Kelahiran Kembali Kultivator Abadi

Kelahiran Kembali Kultivator Abadi
Chapter 429 : Dao?


__ADS_3

Mo Lian kembali ke Paviliun Jarum Emas untuk menemui Qin Nian yang menjaga seorang diri. Tapi untungnya hari ini cukup sepi, sehingga beban kerja Qin Nian tidak terlalu berat.


"Maaf, padahal aku yang ingin membuka bisnis, tapi malah Nian'er yang menjaganya untukku." Mo Lian menghampiri Qin Nian, lalu mengecup keningnya


Qin Nian tersenyum hangat dan menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Nian'er sangat senang. Nian'er sudah pernah mengurus perusahaan, ini saja tidak seberapa, lagi pula Nian'er tidak membuat ramuannya."


"Di mana yang lain?" Qin Nian melihat ke arah pintu keluar dan tidak menemukan Hong Xi Ning maupun Yun Ning.


"Binatang buas menyerang ..." Mo Lian duduk di samping Qin Nian di belakang meja kasir. "Mereka berdua pergi ke timur laut dan tenggara untuk membunuh mereka. Jika Nian'er ingin membunuh monster untuk melampiaskan amarah, Nian'er bisa pergi."


Qin Nian merenung sebentar, kemudian mengangguk. "Kalau begitu, Nian'er pergi dulu." Ia pergi ke belakang untuk berpindah dari sana agar tidak dilihat oleh orang lain.


Mo Lian mengambil buku di bawah meja dan membacanya. Tapi saat baru membuka buku, dia bisa mendengar langkah kaki yang tergesa-gesa dan berat dari luar, itu membawa kemarahan yang bisa meledak kapan pun.


"Siapa kalian?" Mo Lian mendongak, melihat ada belasan orang yang dipimpin oleh pria dengan perut buncit pendek. Mengenakan pakaian yang glamor, memiliki kumis yang lancip.


Mo Lian mengerutkan keningnya ketika melihat tanda pengenal di pinggang pria gemuk itu, itu tanda pengenal yang dikeluarkan oleh Paviliun Jari Keajaiban dan warnanya perak, menandakan bahwa identitas pemakai adalah Tabib Guru.


Tabib Guru tidak mengatakan apa-apa, terus melangkah dan menampar keras meja. "Tutup bisnismu hari ini!"


Mo Lian sedikit terkejut, tapi dia kembali tenang. Kultivator Abadi memiliki kepribadian yang tenang seperti air, mengabaikan orang yang tidak memiliki kekuatan yang sama seperti mereka, dan memilih mengalah. Itu adalah apa yang dipelajarinya selama beberapa jam untuk memahami dan menyatu dengan alam.


Karena, Kultivator Abadi merasa membuang-buang waktu berurusan dengan manusia fana. Tapi, Mo Lian tetap mengikuti petunjuk dari Catatan Kaisar Manusia, harus membunuh Dewa Hanzi dan Dewa Selestial.


"Bagaimana jika aku tidak ingin menutupnya?" Mo Lian tetap tenang tanpa emosi.


Tabib Guru sangat marah, dia sudah mengirimkan banyak orang untuk membunuh Mo Lian. Tapi tidak hanya Mo Lian tidak terbunuh, tapi orang yang dikirimnya menghilang tanpa tanpa tahu di mana keberadaannya. Setelah mengirimkannya ke hutan di seberang sungai di selatan kota, masih tidak menemukan hal yang aneh, jika dibunuh, harusnya ada mayat, paling tidak darah, tapi di sana tidak ada apa pun.


"Kau tidak akan bisa hidup tenang di sini! Kalian! Hancurkan tempat ini!" Tabib Guru kembali memukul meja sekeras-kerasnya. Tapi kejadian yang di mana meja hancur tidak terjadi, dan malah tangannya terasa sangat dan berdenyut-denyut sebelum membengkak.


Belasan orang besar langsung bergegas setelah mendengar perintah dari Tabib Guru. Semua pelanggan yang awalnya sudah masuk, langsung berlarian.


Mo Lian tetap tenang dan bahkan tersenyum. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bahkan jika semua ramuan dihancurkan, dia hanya perlu membuatnya lagi.


Tabib Guru mendengus dingin dan memandang rendah Mo Lian. "Benar saja, anak muda terlalu sombong —" Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Tabib Guru dan semua bawahannya menghilang.


