Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 135 : Pergi ke Kota Chengdu


__ADS_3

Pegunungan Himalaya, China


Hari-hari berlalu dengan tenang di perbatasan tanpa adanya masalah yang berarti, dan cuaca juga sudah memasuki musim dingin, yang akibatnya membuat Pegunungan Himalaya menjadi lebih dingin dari hari biasa, salju juga mulai menumpuk lebih tebal.


Walaupun dalam keadaan seperti ini, orang-orang yang menjaga perbatasan tetap siaga di tempat masing-masing tanpa mengendurkan penjagaan mereka. Bagaimanapun mereka semua termasuk Pejuang, tidak seperti penjagaan yang terjadi belasan tahun lalu, yang mana hanya sebagiannya saja Pejuang dan sisanya tentara biasa.


Duarr!


Terdengar ledakan keras yang memekakkan telinga, ledakan itu terjadi jauh di belakang pos perbatasan di mana terjadinya pertarungan belasan tahun lalu. Saat ledakan itu terjadi, ledakan itu diiringi dengan cahaya berwarna putih yang menyilaukan mata dan menarik perhatian semua orang di sana.


Tanpa berlama-lama lagi, semua orang termasuk Komandan di sana, Ong Lei Yang bergegas menuju pusat ledakan untuk mencari tahu apa yang terjadi.


Ketika mereka semua sampai di sana, mereka melihat jika tumpukan salju mulai mencair dengan cepat, asap putih yang menghalangi pandangan juga terlihat membumbung tinggi.


Tiba-tiba, angin bertiup kencang menerbangkan asap putih yang menghalangi pandangan semua orang. Bisa terlihat, di tengah-tengah pusat ledakan, terdapat dua orang pria yang memiliki penampilan hampir sama, hanya saja berbeda usia, dengan dua orang wanita muda kembar.


Seluruh tentara yang hadir mengangkat senjata api mereka mengarah pada keempat orang asing berpakaian kuno itu.


Tubuh Ong Lei Yang bergetar saat melihat salah satu dari mereka, ia mengangkat tangan kanannya ke udara sembari berteriak lantang, "Tunggu! Turunkan senjata kalian!"


Meski tidak tahu mengapa, mereka semua tetap menuruti perintah dari Komandan mereka, Ong Lei Yang.


Sementara itu. Mo Lian menolehkan kepalanya melihat ke arah aura yang dikenalnya, aura milik Ong Lei Yang. Ia mengangkat tangannya ke udara dan melambaikannya pelan. "Aku kembali."


Ong Lei Yang berlari menghampiri mereka berempat, kemudian berjalan perlahan saat jaraknya hanya tersisa beberapa meter dari Mo Qian. Dengan bibir bergetar dan tangan kanan sedikit terangkat, ia membuka mulutnya, kemudian berkata, "Ap- Ap- Apakah kau Mo Qian?"


Mo Qian menyipitkan matanya menatap Ong Hei Yun. "Oh? Kau Ong Lei Yang, bukankah kau semakin tua?"


Bibir Ong Lei Yang berkedut-kedut saat mendengar itu, ia sangat yakin jika pria di depannya yang berambut hitam panjang adalah Mo Qian itu sendiri. Bagaimanapun mereka sudah saling mengenal cukup lama, jadi sudah sedikit mengerti kebiasaan masing-masing.


"Ngomong-ngomong, bukankah salju di sini semakin tebal? Padahal aku baru pergi selama delapan hari." Mo Lian menolehkan kepalanya melihat sekitar. Meski bulan November sudah masuk musim dingin, tapi baginya ini terlalu cepat untuk salju yang menumpuk tinggi.

__ADS_1


Ong Lei Yang mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Mo Lian. "Tapi, sekarang sudah masuk akhir bulan Februari."


"Eh?!" Mo Lian menolehkan kepalanya dengan cepat menatap wajah Ong Lei Yang dengan mata terbuka lebar meminta penjelasan.


Mo Lian yakin ia berada di Negeri Surgawi hanya selama enam hari, jika dihitung dua hari di dalam lorong waktu, maka totalnya hanyalah delapan hari. Kecuali, saat ia masuk ke Negeri Surgawi, perbandingan waktu mulai berubah, kemudian saat kembali ke Bumi karena portalnya tidak stabil, maka perbandingannya menjadi lebih besar.


Meski tidak stabil, tapi mereka kembali dengan baik dan tenang karena tidak ada sayatan angin, itulah sebabnya pakaian yang mereka kenakan tetap terjaga.


Dengan waktu sebanyak itu, mungkin saja Daratan Huaxia sudah mengalami perubahan yang signifikan, banyak kekuatan tersembunyi mulai muncul ke permukaan dan mengacaukan China.


Ketika mengingat kembali saat berada di Negeri Surgawi, Mo Lian merasa bersyukur karena bertindak dengan cepat. Apabila ia bertindak sesuai rencana dengan masuk perlahan ke dalam Istana Surgawi sebagai murid, dan naik jabatan dengan perlahan, mungkin waktu akan terlewat beberapa tahun di Bumi.


"Ayah, kita harus kembali secepatnya. Saat aku menghancurkan Organisasi Dunia Hitam, aku mendapatkan informasi lain mengenai organisasi berbahaya di seluruh dunia, dalam waktu dekat, organisasi itu akan bergerak ke Daratan Huaxia. Lebih baik sekarang kita kembali dan melihat keadaan Ibu dan Fefei," ucap Mo Lian menatap serius wajah Mo Qian.


