Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 152 : Sampai di Rumah


__ADS_3

Mo Lian beristirahat selama belasan menit di sebelah ruang harta, lalu ia berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu untuk kembali pulang. Ia tadi berangkat saat sudah sore hari, dan kemungkinan akan tiba di rumah saat tengah malam, mengingat waktu yang dibutuhkan untuk lain ke permukaan.


Saat ia sudah berada di luar istana, ia menoleh melihat istana untuk sekali lagi, mengamati apakah masih ada lagi bahaya yang mungkin saja bisa terbangun di kemudian hari.


Setelah memastikan tidak ada bahaya ataupun perasaan tak nyaman yang sudah menghilang. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari Segitiga Bermuda dengan pelindung yang melapisi sekitar berbentuk bola.


Mo Lian tidak berenang seperti saat ia menyelam, melainkan terbang di dalam pelindung yang menahan air untuk masuk. Tekanan yang menekan tubuhnya juga menurun setiap inchi ia bergerak. Setelah tiba di rumah nanti, ia akan beristirahat dan tidak memikirkan tentang organisasi yang tersembunyi di kegelapan.


Ia yang sekarang sudah bisa dikatakan sangat bahaya, keluarganya sudah tidak lagi kekurangan materi, dan mereka keluarga mereka sudah kembali lengkap. Sebelum jadwal kebangkitan organisasi tersembunyi yang terjadi tiga sampai lima bulan lagi, ia ingin bersantai bersama keluarganya.


Senyum cerah terukir di wajah Mo Lian saat memikirkan betapa bahagianya mereka dulu saat Ayahnya masih ada dan belum menghilang. "Saat itu Fefei belum genap berusia dua tahun, dia tidak terlalu mengenal ayahnya, begitupun denganku. Tapi, aku bisa berbaur dengan cepat dan melupakan amarahku padanya ..."


"Sekarang yang menjadi persoalan, apakah Fefei bisa menerima seorang ayah yang belasan tahun menghilang, meninggalkan seorang ibu yang lemah untuk bekerja fisik di pabrik."


Mo Lian mengencangkan bibirnya menjelaskan ketidakyakinan perihal kedekatan Mo Fefei dengan Ayahnya. (Mingkem/Memasukan bibir ke dalam)


"Tapi hidup tidak bisa ditebak, siapa tahu saat aku pulang nanti, Fefei sudah bisa menerima Ayah dengan baik. Tapi, sepertinya sudah ..."


Mo Lian menggeleng pelan sembari tersenyum tipis, kemudian menengadahkan kepalanya melihat gelapnya lautan luas di atas kepalanya, sembari mempercepat laju terbangnya menuju permukaan.


Tidak sampai lebih dari tiga menit, ia sudah berhasil menyingkat jarak belasan mil jauhnya, dan hanya tersisa ratusan meter lagi sebelum ia keluar dari dalam laut, itu ditandai oleh adanya sinar bulan yang membias di permukaan air.


Ketika Mo Lian keluar dari Segitiga Bermuda, air melonjak ratusan meter ke langit dengan dirinya yang berada di tengah-tengah pilar air. Ia yang melayang ratusan meter di atas permukaan laut melihat sekitar, awan Cumulonimbus masih berada di atasnya, bahkan terlihat lebih besar dengan kilatan petir yang terus menyambar.


Udara di sini juga semakin dingin, sangat berbeda sekali dengan teori Angin Darat yang mengatakan bahwa daratan lebih cepat menerima panas dan dingin. Penurunan suhu di Segitiga Bermuda sangat tidak masuk akal, itu karena belum lama ia keluar dari dalam laut, tapi suhunya sudah turun belasan derajat, dengan embun es yang terlihat seperti kabut.


Mo Lian menghilangkan pelindung serta energi spiritual yang menyelimuti tubuhnya, ia menundukkan kepalanya melihat lengan bajunya. Terlihat di sana kain bajunya mulai membeku dengan kecepatan yang dapat dilihat oleh mata, atau hitungan tiga detik untuk satu inchi kain.


Mo Lian melihat ke arah jam sembilan, atau kiri, di mana di sana adalah arah timur. Mengapa timur? Karena saat ini ia menghadap ke arah selatan.


"Tidak baik jika berlama-lama di sini. Mungkin sekarang sudah pukul tujuh malam, tapi siapa yang tahu." Mo Lian menekan kakinya di udara sebagai pijakan, kemudian bergerak sangat cepat mengarah ke timur.

__ADS_1


Kecepatan Mo Lian kali ini adalah kecepatan Ranah Inti Emas, bukan kecepatan dari perubahan jubah yang memungkinkan dirinya untuk menggunakan 1 : 1000.000 dari kekuatan God. Meskipun tidak meninggalkan beban pada tubuh, tapi ia tetap tidak ingin selalu menggunakannya hanya untuk hal sepele seperti perjalanan.


Jarak antara Segitiga Bermuda dengan China adalah 13,2 kilometer atau 8202,1 mil. Ia hanya perlu menghabiskan waktu enam sampai delapan jam di langit untuk sampai ke Daratan Huaxia.


Alasan lain mengapa Mo Lian tidak menggunakan perubahan jubah adalah untuk tidak terlalu menarik perhatian, karena jubah yang dimilikinya sangat bersinar di malam hari, aura yang keluar juga bisa menekan manusia biasa, dan tentunya menimbulkan fenomena lain.


Ketika posisi Bulan sudah berada di atas kepala dan bersinar secara garis lurus, ia sudah menempuh jarak sejauh 6000 mil jauhnya, dan sudah berada diperbatasan antara Benua Eropa dengan Asia.


