
Video pertarungan Mo Lian dengan lima orang Wu-Dan telah tersebar luas di internet, video itu juga menjadi trending topik dari berbagai kalangan. Namun dalam waktu satu jam berikutnya, video mengenai pertarungan itu telah menghilang, bahkan secuil informasi dari Pertandingan Beladiri juga tidak bisa lagi dicari. Itu karena pihak penyelenggara, Aliansi Beladiri Huaxia dan Pasukan Taring Naga bekerja sama untuk menutup semua berita yang ada.
Bukan hanya untuk menutupi fakta bahwa pelindung China telah kalah, tapi juga untuk menutupi tentang identitas Mo Lian.
Mo Lian senang-senang saja saat mendapati bahwa berita itu telah menghilang. Akan sangat merepotkan jika identitasnya tersebar luas, itu akan membuat kehidupan sekolahnya menjadi tidak tenang. Dan mungkin saja ada kemungkinan sekte tersembunyi lainnya datang dan menantangnya. Bagaimanapun manusia di dunia terbagi menjadi dua golongan, baik dan jahat. Tentunya jika ada sekte yang bisa diajak kompromi, maka ada juga sekte yang suka mencari masalah.
"Karena pertarungan tadi pagi dan terus mendapatkan serangan dari lima orang Wu-Dan. Kekuatanku meningkat pesat, hanya tinggal setengah langkah lagi aku bisa menembus Ranah Inti Perak."
Mo Lian menggelengkan kepalanya. "Tapi tetap saja akan memerlukan waktu dan beberapa pil guna menembus Ranah Inti Perak. Semoga saja kelima orang itu membawakan herbal-herbal langka, akan bagus jika ada yang berusia 1000 tahun, meski itu sangat tidak mungkin."
Mo Lian duduk bersandar di sofa yang ada di balkon hotel. Ia memandangi gemerlap lampu di malam hari di Kota Chongqing. Suasana di kota ini sangat tenang dan indah, namun jika dilihat secara lebih dalam, di kota ini banyak sekali masalah-masalah yang bahkan Pemerintah Pusat tidak dapat mengatasinya.
Tapi itu adalah kisah lain, Mo Lian tidak ingin mencari tahu dan tidak ingin tahu. Karena ia tidak ada urusan di Kota Chongqing, berbeda halnya jika masalah itu berada di Kota Chengdu, yang mungkin saja membahayakan keluarganya.
Tidak lama setelah ia duduk seorang diri di balkon, ia kembali masuk ke dalam kamar hotel karena Ibunya memanggilnya untuk makan malam.
Meski pihak hotel sudah mempersiapkan makan untuk mereka, tapi Ibunya menolak itu dan memilih memasakkan makanan untuk Mo Lian dan Mo Fefei.
Keduanya sendiri tidak mempermasalahkan hal itu, karena masakan Ibunya lebih enak. Walaupun sebelumnya Ibu mereka adalah wanita karir dan tidak pernah menyentuh peralatan dapur, bahkan pergi ke dapur pun tidak pernah. Tapi semenjak kehilangan aset, Ibu Mo Lian belajar untuk memasak agar pengeluaran keuangan mereka lebih sedikit.
"Lian'er. Terimakasih," ucap Su Jingmei membuka suaranya.
Mo Lian mendongakkan kepalanya dengan mulut terisi penuh oleh makanan, ia memiringkan kepalanya keheranan. "Terimakasih?" tanyanya setelah selesai menelan makanan.
Su Jingmei tersenyum lembut. "Terimakasih karena memperjuangkan hak yang memang seharusnya menjadi milik kita. Harusnya Ibu 'lah yang berjuang, tapi Ibu membebankan hal itu padamu. Ibu tahu kau sangat kuat, tapi Ibu mohon, jangan membahayakan dirimu lagu," ucapnya seraya meletakkan beberapa sayur di piring Mo Lian.
Mo Lian terdiam dengan mulut sedikit terbuka. Menurutnya sendiri apa yang dilakukannya hanyalah sesendok air dari air yang ada di lautan. Apa yang dilakukannya tidak bisa dibandingkan dengan apa yang dilakukan Ibunya, ia mengerti betul bagaimana rasa sakit yang ditanggung Ibunya selama ini.
Mo Lian berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan menghampiri Ibunya dan kemudian memeluknya dari belakang. Ia menyandarkan dagunya di pundak Ibunya. "Kali ini biarkan Lian'er yang membahagiakan Ibu," ucapnya kemudian mencium pipi Su Jingmei.
__ADS_1
Su Jingmei tertegun ketika mendengar perkataan Mo Lian, terlebih lagi saat anaknya mencium pipinya. Ia memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di kepala Mo Lian seraya mengusap pelan pipi kiri anaknya. "Lian'er. Terimakasih, tapi kau tidak boleh meninggalkan makananmu, cepat makan."
Mo Lian tersentak, dengan cepat ia melepaskan pelukannya pada Su Jingmei dan kembali duduk di tempatnya untuk melanjutkan makan.
Mo Fefei yang melihat itu hanya terkekeh kecil.
