dan membuangnya ke sisi lain secara satu pee satu.


Mo Lian juga melakukan pembersihan mayat dan menghilangkan darah. Kemudian dia menuju beberapa peti mati dan membukanya.


Kilauan emas dan perak menyilaukan matanya sesaat setelah membuka peti mati. Tapi tidak ada kebahagiaan yang terlihat di wajahnya, itu karena harta yang sepertinya sangat berharga ini hanya Tael Perak dan Emas yang tidak berguna untuknya.


Tapi, karena sudah dihadapkan pada harta, tidak baik untuk menolaknya. Mo Lian menyimpannya di dalam alat berbentuk seperti gelang berwarna hitam, dan ada lampu yang berkedip-kedip di sana.


Mo Lian mengerutkan keningnya saat melihat dinding gua dan merasakan ada yang berbeda. Dia menyentuhnya, mengetuknya. "Suaranya berbeda, di dalam sini ada ruang rahasia."

__ADS_1


Mo Lian terus mengetuk-ngetuk, menekan-nekan dinding untuk mencari tombol rahasia, sampai akhirnya dia menekan batu kecil.


Pada saat itu juga, ruang kecil di dinding terbuka. Ruangan itu tidak besar, hanya sebesar kotak makan. Tidak ada barang-barang yang berharga, semua barang di dalamnya hanyalah kertas-kertas.


Mo Lian mengambilnya dan membacanya salah satu. "Persiapkan semuanya, rampok semua orang yang kau temui dan ambil uang mereka. Kemudian bawa ke markas besar untuk biaya peningkatan kekuatan, Bos Besar tidak ingin menunggu terlalu lama. Cepat! Kita harus mengambil alih Kota Louhu untuk memuaskan klien."


Mo Lian mengerutkan keningnya ketika membacanya. Kemudian membaca satu per satu, lalu menemukan garis besarnya.


Ada organisasi tersembunyi yang serupa dengan organisasi di bawah naungan Keluarga Guo. Organisasi ini bekerja untuk Kerajaan Teratai Api yang ingin mengambil Kota Louhu untuk memperluas wilayah, sebelum mengikisnya sedikit demi sedikit untuk menguasai seluruh Kerajaan Angin.


Kemudian, organisasi yang bekerja dengan pihak Kerajaan Teratai Api, ternyata dinaungi oleh salah satu penguasa kota yang berada di pinggir perbatasan sebelum menuju Kota Louhu. Sepertinya kota di sana sudah menyerah, entah karena pertempuran atau tergiur akan imbalan dari Kerajaan Teratai Api.


"Aku tidak peduli apakah Kerajaan Angin dan Kerajaan Teratai Api berperang, asalkan tidak ada yang mengganggu bisnisku. Jika mereka menyerang bisnis, aku bisa meminta Ning'er untuk membunuh mereka semua."


Mo Lian tersenyum, kemudian dia menengadahkan kepalanya melihat langit-langit gua. "Aku pernah melakukan pembersihan pikiran dengan hidup seperti manusia biasa agar terhindar dari pembunuhan dan tenang tanpa amarah. Saat itu untuk mendapatkan kekuatan berlimpah saat menembus Dao Immortal. Tapi ..."


Mo Lian merenung dan menundukkan kepalanya lagi melihat tanah di bawah kakinya. "Apa yang aku kejar dengan melakukannya lagi saat ini selain mencari ketenangan mental setelah mendapatkan pukulan telak?"


"Apakah aku hanya mencari ketenangan? Dao Besar? Aku sudah tidak percaya lagi."


Mo Lian bersandar di dinding dalam kebingungannya. "Yue Fu hanya memberi saran padaku untuk menenangkan diri. Tapi, apa manfaatnya?"


Mo Lian tahu bahwa tidak mungkin Hong Xi Jiang memintanya untuk mundur tanpa ada manfaat yang pasti, tapi yang membuatnya bingung saat ini, apa keuntungannya dari mundur.


"Apakah Yue Fu memintaku menjauh agar aku tidak pergi ke Wilayah Barat dan mencari Organisasi Penjarah Spiritual?"


"Tapi ..." Mo Lian memijat keningnya dan merasakan sakit kepala karena terus memikirkannya.


Mo Lian menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. Hampir saja dia kehilangan atas dirinya sendiri. "Baiklah, aku memiliki tujuan baru. Mengamati alam, memahami alam, bersatu dengan alam, aku adalah alam."


Mo Lian tersenyum tipis, lalu dia bersiap-siap untuk kembali ke Kota Louhu karena sepertinya sudah memasuki waktu makan siang.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2