Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 112 : Dimensi Lain


__ADS_3

Mo Lian mengikuti langkah kaki Ong Lei Yang. Keduanya berjalan menuju jauh ke belakang pos perbatasan yang mereka jaga, cukup jauh mereka berjalan hingga tanah tidak lagi hangat dengan rerumputan di atasnya. Tanah yang mereka pijak menjadi lebih dingin, bahkan dari kejauhan ia bisa melihat adanya salju yang menutupi tanah.


"Apakah Ayah bertarung di sini?" Mo Lian mengamati sekelilingnya.


Mo Lian masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Ong Lei Yang tadi. Ayahnya adalah setengah Wu-Sheng, tapi yang tertinggi di Keluarga Mo hanyalah sampai pada tingkat Wu-Zong tahap Akhir.


Lebih baik aku menanyakannya langsung jika nanti sudah bertemu dengan Ayah. Aku harap bisa menemukannya, dan memberinya tamparan sekali karena dulu jarang pulang ke rumah.


Tiga puluh menit kemudian, mereka terus berjalan ke dalam hingga sekeliling mereka dipenuhi dengan salju. Sepertinya ini berdekatan dengan Gunung Everest, meski begitu, ia tidak merasakan dingin.


Ketika mereka sudah sampai di sini, Ong Lei Yang menghentikan langkah kakinya. Ia menghirup napas dalam-dalam dengan mata terpejam, kemudian menghembuskannya perlahan dan berkata, "Di sinilah pertempuran itu terjadi."


Mo Lian berlutut dengan bertumpu pada satu kakinya, ia menyentuh salju menggunakan telapak tangan kanan. Kemudian mengalirkan energi spiritualnya untuk mencari tahu jejak yang mungkin masih terkandung di dalam salju.


Mo Lian membuka matanya perlahan dengan mulut terbuka seperti merasakan hal yang mengejutkan. "Ini ... energi spiritual ini adalah energi spiritual yang dilepaskan oleh satu orang, energi yang sangat padat dan murni. Kemudian di sekelilingnya tersebar energi spiritual lain, yang setara, itu sepertinya adalah Wu-Sheng ..."


"Kemudian ... Ayahku yang setengah Wu-Sheng, memiliki kekuatan yang sanggup mengalahkan Ranah Inti Perak tahap Akhir. Seharusnya musuh sebanyak itu tidak terlalu berarti baginya, jika bukan karena cahaya putih itu, harusnya dia bisa kembali ke rumah seperti tidak pernah terjadi apa-apa."


Jika Ayahnya kembali ke rumah, ia tidak akan pernah merasakan rasa sakit yang mendalam, tidak pernah mengetahui dunia luar, tidak pernah mengetahui jika Ayahnya adalah seorang Pejuang.


Mo Lian menekan tangannya di tanah bersalju, ia menopang badannya untuk berdiri. "Paman, sepertinya Ayahku belum mati, dia hanya berpindah ke dimensi lain. Aku akan mencari keberadaannya," ucapnya dengan nada tegas percaya diri.


Ong Lei Yang berbalik menatap Mo Lian dengan mulut terbuka dan mata terbelalak menjelaskan meminta kepastian.


"Benar, aku akan berusaha untuk menjadi di mana dimensi itu berada. Karena itu, paman bisa tinggalkan aku sendiri di sini. Paman bisa meninggalkanku sendirian, dalam waktu enam bulan apabila aku tidak kembali, tolong sampaikan pada orang-orang di Sekte Dongfangzhi. Jika aku baik-baik saja," ucap Mo Lian yang menatap tegas Ong Lei Yang.


Ong Lei Yang terdiam tak mengerti dengan apa yang dikatakan Mo Lian. Ia menggertakkan giginya dengan kedua tangan terkepal, ia tidak tahu harus membalas apa. Jika Mo Qian benar-benar menghilang di suatu dimensi tak dikenal, tidak mungkin ia akan membiarkan Mo Lian, anak dari Mo Qian akan menyusul untuk masuk ke dimensi itu.


Ia tidak ingin kehilangan orang yang mengingatkan akan teman lamanya.


Namun, saat melihat ekspresi yang diperlihatkan oleh Mo Lian. Ong Lei Yang hanya bisa menghela napas panjang dengan anggukkan kecil sebagai balasan. Meski ia ingin menghentikannya, dengan kekuatannya tidak akan mampu.