Setelah mereka selesai menyantap makanan dan membersihkan piring. Ketiganya memasuki ruangan masing-masing untuk mengistirahatkan tubuh mereka, terutama untuk Su Jingmei dan Mo Fefei yang mental keduanya sedikit terguncang.
***
Keesokan Paginya
Mo Lian dan Keluarga Qin serta Yun sudah berkumpul di ruangan yang mereka sewa sebelumnya. Di sini mereka berkumpul karena menunggu kedatangan Keluarga Su untuk menyerahkan aset-aset yang seharusnya menjadi milik Su Jingmei, Ibunya.
Mo Lian membawa kedua keluarga ini karena mereka memiliki kedudukan yang tinggi di Provinsi Sichuan dan Shaanxi. Dan jika Keluarga Su macam-macam, maka dengan mudahnya Keluarga Yun bisa menekan bisnis Keluarga Su yang berada di Kota Xianyang.
Terdengar suara ketukan dari balik pintu ruangan.
"Masuk." Mo Lian mempersilakan orang yang berada di balik pintu untuk masuk.
Pintu terbuka perlahan, memperlihat pria paruh baya yang merupakan kakak langsung dari Ibunya, Su Jia Chen.
Su Jia Chen tidak datang seorang diri, ia ditemani oleh pria paruh baya lainnya, namun memiliki rambut berwarna putih yang sepertinya merupakan orang kepercayaan Keluarga Su.
Ketika Su Jia Chen memasuki ruangan, ia sedikit terkejut karena melihat Keluarga Qin dan Yun yang juga hadir di sini. Namun ia tetap mencoba tenang agar tidak menimbulkan masalah lainnya, bagaimanapun di dalam ruangan ini banyak sekali Pejuang.
Su Jia Chen duduk di kursi kosong yang telah disiapkan di meja bundar. Ia memerintahkan pelayannya untuk mengeluarkan beberapa dokumen dari koper genggam, ia meletakkannya di atas meja. Kemudian menjelaskan beberapa hal yang tertulis di sana mengenai aset Su Jingmei, seperti mansion, tanah, saham dari Real Estate yang dikembangkan oleh keluarga, dan sebagainya.
"Jika diuangkan, seluruh aset ini senilai 5 Miliar Yuan. Ini adalah seperempat dari kekayaan Keluarga Su." Su Jia Chen menyerahkan dokumen lainnya pada Mo Lian. Terlihat keringat dingin mengalir membasahi wajahnya, hanya dalam sehari, keluarga mereka kehilangan seperempat kekayaan mereka.
__ADS_1
Mendengar itu, Mo Lian hanya bisa terdiam dengan mulut terbuka lebar. Ia tak berharap jika aset yang dimiliki Ibunya sangat banyak, bukankah ini seperti mengatakan jika Keluarga Su adalah Su Jingmei itu sendiri.
Tapi jika dihitung baik-baik, ia sangat yakin ini masih sangat jauh dari aset awal milik Ibunya. Bagaimanapun perusahaan yang dijalankan Ibunya sangat maju, hingga Ibunya mendapatkan julukan sebagai 'Ratu Bisnis'.
Mo Lian menolehkan kepalanya menatap wajah Su Jingmei. "Bagaimana, Bu?"
Su Jingmei terdiam sejenak seraya membaca seluruh dokumen. Kemudian ia menghela napas panjang dan menjawab, "Meski ini masih belum cukup untuk menutupi kerugian. Tapi tidak masalah."
"Seluruh aset ini akan ku jual pada Keluarga Su. Aku tidak menginginkan ini semua, yang aku inginkan hanya dalam bentuk uang," lanjut Su Jingmei seraya menatap wajah Su Jia Chen.
Su Jingmei sendiri berpikiran tidak ada untungnya memegang saham, karena yang untung adalah Keluarga Su yang telah mengusirnya. Jadi lebih baik menjual seluruh aset dan mengembangkan perusahaannya sendiri.
Berbeda halnya dengan Su Jingmei. Su Jian Chen tersenyum bahagia ketika mendengar itu, dan berpikiran jika Su Jingmei sangat bodoh karena melepas saham dari perusahaan yang sangat maju. Dengan senang hati ia mengeluarkan cek uang yang kebetulan telah disiapkannya dan secarik kertas berisikan tanda terima.
Su Jingmei menerima kertas itu dan menandatanganinya, kemudian menyerahkannya kembali pada Su Jia Chen.
"Jika cek ini tidak berfungsi. Dengan senang hati aku akan datang ke Kota Xianyang." Mo Lian menatap tajam ke arah Su Jia Chen.
Tubuh Su Jia Chen sedikit bergetar ketika melihat tatapan mata Mo Lian, ia menggelengkan kepalanya cepat. "Te- Te- Tenang saja. Cek itu asli, aku dapat menjaminnya."
Dengan tubuh masih bergetar, Su Jia Chen berjalan menuju pintu keluar dan menutupnya secara perlahan.
Mo Lian menatap ke arah pintu keluar hingga Su Jia Chen tidak lagi masuk ke dalam pandangannya. Ia menengadahkan kepalanya melihat langit-langit ruangan. "Sekarang tinggal menunggu kompensasi dari Pasukan Taring Naga dan Aliansi Beladiri Huaxia."
...
***
*Bersambung...
__ADS_1