Mo Lian mengalirkan energi spiritualnya pada Cincin Ruang dan mengeluarkan handphone miliknya. Ia menyalakan layar handphone, dan pada saat itu juga banyak pesan yang masuk seperti tukang promo titip dana yang mengatakan dapat melipatgandakan uang.


"Ini ..." Mo Lian tidak bisa lagi melihat pesan yang tertulis di sana, ia menghembuskan napas panjang sembari menutup wajahnya dengan tangan yang lain.


"Bagaimana bisa dia memintaku untuk menemani pergi ke Kota Hanzhong besok lusa? Reuni sekolah menengah pertama?"


Mo Lian mendongak menatap lurus ke depan dan terus terbang dengan kecepatan tinggi. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia kembali mengalihkan perhatiannya pada layar, dan menuliskan pesan.


"Aku tidak bisa— Tidak, tidak." Mo Lian membatalkan pesan yang ditulis. "Baiklah, aku akan menemanimu, sudah lama kita berdua tidak jalan bersama."


Dulu Mo Lian juga sering berkelahi saat ada yang menghina atau melukai Adik kecilnya, tapi pada akhirnya ia akan selalu disalahkan karena keluarga mereka yang kecil, berbeda dengan keluarga yang menghina Mo Fefei.


"Sebentar!" Mo Lian kembali teringat akan sesuatu yang sangat membuatnya marah. Itu adalah teman sekolah Mo Fefei yang bisa disebut sebagai setan, orang itu selalu mendekati Mo Fefei dan akan melalukan cara apapun. Bahkan rumornya, orang itu juga sudah sering menjual teman wanitanya pada pria paruh baya.


Saat Mo Fefei berpindah ke Kota Chengdu, orang itu tidak berani lagi mendekati Mo Fefei, karena di Kota Chengdu ada Fang Tian, Keluarga Fang.


"Aku akan melihat bagaimana dia bertindak, apakah dia masih berani membawa nama keluarga hanya untuk mengancam." Seringai dingin terlihat di wajahnya saat ia mengakhiri perkataannya.


Mo Lian memutar tubuhnya dan terbang dengan tubuh terbalik yang menatap langit malam, dengan kedua lengan berada di belakang kepala dijadikan sebagai bantal. "Ngomong-ngomong, harusnya tahun depan Master akan datang ke Bumi. Tapi ..."


Mo Lian terdiam dengan sudut bibir yang turun, mengungkapkan pesimis. "Peristiwa di Bumi sudah banyak melenceng dari kehidupan sebelumnya, aku tidak tahu apakah Master akan benar-benar datang. Aku menduga ia datang kemari karena mencari Leluhur Sekte, atau mencari harga berharga."


"Jika harta berharga itu sudah ditemukan saat ini juga, dan auranya menghilang. Maka, ada kemungkinan besar jika Master tidak datang ke Bumi. Namun untuk delapan Dao Immortal, mereka bisa saja datang."

__ADS_1


Keinginan untuk membunuh yang kuat keluar darinya saat mengingat delapan Dao Immortal itu. Ia sangat ingin membunuh mereka semua, sama seperti saat di kehidupan sebelumnya.


Mo Lian menutup matanya perlahan dan menghembuskan napas panjang seraya menarik kembali auranya. Ia kembali memutar tubuhnya dan terbang dengan benar.


Perjalanan pulangnya terasa sepi dan biasa-biasa saja, tidak ada yang menarik perhatiannya sepanjang jalan. Padahal ia sangat berharap menemukan suatu benda saat di perjalanan pulang.


Hingga tidak sampai dua jam, ia sudah berada di langit Kota Chengdu, dan langsung pergi ke kawasan Real Estate Emei yang berada di Puncak Gunung Emei.


Mo Lian terbang melewati Kediaman Qin, ia bisa melihat jika Qin Nian sedang duduk di pembatas balkon di lantai tiga. Kaki kiri di luruskan, kaki kanan ditekuk dan dagu yang bertumpu pada lutut. Piyama yang dikenakannya juga cukup tipis, berwarna putih, yang apabila terkena cahaya akan memperlihatkan pakaian dalam berwarna hitam.


Mo Lian mengamati Qin Nian untuk beberapa waktu, kemudian pergi menjauh sembari berucap, "Tidurlah, tidak baik untuk kulit jika tidur terlalu malam."


Qin Nian tersentak dan mendongak pada saat itu juga, ia melihat ke segala arah mencari keberadaan pemilik dari suara itu. Saat mengetahui tidak menemukannya, ia tertunduk dengan tangan kanan terkepal di depan dada. "Master..."


Mo Lian yang berada di kejauhan mendengar suara pelan Qin Nian, ia hanya bisa tersenyum tipis saat mendengar itu, dan kembali melanjutkan perjalanannya.


Hanya dalam hitungan detik, ia sudah tiba di jendela kamarnya. Jendela kamarnya tidak terkunci, ia membukanya perlahan, dan terlihat ada seorang wanita muda yang tidur berantakan di atas tempat tidurnya.


Mo Lian menatap lembut dengan senyum hangat, ia menghampiri wanita itu dan membenarkan posisi tidurnya, lalu menyelimutinya.


"Selamat malam." Mo Lian mengusap kening Mo Fefei, dan kemudian mundur beberapa langkah, duduk di kursi sebelah jendela.


Mo Lian mengambil napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan dengan mata yang tertutup.


Di Bumi banyak aura kematian, sangat tidak baik jika itu dibiarkan saja tanpa dimanfaatkan. Aku akan mencari beberapa Teknik Budidaya yang menggunakan aura kematian, namun tentu saja akan ku ubah menjadi energi murni.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2