"Terimakasih." Mo Lian mengangguk kecil, kemudian ia berjalan lebih dalam ke depan untuk mencari energi spiritual yang lebih padat.


Seratus langkah dari tempatnya berdiri tadi, ia sudah tiba di tempat yang dirasanya memiliki energi spiritual yang lebih padat. Mo Lian duduk bersila di atas tanah bersalju dengan mata terpejam, ia menyebarkan seluruh energi spiritualnya untuk merasakan sesuatu yang ganjil di sini.

__ADS_1


Ketika Mo Lian bermeditasi, tiba-tiba energi spiritual berfluktuasi di sekitarnya, membuat pusaran angin yang cukup besar mampu menerbangkan pepohonan.


Tapi meski begitu, ia tidak menghentikan kegiatannya dan tetap terus bermeditasi, hingga tak lama kemudian, cahaya putih yang menyilaukan mata terlihat mengelilingi tubuhnya.


Ong Lei Yang yang berada di kejauhan hanya bisa terdiam dan mundur puluhan meter ke belakang, ia ingin pergi mengikuti Mo Lian. Tapi ia sudah berjanji akan menunggunya di sini.


Kembali lagi pada Mo Lian. Ia mengalirkan energi spiritualnya pada kedua bola matanya untuk bisa menahan sinar yang menyilaukan, terlihat di depannya retakan ruang dengan pusaran berwarna biru di depannya, ini seperti lubang yang bisa menarik apapun untuk masuk.


"Sepertinya ini adalah lubang masuk ke sana, tidak ku duga sangat mudah untuk menemukan tempat seperti ini. Ini adalah susunan array, ini adalah dunia kecil yang seharusnya hanya bisa diciptakan oleh Kultivator Ranah Heavenly Immortal. Tapi dimensi ini berbeda, ini hanyalah dimensi kecil yang diciptakan oleh seribu Jiwa Emas yang bekerja sama," ucap Mo Lian seraya berdiri dari tempat duduknya.


Mo Lian terdiam sejenak dengan kerutan di wajah. "Tapi, apakah mungkin dulu ada Jiwa Emas? Mungkin saja, mungkin saja Bumi dulu adalah bintang yang sangat padat akan energi spiritual, jika tidak, tidak mungkin Master akan datang ke Bumi."


Mo Lian menghirup napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan untuk mempersiapkan diri. Setelah dirasa cukup, ia melangkahkan kakinya memasuki pusaran cahaya biru itu.


Ketika ia memasuki lubang itu, pusaran angin dengan cahaya putih menghilang. Menyisakan tanah cokelat yang tak lagi tertutupi oleh salju.


Ong Lei Yang yang melihat itu hanya bisa terdiam dengan mata terbuka lebar. Ia tidak pernah berharap jika di Bumi memang benar-benar ada dimensi lain. "Ini ... apakah Mo Qian benar-benar menghilang ke sana? Aku harap dia baik-baik saja, dan kau juga, anak muda."


***


Mo Lian yang memasuki pusaran cahaya biru tadi sudah berada di lorong waktu yang tidak lagi asing baginya. Ia pernah mengalami hal ini saat merobek ruang untuk berpindah tempat-tempat di seluruh Alam Semesta.


Di sekitar Mo Lian terdapat angin-angin tajam yang berputar-putar menyayat tubuhnya, meski cukup untuk membunuh Ranah Inti Perak. Tapi dengan kekuatan Mo Lian yang sekarang, serangan dari ruang waktu ini tidak terlalu berarti.


"Untungnya aku sudah membuat lagi Pil Tiga Warna. Tiga kekuatanku sudah setara dengan Alam dan Manusia, hanya saja aku masih tertahan di Ranah Inti Perak."


Mo Lian berencana menembus Ranah Inti Emas saat menemukan tempat yang menurutnya sangat padat akan energi spiritual. Dengan begitu ia akan benar-benar berhasil mendapatkan Ranah Inti Emas Sempurna. Kemudian, kekuatannya adalah yang terkuat di muka Bumi.


Mo Lian terus terhisap ke dalam pusaran cahaya biru, hingga serangan yang diberikan oleh sayatan angin kian kuat dan bahkan sampai membuat sayatan kecil di sekujur tubuhnya.