Mo Qian tersentak saat mendengar perkataan anaknya, ia memang tahu Organisasi Dunia Hitam, organisasi rahasia yang bahkan Pasukan Mata Setan saja kesulitan untuk mencari keberadaannya, tapi tak menyangka jika anaknya mampu menghabisi organisasi itu.


"Apakah aku harus mengantarkan kalian ke Kota Chengdu?" Ong Lei Yang mengangkat tangannya dan menawarkan bantuan.


"Enam jam, aku akan meminta bawahanku untuk mengantar kalian menggunakan helikopter."


Mo Lian menganggukkan kecil sebagai balasan. Itu termasuk waktu yang cukup cepat, tapi masih jauh lebih lambat jika dibandingkan dengan ia yang terbang sendiri di langit. Namun jika begitu, itu bisa menimbulkan kepanikan masyarakat umum saat melihat orang terbang di langit.


"Apakah kau tidak ikut bersama kami ke Kota Chengdu?" tanya Mo Qian yang menatap wajah Ong Lei Yang.


Ong Lei Yang menggelengkan kepalanya dengan napas panjang dihembuskan dari mulutnya. "Aku memang ingin ikut, ini belasan tahun kita tidak bertemu. Jika Pasukan Mata Setan mengetahui kau kembali, mungkin mereka akan mengadakan pesta, tapi saat ini aku masih harus bertugas di perbatasan, mungkin minggu depan aku akan pergi berkunjung ..."


"Ngomong-ngomong, datanglah ke Beijing dan melapor jika kau sudah kembali." Ong Lei Yang melanjutkan perkataannya sembari menepuk pundak Mo Qian.


"Meski aku melapor, mungkin aku akan keluar dari Pasukan Mata Setan. Aku ingin berkumpul bersama keluarga kecilku, sudah lama aku tidak melihat mereka, aku tidak tahu apakah putri kecilku masih mengenaliku. Kau tahu, aku menghilang saat usianya belum genap dua tahun." Mo Qian membalasnya dengan suara berat menjelaskan kerinduan dan kesedihan.


Wei Yian Fei dan Wei Yian Ning hanya diam mencoba mengamati keadaan sekitar, mereka berdua tidak tahu sekarang ini berada di mana. Ini adalah pemandangan yang sangat asing bagi mereka, pemandangan di mana banyak sekali warna putih halus yang dingin.

__ADS_1


Ong Lei Yang sedikit terkejut dengan keputusan Mo Qian, tapi ia hanya mengangguk kecil dan tidak menyela keputusan itu. Bahkan, di dalam hati kecilnya, ia juga mulai merasa bahwa sudah tidak ingin lagi berada di perbatasan, ia ingin kembali ke Beijing dan berkumpul dengan keluarganya.


Bagaimanapun, ia bertugas di perbatasan hanya karena rasa tanggungjawab terhadap menghilangnya Mo Qian, dan karena Mo Qian sudah kembali, ia juga bisa kembali ke Beijing dan menerima tawaran menjadi Panglima.


"Baiklah, tapi jika Daratan Huaxia terjadi kekacauan. Mungkin aku akan meminta bantuanmu, Dewa Iblis Merah."


"Hahaha, sudah lama aku tidak mendengar panggilan itu." Mo Qian tertawa pelan sembari memegangi perutnya sendiri.


Dewa Iblis Merah! Saat Pejuang lain mendengar itu, tubuh mereka semua bergetar dan kaki mereka menjadi lemas, bahkan ada yang tidak kuat menahan diri dan kemudian terduduk di atas salju.


Semua orang di sini mengetahui apa itu Dewa Iblis Merah, banyak sekali anggota dari Pasukan Mata Setan yang ingin menjadi sepertinya, tapi tidak ada satupun yang mampu mencapai kemampuannya, bahkan untuk setengahnya saja.


"Apakah kalian sudah selesai mengobrolnya? Aku ingin cepat-cepat kembali, memang benar aku meminta izin kepada Ibu selama enam bulan, tapi tetap saja ..." Mo Lian tidak berani melanjutkan perkataannya saat membayangkan bagaimana Ibunya marah.


Mo Qian juga bergidik saat membayangkan hari-hari di mana ia masih berpacaran dengan Su Jingmei dan belum menikah. Ia menolehkan kepalanya menatap Mo Lian. "Lian'er, entah mengapa Ayah merasa akan mendapatkan masalah jika bertemu dengan Ibu, mungkin aku akan dimarahi selama seharian penuh."


Mo Lian hanya terdiam dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. Mungkin yang dikatakan Ayahnya ada benarnya, tapi tidak seluruhnya, karena selama ini ia mengetahui bahwa Ibunya selalu merindukan Ayah dan terus berdoa untuk dapat berkumpul kembali.


Tanpa berlama-lama lagi, Ong Lei Yang membawa mereka semua pergi menuju pos perbatasan yang jaraknya beberapa ratus meter dari tempat mereka berdiri saat ini. "Hahaha. Kalau begitu, ayo kita kembali ke pos."


Semua orang menganggukkan kepalanya dan berjalan mengikuti langkah kaki Ong Lei Yang. Ketika mereka sudah tiba di pos perbatasan, mereka langsung pergi menuju tempat di mana helikopter terparkir dengan rapi.


Mo Lian, dan ketiga orang lainnya, beserta satu orang bawahan Ong Lei Yang naik ke dalam helikopter.


Baling-baling helikopter berputar-putar dengan kencang, membuat angin berembus menyebar ke segala arah, dan perlahan helikopter mulai melayang meninggalkan daratan. Lalu terbang menjauh ke arah timur, di mana Provinsi Sichuan berada.


Ong Lei Yang yang melihat kepergian helikopter hanya bisa terdiam dengan senyuman, serta melambaikan tangannya.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2