Mo Lian menggeleng pelan ketika melihat kejadian itu, dia tahu siapa yang menghilangkan Tabib Guru. "Mengirimnya ke tengah-tengah gelombang binatang buas? Ini seperti Ning'er biasanya. Dia dingin, lembut seperti putri, tapi kenyataannya sangat keras, penuh dengan semangat apabila menyangkut dengan pertempuran. Dan, senang sekali mengambil orang ke tempat berbahaya."

__ADS_1


Mo Lian kembali membaca buku dengan tenang tanpa memedulikan tentang hal lain. Adapun Tabib Guru dan bawahannya? Mungkin mereka sudah terbunuh dan dimakan binatang buas dalam ketakutan.


Ketika Mo Lian membaca buku, dia berhenti di salah satu kalimat yang membuatnya merenung. “Air yang tenang membawa kedamaian, bunga layu di dalam kegelapan, terkena sinar matahari menjadi subur. Pohon kering di sungai tandus, air mengalir menghidupi pohon.”


Mo Lian merenung dan menutup matanya. "Hati yang gelap membawa pukulan berat pada tubuh dan mental. Hati yang berat membuat orang merasa lemah. Buang semua masalah, lupakan yang sudah-sudah dan mulai jalan yang baru."


"Hanya dengan dekat dengan alam seseorang dapat memahami alam. Hanya dengan mengikuti hati kita, kita dapat menjadi riang."


Mo Lian terdiam sejenak sebelum menambahkan, "Semuanya ... memiliki Hukum ..."


"Apa yang disebut hukum hanya mengalir di antara kedua tangan. Hanya dengan membiarkan alam mengambil jalannya, itu akan dianggap sebagai Dao terbaik."


Begitu Mo Lian selesai berbicara, deru angin terdengar di langit Kota Louhu. Sinar emas terlihat indah saat berjatuhan di Kota Louhu, membuat kota menjadi lebih segar dan tanaman tumbuh lebih cepat, hewan-hewan mengangkat kepala sebelum bersujud.


Aliran cahaya emas menyapu, membuat Pendekar memasuki tingkatan baru, penampilan tua mereka kembali seperti muda penuh semangat.


Fenomena ini membuat semua orang bingung dan merasa berada di dunia lain, karena tidak pernah ada fenomena seperti ini semenjak dibangunnya Kota Louhu.


Tapi itu belum semua, yang lebih mencengangkan adalah serpihan cahaya emas yang turun seperti salju. Serpihan cahaya itu akan memasuki tubuh semua orang yang ada di Kota Louhu tanpa terkecuali, kemudian tubuh mereka semua mengeluarkan kotoran busuk.


Walaupun kotoran yang dikeluarkan hanya sesendok air di dalam ember, tapi itu sudah meningkat kualifikasi untuk memasuki Jalan Kultivasi Abadi.


Banyak yang bergegas menuju sungai untuk membersihkan kotoran yang menempel di tubuh mereka. Bahkan meski mereka memiliki kamar mandi di rumah masing-masing, dengan aroma busuk yang memenuhi kota, mana mungkin mereka bisa menahannya.


Tapi meski tidak suka dengan aroma busuk, mereka tetap senang karena akhirnya mereka bisa memasuki Kultivasi Abadi. Mereka tidak lagi terhenti hanya dengan menjadi Pendekar.


Mo Lian tidak menyadari apa yang dilakukannya mengakibatkan fenomena seperti ini. Sekarang dia sedang dalam keadaan yang tidak boleh diganggu.


Tiba-tiba, sosok melintas di depan Mo Lian. Sosok itu berbalik untuk mengunci pintu rapat-rapat, menutup semua jendela dan membuat pengamanan ketat di sekitar Paviliun Jarum Emas.


"Nan Ren memasuki Pencerahan?"


Hong Xi Ning mundur beberapa langkah, menjauh dari Mo Lian agar tidak mengganggunya. Diam-diam dia tersenyum dan merasa bahagia, karena dengan ini artinya Mo Lian tidak lagi menyalahkan dirinya sendiri.


Tapi Hong Xi Ning masih bingung bagaimana Mo Lian memasuki keadaan Pencerahan, karena itu sangat sulit. Itulah yang dikatakan Hong Xi Jiang.