Dengan energi spiritual dialirkan ke sekujur tubuhnya, sayatan yang mengenainya tidak lagi dapat melukai tubuh fisiknya. Hanya saja pakaian yang dikenakannya sudah hancur dan membuat tubuhnya polos tidak tertutupi oleh sehelai benang pun.


Tapi untungnya seluruh benda-benda berharga sudah dimasukkannya ke dalam Cincin Ruang, dengan begitu ia tidak perlu khawatir.


Sudah satu jam terlewati semenjak Mo Lian memasuki pusaran cahaya. Tapi tidak terlihat tanda-tanda akan sampai ke ujung pusaran. Hingga tiga jam kemudian, ada secercah cahaya putih yang seukuran kelereng kecil di ujung sana.

__ADS_1


Tiga puluh menit kemudian, cahaya yang seukuran kelereng kecil itu sudah berubah menjadi tinggi dua meter, cukup untuk dilewati oleh orang dewasa. Pada saat cahaya itu mengenai tubuhnya, tiba-tiba pandangannya menjadi kabur karena cahaya itu sangatlah menyilaukan mata.


Ketika Mo Lian membuka matanya, yang dilihatnya adalah pepohonan lebat dengan langit biru, kemudian di sebelahnya ada sebuah tebing yang sangat tinggi. Ia merasakan lembut dan tajam secara bersamaan, serta lembab yang berada di punggungnya.


Dengan kedua tangan menyentuh rerumputan, ia menopang badannya untuk duduk. Ia menolehkan kepalanya melihat sekitar, ia seperti berada di kaki Pengunungan Himalaya, hanya saja di sini terasa lebih halus dan segar.


Terlebih lagi, ia merasakan kepadatan energi spiritual di sini tiga kali dari Vena Naga, Sekte Dongfangzhi.


"Atatatah, punggungku sakit sekali." Mo Lian berdiri sembari memegangi punggungnya.


Mo Lian menutup matanya perlahan, ia melepaskan kesadarannya untuk mengetahui keadaan sekitarnya. Dalam radius tiga mil, ia merasakan banyak sekali hewan-hewan yang memiliki basis kultivasi Fase Mendalam. Kemudian di langit juga merasakan beberapa orang yang terbang dengan cepat.


Mo Lian membuka matanya perlahan, ia menengadahkan kepalanya melihat langit. Dan benar saja, di sana terdapat sembilan pemuda dan pemudi yang terbang dengan berdiri di atas sebilah pedang. Orang-orang itu mengenakan pakaian tradisional China, tidak peduli pria ataupun wanita, memiliki rambut panjang.


Melihat itu, Mo Lian menganggukkan kepalanya. Ia berlari menjauh dari tempatnya berdiri karena ingin berganti pakaian, dan yang terpenting, ia merasa jika orang-orang di atas sana sudah mengetahui keberadaannya.


Dua puluh menit kemudian, setelah berlari dengan tidak mengenakan pakaian sama sekali. Akhirnya ia sudah berada di tempat yang lebih gelap dan menemukan sebuah gua tak berpenghuni.


Tanpa berlama-lama lagi, ia masuk ke dalam gua untuk mengganti pakaian dan menyamarkan penampilannya yang sekarang.


Ketika ia keluar dari dalam gua, Mo Lian mengenakan seragam Sekte Dongfangzhi yang khusus dibuat untuknya, tanpa nama ataupun lambang dengan pakaian berwarna abu-abu. Kemudian dilapisi dengan jubah yang dibelinya asal-asalan.


Mo Lian mengubah rambutnya ke warna aslinya yang hitam, alis tebal nan tajam bagaikan pedang, dengan mata biru kehitaman.


"Tidak pernah menyangka, aku akan menggunakan penampilan seperti ini. Ketika rambutku panjang, aku pernah memotongnya sekali dan dimarahi habis-habisan oleh Master. Bahkan aku sampai dikunci dalam ruangan untuk waktu satu bulan."


Mo Lian terkekeh kecil saat mengingat masa-masa itu. Ia menengadahkan kepalanya melihat lebatnya dedaunan. "Sekarang, saatnya mencari informasi tentang Ayah."


...


***


*Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2