"Tunggu!" Tiba-tiba Hong Xi Ning tersadar akan sesuatu. "Jika Nan Ren sudah selesai, bukankah itu berarti kami harus meninggalkan Bintang Hijau dan pergi ke Wilayah Barat?"

__ADS_1


Hong Xi Ning terdiam dengan ekspresi rumit, lalu menggelengkan kepalanya. "Keputusan ada di tangan Nan Ren." Ia mengangguk dengan tegas.


Kemudian, Hong Xi Ning melambaikan tangannya, memanggil kembali Qin Nian dan Yun Ning untuk berjaga-jaga bersamanya.


Qin Nian dan Yun Ning yang tiba-tiba muncul, tercengang dan ingin bertanya pada Hong Xi Ning mengapa memanggil mereka. Tapi saat melihat Mo Lian, mereka tahu ini bukan waktu yang tepat, dan akhirnya mereka memilih untuk diam agar tidak mengganggu Mo Lian.


Mo Lian tidak menyadari kalau Hong Xi Ning sudah tiba, bahkan Qin Nian dan Yun Ning juga dipanggil. Dia dalam keadaan yang tidak bisa diganggu, dia merasakan hangat di dalam tubuhnya dan samar-samar penindasan dari Dao mulai berkurang. Ia juga merasakan bahwa ikatannya dengan sesuatu yang sepertinya disebut sebagai Pohon Perunggu Surgawi telah terputus, dengan ini, meski dia terbunuh, Dao tidak akan mengambil kekuatannya lagi.


Tapi meski demikian, tidak mungkin dia ingin dibunuh.


***


—Sekte Dongfangzhi, Bumi, Galaksi Bima Sakti, Wilayah Timur—


Hong Xi Jiang dan Wang Yue Fei berdiri di halaman Istana Dongfangzhi, memandang cakrawala yang luas, tapi tatapan mereka menembus langit sampai ke angkasa luar yang penuh bahaya.


Hong Xi Jiang mendengus dingin penuh penghinaan. "Tekanan Pohon Perunggu Surgawi pada Dao telah menurun, meski masih belum bergerak sesuai aturan alam, ini sudah cukup. Tapi, Bocah Gila itu! Butuh seratus tahun di Dunia Kecil hanya untuk menenangkan dirinya?"


Wang Yue Fei tertawa kecil. "Biarkan dia, bukankah Jiang Gege yang tidak memberi petunjuk? Sudah bagus dia bisa memahaminya. Jadi ..."


Wang Yue Fei menggandeng lengan kanan Hong Xi Jiang, mendongak menatap wajahnya. "Apakah sudah saatnya kita melepas segel di tubuh kita? Kemudian naik ke Alam Selestial dan memukul mereka semua sampai mati."


Hong Xi Jiang tertegun, merasa sedikit bergidik saat melihat Wang Yue Fei mengatakan hal itu dengan senyum indah.


"Belum saatnya." Hong Xi Jiang menggelengkan kepalanya. "Biarkan dia menyelesaikan masalahnya di Wilayah Barat. Setelah tidak ada tanggungan yang harus diselesaikan olehnya, kita bisa mengatur rencana sebelum naik ke Alam Selestial."


Wang Yue Fei menganggukkan kepalanya. Memang benar, apalagi memasuki Alam Selestial sangat sulit, setelah melewati “Portal”, mereka harus melayang di lorong seperti lubang cacing, kemudian berjalan di Jalan Surgawi 99.999 Langkah, baru melihat Gerbang Selestial.


Tapi itu belumlah akhir, masih harus membuka Gerbang Selestial yang hanya bisa dibuka dari dalam, atau orang yang memang berasal dari Gerbang Selestial.


Hong Xi Jiang dan Wang Yue Fei tahu kesulitan untuk memasuki Gerbang Selestial. Apalagi dengan adanya Pohon Perunggu Surgawi. Tapi mereka tahu ada Pohon Yin Surgawi, itu akan melemahkan Pohon Perunggu Surgawi apabila ditanam.


Karena itu, selama ribuan tahun mereka mencari keberadaan Pohon Yin Surgawi, bahkan sampai harus meninggalkan Hong Xi Ning sendirian di Sekte Zhongjian. Tapi pada akhirnya, mereka masih belum mendapatkannya bahkan sampai saat ini.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2